CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 48. Cinta Dan Kesumat


__ADS_3

" Sepertinya hari ini Yang Mulia harus beristirahat, tentu lelah sekali berpesta sampai pagi. Yang Mulia mabuk..."


“Aku tidak mabuk!” Sahut Yang Mulia Nan Chen dengan suara tajam setengah menghardik lalu mengangkat cawan anggurnya dan mendekatkannya ke wajah ratu Lin Fangyin.


"Ini cuma arak! Aku bisa menahannya! Tapi pernikahan kita yang hambar ini, bagaimana bisa kita begitu menikmatinya." Yang Mulia Nan Chen tertawa keras.


Mendengar kalimat yang begitu terus terang itu, wajah Ratu Lin Fangyin terasa panas, dia menundukkan mata dan mundur selangkah, tapi Yang Mulia Nan Chen bagai bayangan yang menempel dan maju selangkah, tak membiarkan Lin Fangyin menghindarinya. .


Melihat ini, Ratu Lin Fangyin mengangkat wajahnya, menatap orang di hadapannya itu tanpa merasa takut lagi,


“Yang Mulia benar-benar sudah mabuk." Desisnya.


“Apa yang kamu inginkan pagi ini, Fangyin? Katakan saja, aku akan mengabulkannya, bukankah begitu seharusnya raja memanjakan ratu” Yang Mulia Nan Chen tertawa kecil.


Lin Fangyin menunduk dengan gelisah, tapi pandangan matanya seketika gelap, napas yang membawa aroma arak berhembus tajam sampai ke kulit mukanya,


Mendengar kalimat yang begitu terus terang itu, wajah Ratu Lin Fangyin terasa panas, dia menundukkan mata dan mundur selangkah, tapi Yang Mulia Nan Chen bagai bayangan yang menempel dan maju selangkah, tak membiarkan Lin Fangyin menghindarinya. .


Melihat ini, Ratu Lin Fangyin mengangkat wajahnya, menatap orang di hadapannya itu tanpa merasa takut lagi.


"Aku hanya ingin menghadap Yang Mulia." Jawab Ratu Lin Fangyin tanpa mengalihkan wajahnya lagi.


"Kenapa begitu tiba-tiba? jangan katakan kamu juga rindu belaianku." Yang Mulia Nan Chen menyeringai, wajahnya yang tampan itu seperti gelombang, pupil matanya melebar, seakan menunggu tanggapan dari Lin Fangyin.


Wajah Ratu Lin Fangyin kembali memerah, dia selalu merasa tak berharga ketika berdua dengan Yang Mulia Nan.


Dulu, dia begitu bangga ketika beranjak dari masa remajanya yang serupa bunga kuncup mulai mekar dan Yang Mulia Raja terdahulu menunjuknya sebagai istri bagi putra mahkota.

__ADS_1


Tak ada yang melebihi kebahagiaan dan kebanggaannya saat dipinang untuk calon penguasa Niangxi.


Hidup yang berkuasa, bersuamikan pria tertampan, berlimpah kemewahan, kehormatan yang tak putus-putusnya, bukankah itu yang di cari setiap orang di dunia ini?


Ayahnya, Jenderal Lin Dongying, adalah sahabat raja kala itu, orang terdekatnya. Suatu hal yang mudah ketika ayahnya mengatur pernikahan puteri kesayangannya itu dengan putera sahabatnya. Apalagi Lin Fangyin remaja yang egois itu merengek meminta dirinya hanya mau menikahi Pangeran muda Nan Chen yang tampan.


Cinta? Tentu saja itu tak penting untuk Lin Fangyin kaka itu, dia hanya butuh pengakuan bahwa dirinya menjadi perempuan nomor satu di Negaranya.


Tapi Lin Fangyi tak menyangka, pernikahan yang terpaksa itu tak pernah memberikan kebahagiaan padanya. Raja itu hanya menyentuhnya saat mabuk saja, selebihnya saat dia sadar, bahkan terlihat jelas raut wajahnya begitu jijik padanya.


Selir-selirnya terus bertambah seperti jamur di kala penghujan, semakin Lin Fangyin menentangnya selir-selirnya terus bermunculan, bahkan hpir semua anak para petinggi istana adalah madunya.


Lin Fangyin tahu benar itulah cara Yang Mulia Nan Chen membalas pernikahan mereka yang menggagalkan laki-laki ini menyunting seorang perempuan anak pelayan, perempuan yang konon telah membuatnya jatuh cinta dari kanak-kanaknya.


Kadang dia tak bisa menyembunyikan rasa iri ketika Yang Mulia menggoda para selirnya dengan genit, bahkan cara itu lebih tulus dari cara Yang Mulia mencumbuinya.


"Aku ingin meminta ijin padamu, Yang Mulia." Akhirnya Ratu Lin Fangyin berucap sambil menelan ludahnya membasahi kerongkongannya yang terasa kering.


"Aku ingin pergi berdo'a ke kuil Xiwang selama beberapa hari jika Yang Mulia mengijinkan."


"Astaga, untuk pergi berdoa saja kamu tidak perlu meminta ijin padaku Fangyin. Pergi saja. Lakukan sesukamu!" Ucapan Yang Mulia Nan Chen begitu sinis dan tanpa rasa keberatan sedikitpun.


Ratu Lin Fangyin menggigit bibirnya dengan sedih. Dia begitu terluka dalam hati dengan reaksi yang di berikan oleh Yang Mulia Nan Chen padanya. Jelas-jelas dia tak perduli sama sekali apa yang mungkin terjadi padanya.


"Aku hanya merasa perlu untuk memberitahumu." Suara Ratu Lin Fangyin sedikit gemetar.


"Akh, tentu saja, aku kan suamimu. Bagaimana bisa kamu tak meminta ijin padaku." Yang Mulia Nan Chen tertawa tergelak sambil menengak habis anggur yang ada dalam cawam porselennya.

__ADS_1


Ratu Lin Fangyin menghela nafasnya sesaat, bagaimanapun sikap ini adalah hal yang lumrah di tunjukkan Yang Mulia Nan Chen padanya saat mereka berdua hanya sendiri, walaupun jika berada di depan khalayak, Yang Mulia Nan Chen bersikap sebaliknya, seakan mereka berdua adalah sepasang raja dan ratu yang rukun dan penuh cinta. Tetapi tetap saja Lin Fangyin masih belum terbiasa meski hubungan mereka yang aneh ini berjalan hampir belasan tahun.


"Aku akan segera pamit." Ratu Lin Fangyin membungkuk dengan rautnya yang datar.


"Hmmm..." Yang Mulia kembali ketempat duduknya, berjalan terhuyung-huyung melewati undakan menuju singgasana gioknya.


"Terimakasih Yang Mulia..." Suara Ratu Lin Fangyin terdengar parau. Dan membalikkan badannya perlahan berniat pergi.


"Pergilah, atur saja. Kamu boleh pergi sesukamu. Jangan lupa kembali karena kursi permaisuri yang panas jika di tinggalkan terlalu lama bisa menjadi dingin. Dan banyak yang ingin mencoba duduk di sana." Yang Mulia Nan Chen tertawa sinis, dia terlihat puas menghancurkan kepercayaan diri ratunya itu.


"Yang Mulia..." Tiba-tiba Ratu Lin Fangyin berputar kembali. Wajahnya keruh seperti danau yang baru di landa hujan, rahang mulusnya itu gemeteran. Penghinaan dan sindiran yang di berikan padanya terasa begitu penuh bahkan begitu tak tertahankan.


"Kenapa Yang Mulia begitu membenciku?" Tanyanya dengan berani, hatinya benar-benar sakit.


Yang Mulia Nan yang menyanderkan kepalanya dengan malas dan mengantuk itu sesaat tertegun, kedua bola matanya tiba-tiba mencelik lebar.


"Benci? Benci padamu? Bagaimana bisa kamu mengatakan aku membenci isteriku sendiri?" Yang Mulia Nan Chen melotot pada Ratu Lin Fangyin.


Mata Ratu Lin Fangyin terasa


seperti terbakar, begitu panas hingga pelupuk matanya menjadi berair.


"Aku tahu Yang Mulia tak menyukaiku, tetapi bisakah Yang Mulia tidak terlalu berterus terang di depanku?" Pertanyaan itu hanya sampai di ujung lidahnya, tertahan tak keluar. Hanya matanya berembun menahan tangisan. Rasa sakit hati, rasa cemburu, rasa marah seperti berkubang dalam satu wadah. Seorang perempuan yang dari saat tertarik pada laki-laki hanya mengarahkan matanya pada Yang Mulia Nan Chen itu menelan kesumat, saat menyadari benar cinta dan harga dirinya sama sekali tak bernilai dari pesona seorang anak pelayan!


...


__ADS_1


...Ratu Lin Fangyin...


...Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, ya🙏...


__ADS_2