
"Kesepakatan apa yang tadi ingin kamu bicarakan? Kamu ingin pindah menjadi warga Nanxing?" Xue Xue terlihat menggodanya, gadis ini dalam rupa sedikit liar ini lebih luwes dari pada saat dia berpakaian Nan Luoxia.
"Aku ingin kita menghentikan perselisihan negara kita." Sahut Zhao Juren.
Xue Xue menatap sejenak ke arah Zhao Juren, mereka berdua bertukar pandang dengan dalam sebelum kemudian Xue Xue bangkit dari duduknya dan menatap ke arah hamparan bintang yang bekelipan di langit luas.
"Kamu sedang berbicara apa? apa kamu tahu apa yang sedang kamu minta?"
"Tentu saja Xue Xue, aku tahu apa yang aku minta. Karena aku yakin hanya kamu yang bisa melakukannya bersamaku."
"Kamu meminta pada orang yang salah." Xue Xue terkekeh seolah permintaan Zhao Juren suatu lelucon lucu baginya. Zhao Juren tak berbicara, hanya ekor matanya tak lepas mencermati gerak gerik Xue Xue.
"Apakah kamu kira kau punya kuasa untuk melakukan permintaanmu?" Tanya Xue Xue akhirnya, dengan tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.
"Aku dan kamu hanya terkait oleh seutas benang tipis yang di namakan takdir dan takdir kita hanya sebatas balas budi masa lalu yang ku sumpahkan atas nama kak Jiu Fei. Selebihnya kita adalah musuh di dunia ini." Ucap Xue Xue dengan suara bergetar, dia berusaha tetap terpaku pada satu titik, bulan yang bersinar malu-malu, separuhnya di selimuti awan hingga cahayanya terlihat meredup.
"Sejak awal aku tak pernah menganggap dirimu musuh." Sahut Zhao Juren pendek.
__ADS_1
"Oh, ya? Aku masih ingat tatapanmu yang berapi itu menantangku di gerbang utara Doting. Betapa lucunya jika waktu itu kamu menganggap aku adalah sahabatmu."
"Aku hanya memusuhi strategi pengecut Jenderal Qui tetapi tak pernah memusuhi Xue Lian yang telah merawatku selama hampir satu musim." Zhao Juren membela diri.
Xue Xue berpaling, seringai itu menjadi terlihat menyedihkan di bibirnya yang merona itu, dilihatnya bahwa Zhao Juren sedang memandanginya dengan tatapan tanpa riak seperti danau yang baru saja di timpa hujan salju, pandangan matanya mendesak tetapi dia tak bersuara.
"Di Nanxing ini aku bukan siapa-siapa, tuan Zhao." Ucapnya kemudian dengan tegas.
"Aku tahu kamu adalah puetri Nan Luoxia, adik raja besar Niangxi dan kamu juga adalah jenderal Qui di balik topeng paling mengerikan yang di ceritakan orang-orang di medan peran dan aku juga tahu, kamu adalah pemilik istana Tianshi dengan ratusan pasukan bidadarimu yang tangguh. Jangan merendahkan dirimu dengan tak masuk akal, bahkan mungkin kamu sebenarnya lebih berkuasa dari raja Niangxi yang sebenarnya." Sambut Zhao Juren, dengan suara yang setengah berdecak.
Raut wajah Xue Xue berubah hendak mengatakan sesuatu, namun akhirnya tak dapat mengucapkannya. Dia hanya menatap lurus kepada lawan bicaranya yang berdiri seperti pohon willow di musim dingin itu.
" Tuan Zhao, kamu bertemu dengan orang yang salah." Sahut Xue Xue kemudian dengan suara yang tajam.
Cahaya rembulan bersinar di wajah Xue Xue, memantulkan cahaya malam dari lentera di pinggir danau itu.
"Musim panas dan dingin bergantian di gunung hijau, salju putih melayang-layang dan lenyap saat bertemu terang, seseorang yang kesepian menyaru dalam sejuta rupa dan pulang kadang tak tahu jalan. Kamu anggap gadis tersesat ini adalah Tuhan?" Xue Xue terkekeh seolah Zhao Juren sedang memberinya banyak lelucon.
__ADS_1
"Kamu telah berharap pada orang yang salah. Tak selamanya yang kamu lihat kuat itu benar-benar punya kuasa. Mungkin yang kamu lihat itu hanya ranting yang ternyata melekat sekedar hidup, menunggu patah jika tanpa ada yang melilitnya. Apa itu kekuasaan? Di masa lalu, raja adalah dewa. Namun kini, raja hanya tuan yang tak lagi menakutkan. Apa yang kamu harapkan dari seonggok batu di antara bumi dan langit luas tak berbatas? aku hanya bagian dari politik yang menyedihkan yang bersembunyi di balik kata penegak keadilan di dunia yang penuh dosa ini. Dan aku yakin kamu pun adalah catur yang berjalan di atas bidak yang sama. Kita hanyalah korban dari seribu ambisi yang menumbalkan wajah kita untuk menyembunyikan kekotoran orang lain."
Zhao Juren tertegun, di balik wajahnya yang polos dingin itu, Xue Xue tentu bukan orang yang tak berwawasan, dia mampu menyampaikan suatu kiasan dalam kalimat keluhnya yang jelas membebani separuh dari jiwanya.
"Aku tahu kamu bisa melakukan apapun, perang ini tak akan berakhir jika kita tidak menghentikannya. Kamu tahu kekerasan hati Yang Mulia Yan Yue dan kekejaman Raja Nan Chen, kakakmu. Anak-anak mati karena wabah penyakit dan kekurangan makanan, orang tua tak punya air tajin untuk sekedar menawar haus, demi makanan kadang seorang istri terpaksa menjual diri, untuk mendapatkan beras penyambung hidup,mengharapkan suami kembali. Seorang suami penuh ambisi tegap berperang lalu yang pulang hanya nama, pelipis terlalu pagi memutih bagai es karena duka dan lelah. Dunia ini penuh hambatan, bertahun-tahun penuh korban perang dan kita adalah yang paling bertanggungjawab untuk semua kematian itu. Semakin lama aku tak menginginkan kekayaan dan kemuliaan, miskin dan rendah seranjang. Aku hanya bisa pulang ke Yanzhie jika aku bisa membuat Yang Mulia Yan Yue dan Raja Nan Chen menghentikan perselisihan antara dua negara ini."
Xue Xue tak bergeming mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Zhao Juren lalu segaris senyum tertarik di sudut bibirnya.
"Kita hanya alat untuk kereta politik. Aku rasa kamu tahu benar bagaimana berbahayanya berada di garis depan peperangan tetapi politik di dalam istana kadang lebih mengerikan dari pada memotong leher orang. Politik hampir semenarik perang dan sama berbahayanya. Dalam perang, kamu hanya bisa dibunuh sekali, tetapi dalam politik, berkali-kali bahkan sampai ke keturunanmu. Jangan katakan kamu tak tahu itu." Xue Xue melihat ke wajah Zhao Juren berharapa menemukan kepercayaan pada wajah laki-laki yang sudah tak lagi terlihat berpoles lipstik itu.
"Apa Maksudmu, Xue Xue?"
Sesaat Xue Xue menarik nafasnya dengan sedikit ragu sebelum kemudian menghela nafasnya kuat-kuat.
"Apakah aku bisa mempercayaimu, Zhao Juren?" Tanyanya dengan suara yang bimbang, di bawah tatapan tajamnya pada mata Zhao Juren.
"Aku bukan orang yang suka berjanji, tetapi soal memegang kepercayaan, aku juga bukan orang yang suka mangkir." Jawab Zhao Juren.
__ADS_1
"Aku dan Kakakku Chen bukan orang yang berkuasa sesungguhnya, kami adalah boneka dalam sandera politik yang lebih besar. Kakakku raja yang menghibur diri dalam puluhan perempuan dan aku adalah mainan dalam topeng besi, apa yang bisa kamu harapkan dari kami?"