
Dalam sekejap mata, atau mungkin karena kesadaran Zhao Juren yang hilang selama hampir satu musim, akhir tahun telah tiba terasa begitu cepat. Suasana pinggiran kota besar Nanxing, nampak indah dan riang. Perjamuan musim semi masih akan segera berlangsung bulan ini.
Niangxi sedang sedang bergembira karena tahun ini, negara mereka telah berhasil merebut kota tua Yuchen yang menjadi sengketa lama dengan negara utara Yanzhie yang besar dan dingin itu. Karena itulah Yang Mulia Nan Chen merayakannya dengan memerintahkan gubernur ibu kota menghapuskan jam malam di kota mereka, mengurangi pajak untuk para pedagang khusus pada musim semi yang sedang berlangsung semarak ini. Kabar itu begitu menggembirakan bagi para pedagang untuk mendorong geliat ekonomi dan memakmurkan perdagangan di kota besar yang selalu hangat sepanjang tahun itu.
Tak hanya itu, para cendekiawan,pejabat serta pelajar muda yang prestasinya luar biasa tahun ini akan diberi pujian dan penghargaan langsung dari Istana Nan yang megah itu.
Sanjung puji dan suara gemuruh mengelukan raja muda itu tentu saja menggaung bahkan hampir sampai ke seluruh pelosok negeri.
Dengan cara demikian, dalam waktu sepekan Nanxing menjadi begitu semarak dan menyenangkan. Di bawah pengawasan pejabat setempat yang sengaja pura-pura tak tahu, tahun baru tahun ini luar biasa mewah, keluarga-keluarga kaya dari seluruh pelosok negeri berbondong-bondong masuk ke ibu kota. Di dalam kota, keramaian mengular sepanjang sepuluh li jauhnya, kain satin warna-warni membungkus pohon-pohon, melambangkan kedamaian dan kemakmuran, tak perduli betapa kacaunya keadaan di luar, dan betapa gawatnya situasi pertempuran di gerbang perbatasan, orang-orang di ibu kota masih tenggelam dalam mimpi di siang bolong tentang jabatan tinggi di istana.
Angin dingin dengan kuat menembus kota, membawa angin selatan yang membuat orang seakan mabuk atau bermimpi, lalu bertiup ke utara yang jauh sampai ke Yanzhie yang sedang tenggelam dalam kesuraman.
Akan tetapi, sesungguhnya perang belum lagi usai di perbatasan, Raja Yan Yue tak pernah menerima kota Yuchen direbut begitu saja. Situasi peperangan dengan Yanzhi di perbatasan justru semakin sengit dan memanas.
Yan Yue sedang menyiapkan sebuah rencana untuk merebut kembali kota tua yang agung itu, yang Mulia Yue hampir semalaman tak tidur, lelehan lilin di kamar baca bercucuran, menimbulkan berlapis-lapis tumpukan riak yang bagai gelombang merah di tatakan lilin, bersinar di wajahnya yang semakin lama semakin tak enak dilihat dan punggungnya yang masih tegak bagai sebatang lembing yang kuat.
Yang Mulia Yan Yue tak pernah segusar dan sesedih ini, karena dia tak hanya kehilangan Kota tua Yuchen tetapi juga kehilangan saudaranya.
__ADS_1
Hari kebahagiaan di Nanxing tetapi pada hari yang sama dimana Yanzhie, masih dalam perkabungan karena gugurnya panglima besar Zhao Juren di sana. Sampai 12 pekan, Yang Mulia Yan Yue masih menunggu pencarian atas jasad adiknya itu tetapi tak ada kabar dari kota tua Yuchen ataupun klarifikasi dari pasukan Nan yang kini sedang berada di sana, mengukuhkan diri bahwa mereka telah menguasai kota itu.
Murkanya sungguh tak tertahan karena rasa kehilangan saudara yang baru tiga tahun diketahui jati dirinya sebagai putra Raja Tua Houcun, ayahanda Yan Yue.
“Yang Mulia, aku datang…” Suara hangat itu terdengar lembut seolah tak ingin mengejutkan Yang Mulia Yan Yue. Raja itu terlihat selalu memasang raut suram, entah apa yang kini berada di dalam benaknya. Taka da yang benar-benar berani mendekatinya dalam situasi ini, tentu saja kecuali dua orang di istana ini, yaitu Kasim Chen dan permaisuri Xiao Yi.
“Hhhhh…” Kedatangan Permaisuri Yi itu hanya di sambut dengan tarikan nafas berat, matanya hanya sekilas melirik pada istrinya yang mengenakan gaun sutra satin lembut berwarna biru pucat itu.
Bagian bawah gaunnya tampak terseret di lantai, suaranya bergemirik lembut menggoda telinga yang mendengar. Biasanya Yan Yue akan segera mengerutkan kening dan menyambut istri cantiknya itu dengan pelukan. Tetapi tidak untuk malam ini. Dia hampir tak melihat pada ratunya itu. Hatinya benar-benar gusar bukan alang kepalang.
“Ada apa kamu kemari permaisuri? bukankah kamu seharusnya di istana Harem?” tanya yang Mulia tanpa menolehkan kepalanya lagi.
Sekali lagi hanya helaan nafas berat yang terdengar memecah sunyi.
“Apakah aku boleh masuk, Yang Mulia?” Tanya Permaisuri Yi kemudian, mungkin hanya sebagai formalitas saja, sebab meskipun
raja melarangnya untuk masuk maka dia akan memaksa dengan tetap berdiri di depan pintu, hingga Yang Mulia yan Yue mengijinkannya. Seperti itulah Xiao Yi, dia akan menjadi keras kepala sewaktu-waktu jika diperlukan.
__ADS_1
“Tentu saja kamu boleh masuk jika kamu menginginkannya, ratu.”
Segurat senyum di bibir permaisuri Yi, dia tahu jika Yang Mulia yan Yue memanggil namanya dengan Chenxing, raja itu sedang membutuhkan seorang teman bukan statusnya sebagai ratu.
Hari itu hujan salju masih turun dengan lebat, meski jauh di Niangxi sudah musim semi tapi di Yubei, ibu kota Yanzhie salju malah turun selama tiga hari berturut-turut, salju menumpuk setinggi setengah chi lebih, kalau berjalan diantaranya, hampir mencapai setengah betis orang dewasa.
Permaisuri Yi melangkah masuk, jubah biru pucatnya itu sama sekali tak dihiasi dengan sulaman atau hiasan lain, tak menyolok dan tenang. Di bahunya mantel warna biru yang lebih gelap membungkus tubuh rampingnya, sementara di tangannya sebuah mantel tebal dari wol yang hangat terlipat rapi.
“Yang Mulia belum ingin istirahat? Ini sudah hampir dini hari.” Suara itu bernada teguran, meski disampaikan dengan lembut.
“Aku belum mengantuk.” Jawab yang Mulia Yan Yue sambil membolak balikkan buku ditangannya, sebuah buku strategi perang usang. Dia terlihat duduk dengan gelisah menghadap meja di depannya.
“Yang Mulia, aku perhatikan akhir-akhir ini Yang Mulia hampir tak pernah istirahat.” Jemari permaisuri Yi menyentuh lembut bahu lelaki yang mengenakan jubah hitam polos itu, dia tampak semakin suram saja dalam pakaian gelap itu.
Dia menyampirkan perlahan mantel ditangannya ke bahu Yang Mulia kemudian merapikannya dengan penuh kasih sayang. Di tatapnya lembut wajah Yang Mulia Yan Yue yang terlihat sedikit lebih kurus, namun wajahnya sama sekali tak berubah, akan tetapi sepasang matanya sudah tak bersinar dengan angkuh dan kasar seperti bertahun-tahun yang lalu, melainkan berubah menjadi tenang bagai kolam atau danau yang dalam, walaupun sedang tersenyum.
"Chenxing, aku sangat rindu pada Juren..." Suara Yang Mulia serupa desau, terdengar serak.
__ADS_1
"Jikapun dia telah gugur di medan perang, setidaknya aku bisa memberinya penghormatan terakhir dan pemakaman yang layak. Dia telah lama menanggung kesepian, sekarang bahkan matipun dia harus dalam kesendirian."