
Selir Huan membungkuk lagi dengan patuh, matanya melirik dari balik poninya, melihat wajah Yang Mulia Nan Chen mengingatkannya pada seseorang yang membawa surat perintah ke dalam rumahnya belasan tahun yang lalu.
Perintah untuk menghukum semua keluarga Jiu sampai ke akar-akarnya. Pengkhianatan bibinya itu telah membuat keluarga besar Klan Jiu sebagai mata-mata keluarga istana punah di gantikan oleh klan Lin. Tak ada yang bersisa, kecuali dirinya yang sempat di selamatkan oleh pengasuhnya saat dia baru berusia enam tahun. Dia dibesarkan oleh pembantu setia keluarga Jiu di desa terpencil tempat tersembuyi, di bawah gunung Beiyu. Hingga pengasuhnya itu mati yang di dengungkan padanya adalah mebalas dendam keluarga Jiu, dia adalah keturunan terakhir yang mengemban sebuah beban besar, membalas semua orang yang terlibat dalam konspirasai melenyapkan klan Jiu yang telah berabad-abad setia sebagai mata-mata Istana Nan.
Raja kala itu sakit-sakitan dan raja baru ini baru saja naik tahta, dia mengirim sebuah surat dengan stempel berisi petisi pembantaian itu. Tak ada yang lebih ingin di bunuhnya dari besarnya dendam kesumat pada orang yang kini berada di depannya itu. sepuluh tahun dia menunggu, untuk bisa masuk kedalam istana Nan. Dan sekarang tak di nyana dia bahkan hampir setiap malam berada diperaduan sang raja ini, meski sebenarnya dia tak pernah benar-benar di sentuh oleh Yang Mulia Nan Chen. Dia hanya duduk di sudut ruangan, melihat Yang Mulia Nan berkutat dengan banyak lipatan kertas, berada di sana sampai malam melewati larut lalu dia di suruh kembali ke kamarnya dengan baju yang acak-acakan!
Yang Mulia Nan tak lagi berbicara, pandangan matanya berputar-putar di wajah selir Huan, lalu kembali memandang ke bawah. Saat itu, seorang kasim berteriak dari luar dengan takut-takut menyampaikan kabar dari istana Harem.
Salah seorang selirnya yang bernama nyonya Nyonya Siaw mengalami pendarahan berat dan tak sadarkan diri, dia baru saja meninggal setelah di pastikan bayi yang di kandungnya pun meninggal,Β angin yang dingin dan suram mendadak bertiup, dahi Yang Mulia Nan berkerut, jari yang menekan pelipisnya mau tak mau bertambah kuat menekan. Yang Mulia tidak bergegas melihatnya, hanya terlihat terpekur, kematian di dalam istana bukanlah hal yang aneh, untuk hal seperti itu dia tak harus langsung menanggapinya.
"Aku akan memeriksanya besok." Hanya itu jawaban Yang Mulia Nan Chen, dingin dan datar. Dia tak pernah benar-benar menyentuh nyonya Siaw, meski dia pernah mengunjungi selir itu yang menemaninya minum satu malam, dia mabuk tetapi tak hilang sadar, arak tak pernah benar-benar menghilangkan kesadarannya. Tetapi beberapa bulan yang lalu, nyonya Siaw di kabarkan hamil. Yang Mulia Nan tahu benar, dirinya tak pernah meniduri selirnya itu. Selir licik ini dengan bangga mengatakan dia hamil anak raja, dan Yang Mulia tahu benar itu bukan anaknya.
Raja Nan Chen melalui tangan pengawal pribadinya telah membunuh diam-diam seorang penjaga gerbangnya yang diketahui berselingkuh dengan Nyonya Siaw. Tapi Yang Mulia tak pernah ingin membuat kegaduhan karena pasti memancing riak politik apalagi nyonya Siaw adalah keponakan salah satu bangsawan, Nan Chen bertindak sendiri mengatasinya dengan cara diam-diam.
Dan bayi itu, memang dia tak pernah berencana membunuhnya, anak seorang selir tak akan di akui tinggi di istana Nan, kecuali di beri kompensasi kekayaan milik ibunya meski anak raja, Yang Mulia Nan tak pernah mencemaskan kehadiran bayi itu. Tetapi sepertinya langit benar-benar berpihak kepadanya, nyonya Siaw bahkan mati dengan anak yang di kandungnya, menyusul ayahnya pengawal gerbang yang di kuburkan di hutan oleh Pengawal pribadinya.
__ADS_1
Melihat wajah Yang Mulia begitu keruh, Selir Huan berkata dengan begitu hati-hati,
"Hamba juga masih mempunyai kepandaian memijat yang dapat mengurangi sakit kepala, apakah Yang Mulia bersedia mencobanya?"
Sinar lilin di dalam aula bertambah terang, di luar jendela bulan semakin bersembunyi di balik awan.Β waktu dengan perlahan mengalir, sinar mata Yang Mulia Nan Chen bagai diselimuti salju yang berterbangan, ia memandangi Selir Huan, sinar matanya dengan samar-samar mengandung suatu makna yang mendalam, setelah terdiam untuk
beberapa saat, ia menunduk dan berkata, "Baiklah, mari kita lihat sebaik apa kamu bisa menghilangkan sakit kepalaku."
Dengan gerakan yang tenang, Selir Huan beringsut mendekati raja dan setengah berlutut di belakang raja, mengangsurkan sepasang tangan yang putih bersih, menekan dahi sang kaisar, jari-jemarinya sedingin es, ketika pertama menyentuhnya, tak nyana bagai salju dingin di puncak gunung, dinginnya membuat
hati gemetar. Yang Mulia Nan Chen nampak tenang, merasakan jari-jemarinya yang lincah dan
"Akh...ini enak sekali Huan'er." Suara Yang Mulia Nan menggerang dengan mata terpejam. Ia mengintip sedikit lewat sudut matanya, lalu dengan asal berkata, "Apakah rumah bordil mengajarkannya padamu banyak keahlian?"
Selir Huan menjawab dengan suara rendah, "Ya".
__ADS_1
"Sudah berapa tahun kau berada di ibu kota? aku sudah lupa kalau kamu pernah menceritakannya padaku."
Selir Huan menjawab tanpa ragu, "Sudah dua tahun penuh".
Sudut-sudut bibir Yang Mulia Nan terangkat, namun dalam matanya sama sekali tak ada senyum, dengan hambar ia berkata, "Sebelumnya, kau orang mana?"
Suara Selir Huan tenang, sambil menunduk ia menjawab, "Orang Beiyu".
Dahi yang Mulia Nan berkerut, tangannya mengepal menjadi sebuah tinju, ia menaruhnya di sisi bibirnya, ia menghela napas dengan pelan, lalu berkata, "Beiyu? adikku pernah berada di puncak gunung Beiyu bertahun-tahun lamanya. Aku ingat bagaimana aku menangis saat ibuku menaikkannya ke sebuah kereta kuda dan Yuhuai terus berteriak memanggil namaku. Tapi aku tak pernah bisa menurunkannya dari dalam kereta itu. Sejak itu aku tak pernah melihatnya, hingga ketika bertemu dewasa, aku sudah hampir tak mengenalnya. Dia seperti orang asing. Bahkan aku merasa Dia membenciku dengan senyumnya.".
Selir Huan terdiam, mendengar gumam pelan itu, nama yang disebut Yang Mulia Nan itu begitu menggetarkan relung sanubarinya, matanya meredup dalam rindu yang aneh. Beberapa bulan ini dia telah melihat Yuhuai dalam beberapa momen bersama seorang perempuan cantik dengan kemewahan yang menakjubkan. Semua orang mengatakan dia dalah isteri Yuhuai. Selir Huan tak bisa menampik rasa nyeri yang menikam jantungnya, meski saat terakhir dia melihat Yuhuai bertahun-tahun yang lalu di gunung Beiyu, dia mencoretkan noktah kebencian karena mengetahui pemuda tampan sederhana yang di pujanya di gunung Beiyu itu adalah keluarga dari Raja Nan yang di bencinya.
Tapi sebesar apapun dia memupuk rasa benci siang malam pada Yuhuai tetap saja saat pertama kali dia melihat Pangeran itu yang ada di hatinya adalah aliran hangat kelegaan seperti rindu yang menggelayar tertumpahkan.
"Agh...lagi...Huan'er...lakukan lagi. Tekan di situ. Akh, ini enak sekali. Kamu benar-benar ahli melakukannya..." Suara Yang Mulia menggaung, aula besar itu amat besar,Β entah dari mana, angin bertiup masuk, melayang-layang dengan ringan, membawa suara itu sampai belakang pintu, suara erangan yang samar-samar. Sinar mata selir Huan tenang, walaupun sedang memandang punggung orang yang berbeda dan ia tak pernah benar-benar mengangkat kepalanya, ia masih dapat membayangkan raut wajah orang itu.
__ADS_1
Yuhuai, benar, seharusnya seperti ini, mata yang panjang dan sipit, pandangan mata yang tajam, batang hidung yang mancung, sepasang bibir yang amat tipis, bahkan warna bibirnya pun amat pucat, selalu tertarik ke dalam seperti ini, seakan tak memandang siapa pun. Dia jarang tersenyum hanya sorot matanya yang kelam memandang Huan kecil menjelang remaja itu dengan tatapan yang dalam menembus rumput kuning di padang rumput Beiyu.
Yuk, di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...πππππ