
Yanzhie masih tetap Yanzhie, langit biru dan awan putih, angin sepoi-sepoi masih seperti dulu, masih tetap membawa angin dingin yang sampai ke tulang.
Penghujung musim semi telah berlalu, musim gugurpun menunggu waktu hanya hitungan pekan.
Di kamp perbatasan, seorang laki-laki gagah berdiri menatap kepegunungan nan jauh di depan, dia adalah Yang Mulia Yan Yue, ini kali pertama dia berada di perbatasan yang penuh kenangan darah dan cinta ini setelah nyaris belasan tahun.
Yang Mulia Yan Yue menarik mantelnya yang berwarna merah gelap itu lebih erat ke tubuhnya, angin pagi yang sepoi-sepoi mengangkat rambut hitamnya yang menawan, bagai jurai yang berterbangan laksana gelombang di tiup angin.
Dia tak mengenakan mahkota, tak pula dalam pakaian kebesaran. Hanya baju jirah yang dilapisi mantel.
"Hhhhh..." Nafas berat itu di hembuskan dengan enggan, dadanya serasa sesak sesaat terpapar segenap aroma masa lalu yang pernah membuatnya nyaris kehilangan nyawanya. Dia juga pernah berjuang mati dan hidup di tempat ini, demi mempertahankan perbatasan yang selalu meminta nyawa dari generasi ke generasi ini. Dulu di sampingnya selalu ada, Zhao Juren yang gagah berani, sekarang yang berdiri di sampingnya hanyalah sebuah pohon tua tanpa daun, dan tak jauh di belakangnya pengawal Jian Jie yang telah naik pangkat menjadi komandan pasukan Yu berdiri laksana batu, suara nafasnya hampir tak terdengar.
Tak banyak yang berubah dengan tempat ini, hanya saja para prajurit yang telah gugur di medan perang, tak terlihat lagi.
"Berapa jauh kita dari kota Yichen?" Tanya Yang Mulia Yan Yue dengan suaranya yang datar.
"Sekitar 800 Li lagi Yang Mulia." Jawab Jian Jie.
Yang Mulia Yan Yue menganggukkan kepalanya sedikit, matanya jauh menerebos ke kejauhan menelusuri belantara dan di belakang pegunungan berwarna oranye karena warna dari sisa daun-daun kering yang terhampar itu.
Raja ini memutuskan untuk turun sendiri ke perbatasan Yanshan, perang belum di umumkan tetapi Yang Mulia Yan Yue membawa Seratus ribu pasukan bersamanya dan merencanakan markas sementara di kota provinsi Liangsu yang berdekatan dengan perbatasan Yanshan.
"Aku harus merebut kembali kota yang telah di jaga 6 generasi sebelum aku, dan kota yang telah mempertaruhkan nyawa saudaraku, Juren. Aku harus mengembalikan warisan tua Yanzhie pada tempatnya." Yang Mulia Yan Yue memeluk tubuhnya sendiri, menoleh pada perkemahan mereka yang berjejer ratusan meter.
"Biarkan Pasukan Niang yang menduduki kota tua tahu, jika aku berada di Liangsu dengan pasukanku, aku ingin tahu apa respon raja Chen soal ini." Ucap Yang Mulia pada Lian Ju.
__ADS_1
Di kota Raja Yanbei, dewan istana hanya tahu, raja Yan Yue dalam perjalanan kunjungan pertamanya ke luar istana menuju provinsi bagian selatan Yanzhie, Liangsu, tetapi sesungguhnya rencana Yang Mulia Yan Yue adalah mengintimidasi pasukan Niang di kota Yichen yang kini mengunci kota itu.
"Perang ini pasti terjadi lagi, tetapi aku menunggu waktu yang tepat..." Yan Yue melangkahkan kakinya menuju kamp, langkahnya lebar dan gagah.
*****
Di hari kedua puluh musim gugur tahun itu, bulan di balik jendela sangat bulat dan merah, bagai piringan batu kumala kelas satu.
Diantara pohon-pohon wutong di luar aula, berterbangan kunang-kunang yang tak terhitung banyaknya, sinarnya yang kebiruan berkelap-kelip, dengan ringan berputar-putar. Hujan turun deras tadi sore.
Seluruh istana kekaisaran dingin dan sepi, dimana-mana tergantung tirai tebal yang berwarna putih, lilin pucat pasi menggantikan lentera di masa lalu, memancarkan aura yang bening.
Pangeran Yuhuai mengikuti seorang pengawal, dengan perlahan berjalan, Istana Yang kediaman perdana menteri itu begitu besar dan luas.
Pangeran Yuhuai menetapkan lamgkahnya dengan wajah terangkat, suasana istana perdana menteri ini selalu membuatnya bergidik, entah mengapa.
Istana Yang adalah area privat yang tak tersentuh, sama sekali tak berubah, pohon wutong berderet-deret panjang tak terlihat asri tetapi malah berkesan menakutkan.
"Tuan perdana Menteri memanggilku untuk apa?" Tanya Yuhuai dengan sedikit kesal, dia baru saja tiba dari luar kota dan panggilan mertuanya itu terasa begitu mendesak.
"Hamba tidak tahu, Tuan Pangeran. Hamba hanya di suruh menjemput tuan dan nyonya segera." Jawab pengawal itu tanpa menoleh, dia terus berjalan melewati pinggiran kolam lotus yang diselimuti cahaya malam yang temaram, suara panjang tonggeret bersahut-sahutan.
Perdana Menteri Yang Liujun, berwajah tenang, senyumnya selalu menghias sudut bibirnya, alisnya tipis dengan garus wajah menyenangkan. Dia begitu di segani di Niangxi sebagai wali raja. Dia terhitung sebagai paman dari Yuhuai, raja terdahulu merupakan saudara tiri perdana Menteri Yang. Mereka memiliki hubungan darah, karena Perdana Menteri Yang terlahir dari selir raja generasi ke-5.
"Selamat datang, menantuku..." Senyum perdana Menteri Yang Liujun terlihat lebar tetapi hambar, tawanya tidak setulus yang terdengar.
__ADS_1
Nan Yuhuai tahu benar, wajah perdana Menteri ini menyimpan dua sisi, senyum itu palsu, karena kemurkaan yang dingin di simpannya di balik permukaan wajahnya yang tenang. Dia adalah orang yang bisa membunuh sambil tertawa.
Perdana menteri Yang, duduk di bawah tenda berwarna pucat, tak ada pengawal di dekatnya, dia terlihat tenang duduk sendiri seakan tak pernah ada ancaman dalam hidupnya, di satu sisinya terdapat sebuah meja kecil dari kayu eboni, sedangkan di kedua sisinya diletakkan bantalan-bantalan kecil untuk duduk, di atas meja nampak sebuah poci dari batu kumala hijau dan dua buah cawan arak putih yang berkilauan.
"Ayah!" Yang Xiwu, istri Nan Yuhuai menghambur ke hadapan sang ayah dengan raut yang manja. Perdana Menteri Yang menyambutnya dengan pelukan, pemandangan yang kadang membuat Nan Yuhuai merasa jijik, istrinya itu bertingkah seperti anak gadis sepuluh tahun, tidak pernah dewasa saat bersama sang ayah.
"Anakku, kenapa lagi wajahmu seperti buah kesemek masam?" Tanya perdana Menteri Yang Xiwu, alisnya yang tipis itu naik membentuk kerutan.
"Ayah, kakak Yuhuai meninggalkanku satu pekan, dia bahkan tak tidur denganku sudah berapa lama..." Jemarinya teracung di kedua tangannya, kesal sekali.
"Hmmmm..." Perdana menteri Yang mengangkat wajahnya, seketika wajahnya yang tadi hangat menjadi dingin seperti bara yang mati di gulung badai salju.
"Pergilah pada ibumu, aku akan berbicara pada suamimu!" Ucapnya datar.
Yang Xiwu, perempuan kekanakan itu melengos dengan puas menatap sesaat suaminya yang berdiri kakaku di depan sang ayah. Lalu setelah menghentakkan kakinya dia berjalan masuk ke dalam, di ikuti para pelayannya yang setengah lusin itu.
Kelambu dari kain sutra tipis menari-nari ditiup angin, sering kali menyapu aula utama yang kosong melompong dan sunyi senyap itu, rambut Perdana Menteri yang putih keperakan itu berjuntai melambai, ia berdiri perlahan, tubuhnya lebih tinggi dari yang kelihatan, mengenakan jubah brokat berwarna ungu tua, dialelaki tua dengan selera yang bagus.
"Yuhuai..." Suaranya terdengar berat dan berbeda.
"Kau tahu kenapa aku memanggilku malam ini?" Tanya Perdana Menteri Yang Liujun kemudian.
Pangeran Nan Yuhuai tak menjawab, dia menunggu kalimat selanjutnya, dengan mata tak berkedip. Nan Yuhuai tahu benar, tak semata soal rengekan Yang Xiwu yang membuatnya berdiri di depan perdana menteri malam ini. Tetapi ada soal lain yang lebih serius!
__ADS_1
Hai pembaca kesayangan Cinta terakhir Zhao Juren, mari di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...ππππ