CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
Bab 33. Menjadi hitam di antara Merah


__ADS_3

Sepanjang pagi Zhao Juren berjalan-jalan, mengamati orang-orang yang berlalu lalang, pasarnya cukup ramai.


"Tuan, ayolah singgah sebentar...kesemek ini baru di petik. Rasanya segar." Seorang ibu tua dengan wajah bulat, pipi merah memanggilnya dengan senyum riang.


Zhao Juren hanya menganggukkan kepalanya, dia sudah cukup banyak mencicipi kesemek kering kemarin sore yang di suguhkan nyonya Pei padanya sebelum makan malam.


"Kalau tidak mau kesemek, di dalam toko kami menjual banyak kain baru. Anda pasti sedang ingin menghadiri pesta lentera di ibu kota besok malam. Tuan pasti terlihat tampan dengan warna-warna terang." Bapak yang keluar dari toko di belakang lapak si ibu itu menyambanginya dengan tatapan ramah. Mulutnya manis, sepertinya dia piawai dalam berniaga.


Zhao Juren mengernyit keningnya, mengamati sesaat pakaiannya. Pakaian khas daerah Niangxi yang di belinya dari perjalanan di kota Lijiang menuju Nanxing.


"Apakah bajuku ini tidak bagus untukku?" Zhao Juren bertanya sambil menyeringai.


"Tuan tampan, saya yakin tentunya anda ingin merayakan pesta puncak musim semi di kotaraja malam ini seperti halnya pemuda pemugi kota Shizi. Mereka berlomba mengenakan baju terbaik dan terindah karena pangeran-pangeran dan puteri-puteri Niangxi akan turun ke pesta lentera, jika beruntung anda akan bertemu jodoh di sana. Dan jika keberuntungan berpihak pada tuan mungkin salah satu dari puteri Niangxi atau puteri bangsawan melirik anda." Bapak pemilik toko itu mengedipkan matanya


"Hah, ada yang seperti itu?" Zhao Juren melongo. Di Yubei ada perayaan musim semi yang puncaknya di tandai dengan festival lampion. Tapi bukan ajang para pangeran atau puteri istana keluar apalahi mencari jodoh. Soal Jodoh di Yanzhi sedikit lebih rumit, para keturunan raja harus menikah lewat perjodohan yang di tentukan, minimal dengan putera puteri bangsawan. Mereka tak bisa menikah sesukanya mengambil suami atau istri dari rakyat biasa. Jikapun ingin mengambil istri dari kalangan biasa, haruslah dia hanyalah untuk menjadi selir bukan istri utama.


Aturan pernikahan untuk para puteri Yanzhi jauh lebih ketat, pernikahan mereka kebanyakan di atur orangtuanya dengan sesama garis bangsawan saja jika bukan dari pernikahan politik dengan negara tetangga.


Sejak Xiao Yi di angkat sebagai ratu, perlahan aturan itu mulai di reformasi supaya tidak terlalu kaku tetapi memang sulit merubah sesuatu yang telah mengakar sebagai tradisi dan kebiasaan dari awal.


"Masa anda tidak tahu itu? anda bukan orang sini, tuan muda?"Si bapak berbadan kurus nyaris kerempeng yang berbalut jubah semi sutra itu melotot.


"Saya orang dari selatan jauh, baru saja ke sini karena akan mengunjungi kerabat di kota Nanxing. Hidup saya hanya berurusan dengan ladang dan gandum, saya tidak terlalu yakin tahu tentang itu."


"Oh, pantas saja. Tapi anda beruntung tuan, datang pada saat perayaan Lentera. Saya yakin jika anda mengenakan salah satu baju dari koleksi terbaik toko saya, anda akan bertemu jodoh seorang puteri Niangxi." Mulut bapak pemilik toko kain ini benar-benar seperti guci madu, manis sekali dalam merayu calon pembeli.


"Oh, ya?" Zhao Juren kemudian menunjukkan raut tertarik yang membuat si pemilik toko tersenyum lebar dengan puas, setidaknya dia merasa usahanya sudah setengah jalan.

__ADS_1


"Masa aku yang anak petani rendahan boleh berjodoh dengan puteri Niangxi?" Zhao Juren menaikkan alis sambil berjalan memasuki toko kain itu.


Dia tidak benar-benar tertarik untuk mendapatkan jodoh puteri Niangxi tetapi tradisi itu tentu saja bisa menjadi jalannya leluasa menyelidiki istana Niang dan menggali informasi tentang Nanxing serta mencoba beradaptasi dengan semua budayanya.


Masuk ke lingkungan orang, supaya kamu tidak aneh dan di terima maka harus bisa membaur dengan benar.


"Tuanku, di sini tidak menghitung seberapa kaya tuan, tetapi seberapa gagah dan menariknya seseorang. Para puteri dan pangeran Niangxi itu kaya-kaya, mereka tak perlu harta dan kedudukan anda. Jika anda bisa membuat mereka tertarik maka hidup anda akan beruntung tujuh turunan."Si bapak pemilik toko menunjukkan sebuah kain sutera berwarna ungu terang, berkilauan oleh benang emas di seputaran dadanya.


Zhao Juren menggelengkan kepalanya, menunjukkan dia tidak menyukai pakaian yang di pegang pemilik toko itu.


"Pangeran dari istana Niang itu ada puluhan, begitupun puterinya. Mereka adalah anak-anak dari selir-selir raja terdahulu. Saudara dari Yang Mulia langsung. Bukankah anda beruntung jika masuk ke lingkungan istana hanya bermodal paras tampan anda dan tentunya pakaian serasi yang menyilaukan mata?" Si bapak pemilik toko terus saja mengoceh sembari menunjukkan koleksi kain sutera dan linennya, dari satin termurah sampai termahal.


Zhao Juren menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia tidak menyukai pakaian yang terlalu menyolok dan terkesan nyentrik. Entah mengapa pandangannya tertuju pada pakaian berwarna biru malam dan sampiran kain gelap serta sabuk yang hitam pekat. Warna-warna itu mengingatkannya pada Xue Xue.


"Ini sepertinya bagus..."


"Memangnya kenapa dengan tahun baru?"


"Kalau tahun baru tentu saja identik dengan warna-warni menyolok. Semua orang pasti memilih warna merah mengkilat, warna emas dan warna-warna terang lainnya dari pada warna gelap. Anda tak akan kelihatan di tengah semua warna itu." si pemilik itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ah, Menurut tuan, satu warna hitam di antara seribu warna merah, kira-kira tuan akan melihat kemana?" Tanya Zhao Juren sambil tersenyum kecil.


"Tentu saja...melihat kepada warna hitam." Jawab Si pemilik toko dengan sedikit bingung.


"Anda benar tuan, menjadi berbeda dari semua yang sama akan membuatmu menjadi pusat perhatian. Bukankah inti dari acara ini bukan perayaannya tetapi mencari perhatian? Jika mata orang tertarik melihatmu, setidaknya kamu mendapatkan perhatiannya." Zhao Juren menyeringai lebar.


Si Tuan pemilik toko itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tak yakin mengerti dengan apa yang di ucapkan Zhao Juren, tetapi dia pasrah saja yang penting tuan ini membeli pakaiannya itu.

__ADS_1


"Bungkuslah untukku kain biru malam ini dan set jubahnya berikut hiasan kepalanya. Aku akan menarik perhatian puteri Niangxi yang tercantik besok malam." Ucap Zhao Juren setengah berkelakar.


"Aaaaa...anda benar tuan, semua laki-laki bermimpi menikahi puteri Nan Luoxia, dia adik kandung Yang Mulia Nan Chen. Puteri tercantik di Nanxing bahkan konon mengalahkan kecantikan puteri-puteri di lima kerajaan." Si bapak pemilik toko ini terlihat begitu bersemangat, pujian itu tentu saja sedikit melukai perasaan Zhao Juren.


"Puteri-puteri Yanzhi juga terkenal cantik. Apalagi Permaisuri Xiao Yi, dia adalah yang tercantik yang pernah ku tahu." Tanpa sadar Zhao Juren berucap dengan sedikit bergumam.


"Dari mana tuan tahu? Tuan pernah bertemu puteri-puteri Yanzhi? Tuan pernah melihat rupa pernaisuri Xiao Yi?" Si pemilik toko menghentikan melipat kain di tangannya, matanya membeliak penuh curiga.


"Aaaah, tentu saja aku tak pernah melihat mereka. itu hanya ku dengar dari cerita para pengembara saja. konon juga ceritanya begitu." Zhao Juren menjawab dengan kelabakan.


Si pemilik toko mengangguk-angguk kepalanya, sambil mencibirkan bibirnya.


"Anda jangan percaya cerita pengembara, mereka suka melebih-lebihkan saja. Tak ada hal yang lebih indah di Yanzhi melebihi di Niangxi. Sampai sekarang, tak ada seorangpun yang bisa menandingi kecantikan puteri Nan Luoxia." Pemilik toko itu selesai membungkus kain pesanan Zhao Juren dan menyerahkannya.


"Karena kain ini sangat lama kupajang dan tak ada yang tertarik membelinya sudah hampir satu tahun. Aku akan menjualnya dengan harga separuh saja. Tampaknya anda berjodoh dengan baju ini." Si pemilik toko menyebutkan harga, untuk ukuran Zhao Juren tentu saja itu tak mahal sama sekali.


"Waaah, kenapa tetap masih mahal? Kurangkan beberapa tail lagi." Zhao Juren berpura-pura keberatan, dia tak ingin terlihat mempunyai uang, bukankah dia hanya pemuda anak petani gandum dari selatan jauh?


"Astaga tuan, itu sudah ku kurang separuh harga. Tuan jangan merampokku." Si Pemilik toko merengut.


"Baiklah, karena aku menyukainya, aku akan membayarnya, semoga saja puteri Nan Luoxia itu akan melirikku." Zhao Juren tersenyum kecut sambil mengeluarkan beberapa tail perak dari kantongnya.


"Saya yakin tuan pasti mendapatkan perhatiannya. Paling tidak anak para bangsawan." pemilik toko bermulut manis itu tertawa girang menerima uang dari Zhao Juren.


"Semoga saja." Zhao Juren meringis menimpali. Dia tidak berharap menarik perhatian perempuan, hanya ingin membaur di perayaan itu.


__ADS_1


__ADS_2