CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 75. Tentang Rasa Kehilangan


__ADS_3

"Ada apa, Hongse?" Lin Fangyin sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari langit yang menjadi kemerahan di ufuk barat. Seakan dia enggan melewatkan lukisan cakrawala yang semerah darah tua itu.


Beberapa malam sebelumnya, Lin Fanyin menyambangi kuil di pinggir kota temmpat tanah keluarga Bangsawan Lin berada, tanah leluhurnya yang istimewa karena secara khusus di berikan oleh Yang Mulian Raja Nan chen tua kepada Jenderal Lin pada masa mudanya sebagai hadiah kemenangannya merebut wilayah di selatan dan memperluas kerajaan Nan puluhan tahun yang lewat. Tanah itu seukuran sebuah desa kecil, dengan peternakan, kebun buah plum serta pertanian gandum yang di garap oleh para budak dan upahan. Tanah milik keluarga Lin itu hanya di tinggali oleh keluarga Lin dan para budak pelayannya sehingga mereka di sebut sebagai salah satu bangsawan terkaya selain perdana menteri Yang Liujun, ayah dari Yang Xiwu istri pangeran Nan Yuhuai.


Dulu saat dia masih belum masuk istana, Ia dan dan Lin Hongse pergi ke banyak tempat, pergi ke lorong-lorong kecil yang sepi dan terpencil, pergi ke Kuil yang kuno dan reyot, makan makanan kecil di pinggir jalan, bersama masuk ke pekan raya kuil yang penuh sesak, dan bersama menyulut petasan yang amat panjang di malam tahun baru. Suara gemuruh petasan itu berkumandang,persis seperti pada malam dua tahun yang lalu itu, dirinya akan berdiri di tengah orang yang berlalu-lalang di jalan dengan senyum terlebar, pandangan matanya penuh sinar lentera, asap dan api.


Dan pada malam itu dia mencoba mengulang semua kebahagian masa kecil yang dirindukannya, sebuah kebahagiaan yang sudah amat lama tak dirasakannya diam-diam menyelimutinya, sinar lentera dì sekelilingnya meredup, kembang api mekar di langit di atas ubun-ubunnya bagai bunga-bunga yang indah, cahayanya menyinari wajahnya, sangat cantik.


Tapi dia tak punya lagi perasaan bahagia yang dulu, dia merasa hambar dan sedih di tengah keriangan yang diimpikannya. Yang Mulia Nan Chen benar-benasr telah meramp[as semua kebahagiaannya tanpa bersisa sama sekali. Bahkan pada saat dia begitu menginginkannya, dia tak bisa mendapatkannya. Kecuali luapan sakit hati dan dendam kesumat yang subur terpendam dari bertahun-tahun menyakitkan.


"Kakak, aku datang bersama Luoxia, dia sangat ingin menemuimu."


"Luoxia?" Lin Fangyin mengalihkan pandangannya pada Lin Hongse dengan alis berkerut.


"Kenapa dia mencariku?"


"Aku hanya ingin berbicara sedikit padamu, tentang suatu hal." Xue Xue dalam pakaian puterinya yang feminim dan mewah itu berjalan dari arah belakangnya. Sepertinya dia telah tiba dari tadi tanpa di sadari oleh Lin Fangyin. Jika berada di dalam lingkungan istana, Nan Luoxia akan selalu berpenampilan seperti ini.


"Nan Luoxia?" Lin Fangyin seketika berdiri dari duduknya, dia tidak terlalu dekat dengan adik iparnya ini tetapi dia sering mendengar tentang sepak terjang Nan Luoxia dari adiknya Lin Hongse. Gadis ini tak banyak bicara, dia suka kebebasan dari dia masih sangat belia.


"Hongse, bisakah aku berbicara sebentar dengan kakak Fangyin?" Pertanyaan itu terdengar halus tetapi sarat dengan ketegasan.


Hongse sejenak terdiam, menatap dua perempuan yang dekat dengan dirinya itu tapi terlihat begitu asing dan menjaga jarak. Suasana yang kaku. Sebelum kemudian Lin Hongse menganggukkan kepalanya dan berjalan meninggalkan mereka di taman kecil milik sang permaisuri.

__ADS_1


Dua perempuan dengan pesona msing-masing itu saling bersitatap sejenak, dan dengan sadar diri Xue Xue menundukkan wajahnya sedikit, menghormati istri dari kakaknya itu.


"Maafkan aku jika mengganggumu, kakak."


"Tidak apa-apa, Luoxia. Terimakasih untuk kepulanganmu kali ini ada waktu untuk mengunjungi kediamanku."


Xue Xue tersenyum kecil dengan raut yang tak banyak berubah, hanya matanya terus saja mengamati wajah perempuan yang selalu terdonggak dengan muram ini.


Xue Xue tak dapat memikirkan kata sifat yang dapat mengambarkan semua yang dilihatnya tentang kegelapan yang menyelimuti Lin Fangyin, ia seakan tiba-tiba ditiup angin dari medan perang ke sebuah dunia yang semarak berwarna-warni. Dia redup dalam kemewahan yang melingkupinya.


"Seharusnya ini sering ku lakukan dari dulu." Xue Xue sekali lagi menarik sudut bibirnya dan duduk dengan anggun di sebuah kursi kayu mahoni setelah Lin Fangyin mempersilahkannya.


"Aku tahu, kedatanganmu bukan hal yang lumrah. Apakah Yang Mulia memintamu melakukannya?" Tanya Lin Fangyin kemudian tanpa menunjukkan ekspresi bersemangat. Hidupnya senantiasa penuh kecurigaan pada apapun, termasuk pada hal yang tak biasa ini.


"Yang Mulia tak meminta aku untuk melakukan ini, tetapi aku melakukannya karena memang harus." Sambut Xue Xue dengan nada tegas. Matanya yang berpijar tajam penuh selidik.


"Tentang kematian nyonya Siaw."


Lin Fangyin terdiam, dia duduk dengan tegang, menatap Xue Xue di depannya.


"Oh, ya. selir yang sedang hamil itu mati?" Alis Lin Fangyin berkerut tetapi tak menunjukkan keterkejutan yang kentara. Seakan dia sudah bisa menebak hal itu.


"Aku tahu, kakak permaisuri tahu hal ini."

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa-apa soal ini." Tukas Lin Fangyin dengan gusar.


"Aku tak mengatakan kakak tahu ap-apa di balik ini, tetapi sebagai pemimpin harem kaka pasti sudah mendengar berita ini." Xue Xue menggedikkan bahunya tanpa melepaskan pandangannya dari istri utama kakaknya ini.


Permaisuri Lin Fangyin terdiam, dia tak menanggapi apapun, lebih pada sikap waspada karena dia tahu Nan Luoxia bukanlah puteri sembarang puteri, dia adalah gadis di balik pasukan bidadari yang misterius itu.


"Aku mendengar dia sakit akhir-akhir ini, aku rasa penyebabnya adalah kehamilannya yang tak beres. Langit mungkin tak merestui kandungannya itu. Tak ada yang bisa kulakukan jika akhirnya dia mati." Ucapnya kemudian dengan suara yang tak kalah tajamnya.


"Tapi ini adalah kematian ke tiga dalam dua tahun terakhir ini dari istana harem, dan semuanya adalah selir raja."


"Satu orang yang mati maka yang datang tak terhitung jari. Aku tak mengkhawatirkan soal itu." Sahut Lin Fangyin dengan acuh tak acuh.


"Ini bukan soal jumlah yang pergi dan datang di dalam harem tetapi soal penyebab kematian mereka." Xue Xue menyela. Tak keras tapi sangat menohok.


"Puteri Nan Luoxia, apakah kamu sedang berusaha mengatakan jika aku terlibat dalam kematian mereka?" Mata Lin Fangyin memebeliak besar.


"Aku tidak mengatakan kakak Fangyin terlibat dengan kematian mereka tetapi aku hanya berusaha mencari rasa tanggungjawab kakak atas kematian-kematian ini. Dari apa yang ku dengar kakak Fangyin sama sekali tak perduli dengan apa yang terjadi dengan semua tragedi yang terjadi di dalam tembok harem ini."


"Kamu ingin aku melakukan apa? menangis di depan mayat mereka? Aku jelas berada di tempatku, semua orang bisa kau tanya, bahkan aku tak sungguh-sungguh menegenal semua perempuan-perempuan yang menjadi selir Yang Mulia. Aku hanya tahu, mereka istri raja yang lain, yang berhak menghangatkan nafsu Yang Mulia. Selebihnya aku sungguh tak perduli. Bukankah itu wajar?" Lin Fangyin hampir tak mengambil nafas saat mengucapkan semua kalimat itu.


Begitu berapi-api, sekan ingin mencurahkan rasa sakit yang di tahannya selama ini.


__ADS_1



Hai pembaca kesayangan Cinta terakhir Zhao Juren, mari di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...πŸ™πŸ™πŸ™πŸ’œ.


__ADS_2