CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 114. Lukisan Terakhir Yuhuai


__ADS_3

"Aku ingin pergi seorang diri, Hongse. " Xue Xue melepas tangan Hongse tetapi dia membiarkan kusir keretanya itu menjalankan kereta itu. Xue Xue berbicara dengan tenang, ekspresinya benar-benar sangat tenang, sama sekali tak menunjukkan gelombang besar kesedihan yang seharusnya.


Lin Hongse baru saja hendak berbicara, namun Xue Xue telah mengambil sebuah kipas yang biasanya di gunakannya sebagai senjata dan menaruhnya dalam genggaman Lin Hongse, lalu berkata dengan suara berat, "Kamu tentu takut dengan akibat perbuatan kakakmu ratu Lin Fangyin. Keluargamu tentu sedang merasa tertekan menunggu hukuman yang akan di jatuhkan kepada kakakmu dan seluruh keluargamu."


Lin Hongse terdiam, matanya berkilau dalam remang cahaya bulan setengah yang masuk lewat celah dinding kereta itu.


"Kamu tahu, keluargaku sama sekali tak terkait dengan pembunuhan itu. Bahkan kami mengira dia sangat mencintai Yang Mulia, tak ada yang menyangka dia melakukan hal bodoh dan kejam seperti itu." Sahut Lin Hongse dengan penuh keyakinan.


"Aku tahu." Jawaban Xue Xue sangat pendek. Dia mengalihkan pandangannya ke luar jendela kereta yang di sibaknya sebagian, udara dingin masuk, tak ada tanda-tanda akan ada hujan salju lagi.


"Tapi kenapa, aku tetap di tahan di dalam penjara rumah? Seharusnya..."


"Itu demi kebaikan keluargamu sendiri, Hongse." Sahut Xue Xue cepat.


"Tetap tinggal di sana untuk menjaga keluargamu, Hongse jangan berfikir keluar dari istana Lin sampai aku menyuruhmu keluar. Ada saatnya aku memanggilmu nanti. Aku menjamin tak akan terjadi apa-apa pafa keluargamu jika kamu menuruti perintahku." Xue Xue mengibaskan jubahnya yang berwarna putih beras itu meski menjadi abu-abu dalam gelap.


Lin Hongse terpaku, di amatinya wajah Xue Xue yang begitu serius, sejak kecil dia menyukai gadis ini tetapi Xue Xue tak pernah menunjukkan respon yang sama.


Hanya saja cara mencintai Hongse sedikit berbeda, dia tak bisa melihat Xue Xue merasa sedih dan kesulitan, jadi dia cukup menyimpan perasaannya dalam-dalam. Dia tak ingin merusak pertemanan mereka jika membuat Xue Xue tak nyaman dengan perasaannya itu. Memilih mencintai perempuan itu diam-diam dan melihatnya bahagia membuat Lin Hongse merasa cukup.


"Kamu boleh mengantarku sampai suatu tempat, aku sedang ingin menemui orang lain. Tetapi kupastikan kamu akan kembali ke istana Lin. Dan jangan berfikir sedikitpun untuk membuntutiku." Gertak Xue Xue, wajahnya terlihat serius.


Lin Hongse tak menyahut, dia tahu perempuan ini keras hati. Dia tak perlu mendebatnya. Tetapi tetap saja dia merasa penasaran, siapa yang akan di temui Xue Xue dalam malam-malam begini?


Begitu sampai di Gerbang Timur istana, di mana di luar istana itu berdiri kediaman keluarga beberapa bangsawan istana. Kereta itu terhenti.


"Kamu mau kemana?" Akhirnya Lin Hongse tak tahan untuk tak bertanya.


Xue Xue tak menjawab. Dia turun dari kereta itu dengan sekali lompat.


Dan dalam beberapa kejap dua orang perempuan dalam pakaian hitam menyambutnya, wajahnya di tutup cadar.

__ADS_1


"Nona Xue Lian..." kedua perempuan itu membungkuk dengan hormat.


"Sttt..kamu, Nuwa, antarkan Tuan Lin Hongse ke istana keluarga Lin dan pastikan dia berada di sana. Perketat pengawasan di rumah keluarga Lin, katakan ini atas perintah Paman Nan Feng." Perintah Xue Xue tanpa memperdulikan Lin Hongse yang protes dari dalam kereta.


"Hongse, jangan berani melanggar perintah kerajaan atau aku tidak akan membiarkanmu lagi. Nasib kuargamu di tanganmu, aku tak selamanya bisa membantumu, kamu tentu tahu seberat apa kejahatan kakakmu? Semua kepala keluargamu mungkin akan di hitung tanpa terkecuali sebagai bayarannya. Jadi, tolong bekerjasamalah, jangan berkeliaran sembarangan dalam masa tahanan." Peringatan itu di ucapkan Xue Xue dengan sikap tegas, dia tak lagi melihat Lin Hongse sebagai temannya.


Lin Hongse tak bisa berkata-kata, dia bisa melihat tak ada kemarahan yang di umbar Xue Xue padanya, itu berarti keluarganya mungkin akan baik-baik saja. Hanya saja, dia tak menjamin bagaimana kebijakan Pangeran Nan Feng paman Xue Xue yang menurut rumor adalah calon kuat sebagai raja itu.


Perempuan berbaju hitam, salah satu dari pasukan bidadari yang di pamggil dengan Nuwa itu segera melompat ke dalam kereta dengan patuh, sejurus kemudian kereta itu di gebah berputar menuju jalan arah kediaman Keluarga Bangsawan Lin, tempat tinggal keluarga dan kerabat Lin Hongse berada.


Setelah kereta yang membawa Lin Hingse itu menjauh, perempuan baju hitam yang lain memberikan sebuah gulungan kertas panjang pada Xue Xue.


"Nona Bai Yueyin meminta saya memberikan ini, karena nona tak kembali ke istana Luoxia." Ucapnya dengan hati-hati.


Xue Xue setelah pemakaman raja memang tak kembali ke Istana Luoxia kediamannya tetapi menguburkan kakaknya yang lain di sebuah kuil, di luar istana.


Setelahnya, dia kembali ke aula Wanxiang dan tinggal beberapa hari di kediaman raja. Dia seakan sedang membereskan sesuatu.


Xue Xue menyambut gulungan kertas itu dan berjalan menuju sebuah rumah sederhana dengan tembok tinggi, di dalam tembok itu terdapat rumah tak seberapa besar dari kayu yang terlihat kurang terawat tetapi di terasnya terdapat lentera yang menyala.


Dengan langkah cepat Xue Xue memasukinya, ruangan itu benar-benar nyaris kosong melompong, yang ada hanya kursi kayu dan meja serta sebuah balai-balai dengan tikar sederhana. Sepertinya tempat itu tak asing untuk Xue Xue.


"Sebentar Nona Xue, aku akan menyalakan lentera lagi."


Xue Xue membiarkan perempuan baju hitam itu menyalakan sebuah lentera yang lain dan meletakknya di atas meja kayu.


Xue Lian mbentangkan kertas itu dan terpaku sesaat, ini adalah lukisan yang di buat oleh Nan Yuhuai sebelum dia meminum racun. Masih ada bagian bekas cairan seperti pernah basah di pinggiran lukisan itu tempat kepala Yuhuai tergeletak.


Ya, Xue Xue ingat ini adalah lukisan seorang perempuan menarikan sebuah tari pedang dengan liukan yang sangat cantik dan di depannya seorang lelaki memegang sebuah xiao, seruling dari dari bambu kuning. Tetapi, anehnya pemuda itu tidak sedang meniup akan tetapi sedang mengintip ke lobang tiupannya.


"Kenapa dengan lukisan ini?" Tanya Xue Xue sembari mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Saya tidak tahu maksudnya. Tetapi, Nona Bai mengatakan, selir Huan menyerahkannya beberapa hari yang lalu kepada Nona Bai,"


"Bukankah lukisan ini sudah diminta oleh Selir Huanjin?" Xue Xue terlihat tak mengerti.


"Entahlah nona tetapi katanya lukisan itu untuk nona Xue Lian." perempuan ini menjawab dan tetap dalam sikap waspada.


Xue Xue mengernyitkan kening, matanya tak berkedip mencermati lukisan itu. Di bawahnya memang ada sederet tulisan dengan tinta yang sangat kecil :


untukmu yang terlahir di penghujung musim gugur saat hari musim dingin pertama,


bunyi xiaoku sumbang,


gadisku tak bisa menari,


lihatlah Xiaoku kehilangan nada,


Di atas asap bisakah dia berwarna?


Sebuah tulisan aneh yang di tulis Nan Yuhuai. Seperti puisi tetapi maknanya sungguh tak jelas.


Hanya yang Xue Xue mengerti tulisan di baris pertama untukmu yang terlahir di penghujung musim gugur saat hari musim dingin pertama,


Itu adalah dirinya, Nan Luoxia terlahir antara penghujung musim gugur dan di pagi pertama musim dingin, belasam tahun yang lalu.


"Apakah kamu mengerti maksud puisi ini?" Xue Xue menunjuk tulisan kecil itu pada perempuan yang sedari tadi mengikutinya itu.


Tak ada jawaban,


Xue Xue merasakan kehadirannya di belakang punggungnya tetapi dia heran kenapa perempuan yang juga anak buahnya itu sama sekali tak merespon. Sebelum dia menoleh untuk memastikan sebuah suara berat yang sangat di kenalnya terdengar membuatnya nyaris terlonjak dari tempat duduknya,


"Nona Xue Xue, mungkin nona butuh bantuan mengartikannya..."

__ADS_1



(Yang belum vote, ayo di vote dulu...☺️ yuk, tebak siapa itu sampai Xue Xue begitu terkejutnya☺️ Like komen dan segala bentuk dukungan akan sll othor nantikan🙏☺️ Luv u all)


__ADS_2