CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
Bab. 31 Senja di Atas Lantian


__ADS_3

"Tuan, kita harus memberitakan kembalinya tuan Zhao ini pada yang Mulia Yan Yue..." Tiba-tiba Li Jin beranjak dengan penuh semangat.


"Tidak. Jangan!" Zhao Juren menahan bahu Li Jin.


Li Jin tertegun, dia menatap Zhao Juren dengan bingung.


"Tidak usah memberitahu Yang Mulia jika aku masih hidup."Lanjut Zhao Juren dengan suara datar.


"Apa...apa maksud tuanku?" Li Jin membeliak tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Yang dikira mati biarlah tetap mati sampai waktunya dia boleh hidup kembali." Ucap Zhao Juren lirih, suara itu terdengar aneh di telinga.


"Tuan?"


"Li Jin, kita telah berperang bersama sekian lama, ternyata perang itu tak sesederhana kematian. Kita tidak memberi pilihan pada yang hidup untuk memilih. Jika kematianku bisa membuat perang ini berhenti meski sementara, mengapa tidak? aku bersedia mati berkali-kali untuk itu." Zhao Juren menghela nafasnya.


"Tapi, bagaimana jika mereka benar menganggapmu mati?" Tanya Li jin dengan tergagap.


"Li Jin, aku telah menikmati betapa luar biasanya ikan bakar guo dan saus Releng itu. Aku bahkan ingin semua orang bisa merasakan sensasi panas dan dingin itu bersamaan di lidahnya dan memejamkan mata sesaat melupakan carut marut dunia." Kalimat selanjutnya yang di ucapkan Zhao Juren malah membuat Li Jin semakin bingung.


"Aku tahu selama ini, aku berada di garis depan memuja perang tetapi setelah hampir bertemu dewa maut, akulah yang paling ingin mengakhiri perang saudara yang telah berlangsung hampir berabad-abad ini. Kita selama ini hanya menumbalkan rakyat yang hidup dan menyematkan kata terhormat untuk kematian mereka dalam belasan dekade, padahal itu hanya untuk menyembunyikan keegoisan dan keserakahan kita. Li Jin Aku harus melakukan sesuatu." Zhao Juren mengenakan kembali tudung hitam ke atas kepalanya dengan rahang membeku.


"Tuan, aku tidak mengerti..." Li Jin berusaha mencerna setiap perkataan Zhao Juren.


"Aku hanya harus kembali ke tempat di mana aku di hidupkan kembali. Aku harus bertemu orang itu sekali lagi."


"Tuan ingin bertemu siapa?"


"Xue Xue..."


"Siapa Xue Xue?" Li Jin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Orang yang pasti tahu sesuatu tentang Niangxi."

__ADS_1


"Tuan?"


"Li Jin, aku hanya meminta kamu melakukan satu misi sekali lagi?"


"Apa itu?"


"Besok, pastikan upacara pemakamanku berlangsung dengan benar. Semua orang akan menguburkan Zhao Juren."


"Tapi, tuan masih hidup..."


"Zhao Juren sudah berkali-kali mati. Bahkan sejak aku di lahirkan ke dunia aku sudah dinyatakan mati oleh ibuku sendiri, aku juga telah mati di aula Guangli dalam penobatan permaisuri Agung, kenapa sekarang aku tidak mengikuti keinginan dunia untuk mati dan meninggalkan namaku di makam suci kuil Zuihou?" Zhao Juren tersenyum dalam seringai yang misterius.


"Aku akan menemui malam besok di istana Lantian setelah upacara pemakaman. Kosongkan rumah Lantian untuk satu malam, aku akan berada di sana dan tak ingin ada seorangpun tahu."


(Istana Lantian atau istana langit biru itu adalah kediaman pribadi Zhao Juren yang terletak di luar istana kota raja Weiyan, berada di sebuah dataran dekat dengan sungai Sheng. Istana itu adalah tempat yang sangat di sukai oleh Zhao Juren saat dia pulang dari medan perang)


Li Jin tak sempat mengatakan apapun, Zhao Juren berbalik dan menghilang lewat pintu belakang altar, menyelinap seperti hantu.


Gunung berwarna kehijauan di kejauhan diselimuti kabut, sungai Sheng di kejauhan bagai kalung bidadari, membuat panorama berkelok-kelok, udara musim semi memang selalu nyaman.


"Akh..." Zhao Juren memejamkan matanya, dia tak menyangka bisa duduk kembali di balkon istana Lantian, rumahnya sendiri.


Li Jin telah mengosongkan rumah itu untuk malam ini. Semua pelayan di pulangkannya dan bisa kembali besok. Yang bersisa hanya beberapa orang pengawal yang berjaga di depan gerbang.


Istana Lantian begitu sepi, lebih sepi dari yang pernah di ingat Zhao Juren selama ini. Tapi, pernahkah rumah ini ramai? Zhao Juren meringis sendiri. Biasanya juga Istana Lantian hanya berisi lusinan pelayan dan pengawal rumah. Siapa yang berani riuh di sana?


Hari ini dengan leluasa Zhao Juren berkeliling rumahnya sendiri seperti menyusuri gedung tak berpenghuni, menghirup udara yang begitu di rindukannya ketika dia pergi berperang selama puluhan hari atau sekedar berkeliling dari satu wilayah ke wilayah.


Zhao Juren menikmati makanan yang tersedia di dapur istana, menyeduh tehnya sendiri dan duduk mencangklong dengan santai di atas balkon rumahnya menikmati senja.


Matahari terbenam di ufuk barat begitu jingga seakan ingin meraup padang belantara indah. Semakin lama langit menjadi gelap keemasan, mulai tenggelam pada garis cakrawala, bumi diliputi warna jingga keemasan.


Mata Zhao Juren nyaris tak berkedip menatapi bulan dingin yang sudah terbit dengan acuh tak acuh, rumput liar mencuat setinggi kilan dari tanah, mereka baru saja tumbuh biasanya di awal musim gugur mereka bewarna kuning, berayun-ayun tinggi dan nyaris sejajar dengan punggung kuda dewasa, ketika angin bertiup kencang di sore hari akan bergoyang-goyang mengikuti belaian angin menyerupai gelombang emas, bergulung-gulung melintasi bumi sampai berhenti di cakrawala.

__ADS_1


"Baru kali ini aku merasa begitu merindukan pemandangan itu." Zhao Juren menarik nafasnya dalam-dalam. Sang dewa perang itu tak lagi menatap garang ke arah langit sambil mengurut dahinya sambil berfikir keras bagaimana cara strategi perang berikutnya.


Dia kini hanya menarik dan menghembuskan nafasnya dengan tenang dan begitu bebas. Tanpa beban sama sekali. Zhao Juren seakan menghayati benar kematiannya.


"Trap...trap..."


Suara langkah kaki terdengar menaiki tangga, Zhao Juren tak bergeming dari tempatnya duduk, secangkir teh yang semula mengepul hangat telah mendingin.


Langkah kaki itu semakin mendekat, tapi Zhao Juren sama sekali tak risau, itu langkah kaki orang yang sangat di kenalnya. Langkah kaki Li Jin.


"Tuan..."


Suara Li Jin terdengar pelan, tanpa keinginan mengejutkan Zhao Juren yang membelakangi dengan santai.


"Apakah upacaranya sudah selesai?" Tanya Zhao Juren tanpa berbalik sama sekali.


"Sudah, tuan..." Jawab Zhao Juren dengan nada ragu.


"Kemarilah, aku ingin kamu menyeduhkan teh yang baru untukku. Para pelayan tidak ada, terpaksa aku merepotkanmu. Aku tak ingin melewatkan pergantian hari ini di atas Lantian. Suasana ini mungkin akan lama lagi bisa kulihat setelah malam ini." Ucap Zhao Juren sambil mendonggak ke arah langit.


Hutan di seberang sungai Sheng semakin gelap, seperti bayang-bayang hitam yang luas.


"Baik, tuan." Sahut Li Jin dengan canggung. Tetapi dia sama sekali tak beranjak dari tempatnya berdiri. Beberapa saat menjadi hening. Li Jin mematung masih dalam jubah linen putih berkabungnya yang di lapisi mantel hitam, barusan sampai dari arah istana Weiyan.


"Kenapa kamu belum pergi?" Akhirnya dengan enggan Zhao Juren menoleh ke belakang.


"Ampuni hamba, tuan." Tiba-tiba Li Jin menjatuhkan lututnya di atas lantai kayu ek itu. Menimbulkan bunyi gedebuk yang berat. kepalanya tertunduk hingga ujung rambut panjangnya yang di kuncir itu menyentuh lantai.


"Ada apa? Kenapa kamu meminta ampun padaku?" Zhao Juren menatap Li Jin dengan tajam, tak bisa menampik ketegangan yang menghias wajah dinginnya.



...Li Jin...

__ADS_1


__ADS_2