CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 35. Tak Bisa Kembali


__ADS_3

Suara gadis ini begitu akrab di telinganya dan matanya ketika di cermati dari jarak cukup dekat, begitu familiar.


Ya, Zhao Juren merasa mengenalnya! Mata itu yang seperti berlian, tajam berkilau, itu seperti milik seseorang.


"Xue Xue? Apakah dia Xue Xue?"


Zhao Juren berdiam di belakang mejanya, menutup wajahnya sebagian dengan menundukkan wajahnya. Dia hanya ingin memastikan kalau itu adalah Xue Xue gadis bercadar yang telah menyelamatkan nyawanya.


Sudut-sudut bibir gadis itu terangkat membentuk seulas senyum hambar sepertinya dia sedang kesal. Dan lamat-lamat dia mengingat bingkai wajah itu. Meski dia berdandan jauh berbeda dari Xue Xue yang dilihatnya sepekan yang lalu, Zhao Juren merasa tak salah orang.


"Arak, nona..." Pemilik kedai langsung yang turun melayani dengan membawa guci arak berwarna coklat mengkilat.


Kepala gadis itu mengangguk, senyumnya itu amat tipis, sebelum sampai ke sisi wajahnya sudah menghilang begitu saja, senyum seadanya seperti kabut yang tipis yang dengan nelangsa menghilang ditiup angin musim semi.


"Ada lagi nona?"


"Tidak ada." Jawabnya pendek lalu tak mengacuhkan pemilik kedai itu, seakan meminta sang pemilik kedai segera pergi dari hadapannya.


Mata Zhao Juren tak lepas dari gadis yang menengak arak dengan acuh tak acuh pada sekelilingnya itu.


Entah berapa lama, Zhao Juren seakan menahan nafas hanya matanya tak lepas dari gadis itu, rasanya jika itu Xue Xue, kenapa dia lebih muda dari yang di bayangkan Zhao Juren. Saat malam menjelang subuh itu, memang remang tetapi dia hampir yakin, ini adalah orang yang sama.


Ilmu beladiri Xue Xue yang diketahuinya bukan main-main, untuk gadis di depan ini yang terlihat urakan, rasanya itu mustahil. Malam itu, Xue Xue memang terlihat jauh lebih dewasa dari apa yang di saksikannya kini.


Tapi, meski sekilas, Zhao Juren ingat sekali raut wajah dalam remang itu. Dan suaranya, tentu saja itu suara yang sama, meski di saat terakhir pinggir sungai itu, Xue Xue bersikap sedikit tegas dan nyaris kasar padanya.


Tiba-tiba tanpa di nyana mata gadis itu tertuju pada meja Zhao Juren, sesaat mereka beradu pandang dan jelas mata berlian itu berbinar dalam keterkejutan.


Tapi di detik berikutnya gadis itu membuang pandang dengan jengah. Dia minum arak dari cangkirnya dengan salah tingkah. Zhao Juren merasa perutnya mulas, keinginan menyapa itu hampir tak tertahan tetapi dia takut bertingkah gegabah jika ternyata itu bukan Xue Xue, menyapa seorang gadis asing dengan sembarangan tentu saja bukan kebiasaan Zhao Juren.


"Tuan, apakah tuan mau menambah arak lagi?" Pelayan yang tadi melayani Zhao Juren muncul tiba-tiba.


"Oh, iya...eh tidak. Araknya sudah cukup, aku tidak ingin menjadi mabuk..." Zhao Juren tergeragap sambil menggelengkan kepalanya. Tubuh si pelayan itu menghalangi pandangannya dari meja seberang.


"Mungkin tuan mau menambah dagingnya?"

__ADS_1


"Tidak, terimakasih. Aku kenyang sekarang." Zhao Juren berdiri sambil meletakkan beberapa tail perak.


"Eh, ini terlalu banyak, tuan. Harganya..."


"Ambil saja untukmu sisanya." Zhao Juren hendak beranjak, mendatangi meja di seberangnya tetapi dalam sekejap orang yang di carinya hilang.


"Kemana dia?" Zhao Juren sesaat seperti orang linglung, si pelayan menatapnya bingung.


Tanpa mengucapkan terimakasih lagi, Zhao Juren segera keluar dari kedai dengan tergesa. Dia yakin itu tadi adalah Xue Xue! Aroma persik yang khas itu sampai ke hidungnya beberapa saat yang lalu.


Bau itu sangat dikenalnya dalam tiga bulan terakhir.


...***...


Di kejauhan nampak cahaya lentera yang terang benderang memenuhi jalan menuju aula kebesaram kota. semarak berwarna-warni, merah jambu hingga merah darah, kuning emas yang menyilaukan bagai kaca berwarna.


Suara petasan bergemuruh di udara, anak-anak dengan gembira tertawa, pedagang asongan berseru-seru melawan suara gaduh itu.


Zhao Juren menyibak jalan, matanya berkeliaran menyelidik sekeliling, hari telah menjadi gelap tapi Zhao Juren tak menemukan sosok yang di carinyq. Nona-nona muda berdandan cantik mempesona berjalan riang, angin sepoi-sepoi bertiup di sepanjang pinggiran jalan raya.


Dan tak di nyana di antara kerumunan dia mendapati, gadis dari kedai tadi sedang berjalan cepat, begitu lincah nenyusup di antara orang-orang di jalanan.


Sebelum dia baik ke dalam sebuah kereta kuda yang terlihat seperti menunggu pada pinggiran jalan, dengan sigap Zhao Juren menarik lengannya. Keseimbangan gadis itu tak sempurna karena satu kakinya sudah menjejak dalam kereta, alhasil dia jatuh di dalam pelukan Zhao Juren yang menyambutnya dengan siaga.


Mata itu tak mengerjap, lekat bersirobok pandang dengan tatapan sayu Zhao Juren, sekarang dia tak ragu. Perempuan ini adalah Xue Xue!



"Hey!" Teriakan itu terkejut disertai amarah, dia melompat membebaskan diri dari pelukan Zhao Juren.


"Berani-beraninya kamu." Hulu kipas itu hampir di tariknya dari balik pinggang tetapi kemudian dia seakan menyadari sesuatu.


"Xue Xue!"


Zhao Juren tak melepaskan cengkeramannya di lengan sang gadis.

__ADS_1


"Lepaskan aku!"


"Aku tak akan melepaskanmu lagi, Xue Xue!"


Gadis ini mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dan memandangi Zhao Juren sekian lama,


"Aku bukan Xue Xue." Desisnya dingin. Pandangan mata Zhao Juren samar-samar menembus waktu, berhenti pada hari paling pertama dia melihat seorang perempuan bercadar sutra hitam, mata itu bulat bersinar menatapnya, suara kasar yang di buat-buat. Masa itu tidak lebih dari sepekan yang lalu tetapi entah mengapa dia merasa begitu rindu.


"Aku tahu kamu adalah Xue Lian." Ucap Zhao Juren tanpa bimbang.


Mata gadis itu mendadak bersinar dingin dalam diam, dirinya berlaku pada sikap Xue Xue di balik cadar hitam menganggap dirinya kejam, dingin tak berperasaan, beku tanpa sedikitpun kehangatan. Sebentar lagi mungkin dia membentak Zhao Juren, tetapi yang di tunggu Zhao Juren tak kunjung terjadi.


"Siapa kamu?" Tanyanya dengan jengah, pada sepasang biji matanya nampak sebuah cermin, tak perduli sinar mata macam apa yang menantangnya dan berusaha menembusnya, ia selalu memantulkannya kembali dengan dingin, melihat ke atas, tak sudi di tatap seperti itu.


"Aku tak pernah salah mengenali orang." Zhao Juren menyeringai.


Lalu dengan tanpa di sangka Zhao Juren menjejakkan kakinya di atas buku kaki gadis itu. Dengan lincah dan ringan Xue Xue menghindar, naluri bela dirinya tak bisa berbohong. Tubuhnya melayang sejengkal dari atas tanah. Lalu jemarinya tanpa sadar terentang ke depan, tidak membuang waktu Zhao Juren menangkap pergelangan tangannya.


"Aku tahu, cincin ini adalah cincin yang sama seperti yang kamu kenakan malan itu, dari mata giok hijau. Aku tak pernah lupa." Zhao Juren memegang jemari gadis yang di yakininya adalah Xue Xue itu.


Xue Xue hanya mengerjap matanya, dia tak bisa lagi mengelabui pandangan Zhao Juren.


"Kenapa kamu tak pulang ke Yanzhi? Huh?" Akhirnya dia melotot dengan raut kesal, tak bisa lagi berkelit lagi.


"Aku tak bisa kembali ke sana karena kamu sudah membunuhku di Yanzhi, mereka telah menguburku di sana. Bagaimana aku bisa pulang? karena itu kamu harus bertanggung jawab untuk itu." Zhao Juren berucap dengan wajah sok dingin.


"Kita harus bicara..." Zhao Juren menarik lengan gadis itu tanpa fikir panjang.


"Jangan. Tidak sekarang! Aku sedang terburu-buru." Xue Xue melepaskan tangannya.


"Tapi..."


"Temui aku di kedai arak tadi besok malam." Xue Xue dalam sekejap melompat ke kereta yang tampak setia menunggunya.


...Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, yaaa...

__ADS_1


__ADS_2