
ISTANA WEIYAN (YANZHI)
Hari perayaan tahun baru di kota Yubei, suasana kota tak semeriah sebelumnya ketika pesta tahun baru.
"Kita tetap akan merayakan festival musim semi seperti tahun-tahun sebelumnya." Titah Yang Mulia Yan Yue.
Kekalahan pasukan Yanzhi di perbatasan, berhasilnya kota Yichen di rebut pihak musuh hingga meninggalnya panglima kebanggaan mereka, membuat Negara Yanzhi merasa tahun baru kali ini begitu menyedihkan.
Namun seperti yang dikatakan Permaisuri Xiao Yi, "Orang mati tetap akan mati tetapi orang hidup harus tetap melanjutkan hidup."
Masa berkabung mungkin saja sudah lewat tapi kesedihan dan kesuraman masih bersisa.
Perjamuan menyambut tahun baru, lentera terang benderang tergantung di Aula Guangli, makanan lezat di sediakan meskipun tak semelimpah ruah di tahun-tahun sebelumnya.
Lengan baju penari yang biasanya berkibar bagai awan juga tak terlihat di aula Guangli, kecuali para penyanyi dan pemain musik yang tetap hadir dan menjalankan tugas mereka.
Lagu-lagu tahun baru tetap dinyanyikan meski dalam berbeda dan hambar.
"Marilah kita mulai upacara ini." Yang Mulia Yan Yue berada di singgasananya, dia menggenakan jubah brokat berwarna hitam, di atasnya disulam naga-naga dalam bulatan dari benang emas, ditemani matahari dan bulan lima warna serta awan brokat, di kepalanya ia memakai mahkota tinggi dari batu kumala hijau yang disepuh emas, rambutnya digelung, alisnya yang bagai pedang masuk ke pelipisnya.
"Selamat datang semuanya di Aula Guangli, mari kita rayakan pesta tahun ini dengan banyak harapan dan do'a, negara kita akan celat dipulihkan. Negara kita menjadi lebih kuat lagi meski kita jatuh. Kita akan bangkit segera dan kembali pulih dengan kekuatan baru."
Sambil menarik sudut bibirnya berusaha tersenyum, ia duduk di kursi pertama sebelah kiri di bawah singasana, di sebelahnya sang permaisuri Xiao Yi duduk dalam keanggunannya, dalam pakaian senada warna dengan Yang Mulia, hanya saja selain jubahnya di sulam dengan benang emas ada motif bunga peony merah di beberapa bagiannya.
Mereka berdua dengan ramah menjamu seluruh pejabat sipil dan militer di istana yang hadir pada malam itu.
Walaupun cuaca musim dingin di luar sangat dingin, salju tiba-tiba turun dmmeski lebat, cuaca di Yanzhi memang tak bisa di tebak meskipun itu di awal musim semi sekalipun.
Peperangan di perbatasan mungkin sedang berhenti tapi tidak sepenuhnya, di selatan ada kabar beberapa suku ingin mendirikan negara mereka sendiri.
__ADS_1
Akibat perang memang tak pernah baik, di perbatasan banyak yang kelaparan akibat perang, di beberapa distrik panen gagal sementara di Youwu utara sungai-sungai meluap seperti biasanya.
Kesedihan yang berlarut raja sedikit banyak berpengaruh dalam intern istana, para menteri sipil dan militer saling menjelekkan serta diam-diam saling bersaing.
Tetapi semua itu tak mengurangi keramaian dan kemewahan yang nampak di istana Weiyan, kaca berwarna seindah kain brokat, makanan lezat tetap di sediakan di atas meja saji para tamu.
Wajah wanita cantik yang hadir malam itupun bagai kumala, pinggang ramping anggun bagai pohon liu, bejana arak dituang habis, dupa jiang bagai madu, lebih dari seribu lampu minyak dari kulit sapi putih menerangi aula utama hingga terang benderang. Mereka para dayang pilihan yang melayani pesta perayaan itu.
Para Gubernur dan kepala suku dan Klan Wilayah Yanzhi seoerti biasa hadir di sana sebagai tamu, para pejabat sipil dan militer istana, kepala keluarga-keluarga bangsawan, semuanya bergabung di bawah satu atap, di hari raya yang selalu damai dan mewah ini, bersama-sama merayakan upacara yang merupakan tradisi tahunan di Yanzhi.
Hanya saja ada perubahan mencolok di istana Harem, sejak Permaisuri Xiao Yi memimpin.
Tak ada lagi festival Cushi di mana para selir beradu membuat masakan untuk raja ataupun festival Yishu di mana para selir menunjukkan bakat-bakat mereka untuk Yang Mulia.
Kedua festival itu di laksanakan dengan cara berbeda, Xiao Yi sendiri yang memasak untuk raja dan anggota keluarganya, anak-anak serta pangeran dan puteri saudara raja. Untuk unjuk bakat Yishu, Permaisuri Yi melombakannya untuk para dayang dan pelayan. Siapapun yang cukup berbakat maka akan mendapatkan pita tanda di promosikan oleh permaisuri Yi mengikuti pendidikan di akademi kerajaan.
Hari ini, tak ada orang yang menyinggung tentang masalah peperangan dan pertarungan di Perbatasan Yanshan yang mengecewakan itu, mereka mungki minum arak tapi tak ada yang sampai benar-benar mabuk.
Tiga tahun yang lalu, mungkin tak ada orang yang menyangka bahwa akan ada suatu hari seperti ini, bahkan ibu suri Li Sui yang sangat berpengaruh itu berada dalam keterasingan sebagai tahanan di kuil Sunyen. Selir Xiao Yi menjadi permaisuri utama dan telah melahirkan putra kembar dan seorang bayi baru di pertengahan musim kemarin, puteri yang sangat cantik.
Waktu tiga tahun yang pendek mengubah nasib seorang selir menjadi ibu paling terhormat di negarany dengan sebuah langkah raksasa, menduduki posisi ini.
Saat pesta itu berlangsung, Yang Mulia Yan Yue tiba-tiba berdiri dan mengangkat cawan anggurnya tinggi-tinggi.
"Mari bersulang untuk Jenderal Juren yang pemberani, pangeran agung Yan Juren yang gagah. Meskipun dia tak bisa lagi menikmati pesta tahun ini bersama kita tetapi bersulang untuk menghormati semua perjuangan dan pengorbanannya adalah suatu penghormatan bagi kita yang masih hidup." Suara itu terdengar lantang meski masih menyimpan nada kesedihan.
semuua orang mengangkat cawan sambil menunduk, arak pun masuk ke dalam kerongkongan mereka setelah Yang Mulia Yan Yue menengaknha is satu cawan anggur di tangannya.
Cahaya dan bayang-bayang memenuhi segala penjuru, serombongan penyanyi wanita masuk ke dalam aula, mengangkat tinggi-tinggi lengan jubah mereka , menunjukkan keluwesan gerakan pinggang mereka yang bagai ular air, suara lantunan lagu yang mereka nyanyikan dengan seketika menarik perhatian semua orang.
__ADS_1
Zhao Yang berada di tengah bayang-bayang, sudut-sudut bibirnya dengan samar-samar terangkat, membuat seulas senyum dingin yang tak mudah dilihat orang.
Ia masih mengingat Zhao Juren akan duduk di antara merea sikapnya dingin dan kesepian, masih membayang jelas.
"Yang Mulia, apakah ada yang bisa ku ambilkan untukmu?" Tanya Permaisuri Yi.
Yang Mulia Yan Yue berpaling, dengan sudut matanya ia melirik ke arah para penyanyi, dengus nafasnya masih berat yang menghilang di kegelapan yang berat itu.
Kekalahan pasukan Yu adalah pukulan berar baginya, ia memandangnya untuk waktu yang lama, bayangan lentera jatuh di wajahnya, untuk sesaat wajahnya nampak muram.
"Aku tak membutuhkan apa-apa." Jawab Yang Mulia Yan Yue pendek.
"Tersenyumlah sedikit, tak baik memasang wajah Yang muram di upacara ini." Bisik permaisuri Yi sambil memegang jemari Yang Mulia Yan Yue lembut.
Tarian dan nyanyian telah berhenti, dengan penuh tekad ia berpaling sambil terus menunjukkan sikap dan ekspresinya sekarang. Sinar rembulan di luar menembus daun pintu aula agung, ditemani oleh angin sepoi-sepoi, Yang Mulia Yan Yue memberi isyarat pada kasim Chen.
"Mohon perhatian, Yang Mulia ingin menyampaikan sesuatu." Ucapnya Kasim Chen kemudian.
Semua terdiam. Tak bersuara. Hening.
Sekonyong-konyong Yang Mulia Yan Yue berdiri dengan tegak, jubah brokatnya yang sehitam matanya itu tampak berpendar di timpa cahaya lentera.
"Aku akan mengumumkan sesuatu." Ucapnya kemudian dengan nafas yang tenang.
"Untuk tahun awal musim gugur tahun ini aku yang akan memimpin sendiri perang untuk merebut kota tua Yuchen dari tangan Niangxi, sekaligus menuntut pembalasan atas kematian saudaraku, Pangeran Yan Juren. Panglima perang Yanzhi, Jenderal Zhao yang terhormat!!!"
...Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, ya🙏...
__ADS_1