CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 79. Sama-Sama Hantu


__ADS_3

Di aula sama sekali tak dihidupkan lampu minyak, hanya ada lilin-lilin putih yang menyala tanpa suara, menebarkan sinar pucat pasi yang bergabung menjadi bayangan lilin yang pekat.


Di aula perkabungan yang begitu besar, sepi senyap  sebuah sosok langsing dengan diam duduk di kegelapan, cahaya seakan tak bisa menembus kegelapan di sisinya, hanya meninggalkan sebuah lingkaran cahaya yang suram, wajahnya tak terlihat dengan jelas, hanya terlihat bahwa di meja teh di sisinya, terdapat cangkir-cangkir yang setengah kering, aroma arak memenuh seluruh tempat itu. Teh-teh persembahan saat menjaga arwah.


Begitu lama sejak dia pernah berada di tempat ini, mungkin puluhan tahun yang lewat ketika dia masih berusia kanak-kanak.


Di balik pintu angin kencang menyapu segalanya, gdaun-daun pohon wutong besar berterbangan memenuhi tanah sdan semak, bahkan nyaris menenggelamkan mata kaki, di dalam aula bayang-bayang lilin pekat, sunyi senyap dan damai, ia duduk seorang diri dengan diam, namun telinganya seakan mendengar dentang-denting senjata di gerbang perbatasan, mendengar para prajurit mengangkat golok, menerjang angin dingin dan bertarung, mendengar rakyat jelata di tengah angin dingin menjerit pilu menangisi kampung halaman mereka, darah segar berkelok-kelok menyebar ke seluruh tempat, menenggelamkan tembok Gerbang Doting utara yang menjulang tinggi, dan menenggelamkan perasaan rindu mereka pada rumah.


"Ibu?" Zhao Juren menatap peti batu yang tertutup rapat itu, dia seakan tak percaya di balik batu yang dingin itu, sosok kuat dan kejam sang ibu terbaring.


Kepalanya pusing, matanya terasa berbayang-abayang seperti sedang mabuk, dengan linglung, ia mendadak memikirkan malam musim panas di banyak tahun yang silam itu, di rumah keluarga bangsawan Zhao yang di kiranya adalah ayahnya itu dia menghabiskan banyak waktu belajar dan belajar dengan tumpukan buku yang di kirim ibu suri dari istana Haremnya. Separuh harinya di ruang belajar, sisanya dia berlatih pedang dan segala macam alat perang.


Kadang dia begitu kesal pada ibu suri karena telah didisplinkan sedemikian rupa, di masukkan ke dalam sekolah para bangsawan, sebagai seorang yang di panggilnya bibi, ibu Suri Li Sui kadang terlalu berlebihan menurutnya. Setengah hatinya menyayangi sang bibi yang keras dan separuh lainnya dia tertekan meski tak benar-benar membencinya.  Tetapi, akhirnya dia mengerti, setelah hari kudeta itu terjadi. Apa yang melatar belakangi mengapa perempuan ini begitu banyak terlibat dalam hidupnya.

__ADS_1


Zhao Juren mendekat dan berdiri membeku di depan peti mati itu, sepuluh hari yang lalu, kata Li Jin, ibunya di temukan tergantung di dahan pohon willow, yang berada di belakang kuil Sunyen. Di bukit kecil itu Zhao Juren pernah menggali sebuah lobang dan menguburkan seorang perempuan bernama Jiu Fei. Mantan kekasih gelapnya.


Dalam sekejap mata waktu berlalu, tahun-tahun bagai tangan yang tak berperasaan, dengan semudah membalik telapak tangan membanjiri kenangan yang berlompatan di ingatan. Kadang-kadang ia merasa, hidupnya bagai batu es yang meleleh itu, tanah air, ayah yang tak sempat di panggilnya ayah, ibu yang menjadikan dirinya yatim piatu, guru, kekasih, semua karena berbagai macam alasan sedikit demi sedikit meninggalkan dirinya, menghilang begitu saja. Semakin ia hendak mencengkeram mereka dengan menggunakan kekuatan, mereka makin cepat meninggalkannya, dan akhirnya, seperti air lelehan es itu, jatuh ke tanah dan menghilang. Bahkan kini, dunia tempatnya berpijak menganggap dirinya mati.


Ia mengangkat kepalanya, di hadapannya adalah makam keluarga Zhao dimana peti mayat sang ibu berada, aula berkabung yang cukup luas ini menjadi lebih dingin dari yang di ingatnya. Di dorongnya perlahan tutup peti batu itu, sekuat tenaga dia bersiap untuk melihat rupa sang ibu, meski telah meninggal sepuluh hari yang lalu. Bayangan lidah yang terjulur dan mata yang melotot ngeri karena terjerat tali lewat sejenak di depan matanya, membuatnya dia merinding sesaat tetapi saat tutup berat itu terbuka, yang terpampang hanya sebuah wajah pucat yang terdiam seakan tertidur tenang dalam kesepian yang panjang.


Zhao Li Sui yang cantik itu, yang dalam usia tua tetap seperti gadis belia, salah satunya di percaya karena masker darah yang selalu saja di ritualkannya, dia yang hanya makan sayuran dan dedaunan, buah dan segala minuman herbal karena terobsesi untuk memperpanjang usianya tak di nyana dengan tangannya sendiri menghabisi nyawanya.


Zhao Juren terpekur, menatap sosok yang terbaring itu nyaris tak berkedip.


"Tabib kerajaan telah mengawetkannya dengan baik atas permintaan Yang Mulia permaisuri Yi dan bahkan beliau berpesan untuk menguburkannya pada hari ke 12 saja sebelum mengirimkan jenazah ibu suri kepada keluarga Zhao untuk di makamkan." Kata Li Jin tanpa diminta, dia tahu banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam kepala tuannya itu.


Pengawetan Jenazah di Yanzhie hanya berlaku pada keluarga kerajaan yang di hormati dan di cintai rakyat, tetapi atas ijin Yang Mulia Yan Yue, Mantan ibu suri yang di cap penglhianat negara ini bisa mendapatkan hak istimewa untuk di awetkan meski tak bisa di kuburkan di makam Istana. Xiao Yi adalah perempuan yang bijak, dia tahu Zhao Juren akan melihat ibunya terakhir kali karena itu dia memberikan kesempatan jenderal itu bisa menyimpan kenangan terbaik saat melihat wajah ibunya terakhir kali.

__ADS_1


"Aku tak punya kata untukmu, ibu...sungguh aku tak punya kata apapun. Melihatmu begini membuatku kehilangan kata-kata." Zhao Juren membungkuk dan merapikan rambut ibunya itu. Pakaiannya sederhana, hanya jubah sutera berwarna putih bersih. Batok lepalanya yang botak itu, di balut kain sewarna. Matanya terpejam. Saat dilhat dari dekat maka kerutan-kerutan halus di ujung matanya mencuat, garis senyum yang samar dan bawah matanya sedikit berwarna biru.


"Keluarlah, Li Jin, aku hanya ingin berdua dengan ibuku sekarang." Ucapnya berat. Li Jin membungkuk dan keluar. Zhao Juren duduk di samping peti besi itu, di atas lantai yang dingin. Aroma cendana dan kopi menguar dari dalam peti, bubuk pengawet Yanzhie yang terkenal itu benar-benar di berikan ke tubuh Zhao Li Sui. Setidaknya mimpi perempuan ini untuk tetap cantik hingga akhir usianya dapat terwujud.


"Ibu, aku sangat ingin mengajakmu minum arak buah saat aku kembali dari peperangan terakhir." Bisik Zhao Juren sambil  mengambil cawan arak dari meja batu di sampingnya, baki arak beras memang selalu di sedikan di dalam ruangan perkabungan tetapi bukan untuk di minum, hanya untuk menemani  lentera kecil yang berbaris tujuh di atasnya. Tapi Zhao Julren jelas tak perduli itu.


"Aku juga telah di makamkan beberapa pekan yang lalu, ibu. Bukankah sekarang kita berdua sama-sama hantu?"


Zhao Juren meringis sebelum arak keras yang pedas meluncur di tenggorokannya, bagai arang yang panas membara, seberkas angin berat bertiup ke dalam aula yang luas itu, tirai yang berat dengan perlahan berayun-ayun, bagai lengan baju lebar penari wanita di aula istana, berirama dan menyentuh hati.



Hai pembaca kesayangan Cinta terakhir Zhao Juren, mari di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...🙏🙏🙏💜.

__ADS_1


__ADS_2