
Selir Huan berdiri di depan aula peristirahatan raja, sekian lama dengan hati yang tak menentu sejak seorang yang dikenalnya sebagai pengawal perempuan puteri Nan Luoxia itu tiba dengan berlari seperti seorang yang kesetanan menuju tempat itu.
Dia tak melihat perempuan berjubah hitam itu menangis tetapi jelas dari raut wajahnya kecemasannya setinggi langit.
Empat orang pengawal raja menahannya tak mengizinkannya masuk,
"Ijinkan aku masuk, aku harus menemui Yang Mulia..." Ucapnya dengan suara tegas.
"Maaf, tak seorangpun boleh masuk! Tak boleh ada siapapun menemui Yang Mulia sekarang." Komandan pengawal raja berkeras.
"Aku mohon..." Suara setengah memohon itu keluar. Tetapi sikapnya seperti batu es, cemas dan tegang tetapi tak menangis.
"Perintah Puteri agung Nan Luoxia jelas bahwa..."
"Aku mau bertemu dengan Yang Mulia...!" Tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah gantungan dari giok hijau berukir naga. Itu adalah tanda kehormatan, yang hanya dimiliki oleh keluarga utama kerajaaan. Yang memiliki untuk saat ini hanyalah puteri Nan Luoxia saja di antara semua saudara raja. Bahkan dari semua istri raja sampai ratu Lin Fangyin tak memiliki benda ini.
Benda itu seperti sebuah surat ijin untuk menemui raja bahkan tanpa perlu ijin. Yang artinya dia memiliki akses tak terbatas untuk menemui raja kapan saja.
Empat pengawal itu mundur melihat giok hijau naga itu, membungkuk dengan patuh saat melihat benda itu. Komandan pengawal mendadak ragu, menatap sekejap pada Bai Yueyin. Memastikan bahwa Ini adalah orang yang dimaksud raja, memiliki giok naga hijau yang lain selain adik kesayangannya itu.
"Bagaimana anda memilikinya?" tanyanya dengan hati-hati.
"Aku telah memilikinya sejak 14 tahun yang lalu, raja sendiri yang memberikannya." Ucapnya dengan suara bergetar. Komandan pengawal itu mundur, dia telah menjadi pengawal raja sejak lama dan sekarang dia tahu apa yang di katakan raja dulu, jika ada seseorang yang bukan puteri Nan Luoxia datang padanya dengan membawa giok Naga hijau ini meski dia dalam keadaan tidur sekalipun maka jangan ragu untuk membangunkan dia segera.
Setelah itu di depan hidung selir Huan, perempuan ini menghambur dan berdiri gemetar di hadapan tempat tidur raja, dia bahkan tak melihat pada selir Huan sedikitpun.
__ADS_1
"Yang Mulia..." Suaranya seperti tercekat, tetapi dia tak menangis. Dia hanya memegang erat gantungan giok naga hijaunya seakan ingin meremukkan benda itu menjadi kepingan debu.
Mata Yang Mulia Nan Chen tak pernah secerah itu seumur hidupnya, dia tak berkedip menatap perempuan yang bahkan tak memakai riasan apapun di wajahnya itu.
Beberapa saat yang lalu Selir Huan hanya duduk bersimpuh memegang jemari raja dengan kuat tetapi menyaksikan bagaimana tatapan penuh cinta, rindu dan haru itu menguar di udara dengan kental antara dua orang yang seolah menyimpan sejuta kerinduan yang membeku selayak batu es abadi.
Selir Huan bergidik sendiri ketika menyadari, dia memegang raga seseorang tapi hatinya orang itu di genggam orang lain. Hatinya menyaru dalam giok kumala itu dan di peluk erat seorang perempuan yang tak di sangkanya sama sekali. Perempuan pelayan yang tak memiliki keistimewaan apa-apa.
Semisterius itukah cinta? Hingga meski tanpa perlu kasta dia merajai jiwa orang? Sebesar itukah cinta? hingga tanpa perlu bicara sekalipun mereka bisa menukar rasa yang terperangkap di dalam jiwa mereka masing-masing.
"Yueyin..." Saat Yang Mulia Nan Chen menyebut nama itu dengan suara sedemikian dalamnya, Selir Huan menyadari bahwa saatnya dia melepaskan genggamannya pada tangan Yang Mulia Nan Chen.
"Akhirnya, kamu datang padaku..." Satu bulir sebening kristal jatuh di sudut mata Yang Mulia Nan Chen, seperti embun di musim panas. Jatuh begitu saja, matanya tak lepas menatap pada perempuan uang di panggilnya Yueyin ini.
"Kukira, sampai aku matipun kamu tak pernah membawa kembali giok kumala itu padaku..." Ucapnya lirih.
"Aku tak mengijinkanmu mati, Yang Mulia..." Ucapnya, dengan suara yang jelas dan kuat.
"Tak akan". Tegasnya lagi, suaranya begitu keras, bergema di aula utama yang sepi itu, bagai air kolam yang berpusar-pusar, dengan sekuat tenaga, ia bersimpuh di samping selir Huan dan mengenggam tangan Yang Mulia dengan kuat seakan sedang berebut dengan orang lain, "Tak mungkin terjadi apa-apa padamu, Yang Mulia!"
Yang Mulia memandanginya, lalu mendadak tersenyum dengan lemah, tak pernah selir Huan melihat mata Yang Mulia berbinar seperti itu, sungguh! Dia menatap pada perempuan Yang dipanggilnya Yueyin itu seperti memandang permata paling indah di dunia. Begitu mengaguminya sampai-sampai dia tak berkedip.
Tangan Yang Mulia Nan Chen menggenggam erat jemari Bai Yueyin seakan itu adalah tonggak dimana dia harus bertahan dari hasutan gelombang pasang.
Dan saat air mata perempuan ini akhirnya berlinangan di pipinya, lalu mengalir masuk ke dalam mulutnya, tanpa suara bagai menelan rasa pahit tak tertahankan.
__ADS_1
Saat itulah selir Huan beringsut dari sisi Yang Mulia Nan Chen, dia pergi tanpa pamit. Karena dia tahu, meski dia bersuara sekalipun dirinya tak di anggap ada di sana.
...***...
"Aku datang padamu...Yang Mulia, aku tak akan pergi lagi jika dengan itu kamu tak akan mati." Bai Yueyin pertama kalinya menangis setelah sekian tahun berlalu, ia mengoyang-goyangkan tangan Yang Mulia Nan Chen, seperti seorang anak yang ketakutan, bibirnya yang pucat pasi itu gemetaran. Perasaan takut yang di tahannya sejak Xue Xue mengabarkan padanya keadaan Yang Mulia seakan tumpah ruah.
"Yueyin, pergilah padanya sebelum terlambat. Aku tahu, kalian berdua saling rindu..." Kalimat itu berdengung hingga telinganya pengang sepanjang jalan dia berlari dari istana Luoxia menuju aula pribadi raja.
"Jika dengan menusuk belati di dadaku membuatmu datang padaku, maka aku rela di tusuk berkali-kali lagi..." Raja Nan Chen tertawa lirih sambil menggenggam tangan Bai Yueyin erat.
Entah sudah berapa banyak tahun berlalu, jemari mereka berhitung setiap musim saling mengingat waktu tapi tak bisa bertemu, waktu yang berlalu bagai sebuah mata air jernih, sedikit demi sedikit mengalir ke udara yang sepi dan dingin, dengan tak berdaya. Cinta membeku, sedingin salju, mereka menggenggamnya masing-masing tetapi tak berani saling bertemu.
Bai Yueyin memandang wajah itu, tirus dan lelah, sungguh berbeda pada saat kanak-kanak mereka, hatinya sakit seakan dicungkil dengan mata belati.
"Apakah kau tak pernah rindu padaku, Yueyin?" Suara Yang Mulia Nan Chen terdengar hambar bagai air danau.
Bai Yueyin tak menjawab, dia hanya mengigit bibir bawahnya, kebiasaan lama gadis ini yang selalu di sukai si pangeran urakan Nan Chen di masa lalu.
"Apakah kamu pernah memikirkan aku?" Tanya Yang Mulia lagi, selarik senyum itu mengambang seperti kiambang di permukaan bibirnya yang pucat.
"Jangan bertanya apapun lagi padaku, Yang Mulia..." Desis Bai Yueyin, dia tak menahan lagi air matanya. Dia tak lagi takut untuk menangis, seperti bertahun-tahun terakhir dia menyimpannya.
Cahaya malam bagai air dari danau lima warna, begitu dingin, dahi Yang Mulia Nan Chen berkerut dalam-dalam laksana lidah api yang ditiup angin diantara rambut panjang kelabunya yang terurai, sepasang matanya berkilauan dengan kabur, menatap Bai Yueyin tanpa berkedip.
"Yueyin, bisakah kamu membantuku untuk bangun?"
__ADS_1