CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 91. KEKACAUAN TIBA-TIBA


__ADS_3

Hari pertama musim dingin, kekacauan datang tanpa pertanda sedikitpun, bahkan tanpa ada yang menyadarinya. Raja Yan Yue benar-benar tak lagi memberi ampun pada Niangxi. Dia tak memberikan pertanda apapun saat akan mengumandangkan peperangan pada Negara yang telah membunuh saudaranya itu.


Bagai air yang sedingin es, yang tiba-tiba dipanaskan hingga mendidih, sebelum orang dalam air itu bereaksi, tetapi saat membuka mata, air itu telah bergolak dan yang ada di dalamnya masak terebus. Seperti itulah yang terjadi. Yang Mulia Yan Yue bukanlah raja yang hanya di angkat tanpa pengalaman perang, berkali-kalai sebelum dia di nobatkan, raja Yanzhie ini menghabiskan masa remaja hingga mudanya berada di medan perang.


Semua orang menyangka, Yang Mulia Yan Yue mengunjungi provinsi di dekat kota tua Yichen hanya untuk mengukur kekuatan lawan, karena itulah di perbatasan yang sama pasukan Niangxi bersiap siaga mengikuti setiap gerakan raja yang nyaris seperti singa terluka ini.


Tapi sungguh tak dinyana, Yang Mulia yan Yue mengendalikan perang dari perbatasan itu bukan berupaya merebut kota Yichen tetapi menyerang provinsi bagian barat Niangxi yang jauh dari perbatasan Yanshan. Semua di luar perhitungan Niangxi.


Ketika Xue Xue dan Zahao Juren tiba di kota Yichen, perang sudah meluas di barat Niangxi, tepatnya di provinsi Qianan, pasukan Yue benar-benar mengamuk di sana tanpa ampun di bawah kepemimpinan panglima muda Qian Ren, yang di tarik oleh Yang Mulia Yan Yue setelah menjabat sebagai wakil gubernur Provinsi Youwu.


Kota perbatasan barat itu seperti diinjak-injak, tembok kota hancur lebur, rumah-rumah sipil banyak yang terbakar, tanah pertanian yang tadinya subur berubah menjadi abu hitam yang membusuk, kain sutra yang indah melambai-lambai di tengah lumpur kuning, di kedua sisi jalan, nampak rakyat jelata yang tewas setelah menjadi pengungsi untuk menghindari perang, kota yang ramai dalam sehari hancur lebur, darah dan daging di tengah musim panas menimbulkan bau busuk yang menusuk hidung.


Qian Ren menjelma menjadi panglima yang tanpa ampun, wajahnya yang teduh dan tak banyak bicara itu ternyata begitu tegas dan berbahaya. Bahkan dialah yang menahan ayahnya di kota Youwu sebagai tahanan kota setelah kejahatannya berkonspirasi dengan mendiang ibu suri Zhao Li Sui.


Raja Yan Yue berdiam di perbatasan Yanshan, mengamati semua pergerakan dalam kota Youwu, rakyat yang mendiami Qianan berbondong-bondong mengungsi ke arah timur tetapi bahkan saat mereka tiba, provinsi Guiyan yang bersebelahan dengan Qianan telah sebagiannya di duduki oleh pasukan Yu yang di pimpin oleh Komandan utama pasukan Yu,Β  Jian Jie, mantan pengawal pribadi raja Yan Yue, penyeberangan di jalan air ke timur sudah diblokade rapat-rapat, pasukan Niang yang sebagian kecil berada di sana, berada di ibu kota Guiyan terkurung tak dapat saling melihat dan berkontak dengan pasukan yang tersisa di Qianan yang nyaris sudah seluruhnya jatuh ke


tangan Qian ren hanya dalam kurang dari sepekan. Penyerangan yang mengejutkan itu tentu saja di luar perkiraan Xue Xue dan Zhao Juren yang sedang memasuki kota Yichen.


"Apa yang terjadi...?" Xue Xue terpana mendengar laporan dari Bai Yueyin tepat saat mereka memasuki kamp pasukan Yue yang berada di tembok Doting, tempat Zhao Juren kehilangan kesadarannya beberapa bulan yang lewat.


"Yang Mulia Nan Chen mengirim kabar supaya kamu kembali ke ibu kota segera karena wakil jenderal Lin Hongse dalam perjalanan menuju Guiyan sekarang, menghadang pasukan Yue dengan membawa sebagian pasukan Niang."


Xue Xue terdiam sesaat, lalu menganggukkan kepalanya.


"Ini terlalu mendadak dan tak di sangka-sangka." Ucapnya dengan wajah yang masih lelah, sepanjang mlam dia mengatur strategi di kamp membagi pasukan Niang di berbagai wilayah karena penyerangan Yanzhi sopradis dan tak di sangka-sangka.

__ADS_1


Perjalanan Xue Xue dan Zhao Juren ingin menembus kuil di dalam kota Yichen yang terlarang itu dengan demikian tertunda, pertempuran besar akan segera dimulai, dengan kekuatannya, sulit untuk mengatasi situasi seperti ini.


Parahnya menjelang musim dingin, Rakyat di berkumpul dan berbondong-bondong menuju kota raja tertahan di luar kota karena Nanxing sedang di kejutkan oleh serangan mendadak Yan Yue, musim peralihan menjadi ekstrim, penyakit mewabah, di dalam kota mulai timbul wabah penyakit. Keluarga-keluarga kaya menutup rapat-rapat pintu rumah mereka, menyuruh banyak pengawal untuk berjaga dan berpatroli, penginapan dan kedai arak menutup usaha mereka, ekonomi mendadak menjadi anjlok hanya dalam beberapa minggu.


"Tuan puteri, apakah anda tak mencurigainya?"


"Siapa?" Mata Xue Xue terpicing, menatap tajam pada Bai Yueyin.


"Jenderal itu..."


"Tuan Zhao?"


"Ya."


Xue Xue mengerjapkan matanya satu kali kemudian menaikkan alisnya lalau berkata dengan suara rendah,


"Tuan puteri terlalu menyukainya hingga menutup mata untuk semua kemungkinan." Bai Yueyin berucap seperti pecut.


"Karena kamu terlalu memperhitungkan banyak kemungkinan hingga akhirnya kamu kehilangan kesempatan untuk mendapatkan cintamu, Yueyin." Kalimat itu di ucapkan begitu saja tetapi membuat Bai Yueyin terdiam tak bisa berkata, kalimat itu begitu menusuk hingga ke jantungnya, dia tak pernah tahu dalam diam Xue Xue dia tahu banyak hal tentang dirinya.


"Ada kalanya kita meragukan sesuatu tetapi kadang kala ada sesuatu juga yang harus kita percayai. Aku tak mengatakan aku tak waspada pada apapun tetapi aku juga mempercayai tuan Zhao. Kekacauan ini bukan bagian dari rencananya." Xue Xue berkata dengan tajam.


"Siapkan keberangkatanku ke kota raja besok pagi, tetapi aku memerintahkan kamu berdiri di perbatasan ini memimpin pasukan Qui. Jangan pernah meninggalkannya sebalum akau memerintahkannya.Β  Aku tahu ada sesuatu yang besar di balik semua ini. Seseorang yang mengharapkan perang dan di untungkan karenanya mempercepat kekacauan." Xue Xue berbalik memasuki tenda pribadinya. Di sana telah berdiri Zhao Juren dalam pakaian gelapnya.


"Kamu memanggilku?" Tanya Zhao Juren, sambil membuka cadarnya, dia sebenarnya sudah memaduki kota Yichen sedang mencari pakaian peziarah saat seorang perempuan yang menyamar dari pasukan bidadari milik Yueyin memberinya surat. Xue Xue memintanya datang ke kamp.

__ADS_1


Padahal setelah pertemuan di gunung Yanshan, mereka berdua memutuskan untuk membuat rencana, Xue Xue kembali pada pasukannya dan mencari nama orang yang berkhianat di pasukan Yu dan Zhao Juren menyediki kuil Suci di jantung kota Yichen, kuil terlarang. Pada saat yang memungkinkan Xue Xue akan menyusul.


Tetapi belum tiga hari sejak perpisahan itu, setelah ciuman panas di bawah pohon Wutong. Xue Xue memintanya menyelinap menemuinya kembali.


"Ya, situasi mrnjadi genting."


"Aku mendengarkannya dalam obrolan di kedai, apakah benar perbatasan barat sudah di ambil alih oleh pasukan Yu?" tanya Zhao Juren dengan tatapan tegang.


"Sepertinya rajamu tak sabar. Dalam sejarah peperangan negara kita tak pernah sekalipun kita menginvasi untuk menjajah atau mengambil alih salah satu negara. Kita hanya memperebutkan kota Yichen, tak pernah lebih dari itu." Xue Xue melirik ke bagian belakang tendanya, di sana seseorang berdiri mengawasi dalam pakaian prajurit Qui tetapi jelas Xue Xue tahu sari gesturnya, dia bukan anak buahnya.


"Dia Li Jin..." Zhao Juren lebih dahulu memberi keterangan sebelum gadis itu bertanya.


"Li Jin yang di ceritakan Yueyin?"


"Aku rasa iya, karena hanya satu orang Li Jin yang mengikutiku."


"Kenapa dia mengikutimu, bukankah semua orang hanya tahu, kamu telah mati?" Alis Xue Xue berkerut.


"Dia adalah pengawalku, sejak dari penguburan ibuku dia mengikutiku. Dia hanya mengkhawatirkanku. Hanya dia yang tahu kalau aku masih hidup. Dia adalah orang yang paling kupercayai di dunia ini selain dirimu."


"Apa kamu yakin hanya dia yang tahu?"


Zhao Juren terdiam, dia tak berkedip menatap Xue Xue. Tatapan yang begitu dalam.


"Tentu saja " Akhirnya Zhao Juren menjawab dengan tegas.

__ADS_1


"Aku tak menyukai ada orang lain di sekitarmu, karena sekarang kamu bukan Zhao Juren tetapi Lian Ju."


Hai pembaca kesayangan Cinta terakhir Zhao Juren, mari di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...πŸ™πŸ™πŸ™πŸ’œ


__ADS_2