CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 45. Cemburu Yang Jahat


__ADS_3

"Untuk tahun awal musim gugur tahun ini aku yang akan memimpin sendiri perang untuk merebut kota tua Yuchen dari tangan Niangxi, sekaligus menuntut pembalasan atas kematian saudaraku, Pangeran Yan Juren. Panglima perang Yanzhi, Jenderal Zhao yang terhormat!!!"


Suara itu terdengar keras dan lantang, semua orang tertegun, terlebih Permaisuri Yi yang duduk membeku menatap punggung raja sekaligus suaminya itu.


Dia tahu, kekerasan hati Yang Mulia Yan Yue, jiwa satria adalah bagian dari dirinya, tetapi dia tak tahu jika Yang Mulia akhirnya memutuskan sendiri untuk memimpin pasukannya setelah sekian lama.


Semua orang terdiam, tak ada yang berani bersuara entah menentang ataupun menyetujuinya. Mereka hanya tahu, peperangan ini mungkin menjadi sangat tak biasa karena Yang Mulia Yan Yue sendiri yang turun dengan suka rela memimpin pasukannya turun ke medan perang. Sesuatu yang tak di lakukannya setelah bertahun-tahun lewat.


...***...


ISTANA RATU NAN


"Apakah kamu mencium sesuatu?" Seorang pengawal yang sedang berjaga menatap kepada kawannya. Mereka berdua adalah petugas pengawal di depan gerbang Istana Ratu Nan.


"Aku...aku juga mencium sesuatu yang terbakar." Ucapnya setengah berbisik.


Mata keduanya saling pandang, berkilat di bawah lentera.


Pengawal itu kemudian diam, sama-sama tak berani bersuara, ini adalah halaman dalam keluarga kekaisaran, di aula Nan perjamuan musim semi sedang berlangsung, siapa yang berani menyalakan api?


Yang Mulia Nan Chen tak pernah mengizinkan ada yang membakar sesuatu di malam Pesta itu, karena takut sial, kecuali menyalakan lentera.


Sinar rembulan menerobos masuk ke dalam istana sang ratu.


Di dalamnya duduk terpekur Ratu Lin Fangyin, menghadap sebuah baki kuningan di mana ada kertas dan dupa yang di bakar bersamaan.


Asap tipis membumbung rendah, sementara seorang perempuan tua mirip tampilan cenayang sedang komat kamit menghadapi baki kuningan itu. Punggung tangannya yang mulai berkerit itu tampak gemetar berkeringat.


Dua orang pelayan muda terlihat tegang dan ketakutan, berdiri di pinggir pintu.

__ADS_1


Hanya raut wajah Ratu Lin Fangyin yang terlihat tenang dan beku, seolah tak mempunyai beban apapun. Bibirnya terkatup rapat meskipun tanpa senyum sedikitpun.


"Hhhhh..." Desah nafasnya terdengar halus, menghela rendah dan hati-hati.


"Apakah Yang Mulia membawanya?" Tiba-tiba perempuan tua itu bersuara.


"Ya, aku membawanya." Dia berucap tegas sembari memberi isyarat salah satu pelayan mendekat.


Pelayan yang jelas gugup itu menyodorkan sebuah bungkusan kain sutra berwarna kuning pupus.


Ratu Lin Fangyin menerimanya dengan cepat dan meletakkannya di depan perempuan tua itu.


"Ini, benar-benar pakaian dalam nyonya Siaw?" Tanya Perempuan tua itu penuh selidik, meski di tanyakannya dengan menunduk.


"Ya, tentu saja." Jawab Ratu Lin Fangyin dengan raut sedikit gusar.


Nyonya Siaw adalah salah satu selir yang mulia, perempuan itu kabarnya sedang mengandung anak raja Nan.


Ratu Lin Fangyin menatap puas saat melihat bagaimana perempuan tua itu terus menggumamkan sesuatu, komat kamit dalam suara yang aneh.


Api perlahan membesar dan dengan sigap perempuan tua ini melepaskan sisa dudou yang sedang di bakar api itu hingga jatuh kedalam baki dari batu itu.


Bau terbakar menguar dalam ruangan yang remang-remang itu.


"Krakkk!" Bunyi patah atau pecah itu terdengar dari dalam baki, tampak api sedang melahap sebuah patung kayu yang di ukir menyerupai bayi yang sedang meringkuk itu. Bunyi aneh itu bagai meteor di malam hari yang gelap, dengan tajam memecahkan keheningan, asap semakin pekat yang berterbangan itu bagai arwah penasaran yang tak mau diusir, berputar-putar dengan kacau di segala penjuru. Baunya menyesakkan rongga hidung.


Tak lama, perlahan api itu menjadi semakin kecil, asap kian menipis bersama berubahnya kain dudou itu menjadi anu sisa bakaran yang kehitaman.


"Yang Mulia..." perempuan itu mengangkat wajahnya yang dipenuhi kerutan itu.

__ADS_1


"Aku pastikan Nyonya Siaw tak akan mengandung anak bagi Yang Mulia Nan. Bayi itu akan segera mati sebelum dia melahirkannya ke dunia." Kalimat kejam itu di ucapkan perempuan tua itu dengan yakin dan tenang.


Ratu Lin Fangyin menurut sudut bibirnya dan tersenyum tipis.


"Kamu tahu benar, aku benar-benar membenci bayi dari siapapun yang lahir di istana ini, apalagi jika itu adalah anak Yang Mulia dengan perempuan lain." Desisnya.


"Tentu saja Yang Mulia, tak ada yang boleh melahirkan bayi lagi sebelum Yang Mulia ratu melahirkan anak bagi kerajaan Niangxi ini." Sahut perempuan itu sambil membalas senyumana Ratu Lin Fangyin dengan seringai aneh.


"Ya! Aku mengutuk setiap kelahiran dan bersedia membunuh setiap anak manapun bahkan sebelum mereka melihat dunia." Sahut Ratu Lin Fangyin dengan sinis.


"Yang Mulia, aku tetap di pihakmu bagaimapun caranya. Aku hanya sedikit takut jika yang mulua mengetahui ini."


" Tidak ada yang akan tahu, apalagi Yang Mulia mata keranjang itu, sekarang dia terlalu sibuk untuk melakukan sesuatu, aku berani bertaruh dia sedang berpesta hingga mabuk bersama para penari tak beradap itu dan merayu para selirnya yang genit dan munafik itu." Kalimat itu dikatakan Ratu Lin Fangyin dalam nada yang jijik dan penuh cemburu.


"Selama ini aku merasa hanyalah perhiasan yang dikenakannya saat perlu, dipasangkannya karena terpaksa dan enggan. Aku tak lebih dari pajangan yang bahkan tidak dilihatnya dengan sebelah mata. Aku tak akan meratapinya lebih lagi. Tapi aku bisa melakukan sesuatu bahkan andai bersekutu dengan semua hantu jika perlu untuk membunuh semua keturunan Yang Mulua dari para perempuan busuk berlidah cabang itu." Ratu Lin Fangyin menatap datar ke arah bami yang sebentar lagi baranya menghitam di tinggal api itu.


"Yang Mulia ratu. tak ada yang boleh menghinamu lagi" Ucap Wanita tua ini meneteskan minyak berwarna kuning kemerahan, mengakibatkan asap tanpa api tiba-tiba menyala lagi, meski tak besar.


Di waktu yang sama, Yang Mulia Nan Chen yang seharusnya duduk berpesta di Aula, justru duduk sendirian di dalam ruangannya, di hadapan guci arak yang berbaris di atas mejanya. Cahaya lampu terang benderang memenuhi ruangannya. Tak ada pelayan, tak ada satupun selir yang menemaninya.


“Prang!”, sebuah suara keras mendadak memecahkan kesunyian ruangan itu, cawan gelas berwarna dalam genggaman Yang Mulia jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping, anggur yang berwarna merah terang di dalamnya tumpah ke lantai, menebarkan aroma yang aneh, mengikuti pola guratan abu, mengalir dengan berkelok-kelok.


"Siapapun di luar!" Teriaknya dengan suara berat, dia benar-benar mabuk.


"Panggilkan nona Huan kemari!" Perintahnya dengan suara keras.



RATU LIN FANGYIN

__ADS_1


...Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, ya🙏...


__ADS_2