
"Aku sangat ingin menciummu, bukan karena aku memikirkan orang lain, Xue Xue tetapi karena aku memikirkanmu!" Zhao Juren menciumi mata Xue Xue hingga keningnya.
Buku kuduk Xue Xue meremang, jemari lentiknya naik ke punggung Zhao Juren, kukunya menekan jubah laki-laki itu dengan tegang. Antara ketakutan dan sangat menginginkannya. Perasaan ini sungguh abstrak tak bisa dijabarkan.
"Aku takut..." Suara Xue Xue serak nyaris menangis. dadanya terasa sesak, membuncah laksana lahar panas.
"Kenapa kamu takut? katakan apa yang membuatmu takut? yang ku tahu kamu adalah perempuan paling berani, yang pernah ku temui." deru nafas Zhao Juren yang panas, menghambur di udara dalam keremangan di bawah cahaya bulan sang malam.
"Aku takut mencintaimu..."
Desisan Xue Xue membuat Zhao Juren terpana, dia membeku. Tak menyangka kalimat itu di ucapkan oleh Xue Xue padanya. Dia hanya menuruti perasaannya saat mencium gadis ini, menepati rasa rindu yang menghentak sanubari tetapi tak menyangka menyulut ketakutan pada gadis ini.
"Aku takut jika mencintaimu, semua akan terulang seperti yang telah terjadi pada kakak Jiu, aku takut segalanya akan berakhir seperti kakak Jiu." tangis Xue Xue hampir pecah, bibirnya bergeletar.
Zhao Juren mendekap tubuh Xue Xue dengan kuat dia tak tahu harus berkata apa, dia sungguh tak berani menjanjikan apa-apa, kecuali mengisyaratkan bahwa dia tak ingin gadis ini menjauh darinya.
Kehangatan yang dirasakannya sekarang baru saja datang menyambangi setelah sekian lama dia membeku sendiri. Bagaimana mungkin dia harus menguburnya sekarang?
__ADS_1
Perempuan ini telah bertaruh nyawa menyelamatkannya dan bahkan melakukan banyak hal yang bisa di terima nalar, dia adik seorang raja, puteri bangsawan Niang yang terhormat, tak ada yang tak bisa di dapatkannya jika dia mau. Tanpa alasan yang cukup masuk akal bagi Zhao Juren, dia telah menyelamatkan Zhao Juren berkali-kali. Sementara dia tahu benar, Zhao Juren adalah musuhnya. Demi apapun dia tak bisa melepaskan perempuan ini begitu saja.
"Kenapa kamu begitu takut pada sesuatu yang belum terjadi?" Bisik Zhao Juren di telinga Xue Xue.
"Aku menyukaimu, Xue Xue, aku menyukaimu dengan perasaan yang berbeda tanpa kata lebih atau kurang. Aku menyukaimu hingga aku merasa memperjuangkanmu pantas ku lakukan dengan segala cara. Aku menyukaimu hingga ingin memelukmu seperti ini setiap saat. Aku menyukaimu, Xue Xue." Bisik Zhao Juren seraya menciumi puncak kepala Xue Xue, entah berapa lama sudah dia tak pernah bertemu dengan perasaan ini, sensasi yang begitu menggebu dan menuntut untuk di ruahkan.
Xue Xue terdiam matanya perlahan terpejam tapi bibirnya membuka sedikit saat bibir Zhao Juren dengan lembut menyentuh bibirnya. Pembuluh darah Jantung Xue Xue serasa mau pecah, menahan debaran di dadanya.
Ciuman Zhao Juren kali ini benar-benar terasa lembut seperti gulaan kapas dan...sebentar!
Xue Xue membuka matanya dengan penasaran ketika tidak merasakan bibir Zhao Juren menyesap bibirnya lagi, pengalaman pertamanya ini sungguh mendebarkan. Dia bersumpah sensasinya luar biasa, lebih dari berada di medan perang.
"Aku sangat menyukaimu Tuan Jenderal, sangat menyukaimu...! "Xue Xue sudah tak bisa lagi menunggu, dia terlihat tak sabar, dengan penuh semangat dia merapatkan bibirnya kepada bibir Zhao Juren. Xue Xue entah sadar atau tidak, merangsek begitu saja tanpa rasa malu sama sekali. Andai rindu itu bisa di ungkapkan seperti warna, Kerinduan yang dirasakan Xue Xue lebih pekat dari malam, lebih merah dari darah di medan perang.
Tangan Xue Xue melingkar dengan erat di leher Zhao Juren, sementara tangan Zhao Juren sendiri melingkari pinggang ramping gadis itu.Mereka berp@gutan dengan penuh semangat, dengan ritme yang tak teratur.
Kerinduan dua orang yang tertahan itu, sungguh seperti air bah, berusaha keluar menantang bendungan yang selama ini telah mereka buat.
__ADS_1
"Xue Xue, bolehkah aku mencintaimu?" bisik Zhao Juren di sela bibir mereka yang berp@gut seperti saling mencari, sampai di mana batas hasrat mereka masing-masing.
Xue Xue tak menjawab, tangannya memeluk leher Zhao Juren dengan berjinjit, sementara tubuh jangkung Zhao Juren melengkung dengan nafas yang berpacu, merunduk rendah meraih wajah yang kini menyerah kalah untuk di sasar oleh kecupannya yang semakin lama menjadi bersemangat. Sesekali xue Xue menggeliat membuka matanya mengintip bulan di atas langit yang tersipu di balik awan tipis. Dia sungguh tak perduli siapa orang yang kini membuatnya mabuk kepayang ini. Yang ada di fikirannya adalah berada lebih lama dalam pelukan kekarnya. Jatuh cinta pertama kali itu begitu memabukkan sampai ke tulang-tulang.
Cinta memang aneh, datang tanpa bertanya siapakah mereka yang di datanginya. Bertamu tanpa mengetuk sehingga tuan rumah tak pernah benar-benar bersiap saat dia menyerang.
"Mencintaimu sekarang mungkin adalah kelemahan terbesar dan kekuatan terbesarku." Akhirnya Xue Xue mengakui perasaannya, tidak hanya pada laki-laki yang kini menjadi tempatnya bergelayut mesra itu tetapi juga pada dirinya sendiri.
"Dicintai secara mendalam olehmu memberiku kekuatan, Xue Xue. Mencintaimu dengan mendalam memberiku keberanian." sahut Zhao Juren, sementara tangannya yang hangat menjelajah punggung gadis itu, yang tak lagi bergerak kecuali mendes@h ketika lidah Zhao Juren yang panas itu mengetuk mulutnya, meminta pintu itu di buka lebih lebar.
"Kamu adalah bayangan terakhir dalam pikiranku sebelum tertidur dan pikiran pertama ketika aku bangun setiap pagi. Lalu bagaimana aku harus berbohong padamu lagi? Kamu telah mengganti mimpi burukku dengan mimpi indah, kekhawatiranku dengan kebahagiaan, dan ketakutanku dengan cinta yang luar biasa. Kamu mungkin memegang tanganku untuk sementara waktu, tetapi kamu telah memegang hatiku selamanya. Aku tak akan mengijinkan lagi cinta lain setelahmu, apapun yang terjadi " Bisik Zhao Juren dalam hatinya, mengharu biru ketika menyadari langit tak benar-benar meninggalkannya.
Tidak jauh dari situ berdiri dua orang yang mematung tak bergerak di antara kegelapan menatap kedua bayangan yang menyatu di atas bukit itu.
"Aku takut nona mudaku menangis karena patah hati setelah ini." Kalimat itu di ucapkan Bai Yueyin dengan suara yang berat.
"Patah hati pertama kali tak sebanding rasanya dengan patah hati berkali-kali, aku lebih takut tuanku terluka lagi..." Li Jin berucap lirih. Hampir tak terdengar.
__ADS_1
Hai pembaca kesayangan Cinta terakhir Zhao Juren, mari di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...🙏🙏🙏💜.