CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 36. Tujuan Yang Sama


__ADS_3

Zhao mengangkat kepala tinggi-tinggi di antara kerumunan orang di jalan, jalanan itu seperti rombongan semut yang mengarah ke satu titik. Dia hanya berusaha keluar dari sana dan tak berminat menuju aula kebesaran seperti yang di lakukan semua orang ini.


"Temui aku di kedai arak tadi besok malam!" Kalimat Xue Xue itu sekarang lebih menarik dari melihat pesta lentera yang di hadiri para pangeran dan puteri Niang itu.


Apa yang di carinya? Salah satu tujuannya adalah bertemu kembali dengan Xue Xue. Perempuan itu pasti tahu banyak tentang Nanxing. Dia adalah orang yang bersembunyi di balik jirah jenderal Qui, dia pula yang berada di istana Tianshi misterius itu. Dan dia di segani di sana.


Meski Zhao Juren sedikit bingung ketika menemui Xue Xue berpakaian aneh selayaknya perempuan biasa dalam baju setengah pria itu di kedai arak tadi. Xue Xue benar-benar penuh misteri.


Dia berjalan mengikuti arus, pandangan matanya yang gamang dengan samar-samar menembus waktu, berhenti pada hari pertama dia melihat Xue Xue. Dia tidak berdebar-debar sama sekali saat melihat wajah gadis itu tetapi dia tak bisa dengan mudah mengusir ingatan pada tatapan mata tajam di balik cadar hitamnya. Meskipun Xue Xue berusaha menatapnya dengan sinar matanya dingin seakan ingin membuat lawan bicaranya menganggapnya kejam, menunjukkan dia tak berperasaan, beku tanpa sedikitpun kehangatan, tapi Zhao Juren bisa melihat mata sekilau berlian itu serupa sebuah cermin, menutup dirinya supaya tak ada yang bisa menembusnya.


Zhao Juren melihat ke atas ke arah langit yang seolah begitu bersahabat malam ini.


"Beri aku jalan!" Seorang pemuda tanggung dengan jubah kuning mentereng berusaha melewatinya. Dengan sekali lihat saja Zhao Juren tahu, pakaiannya itu dari bahan murahan, kain satin kasar. Wajahnya pongah dan tak sabar. mencpba mendorong bahu Zhao Juren, tetapi Zhao Juren sama sekali tak bergeming.


Zhao Juren tak menoleh sedikitpun, tetapi memberi jalanpun tidak.


"Hei, anda mendengarku? Berikan jalan untukku."


"Kenapa aku harus memberi jalan padamu?"


"Aku terburu-buru."Jawab pemuda itu dengan mata sipit yang berusaha di buat besar untuk menakutinya.


"Kamu kira aku ke sini untuk memberimu jalan?" Zhao Juren tak menoleh sedikitpun sambil bersungut dingin.


"Aku nanti terlambat melihat iring-iringan para keluarga istana." Sikunya di gerakkan untuk menyenggol Zhao Juren.


Tap dengan sigap Zhao Juren menepisnya, gerakan itu ringan saja tapi membuat si pemuda itu mengernyit dahinya menyeringai kesakitan.


"Aaaa...anda pasti mempunyai tujuan yang sama denganku." Dia berdiri tegak di samping Zhao Juren tak perduli orang-orang yang berada di kiri kanannya mulai kesal karena dua orang itu sibuk sendiri berbicara.


"Aku? satu tujuan denganmu?" Zhao Juren hampir tak bisa menahan senyumnya, pemuda ini menjadi sedikit karena kocak di mata Zhao Juren.

__ADS_1


"Iya! Bukankah kita sama-sama ingin melihat Puteri Nan Luoxia?"


Zhao Juren hampir tergelak mendengar kalimat yang di lontarkan pemuda ini, dia begitu percaya diri dengan tebakannya.


"Tentu saja, aku ingin melihatnya." Akhirnya Zhao Juren berpura-pura mengiyakan tebakan pemuda itu, tak pernah Zhao Juren berlaku seperti ini selama dia menyandang gelar sebagai Jenderal.


Dia lebih banyak menjaga sikap, tak mau menurunkan wibawanya sebagai jenderal yang di takuti. Tetapi sekarang, dia merasa lebih hidup dan bebas untuk mengekspresikan perasaannya. Bertingkah seperti orang lain yang bukan dirinya itu ternyata cukup menyenangkan.


Semula Zhao Juren tak terlalu memperdulikan seperti apa puteri Nan Luoxia, tetapi melihat antusiasme orang-orang tentang puteri itu, dia sedikit tergelitik.


Secantik apa puteri Nan Luoxia yang membuat hampir semua laki-laki memujanya.


"Sudah ku duga! Tak ada seorangpun yang tak jatuh hati padanya." Pemuda itu memperlihatkan kegirangannya.


"Kita harus bekerjasama!" Ucapnya dengan penuh keyakinan.


"Bekerja sama? Kenapa aku harus bekerjasama denganmu?"Zhao Juren menaikkan alisnya tinggi-tinggi. Pria muda ini semula terlihat pongah dan sok tahu, sekarang malah terlihat sok tahu.


Zhao Juren merasa geli bukan main mendengarnya. Hanya untuk melihat seseorang, sungguh naif jika dua orang pria yang bahkan tak saling mengenal itu bekerja sama.


Lentera warna-warni semakin semarak, semakin malam orang-orang malah semakin menyemut berjalan pada satu titik, yaitu aula kebersamaan yang berada sekitar Beberapa ratus meter di depan, tetapi untuk mencapainya terasa berat sekali.


"Namaku Changyi, nama anda siapa?" Pemuda itu membungkuk sedikit sambil memindahkan lentera ke tangannya yang lain.


"Eh?" Zhao Juren kebingungan melihat sikap pemuda yang memperkenalkan dirinya sebagi Changyi ini. Dia begitu luwes mengajak orang asing untuk berkenalan.


"Nama anda siapa?"


"Lian ...Luan Ju" Jawab Zhao Juren segera.


"Baiklah, Tuan Lian Ju m, kita resmi berteman."

__ADS_1


"Berteman? Sejak kapan aku berteman denganmu?"


"Tentu saja, sejak malam ini tuan Lian Ju." Changyi berucap dengan penuh lucu .


Suara derap di kejauhan dan teriakan orang-orang mengejutkan mereka berdua


"Hidup sang raja, hidup sang ratu." Gemuruh suara itu memrnuhi udara.


Keduanya terdiam sesaat, gelombang manusiapun semakin ramai merangsek ke depan.


"Hidup pangeran Niang, Hidup puteri Niang!" Suara-suara semakin ramai.


"Sepertinya kita terlambat melihat puteri Luoxia kalau lewat jalan ini, kita harus lewat jalan lain. Ikut aku saja." Tanpa permisi Changyi menarik lengan Zhao Juren.


"Kita kemana?" Zhao Juren hendak menepis tangan Changyi tetapi Changyi benar-benar mencengkeram tangannya berbalik menuju arah berlawanan.


"Aku tahu jalan pintas langsung menuju pekarangan Aula Kebesaran." Ucapnya, tangan kirinya menarik lengan Zhao Juren sementara tangan lainnya memegang lentera sambil berusaha mencari jalan keluar dari kepadatan manusia yang berjalan ke arah berlawanan.


Zhao Juren akhirnya menuruti Changyi, paling tidak dengan negitu dia terbebas dari kerumunan orang banyak itu.


Tak lama mereka berdua berhasil keluar dari jalanan utama yang mengarah ke aula utama, Changyi melepaskan lengan Zhao Juren yang sedari tadi di seretnya seperti anak kecil.


"Ikut aku." Dia membawa Zhao Juren lewat sebuah gang kecil di antara kedai minum teh dan sebuah toko kue.


Zhao Juren tidak bertanya lagi, dia hanya meladeni Changyi yang begitu bersemangat.


"Seperti apa rupa Puteri Nan Luoxia? kenapa kini aku menjadi sedikit penasaran? semoga saja seperti yang di ceritakan orang..." Gumam Zhao Juren dalam hati. Sambil mengikuti langkah Changyi yang terus mengoceh tak jelas di depannya.


"Kita akan sampai di depan Aula, jika tak salah hitung, maka kita sampai lebih dulu dari rombongan kerajaaan." Changyi berjalan semakin cepat.


__ADS_1


...Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, yaaa...


__ADS_2