CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 50. Jalan Masuk Ke Istana


__ADS_3

Hari itu langit biru muda, cuaca sangat baik, matahari yang sedikit terik memancarkan sinarnya yang hangat tergantung di atas Kota raja Nanxing.


Sudah Empat hari Zhao Juren hanya berbaring dan bermalasan di dalam kamar penginapan. Turun mencari makan dan minum arak sesekali, lalu berjalan-jalan sebentar di sekitar danau. Sedikit berharap seorang gadis memanggil namanya seperti beberapa malam sebelumnya. Xue Xue benar-benar seperti di telan bumi. Dia juga tak pernah mencari Zhao Juren lagi seperti isi suratnya.


Sekarang Zhao Juren sedikit gusar, dia sedang tak sabar menunggu kabar dari Changyi yang dua hari sebelumnya muncul pagi-pagi. Seharian ini malah dia tak nampak batang hidungnya.


"Aku akan menemui bibiku di istana Nan, masuk ke sana bukan perkara mudah. Tapi aku akan melakukannya. Siapa tahu bibi Mei punya cara untuk memasukkanmu ke istana." Itu yang di katakan Changyi padanya dan anehnya Zhao Juren percaya begitu saja dengan ucapan Changyi, buktinya dia sampai sekarang masih nenunggu kabar dari Changyi meskipun pesta lentera telah berakhir tadi malam.


"Tuan Lian Ju...!" Suara Changyi terdengar riang, dia menerobos menuju penginapan Zhao Juren. Dia begitu riuh, bahkan tanpa permisi nyaris mendobrak kamar Zhao Juren.


"Hah, kamu mengejutkanku, Changyi." Zhao Juren terlonjak dari pembaringan. Siang bolong begini dia hampir memejamkan matanya terlena oleh cuaca yang hangat dan angin yang berkesiur lewat jendela kamarnya. Rasanya seperti sedang berbaring di sebuah tempat landai yang nyaman.


"Tuan, aku punya kabar baik." Ujarnya dengan nafas ngos-ngosan, sambil memeluk buntelan kain berwarna kuning menyala. Anak ini memang menyukai warna-warna mencolok.


"Kabar baik apa?"


"Tuan Lian Ju hanya ingin masuk istana dan bejerja di sana karena tuan sangat menyukai memasak kan? Seperti itu ku dengar kemarin." Ucapnya dengan bersemangat.


"Aku ada mengatakan begitu?" Zhao Juren terbengong.


"Rasanya begitu...apa aku salah?" Changyi mengernyit dahinya sambil menggaruk-garuk rambutnya yang agak jigrak dan tak rapih itu.


"Oh, aku mungkin lupa telah menceritakan hobbyku yang itu." Mau tidak mau Zhao Juren mengiyakan saja, dengan begitu dia tak perlu berdebat lebih lama dengan si cerewet ini. Padahal Zhao Juren sama sekali buta dengan semua hal yang berurusan dengan pengolahan makanan kecuali dia adalah penikmat yang handal.


"Tuan Lian Ju memang pelupa, aku maklum saja, mungkin itu pengaruh umur." Changyi terkekeh. Zhao Juren sebenarnya kesal mendengar ucapan Changyi tapi apa daya umurnya mungkin belasan sepuluh tahunan lebih tua dari pemuda ini.


"Sekarang, katakan apa kabar baik darimu."


"Aaaa...aku hampir lupa gara -gara tuan Lian Ju terlalu banyak bicara!" Changyi tertawa menyambut kekurang sabaran Zhao Juren. Zhao Juren hanya menggeleng-geleng kepalanya dengan heran,


"Yang banyak bicara bukannya kamu?" Keluh Zhao Juren, baru kali ini dia memiliki teman, seorang rakyat biasa yang begitu bebas berbicara bahkan mengekspresikan tanpa kekuatiran apa-apa.


"Dengar tuan, kemarilah..." Changyi mendekat dengan suara di rendahkan setelah memastikan pintu kamar tempat mereka berdua tertutup rapat.


"Anda beruntung, istana sedang membuka lowongan pekerjaan."


"Lowongan pekerjaan? Jadi apa? pengawal? tukang kebun. Asal bukan kasim, aku tak apa-apa." Zhao Juren melotot dengan antusias, kalimat itu membuat Changyi tidak bisa menahan tawanya.


"Bukan semuanya."


"Lalu apa?"


"Jadi pelayan di istana harem."

__ADS_1


"Haaaah...???"


"Bukankah tuan Lian Ju ingin masuk istana bukan karena ingin mencari uang, tetapi..." mata Changyi terpicing serius.


Zhao Juren terkesima, dia menatap pemuda di depannya itu dengan terpana, ada sedikit rasa gugup jika ternyata Changyi yang polos ini curiga padanya dan bisa menebak maksud dan tujuan Zhao Juren ingin masuk ke istana.


"Sejak melihat tuan dari awal, aku tahu..."


"Apa?"


"Bahwa tuan sedang jatuh cinta." Changyi mengedipkan sebelah matanya dengan tingkah yang tengil.


Zhao Juren mendelik pada pemuda kurang ajar ini. Sementara degup dadanya berbeda sekarang, mendengar ucapan Changyi.


"Apa hubungannya aku jatuh cinta dengan masuk ke istana?"


"Tuan Lian Ju jatuh cinta pada salah satu perempuan istana. Tuan pasti sedang kasmaran pada salah satu dayang di istana Harem. Di sana terkenal dengan perempuan pelayannya yang secantik kupu-kupu." Jawab Changyi dengan raut puas melihat Zhao Juren yang melotot tak berkedip padanya.


"Astaga, kenapa fikiranmu begitu ajaib, Changyi?" Zhao Juren hampir tergelak di buatnya.



...CHANGYI...


"Terserahlah kamulah..." Zhao Juren memotong kalimat yang terus meluncur beruntun dari mulut Changyi menyerah menghadapi tingkah konyol Changyi ini.


"Lalu bagaimana cara aku masuk ke sana?"


"Sttt...sabar..." Changyi menyeringai pada Zhao Juren.


"Teman, aku punya ini..." Dia menunjuk buntelan yang dipegangnya dari tadi dan menghempaskanya dengan tak sabar ke atas tempat tidur.


"Apa ini?"


"Bukalah..."


Zhao Juren menurut dan membuka buntelan itu dengan penasaran.


Sejurus kemudian Zhao Juren melongo kebingungan, di dalamnya beberapa helai pakaian perempuan berwarna hijau pupus, seragam khas pelayan istana Nanxing.


"Apa ini?"


"Pakaian pelayan."

__ADS_1


"Ini pakaian perempuan."


"Aku tahu."


"Lalu?"


"Kita akan mengenakannya."


"Haaaaah???" Mulut Zhao Juren nyaris tak terkatup.


"Kata bibi Mei dua orang pelayan dapur sedang sakit, dia sedang mencari pelayan pengganti untuk satu pekan ini, menjadi asistennya di dapur istana harem. Aku sudah mengatakan kepada bibi Mei aku punya dua orang teman kakak beradik yang bisa di andalkan. Besok pagi kita akan ke sana menemui bibi Mei, bibi akan menunggu kita di gerbang timur bersamaan dengan bibi menerima logistik dapur untuk harem."


"Tapi, kita laki-laki?"


"Karena itulah kita akan mengenakan pakaian ini. Sudah ku pilihkan ukuran yang cukup longgar. Ku rasa ini pas dengan badanmu." Changyi menyodorkan salah satu pakaian berwarna hijau itu padanya.


"Astaga, Changyi...kita tak bisa melakukan ini." Zhao Juren bergidik, memikirkan harga dirinya sebagai jenderal mengenakan pakaian ala perempuan. Jika para prajuritnya tahu dia akan mati di olok dan si tertawakan.


"Ayolah, ini hanya untuk seminggu saja dan tuan akan bertemu dengan kekasih tuan, bukankah ini setimpal?"


"Aku tidak mau!" Zhao Juren melemparkan baju perempuan itu dengan jijik ke atas tempat tidur.


"Baiklah, terserah tuan. Aku hanya punya satu kesempatan ini saja, masuk ke istana itu susahnya bukan main. Jadi aku tak punya jalan lagi. Tuan tidak perlu menyalahkanku jika dayang cantik kekasihmu itu di ambil salah satu anak bangsawan brengsek untuk menjadi istri ke limanya." Changyi nyengir.


"Aku mau cara lain saja?"


"Cara lain yang bagaimana? aku tak punya koneksi para pejabat di sana yang bisa kita suap untuk menjadikan tuan salah satu pengawal di sana."


"Pasti ada cara lain."


Changyi menggelengkan kepalanya beberapa saat tetapi kemudian dia menjentikkan jarinya sepertinya menemukan jalan keluar.


"Aku tahu satu cara yang mudah."


"Apa?"


"Kita akan mengebiri tuan ke tempat tabib kasim. Kita bisa melamarkan pekerjaan untuk tuan menjadi kasim."


"Bugh!!!" Zhao Juren menimpuk ke Changyi dengan salah satu baju itu dengan gemas dan kesal.


"Sembarangan!" Rutuknya.


...Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, ya🙏......

__ADS_1


...Kalian semua ter best pembaca kesayangan❤️...


__ADS_2