
*Aula Yangguang*
Pangeran Nan Yuhuai baru saja masuk ke dalam kamarnya, dia menjadi dingin dalam beberapa saat pada sang istri yang sedari tadi mengekornya. Nyonya Yang Xiwu, sang istri adalah perempuan keras yang manja, dia dalah puteri bungsu dari perdana Menteri Yang Liujun. Perempuan ini tak suka tak dituruti, jikapun bertengkar dengan suaminya Yuhuai, dia kan melaporkannya pada sang ayah.
"Sebaiknya kamu beristirahat sekarang..." Yuhuai berucap pendek, ketika melihat istrinya itu mengikutinya sampai ke kamarnya. Kamar ini adalah kamar khusus milik Yuhuai dimana di dalamnya terdapat bilik baca dengan rak buku yang tinggi.
Yuhuai suka belajar dan dia betah dalam ruangan ini sampai pagi. Tak ada yang akan mengganggunya jika dia masuk kamar pribadinya itu, bahkan Yang Xiwu sekalipun akan memilih tidak berada di sana daripada dia mengawasi sang suami duduk sampai pagi menghadap meja dengan seonggok buku di atasnya.
"Kakak Yuhuai, sebaiknya jangan belajar lagi malam ini. Kakak pasti capek setelah berada di perjamuan Yang Mulia raja. Bagaimana kalau kita tidur saja." usul Yang Xiwu, mukanya terlihat penuh harap. Meski usianya baru duapuluhan tahun Yang Xiwu selalu di panggil nyonya karena dia dalah isteri pangeran Nan Yuhuai.
"Xiwu, aku tidak ingin tidur sekarang. Aku harus memeriksa beberapa dokumen logistik istana."
"Kakak, kita sudah tidak tidur bersama hampir dua pekan, seharusnya kakak rindu padaku." Rengek Yang Xiwu.
Nan Yuhuai tahu benar jika istrinya itu merengek seperti itu maka dia harus menurutinya kalau tidak maka mereka akan bertengkar dan istrinya yang manja itu akan melaporkannya pada sang ayah. Tapi, sekarang Yuhuai tidak mau memikirkan akibat penolakannya, dia sedang sangat tidak berselera untuk meladeni istrinya yang manja itu.
__ADS_1
"Xiwu, aku benar-benar harus melakukan tugasku malam ini."
"Itu bisa dilakukan besok pagi." Pungkas Yang Xiwu. Mukanya semakin masam saja, dia bukan orang yang suka di tolak dan apa yang menjadi keinginannya haruslah diwujudkan jika tidak dia akan mengamuk dan marah.
"Maaf Xiwu, untuk kali ini aku tak bisa mengalah padamu. Dokumen itu harus diserahkan besok kepada menteri keuangan. Ini adalah perintah ayahmu."
"Ayahku tak akan menyuruhmu bekerja jika dia tahu aku tak menginginkannya. Aku lebih penting dari lembaran-lembaran kertas jelek itu!" suara Yang Xiwu mulai mengeras dan setengah berteriak dia terlihat kesal dan sifat aslinya sepertinya baru saja keluar.
Nan Yuhuai tak mengindahkan kemarahan Yang Xiwu, dia melepaskan mantelnya dan meletaknya pada tempat tidurnya yang tak seberapa besar. Tempat tidur di ruang pribadinya itu memang di mintanya tak besar hanya cukup untuk dua orang tetapi tentu saja tidak leluasa karena memang idealnya untuk satu orang saja. Tempat tidur itu hanya dipakai oleh Nan Yuhuai jika dia sangat mengantuk setelah berkutat menghadap buku-bukunya, dan terpaksa tidur dalam ruangan belajar pribadinya itu.
Nan Yuhuai tak menjawab, dia tak ingin berbicara banyak lagi. Diambilnya setumpuk dokumen dari sudut meja dan membawanya ke tengah ruangan dimana ada meja baca dengan lentera yang menyala di kedua sisinya. Tempat itu lebih terang dari tempat lain dalam ruangan itu karena memang itu adalah meja baca Yuhuai.
"Kak Yuhuai! Aku akan melaporkanmu pada ayah! Kamu akan tahu rasa." Ancamnya dengan mimik marah. Perempuan cantik masih dalam balutan jubah pesta itu terlihat seperti boneka cantik yang sedang kesal. Dia memang kekanakan. Sifat manja dan egoisnya mungkin tiada tandingannya di Aula Yangguang ini, bahkan mungkin sampai istana Nan. Dia dalah puteri kesayang perdana menteri Yang Liujun, semua orang tahu itu. Kakanya Yang Shi dan Yang Gui adalah pelindungnya, dua orang pemuda yang kejam itu adalah tameng untuk adiknya. Karena itulah mungkin tak ada yang berani menikahi Yang Xiwu kecuali Nan Yuhuai. Itupun karena di jodohkan oleh perdana menteri. Yang Xiwu menikah dengan Nan Yuhuai, setelah raja Nan tua itu mangkat. Tak ada yang berani menentang pernikahan itu bahkan Yang Mulia Nan Chen sendiri.
Merasa dirinya di acuhkan, mulut Yang Xiwu segera melontarkan sumpah serapah dan ancaman beruntun. Sebelum kemudian dia pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
"Besok aku pastikan, ayahku akan memanggilmu untuk perbuatanmu yang tak menyenangkan ini!" Teriaknya sebelum pintu kamar itu di bantingnya dengan keras. Suara bentakannya pada kasim dan pelayan yang menunggunya di luar terdengar menembus dinding kamar Nan Yuhuai, pangeran kedua Nanxing yang pendiam itu.
Nan Yuhuai menarik nafas lega saat suara ribut Yang Xiwu menjauh ditelan suara kegelapan malam, suasana menjadi senyap. Ini adalah hening yang di dambakannya, bahkan dia tak perduli jika harus berhadapan dengan Perdana Menteri Yang Liujun, mertuanya yang keras itu besok. Sekarang dia tak setakut dulu, dia lebih berani menahan setiap umpatan dan kalimat keras yang dilontarkan oleh mertuanya itu. Lima tahun pernikahannya dengan Yang Xiwu, dia nyaris terbiasa dengan semuanya itu.
Sepi ini membuatnya tak bisa menepis ingatannya pada masa lalu, dia mungkin adalah pangeran yang tak di inginkan. Buktinya dia diasingkan begitu lama di gunung Beiyu, saat dia bahkan belum begitu bisa berbicara. Saat kecil dia memang tak setampan kakaknya Chen Xuetian, dia juga sering sakit-sakitan. Jika udara terlalu dingin maka tulangnya akan nyeri seperti terserang radang dingin. Itulah alasan ibunya saat itu sang permaisuri mengirimnya ke gunung Beiyu sampai dia beranjak remaja dengan alasan memberi therapy untuknya. Tetapi kesan yang di rasakan Yuhuan, dia dalah pangeran yang di buang supaya tak menyaingi sang kakak, putera mahkota kesayangan Nanxing.
Rasa cemburunya pada sang kakak yang berlimpah kemewahannya berbanding terbalik dengan dirinya yang hidup dalam kesederhanaan bersama para biksu. Banyak masa dilewatinya hanya belajar dan menangis. Dan itu membuatnya hanya menyimpan rasa sakit hati sedalam-dalamnya, bahkan saat sang permaisuri, ibunya meninggal dia tak punya rasa apa-apa.
"Aku selalu merasa bahwa aku dapat mengingat segala hal yang terjadi pada hari aku pertama kali masuk ke istana Nan, termasuk cuaca saat itu, pemandangan di sepanjang jalan, semua kerumunan orang yang kulihat, dan segala yang mereka katakan. Namun aku tahu bahwa ini bukan hal uang nyata, semua yang kuingat hanya kisah yang di kemudian hari diceritakan oleh Dayang Oh, dayang yang selalu setia di sisi ibunya. Dalam kisah itu ada seorang wanita, dia adalah ibuku, mereka memberitahuku bahwa ia adalah seorang wanita cantik yang tiada duanya, masih lebih cantik dibandingkan Permaisuri negara Yanzhie yang terkenal kala itu, untuk cerita ini aku sedikit pun tak sangsi, meskipun aku harus sekuat tenaga menghimpun ingatanku. Itu adalah suatu hari musim gugur begitu banyak tahun yang lalu, di Nanxing, hujan turun selamasepuluh hari berturut-turut, tanaman membusuk di tanah, tak bisa dipanen, rakyat jelata menantikan hari-hari musim dingin dimana mereka mungkin akan kelaparan dengan wajah muram. Ibuku yang cantik itu terbaring kaku di atas altar batu pualam. Banyak kerutan di wajahnya, sehingga aku kesulitan mencari sisa kecantikannya yang diceritakan Dayang Oh sepanjang jalan dari gunung Beiyu hingga masuk kota raja Nan. Ayahanda tak menangis tetapi wajahnya muram dan kakakku yang tampan itu seperti batu. Satu-satunya yang menghambur kepelukanku dalam tangisannya adalah seorang gadis awal belasan tahun dalam pakaian berkabungnya yang putih bersih, Nan Luoxia, yang bahkan aku baru tahu aku mepunyai seorang adik perempuan yang begitu cantik. Separuh hidupku di hisap oleh gunung Beiyu. Aku tak tahu apapun tentang dunia luar kecuali belajar dan berlatih pedang seperti yang di perintahkan ibuku selama ini.
Ini adalah sebuah kisah yang sangat tragis".
Terimakasih sudah membaca novel ini, akhirnya novel kita ini dipromokan oleh NT, tanpa kalian novel ini tidak akan bisa nongkrong di banner🤗 Pembacaku semangatku💪💪 double up untuk kalian❤️❤️❤️
__ADS_1
Yuk, di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...🙏🙏🙏💜💜