
Malam berjalan begitu cepat, layaklah berjalan seumpama kedatangan seorang pencuri, begitu cepat, singkat.
Tak ada seorangpun, Zhao Juren duduk temenung di tepi sungai dengan jembatan tua lapuk yang roboh itu terpampang menyedihkan di depan mata. Dalam diam dia memandang sang mentari terbit di timur, beremburat pucat.
Dia hanya menunggu perahu yang tampak menepi di seberang sana tanpa ada siapapun di atasnya.
“Tunggulah perahu yang akan menyeberangkan dirimu di sini. Aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini tuan Zhao. Setelah ini biarkan takdir yang akan mepertemukan kita entah di medan perang yang lain ataukah di suatu masa yang berbeda. Jaga dirimu baik-baik, kita tak lagi saling berhutang setelah ini. Jika langit mengijinkan kita akan dipertemukan dalam balas kisah yang berbeda.” Itulah kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Xue Xue sebelum meninggalkannya, sekitar beberapa saat yang lalu tepat sebelum cahaya menyapu embun.
Zhao Juren mengelus kepala pedangnya, masih memikirkan banyak hal dalam perjalannannya selama dia berjalan bersama Xue Lian dari dataran di atas danau lima warna.
Setengah perjalanan malam mereka habiskan dengan tanpa sadar membuka sebuah celah pada sebuah kenangan pahit masa lalu.
“Jiu Fei adalah kakak angkatku, dia puteri keluarga mata-mata paling berbakat di Niangxi. Aku belajar banyak hal darinya meskipun usiaku terpaut hampir delapan tahun darinya. Jiu fei pergi pada saat dia berusia delapan belas tahun untuk sebuah misi ke sebuah perang di perbatasan. Sayangnya, dia menjadi buta oleh cinta pada musuhnya sehingga dia memilih menjadi pengkhianat untuk negaranya sendiri.” Cerita itu mengalir begitu saja dari bibir Xue Xue.
“Aku tahu, kamu sangat mengenalnya, karena di akhir hidupnya, Jiu Fei berada dalam pelukanmu. Seorang biksu di kuil Sunyen menceritakan, di suatu subuh kamu tiba di sana dengan wajah yang bersimbah air mata, memeluk tubuh dingin dan kaku kakak Jiu Fei. Dan dengan tanganmu sepanjang pagi kamu menggali makam untuknya di bawah sebuah pohon Wisteria, menguburkannya dengan kesedihan yang mendalam. Kamulah orang terakhir yang dilihatnya sebelum dia menutup matanya.” Zhao Juren bisa mendengar suara Xue Xue menahan isak.
“Bagaimana kamu tahu itu?” Zhao Juren terpana.
“Aku tahu benar, semua kisah itu. Aku bahkan pernah mengirimkan seseorang untuk datang ke kuil Sunyen untuk memastikan kakakku itu telah di makamkan dengan hormat.”
Sungguh, Zhao Juren bahkan kehilangan kata-kata saat mendengar semua pernyataan Xue Xue.
“Kakak Jiu Fei adalah orang pertama yang mengajarkan bagaimana menggunakan pedang, kakak Jiu Fei yang mengajarkan menerbangkan jarum-jarum dari kipas besi. Dia mengajariku banyak hal yang tak boleh di ajarkan oleh istana padaku.” Lanjut Xue Xue, hampir tak terdengar.
__ADS_1
“Dan orang yang sangat dia cintai adalah dirimu, pangeran muda yang waktu itu jenderal muda untuk Yanzhi. Dia bersedia mati untukmu.”
“Kamu salah! Kamu salah orang!” sergah Zhao Juren.
“Aku tidak salah orang.”
“Kamu salah orang nona, dia…dia jatuh cinta pada pangeran negara Yanzhi.” Suara itu terdengar getir , diucapkan oleh Zhao Juren.
“Bagaimana mungkin aku salah? Bukankah namamu adalah Zhao Juren itu?”
“Aku memang Zhao Juren tetapi…tetapi Jiu Fei jatuh cinta pada Yang Mulia Yan Yue, bukan padaku.” Zhao Juren menelan liurnya yang terasa pahit.
“Tuan Zhao, betapa menyedihkan, bahkan kalian berduapun terpisah oleh kematian tanpa tahu sebuah kebenaran tentang hati kalian sendiri.” Xue Xue menarik nafas dari balik cadarnya. Begitu berat.
Xue Xue menarik sesuatu dari dalam saku di lengan jubahnya, kertas kusam yang berlipat lusuh.
“Aku dan Kak jiu Fei selalu berkirim surat bahkan saat dia di tawan dalam kuil Sunyen, tetapi ada satu surat yang tak pernah ku musnahkan, yaitu bagaimana kak Jiu fei mengatakan bahwa tubuh dan hatinya hanya diberikannya pada satu orang saja dalam hidupnya.”
Xue Xue mengangsurkan surat di tangannya itu, dengan gemetar Zhao Juren menyambutnya.
“Bacalah nanti, supaya kamu mengerti, kenapa aku merasa berhutang untuk menyelamatkanmu. Terimakasih selama ini telah menjadi pelindung bagi kak Jiu Fei. Terimakasih telah membuat merasa tak sendiri di tempat asing. Semua keluarganya telah mati dalam hukuman setelah pengkhianatannya itu tetapi di Nanxing dia tak pernah lupa punya aku. Kami mungkin tak sedarah, tetapi persaudaraan yang di tanamkannya padaku jauh lebih kental dari darah. Aku telah berjanji jika ada kesempatan membalas semua kebaikanmu pada kak Jiu Fei, dan langit mengabulkannya.”
Malam itu, sebuah kenyataan yang aneh seolah merobek jantung Zhao Juren meski sdia masih bimbang dengan apa yang di dengarnya itu.
__ADS_1
Tanah Yanzhi bahkan mencatat jika Yang Mulia Yan Yue pernah jatuh cinta pada seorang gadis dari Niangxi, dia patah hati bertahun-tahun karena gadis itu memutuskan untuk menjadi seorang Biksu daripada menjadi istrinya. Cerita para pengembara menuturkan kisah cinta tragis itu hampir satu dekade, menyanyikannya dalam dongeng-dongeng muda mudi. Zhao Juren sendiri tahu benar, Jiu Fei bahkan mengorban nyawanya untuk menyelamatkan Yan Yue tak hanya sekali tetapi berkali-kali. Jiu Fei rela menghadang anak panah untuk Yan Yue, Jiu Fei rela lari dari kuil Sunyen untuk menyerahkan dokumen rahasia tentang rencana pemberontakan ibu suri.
Sekarang, bagaimana mungkin, Jiu fei mencintainya di banding Yan Yue?
Beribu malam pun berulang kali tiba, tahun baru datang, tahun baru pun berlalu, waktu melalui sela-sela jari diam-diam berlalu, bahkan dapat terlihat menembus pembuluh darah, bagai air yang jernih.
Zhao Juren telah melewati lintasan itu dalam kelukaan dan patah hati sampai bertemu seorang selir muda bernama Xiao Yi untuk patah hati kedua kalinya. Kenyataan yang di dengarnya itu terdengar mustahil dan aneh.
“Tuan Zhao Juren, kita berada di bawah langit yang sama tetapi di atas tanah yang berbeda, andai tak ada keserakahan dan dunia bisa bersikap adil, mungkin kita bisa hidup berdampingan dengan tenang dan mungkin hari ini aku menggendong seorang keponakan dari kak Jiu fei yang baik hati itu. Tapi, kenyataan selalu berbeda dengan impian, tak pernah ada yang benar-benar bisa terwujud dengan kata andai.” Xue Xue terkekeh
sendiri.
Zhao Juren tak punya kata-kata, seumur hidup baru kali ini dia hanya bisa terpana mendengarkan seorang perempuan terus berbicara tanpa henti di depannya.
Itu adalah pembicaraan mereka sebelum Xue Xue memutuskan mengantarnya sampai tepi sungai perbatasan antara tanah Niang dan tanah Yan.
"Untuk permintaan terakhir, sebelum kita benar-benar akan berpisah di sini, bolehkah aku meminta satu hal..." Zhao Juren tak tahu karena alasan apa sampai-sampai dia merasa dadanya berdebar mengucapkan permohonan itu tepat sebelum Xue Xue berbalik.
"Apa itu?"
"Bolehkah, aku melihat wajahmu nona Xue Xue?"
__ADS_1