
Tirai-tirai hitam yang di gantung karena perkabungan atas meninggalnya Jenderal Zhaou Juren di istana Weiyan telah diganti dengan tirai katun berwarna putih. Masa berkabung sudah berakhir yang tersisa hanyalah kesedihan dan sebuah rencana besar yang sedang di susun oleh Yang Mulia Yan Yue.
Sehari setelah Zhao Juren dimakamkan di makam
kekaisaran pada ruang bawah tanah kuil Zuihou, Xiao Yi nekad keluar dari Istana Permaisuri dengan ditemani oleh pengawal pribadinya yang setia, pengawal Cun. Dedaunan musim gugur masih bersisa ketika dia pergi menuju istana kediaman Zhao Juren dengan diam-diam bersama pengawal Zhao Juren, komandan Li Jin.
Xiao Yi bukanlah orang yang mudah di bohongi, dengan sekali lihat siang itu di kuil ZuiHou pada ritual pemakaman baju jirah Zhao Juren dia tahu benar raut wajah Li Jin berubah seratus delapan puluh derajat.
"Dimana Tuanmu?" itulah pertanyaan Xiao Yi kala itu yang mebuat Li Jin hampir terhuyung ke belakang karena terkejut.
"Siapa yang di maksud oleh Yang Mulia permaisuri?" Tanya Li Jin dengan tergagap, dia tak bisa menyembunyikan ketakutannya.
"Kamu tahu benar yang kumaksud, Li Jin. Bukankah kamu hanya memiliki satu tuan?" Suara Xiao Yi tegas meski setengah berbisik.
"Hamba tak tahu apa yang dimaksudkan oleh Yang Mulia..."
"Berhentilah berpura-pura, Li Jin. Aku tak suka terlalu berbasa-basi."
"Ampuni hamba Yang mulia permaisuri, aku bersedia di hukum karena kebodohanku tetapi aku benar-benar tak mengerti..."
"Li Jin, menghukummu adalah perkara mudah, jika tuanmu itu sudah berada di tanah Yanzhi maka memberinya seribu status jahat tanpa perlu mendengar apapun alasan di balik menghilangnya dirinya selama ini juga sangat lumrah. Jika kamu menyembunyikan keberadaannya maka aku berharap tak ada penyesalanmu di kemudian hari."
Kalimat iru di ucapkan Xiao Yi dengan tenang tetapi mebuat Li Jin membeliakkan matanya menatap Xiao Yi dengan tak berkedip.
"Kamu kira membohongi satu negara adalah sebuah lelucon? Hukuman apa yang pantas di berikan kepada orang yang telah berbohong pada seorang raja dan seluruh rakyatnya? Aku bahkan tak bisa membayangkan apa hukuman yang tepat baginya dan bagi orang yang bersekongkol menyembuntyikannya."
"Ampuni hamba, Yang Mulia...Tuan muda tak bersalah, tuan mudaku sungguh tak bersalah. Ambil saja nyawaku tetapi ampunilah tuan Zhao" Li Jin hampir tersungkur karena ketakutan tetapi Xiao Yi memberi isyarat dengan ujung jarinya supaya dia tetap berdiri tegak dengan begitu tak akan memberi kecurigaan orang-orang sekeliling mereka.
"Aku tak butuh nyawamu, Li Jin aku hanya ingin kamu melakukan satu hal..." Xiao Yi menarik nafasnya sesaat.
__ADS_1
Li Jin yang gemetaran mengangkat wajahnya sedikit dengan mata menghiba.
"Apa yang bisa kulakukan Yang Mulia?"
"Bawa aku padanya, dengan begitu mungkin aku akan mempertimbangkan untuk menutup mulutku dan berpura-pura tak tahu apapun." kata-kata itulah yang kemudian membawa Xiao Yi untuk beretemu denganZhao Juren malam itu. Dia menyelinap diam-diam dengan di bantu oleh pengawal Cun dan tentu saja bersama Li Jin menemui Zhao Juren di kediaman Zhao Juren.
Malam beranjak sunyi senyap, segalanya begitu luas. Xiao Yi menatap luryus ke arah langit malam lewat jendelanya yang tinggi, Ia mengenakan gaun katun berwarna putih, berdiri di dalam kamarnya, memandangi langit musim semi yang cukup cerah malam ini.
Bulan sabit yang yang terbit menyinari bumi dengan cahaya temaram, malam menyelimuti kota Yubei, burung-burung yang kembali dari selatan tak lagi nampak menghias langitnya. Sudah sepekan sejak pertemuannya dengan Zhao Juren malam itu. Laki-laki itu jauh lebih kurus dari yang di ingatnya, ada sedikit rasa sedih menyusup bagaimana dia menyelami penderitaan laki-laki itu setelah pengkhianatan ibunya.
" Tuan Juren, Maafkan aku menambah bebanmu dengan tugas ini. Tetapi Yanzhi akan mengalami bencana besar jika aku tak melakukannya. maafkan aku karena aku yang mungkin tak terlalu bisa memikirkan bagaimana seharusnya meringankan penderitaanmu. Jagalah dirimu baik-baik, temukan orang-orang yang telah mengkhianati negara kita dan membuat kita mengalami hal-hal seperti ini. Jalan ini mungkin panjang, tetapi setiap pejuang tak akan merasa kelelahan untuk terus berjuang demi orang banyak dan rakyat yang mempercai kita." Xiao Yi menarik nafasnya sendiri kuat-kuat. Dia tahu murka Raja Yan Yue akan tumpah mengelegak pada akhirnya, dan perang selanjutnya tak akan bisa di hindari. Xiao Yi dan Zhao Juren hanya berpacu dengan waktu, sebelum Yang Mulia Yan Yue merencanakan peperangan yang melibatkan 9 wilayahnya demi memerangi Niangxi.
"Yang Mulia..." Chu Cu tiba-tiba mengagetkan dirinya, meski suaranya nyaris tak terdengar saking pelannya.
"Ada apa, Chu Cu?" Tanya Xiao Yi sambil menarik jendela kamarnya sulaya tertutup.
"Pengawal Chun menitip pesan, apakah Yang Mulia bersedia di temui, pengawal Chun ingin berbicara sebentar dengan Yang Mulia."
"Ya, Nyonya. Sepertinya cukup penting, itu setelah pengawal Cun.."
"Tentu saja, Pengawal Chun tak akan berkeras menemuiku jika tidak penting. " Xiao Yi berjalan ke arah meja dimana dia biasanya menerima tamu
Chu Cu tergesa mengambilkan mantel dan mengenakanny untuk Xiao Yi.
"Suruh dia masuk."
Pengawal Cun masuk dan membungkuk.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Aku menerima kabar dari istana kalau ada sesuatu yang terjadi di kuil Sunyen."
Dengan samar-samar, dirinya seakan mendengar
beberapa suara beruntun, menerbitkan kecurigaan yang mendadak dari Xiao Yi, mengingat di sana ada Ibu Suri Li Sui.
Cermin air bagai ilusi, pantulan cahaya di ombak jernih, kabut menyelimuti wajah lelaki itu, sedikit demi sedikit berubah menjadi sebuah kesunyian yang pucat.
"Apakah...Ibu suri berusaha melarikan diri?" Tanya Xiao Yi hati-hati.
"Tidak Yang Mulia...tapi..." Sesaat pengawal Cun ragu.
"Ibu Suri di kabarkan telah meninggal."
"Hah ? Meninggal? Kenapa? Dia sakit? kenapa begitu mendadak?" Xiao Yi terperanjat..
"Ya, ibu Suri meninggal gantung diri."
"Gantung diri?" Xiao Yi terkesima sesaat. Raut wajahnya berubah seketika. Lentera memancarkan sinar yang pucat pasi, bagai bulan di angkasa. Cara mati yang tak biasa iti sungguh nengundang banyak pertanyaan
"Ya, Yang Mulia. Kabarnya dia gantung diri di atas pohon Wisteria di belakang kuil Sunyen, tepat di cabang pohon Wisteris di mana ada kuburan seseorang di bawahnya... "
Xiao Yi benar-benar tak bisa berhenti tertegun. Kabar itu menyentakkan dadanya.
...
Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, ya🙏...
__ADS_1
Kalian semua ter best pembaca kesayangan❤️