
Bai Yueyin terperanjat, ia cepat-cepat menggeleng.
"Tidak Yang Mulia, tolong berbaring saja." Pinta Yueyin dengan suaranya yang di buat setegas mungkin.
"Aku tak mau terlihat lemah di depanmu." Yang Mulia Nan Chen terkekeh.
Bai Yueyin sekali lagi menggeleng, akan tetapi sebelum sempat berbicara, ia melihat sinar mata raja yang mel3nguh lemah itu begitu keras kepala, begitu teguh.
Hati Bai Yueyin terasa sakit, tetapi kemudian tangannya terulur, ia memapah tubuh raja itu untuk duduk setengah bersandar di kepala tempat tidur naganya.
Yang Mulia Nan Chen terlihat pucat, wajah itu semakin pasi karena dia mengenakan jubah luar, warnanya putih beras, tanpa sulaman naga seperti biasanya Yueyin melihatnya dari jauh.
Beberapa saat, Yang Mulia Nan Chen terbatuk sehingga menerbitkan kecemasan bagi Yueyin.
"Aku tak apa-apa." Yang Mulia Nan Chen melambaikan tangannya ketika seorang tabib mencul dari balik tirai.
"Menjauhlah dari kami berdua, ini perintah!" Ujarnya lagi dengan raut galak. Tabib kerajaan itu menatap Yang Mulia Nan Chen dan Bai Yueyin bergantian dengan ragu sebelum kemudian mundur dan menghilang di balik tirai.
"Akhirnya..." Mereka berdua seakan baru untuk pertama kalinya bertemu, saling menatap.
"Kamu tak pernah berubah Yueyin..." Yang Mulia Nan Chen menghela nafasnya perlahan.
"Apa maksud Yang Mulia?"
"Tetap cantik meski begitu pemarah dan kejam "
Bai Yueyin tersipu, tetapi tetap berusaha menegakkan kepalanya.
"Lihatlah, rambutku berantakan. Bisa kah kamu merapikannya untukku?".
Tanpa di minta dua kali, Bai Yueyin mengambil sisir, lalu beringsut ke samping raja itu dengan naik ke atas tempat tidur naganya yang besar. Yueyin mengurai rambut kelabu Yang Mulia. Memang aneh rambut raja ini, sejak masa belia rambutnya sudah begitu abu-abu berbeda dengan rambut Nan Yuhuai maupun Nan Luoxia yang hitam kelam seperti sutera. gigi sisir dengan bergemerisik menyisir rambutnya, tangannya yang pucat menyentuh pelipisnya, sehelai demi sehelai, seakan sebanyak itu pula kerinduan mereka selama banyak tahun.
Setelah rambutnya selesai disisir, Yang Mulia Nan Chen menelengkan kepalanya, lalu berkata kepada Bai Yueyin,
__ADS_1
"Apakah aku masih tampan seperti dulu?"
Bai Yueyin menundukkan wajahnya setelah sebelumnya dalam beberapa jenak pandangan matanya dalam dan tenang menatap pada Yang Mulia Nan Chen, sinar rembulan menerobos jendela yang dilapisi sutra tipis, dengan terpecah-pecah, sinarnya bersinar ke dalam, bersinar di wajahnya, yang menyembunyikan secercah kilau redup.
"Tentu saja." Des@h Bai Yueyin, gadis ini tidak bohong, Yang Mulia Nan Chen masih begitu tampan, matanya panjang dan sipit seperti ujung pedang, hidungnya mancung dan tinggi, pipinya keras bagai batu kumala, terlihat menunjukkan pembawaan seorang raja.
Hanya saja, entah kenapa Bai Yueyin berfikir kening lelaki ini diliputi aura kematian, yang sedikit demi sedikit menyebar luas, raut wajahnya pucat pasi, hal ini membuat Bai Yueyin bergidik ngeri.
"Tak ada yang melebihi ketampananmu." Jemari Bai Yueyin bergetar menggengam sisir di tangannya.
"Akhirnya aku bisa mendengar pujian dari mulutmu", Yang Mulia Nan Chen tersenyum getir.
"Aku sudah tak nempunyai keinginan lagi..." Mata Nan Chen berkaca seperti telaga, raut lelahnya terlihat membayang.
"Yueyin..." Napasnya tiba-tiba agak tersengal-sengal, ia menjulurkan tangannya dengan gemetar, lalu berkata dengan lembut, "Yueyin biarkan aku memelukmu, kalau boleh...".
Bai Yueyin terpaku, matanya nanar tetapi tubuhnya beringsut mendekat.
"Terimakasih..." Yang Mulia Nan Chen berbisik ketika Bai Yueyin memberikan tubuhnya untuk di peluk, bibirnya seputih pucat seperti kapas terlihat gemetaran.
"Aku selalu merindukan saat ini..." Kalimat itu di ucapkan Yang Mulia Nan Chen ketika Bai Yueyin perlahan memeluk pinggang sang raja.
Nafas raja ini sampai di telinganya, tak teratur tetapi begitu hangat. Seolah nafas seseorang yang lega.
Angin bertiup dari selatan yang jauh, membawa aroma bunga bakung yang murni, Bai Yueyin tercekat nyaris meraung oleh kesedihan seakan dicekik orang, amat sakit.
Ia memeluk erat Yang Mulia Nan Chen seolah takut saat-saat ini akan segera berakhir sambil setengah bersandar di dadanya, air matanya tetes demi tetes bercucuran, membasahi pakaian putih beras Yang Mulia Nan Chen.
"Aku pulang..." ucap Bai Yueyin di sela isaknya.
"Aku pulang sekarang seperti permintaanmu. Aku tak perduli lagi, seribu perempuan yang di sandingkan padamu karena aku tahu hanya aku yang ada di hatimu..." Tubuh Bai Yueyin berguncang-guncang.
Yang Mulia Nan Chen tak menjawab sama sekali, pelukannya terasa semakin erat seolah tak mau melepaskan Bai Yueyin.
__ADS_1
"Aku pulang padamu, aku lelah berlari terus darimu..."
"Aku mungkin harus...pergi..." Suara Yang Mulia terdengar tenang.
"Jangan pergi! Aku akan membencimu jika kamu pergi dariku. Kamu yang menyuruhku kembali kapan saja jika aku mau, giok kumala itu perjanjianmu padaku. Aku sudah lelah terus menghindari perasaanku, sekarang aku tak akan meninggalkanmu lagi..." Bai Yueyin bukan orang yang banyak bicara tetapi sekarang perempuan ini terus saja berbicara dengan suara ketakutan.
"Stttt...jangan menangis..." Yang Mulia Nan Chen melonggarkan pelukannya, dia terbatuk-batuk sesaat.
"Bolehkah aku menciummu Yueyin?"
Wajah Bai Yueyin yang basah kuyup oleh air matanya mengangguk beruntun, dia benar-benar tak perduli apapun lagi.
Sebuah kecupan dari bibir yang pucat itu, begitu lembut menyentuh bibir Yueyin. Bibir yang kering dan dingin. Dua bulir bening jatuh dari pelupuk mata seorang raja yang memimpin sebuah negeri besar, air mata yang di sembunyikannya seumur hidupnya.
"Terimakasih..."
Napas di ubun-ubunnya sedikit demi sedikit menghilang, bagai angin yang meniup bunga ceri dengan penuh kasih sayang, lalu sama sekali tak bersuara lagi. Cahaya rembulan dengan miring menyinari tubuh mereka, di tengah cahayanya yang temaram.
"Terimakasih sudah pulang..."
Waktu bagai sebuah mimpi besar yang ramai, yang tersisa, hanya sebuah warna pucat yang pekat. Tak lagi tersisa jenangan masa kecil yang indah itu, begitu kabur dan samar.
Waktu berlarian meninggalkan masa lalu dan mereka terjebak di masa depan dengan nafas kelelahan.
Mata Bai Yueyin bagai abu yang terbakar habis, amat dingin dan sembab, sinar matanya ketakutan dan sedih.
Ketika ia berpaling mengangkat wajahnya untuk menatap Yang Mulia Nan Chen, raja itu masih duduk dengan tenang, bersandar pada kepala ranjang naganya, kepalanya miring, seakan sedang tenggelam dalam sebuah mimpi indah. Seulas senyum menghias bibir pucatnya.
"Nan Chen..." Panggil Bai Yueyin, gemetaran. Panggilan itu sungguh tak sopan, tetapi itulah yang selalu di ucapkannya dulu kala saat mereka masih belia. Yang Mulia Nan Chen tak berkedip menatap lurus pada Bai Yueyin.
"Katakan sesuatu lagi padaku, bukankah kamu mencintaiku?"
Angin malam meniup pakaian sang raja yang tipis, di langit yang sepi, ia seakan melihat sebuah wajah yang bersih, berhidung mancung dan berbibir tipis, sudut-sudut matanya agak mencorong ke atas, terbuka. Dia tersenyum begitu lega dan bahagia.
__ADS_1