CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 51. Sandiwara Di Mulai


__ADS_3

"Sudahlah, jangan melihatku begitu!" Zhao Juren merengut kesal sambil menutupi sebagian dahinya dengan rambut panjangnya. Dia risih bukan main. Sebagai seorang jenderela rasanya dia tak punya harga diri lagi, tetapi apa mau di kata, waktunya semakin sedikit, dia hanya punya satu musim ini untuk menjalankan misi Permaisuri Xiao Yi, kalau di menunda lebih lama lagi sungguh membuang-buang waktu.


Zhao Juren tak punya pilihan lain lagi kecuali mengikuti saran Changyi yang nyeleneh ini.


"Untung saja Zhao Juren di Yanzhi telah dikuburkan dan di anggap mati, jika tidak andai ada orang yang mengenalnya, ini sungguh memalukan baginya.


"Sttt...tuan Lian Ju, jika saja aku tak tahu anda itu laki-laki, mungkin aku akan jatuh cinta padamu." Changyi mesem-mesem.


"Sembarangan! sekali lagi kamu bicara ngawur aku akan melemparmu ke tengah jalan itu." Zhao Juren menunjuk lewat jendela kereta yang mereka tumpangi. Di sambut cekikikan Changyi yang di buat-buat seperti seorang perempuan itu. Dengan kesal Zhao Juren melengos, berusaha tak memperdulikan Changyi yang terus saja menggodanya sejak tadi.


Dia masih tegang setelah mereka mengenakan baju pelayan perempuan ini, saat keluar di depan pintu penginapan, mereka barusan di cegat oleh pemilik penginapan yang melotot pada mereka berdua seperti seekor serigala kelaparan, matanya mendelik tajam penuh kecurigaan.


"Siapa kalian? kenapa kalian menyusup ke dalam kamar tamuku, mengendap-mngendap begitu?"


Zhao Juren hampir keceplosan tetapi saat dia ingat sekarang dirinya dan Changyi dalam pakaian perempuan, pantaslah pemilik penginapan ini mencurigai mereka.


"Maaf tuan..." Changyi menepuk lengan pemilik penginapan yang sudah berumur itu dengan gaya yang genit.


"Kami dari kamar Tuan Lian Ju..."


"Apa yang kalian lakukan ke kamar tuan Lian Ju, hah? Kalian dari rumah b*rdil ya?"


"Akh, Tuan tahu saja..."


Hampir saja Changyi di geplak oleh Zhao Juren ketika Changyi dengan sengaja membuat seolah-olah dirinya adalah orang yang suka bermain dengan perempuan tempat hiburan.


"Astaga, aku tidak menyangka tuan Lian Ju yang sopan dan ramah itu ternyata menyukai perempuan begini." Pemilik penginapan menggeleng-gelengkan kepalanya tetapi kemudian matanya  tertuju pada Zhao Juren yang tinggi besar itu. Untung saja dia menjadi sedikit lebih kurus karena tak sadarkan diri beberapa bulan itu, sebagian massa ototnya menyusut sehingga terlihat cukup pantas dalam sebuah gaun perempuan meski memang pas-pas an di badan.


Zhao Juren sudah bersiap untuk membela diri tetapi telapak tangan Changyi menutup mulutnya,


"Haish, adik...sebaiknya kita pergi, nanti kita terlambat, mungkin saja sudah ada pelanggan lain yang mengantri." Changyi mengedipkan matanya.

__ADS_1


"Oh, iya tuan...tadi tuan Lian Ju berpesan kamarnya tolong di bersihkan, berang-barangnya masih di dalam kamar. Selama seminggu tuan Lian Ju akan tidur di rumah b*rdil bersama kami. Tolong jagalah kamar itu, untuk uang sewanya sepekan sudah di letakkan di atas meja. Sekarang kami harus pergi dulu." Tanpa sempat untuk protes, tangan Zhao Juren sudah di tarik oleh Changyi.


"Hei, Nona! Tunggu!" pemilik penginapan itu yang sedari tadi mengamati wajah Zhao Juren dengan susah payah karena Zhao Juren menundukkan wajahnya terus untuk menyembunyikan mukanya karena malu.


"Apalagi, tuan?" tanya Changyi dengan manja, bibirnya yang merah itu di monyong-monyongkannya.


"Siapa nama temanmu yang cantik ini?" tanya pemilik penginapan sambil celingak celinguk ke belakang takut isterinya lewat tanpa di sadarinya.


"Ini adikku."


"Ya, nama adikmu ini?" Pemilik penginapan mengedipkan matanya dengan nakal.


"Oh, Namanya Ju...Ju'er."


"Ju'er? katakan pada kakakmu yang pemalu Ju'er ini, kalau da waktu senggang mari membuat janji, dia bisa menemaniku satu malam, aku bisa membayarnya lebih banyak dari tuan Lian Ju."


Muka Zhao Juren rasanya memerah seperti kepiting rebus, jika tak ingat dia sedang menyamar dengan Changyi mungkin saja pemilik penginapan ini sudah di tendangnya hingga puluhan depa.


Kaki Zhao Juren bahkan hampir tersandung oleh gaunnya yang panjang itu karena dia tidak terbiasa dengan kasut perempuan yang di pakainya.


"Kamu membuatku seolah-olah sangat brengsek." keluh Zhao Juren sambil merapikan pakaiannya pada bagian dada, jika teringat kejadian tadi rasanya dia ingin memukul Changyi dengan kepala pedangnya yang di sembunyikannya di belakang punggungnya.


"Akh, jangan terlalu di ambil hati, tuan Ong itu memang genit. Dia diam-diam suka ke rumah hiburan di pinggir kota jika istrinya sedang pulang ke kampungnya. Lelaki mata keranjang itu hanya sok galak saja padahal dia itu kelakuannya lebih dari kadal hutan." Changyi mengambil kotak bedak dan sebuah cermin kecil dari dalam tas tangan dari kain beludru kasar yang di jinjingnya itu. lalu menepuk-nepukkan kain kepipinya hingga memerah, memulas serbuk pemerah bibir dan mengecap-ngecapkan bibirnya. Dia sungguh-sungguh menghayati perannya sebagai perempuan.


"Kalau saja aku tidak ada kepentingan untuk masuk ke istana Nan, demi langit aku tak sudi berpakaian seperti ini." Zhao Juren mengeluh dalam hati tetapi dia akhirnya pasrah, dia tak punya ide apa-apa selain mengikuti ide Changyi.


Kereta kuda itu semakin mendekati gerbang istana Nan, entah kenapa Zhao Juren semakin gugup. Dia takut ada yang mengenali penyamaran mereka.


"Ini..." Changyi menyodorkan serbuk pemerah bibir kepada Zhao Juren.


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Pasang lagi!" Perintah Changyi.


"Bukankah kamu sudah memasangnya dengan tebal tadi waktu di kamar?" Zhao Juren menolak kotak serbuk pemerah bibir itu.


"Astaga, bibirmu sudah pucat begitu, seperti orang yang sedang kena demam. Dari tadi kamu menjilatinya."


Mau tidak mau Zhao Juren mengambil kotak serbuk pemerah bibir itu dengan kaca kecil yang di sodorkan oleh Changyi. Lalu memulas serbuk itu ke bibirnya dengan sembarangan.


"Di kecap-kecap...pap...pap...seperti ini." Changyi memberi contoh untuk meratakan pemerah bibir itu kepada Zhao Juren dengan menggunakan bibirnya.


"Demi langit, semoga aku tetap waras dalam seminggu ke depan." Zhao Juren menggeleng-gelengkan kepalanya tetapi tetap menuruti perintah Changyi.


Kereta kuda itu berhenti dengan perlahan tepat di depan gerbang istana Nan. Puluhan penjaga nampak berada di depan gebang, di depan mereka ada kereta lain dengan beberapa gerobak yang berisi bahan makanan, sayur, beras, gandum dan buah-buahan.


"Kita sampai." Bisik Changyi.


"Ingat, tidak usah terlalu banyak bicara jika tak perlu, kecuali ditanya. Biar aku saja yang menjawab. Dan kalau berbicarapun suaramu di haluskan, gunakan suara hidungmu supaya terdengar seperti perempuan." lanjut Changyi sambil meratakan tusuk rambutnya, bersiap untuk turun. Zhao Juren tidak menyahut.


"Dan ingat, aku adalah Yiyi, kakakmu. Namamu Ju'er, adikku. Marga kita Hao."


"Kenapa aku harus jadi adikmu? Aku lebih tua dan lebih tinggi darimu?" Protes Zhao Juren.


"Akh, kapan lagi aku jadi kakak? di rumah aku adalah yang paling kecil , tertindas dan jarang diperhatikan. Apa salahnya dalam seminggu ini aku jadi kakakmu?" Changyi terkekeh lalu melompat turun dari kereta.


"Ayo, adik...turunlah. Kita akan menemui bibi Mei..." Panggil Changyi dari luar kereta dengan mendayu, pertanda sandiwara mereka di mulai.



...Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, ya🙏......


...Kalian semua ter best pembaca kesayangan❤️...

__ADS_1


__ADS_2