
"Dengan sepengetahuan perdana menteri, kakakku menyetujuinya. Dan jadilah aku seperti bidak catur yang siap di gerakkan hanya sebagai arca saja. Pasukan Niang sangat loyal pada Jenderal Qin, mereka hanya mendengarkan jenderal Qin, dan ketika jenderal Qin menjadikan aku penggantinya, meski aku hanya boneka besi, mereka patuh padaku. Semula aku mengira aku bisa merubah dunia dengan baju jirah itu tetapi setelah bertahun-tahun bersembunyi dalam topeng itu, aku tak melihat ada yang berubah." Lanjut Xue Xue, begitu datar.
Zhao Juren menoleh pada Xue Xue, raut wajah gadis ini melunak, menatap ke kejauhan. Dia masih begitu muda mungkin baru saja melewati umur belasannya. Tetapi dia, di tuntut kuat dan dewasa, gadis ini menyimpan banyak beban yang tak di mengerti olehnya.
"Bagaimana kita bisa menghentikan perang ini?" Tanya Xue Xue memecah sunyi yang sempat tercipta. Sebelum Zhao Juren membuka suara, Xue Xue melanjutkan kalimatnya
dengan dahi berkerut, “Menurut pendapatmu, kalau aku membuka Gerbang Doting untuk pasukan Yu, apakah perang ini akan berakhir?”
Zhao Juren mendadak tertegun, bersitatap dengan Xue Xue untuk beberapa saat, ia baru berkata dengan mengumam," Itu akan meluluh lantakkan kota Yichen menjadi tak bersisa, kamu akan mengundang kiamat di dalam Yichen"
Xue Xue tak bergeming tapi jelas dia sedang berfikir keras.
"Ada yang harus mengalah..." Ucapnya dengan bimbang, matanya mengerjap sesaat.
"Apakah menarik mundur pasukan Yu dari garis garis pertahanan di jalan air perbatasan selatan Yanshan yang menuju ke Niangxi bisa di lakukan? Aku tak punya kuasa lagi untuk itu. Aku hanyalah arwah gentayangan bagi pasukan Yu" Zhao Juren menggelengkan kepalanya.
“Kekuatanku palsu, akupun hanya menjalankan perintah dari istana” Suara Xue Xue amat tenang, dalam ketenangan itu sama sekali tak terdengar gelombang besar.
Xue Xue kemudian mengangkat wajahnya, membalas tatapan Zhao Juren dengan serius.
"Kamu sekarang adalah temanku." Ucapnya perlahan dan hati-hati.
"Kita tahu, setelah musim gugur ini berakhir, masa tenang ini akan segera berlalu. Perang di musim dingin akan di mulai tanpa ada yang bisa mencegahnya. Aku mungkin akan di kirim lagi untuk menjadi pemantik semangat pasukan Niang, berdiri sebagai jenderal Qui yang bisu tuli." Xue Xue mendonggak lebih tinggi pada Zhao Juren yang jangkung darinya, yang di tatap diam tak bersuara tetapi dia mendengarkan dengan seksama.
"Aku tahu benar, Niangxi tak akan mundur dari Yichen, ini kemenangan pertama setelah berabad-abad untuk menguasai kota tua itu. Dan Yanzhie? Raja Yan Yue, tak ada yang tak tahu dengan kekerasan hati rajamu, dari generasi ke generasi mengemban sumpah menjaga kota Yichen." Xue Xue terdiam sejenak.
__ADS_1
"Dua Negara ini sampai langit runtuh sekalipun tetap berseberangan dan selama itu kita akan hidup berbantal mayat. Bukan kah begitu?"
"Xue Xue, sesungguhnya kamu ingin mengatakan apa?" Akhirnya Zhao Juren tak tahan untuk tak menyela.
Xue Xue mengukuhkan pandangannya, tertuju lurus ke bola mata Zhao Juren, dengan pelan ia balik bertanya, “Jika perang ini tak bisa di hindari, apakah kamu akan berdiri di pihakku?”
Zhao Juren melongo, tak dapat berkata apa-apa lagi, sudut-sudut
mulut Xue Xue terangkat, perempuan ini tersenyum dengan misterius, lalu berkata dengan
ringan, “Kamu telah mati di Yanzhie, aku akan menghidupkan seorang Lian Ju di Nanxing!”.
Senja bersemburat di ujung cakrawala sudah berlalu, hawa bukit tertinggi Yanshan begitu dingin, Zhao Juren merasa sekujur tubuhnya dikelilingi hawa dingin.
"Apa maksud perkataanmu?" Tanya Zhao Juren dingin, matanya menyorot tajam pada gadis di depannya.
"Aku sudah tahu jawabanmu, Tuan Zhao. Jiwamu bersih seperti seorang anak kecil yang lugu, kau bisa membohongi dirimu sendiri tetapi tak bisa membohongi orang lain, kesetiaanmu kau bawa meski ragamu tak berbentuk. Hanya saja apakah tak terpikirkan olehmu, kapal yang karam ketika dia di tarik ke atas, bukankah nakhkodanya boleh berganti?"Tanya Xue Xue dengan wajah yang menantang.
Zhao Juren mendekatkan wajahnya kepada Xue Xue yang menatapnya tak berkedip itu, hingga deru nafas mereka hampir saling terdengar satu sama lain.
"Aku bukan kapal yang karam, Xue Xue. Aku hanya sedang dipermainkan oleh takdir tetapi aku tak pernah lupa asal usulku." Ucap Zhao Juren Lirih.
"Lalu apa yang kita lakukan sekarang, bukankah sia-sia, bekerja sama untuk sesaat kemudian kita akan saling membunuh?" Xue Xue sama sekali tak memundurkan wajahnya, dia tak bergeming meskipun jarak wajah mereka tak lebih dari dua jengkal orang dewasa.
"Aku tak akan membunuhmu, Xue Xue...aku tak akan melakukannya meskipun ada kesempatan." Ucap Zhao Juren parau. Perbincangan ini terasa semakin aneh dan tak lagi jelas arahnya. Tetapi gerakan tubuh mereka sungguh mengkhianati semua ucapan-ucapan yang keluar dari mulut satu sama lain.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya xue Xue tak kalah lirihnya.
"Karena kamu tak melakukan hal itu saat aku sekarat beberapa bulan yang lalu." jawab Zhao Juren dengan suara yang rendah.
"Aku tak perlu kamu membalasnya." sahut Xue Xue dengan bibir gemetar. Tangannya terkepal di kedua sisi badannya, matanya berpijar di antara cahaya yang mulai remang-remang.
"Aku juga tak ingin membalas apapun." Tangan Zhao Juren terangkat lalu tak di nyana dia meraih dagu Xue Xue dengan menangkupkan jempol dan telunjuknya. Mata mereka bertemu dengan tatapan yang sedemikan dalamnya.
"Disini begitu dingin, Xue Xue. Tetapi hanya tempat ini yang terpikirkan olehku saat memikirkan dirimu. Di tempat pertama kali aku melihatmu dalam baju jirah itu. Matamu itu yang menuntunku untuk mengenalmu dalam rupa apapun." Bisik Zhao Juren
"Kenapa? Kenapa kamu mencariku?" Pertanyaan itu diucapkan Xu Xue dengan gugup
"Apakah aku harus menjawabmu, Xue Xue"Jawab Zhao Juren dengan sebuah pertanyaan tanpa melepaskan Jemarinnya dari dagu Xue Xue
"Ke...kenapa?" Xue Xue tak tahu harus bertanya apa lagi, dia tergerak ingin menepis tangan itu tapi tetapi hatinya tak selaras dengan keinginan itu.
"Kenapa? bisakah kamu berhenti bertanya padaku dengan kata 'kenapa'? apakah merindukan seorang harus ada alasannya?"
Tiba-tiba tangan kiri Zhao Juren meraih pinggang kecil Xue Xue lalu kepalanya perlahan merunduk tanpa sekalipun melepaskan pandangannya dari wajah cantik yang berkedip dalam keresahan dan ketegangannya sendiri.
“Tu...tuan..”, sebuah suara serak yang berat itu keluar dari tenggorokan Xue Xue, tubuhnya melengkung, sarat rasa gugup.
"Lian Ju! Panggil aku Lian Ju." Alus Zhao Juren yang legam itu terangkat tinggi. Dan tanpa aba-aba bibir cokelat mudanya yang sedikit basah itu mendekat, sangat dekat kepada bibir Xue Xue yang setengah terbuka, kehilangan kata-kata.

__ADS_1
Hai pembaca kesayangan Cinta terakhir Zhao Juren, mari di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...🙏🙏🙏💜.