CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 81. Permusuhan Yang Aneh


__ADS_3

"Zhao Juren, ketika kau berbalik dan pergi, aku tahu bahwa kau seumur hidup ditakdirkan tak bisa mengikutiku, kau ditakdirkan untuk berjalan di tengah cahaya, namun seumur hidupku, aku tak dapat memisahkan diri dari gunung mayat dan lautan darah ini, aku tak bisa menemanimu terbang tinggi, maka aku ingin mematahkan sayapmu agar kau tinggal di sisiku, namun sekarang, akhirnya aku masih akan kalah juga. Kamu pergi meninggalkanku supaya aku tak mengikutimu. Ku kira kita nyata tetapi hanya fatamorgana?" Xue Xue menatap ke arah ufuk barat, perbatasan Yanshan. Dia berdiri hampir seharian penuh. Setelah di tinggalkan Zhao Juren beberapa hari yang lalu, Xue Xue merasa bahwa laki-laki itu telah berubah fikiran.


“Tuan Puteri...” Sebuah suara serak yang berat perlahan-lahan terdengar di atas bukit dengan padang yang luas itu, bagai udara putih yang bergolak di tengah angin utara yang dingin, lelaki itu berdiri di pintu aula, sinar rembulan yang dingin dan kelam menyinari wajahnya, pucat pasi dan aneh, ia memejamkan matanya dengan perlahan, ekspresinya begitu tenang, namun keningnya sedikit berkerut, tonjolannya mengembung bagai kesunyian kabut.


Xue Xue dengan reflek menoleh dan dia terkesima mendapati siapa yang berdiri di depannya dalam jarak beberapa depa bersama dengan pengawalnya Bai Yueyin.


"Aku bertemu dengannya di bawah." Bai Yueyin menjelaskan tanpa di minta lalu membalikkan tubuhnya dengan mengerti, dia sudah cukup repot mengejar Xue Xue untuk pertama kalinya keluar dan Niang tanpa bersama pasukan. Dia bersikukuh untuk pergi ke perbatasan Yanshan seorang diri, sementara Bai Yueyin tahu, kepergian Xue Xue adalah karena  ingin mengikuti Zhao Juren.


"Aku akan ke Yichen setelahnya." Alasan Xue Xue.


"Sebagai Jenderal Qui, anda harus membawa pasukan resmi."


"Aku tak mau terlalu ramai, bukankah di sana ada pasukan Niang, jadi jangan terlalu mengkhawatirkanku."


"Hanya sedikit pasukan Niang yang tahu jika anda adalah jenderal Qui jika tanpa baju jirah itu. Kota Yichen sekarang sedang tidak begitu aman, ku dengar mata-mata Yanzhie berkeliaran di sana..."


"Jangan meragukan aku, Yueyin."


Perdebatan itu terjadi dua hari yang lalu dan kini mereka berdua berada di perbatasan ini, Yueyin tak bisa membiarkan Xue Xue sendiri karena keselamatan adik raja ini adalah tanggungjawabnya.


"Tuan Zhao?"


"Aku Lian Ju, Nona. Mengapa kamu begitu mudah lupa?" Sambut Zhao Juren, senyumnya merekah meski matanya masih terlihat keruh, jelas dia tak tidur semalaman untuk segera tiba di tempat ini. Xue Xue tersipu sejenak, wajahnya memerah, dia tak menyangka pertemuan ini. Dua malam ini dia hanya berfikir Zhao Juren sudah berubah fikiran untuk bersamanya.

__ADS_1


"Apakah...apakah kau kembali……”


Rembulan dingin bagai bunga es, awan berlapis-lapis melayang-layang, menyembunyikan separuh sisinya, perbatasan Yanshan adalah sebuah perbukitan di mana kita bisa melihat dua negara terpisahkan, di tempat tertinggi ini burung yang terbang sulit mencapainya, ia berdiri di puncaknya, pandangan matanya yang berkabut menyapu seluruh bumi Yanzhie dan Niangxi, tempat dimana Xue Xue menyadari kadang peperangan itu sungguh tak berguna sama sekali.


"Aku tak pernah benar-bebar pergi, Xue Xue. Aku hanya pulang sebentar seperti saranmu. Mengucapkan selamat tinggal pada ibuku." Zhao Juren menghampiri Xue Xue yang tak bergeming di bawah langit senja.


"Aku ikut berduka." Xue Xue menyambutnya dengan suara yang penuh simpatik.


"Tak apa-apa. Semua orang yang hidup pasti akan mati. Aku telah banyak melihat kematian di depan mataku, meski sebenarnya aku tak pernah terbiasa melihat salah satu dari orang terdekatku mati." Zhao Juren menengadah sesaat, saat bertemu dengan Xue Xue entah mengapa dia menjadi tenang.


"Bagaimana kamu tahu, jika aku ada di sini?" Alis Xue Xue naik tinggi, sekarang jarak mereka tak kurang hanya sedepa.


"Aku tahu kemana kamu akan mencariku." Jawab Zhao Juren singkat.


"Jangan terlalu yakin, aku sama sekali tak mencarimu..." Xue Xue mengalihkan pandangannya dengan jengah, jauh ke bawah di mana ada kota Yichen yang terlihat di kurung oleh empat gerbang besar. Di dalamnya sungguh sederhana hanya seperti kota biasa, hanya saja di beberapa titik terdapat bangunan istana yang kini di jadikan kuil-kuil oleh para sesepuh kota itu. Di Tengah kota tua itu berdiri bangunan seperti istana, yang di jaga oleh para biksu. Bahkan para prajurit manapun di larang untuk masuk ke sana. Istana Yichen adalah istana suci, tempat bersembahyang semua peziarah.


Zhao Juren tak berkata apa-apa, ia juga memandang pegunungan


yang menjulang di hadapannya, seakan tenggelam dalam suatu renungan yang amat panjang.


"Aku hanya ingin melihat pasukan Niang." Lanjut Xue Xue, jemarinya saling meremas di belakang punggungnya.


"Aku berharap mendengarkan kamu berkata lain, mungkin harapanku terlalu tinggi." Zhao Juren tertawa rendah, suaranya serak.

__ADS_1


Sesaat hening, angin sore musim gugur terasa menusuk di atas bukit itu.


“Xue Xue ”, Zhao Juren mendadak membuka mulut dan berbicara,


seakan baru saja menyadari bahwa di tempat itu mereka berdua adalah dua orang yang pernah bertarung nyawa untuk memperebutkan kota itu, dengan bimbang ia mengerutkan


keningnya, “Apakah kamu tidak merasa aneh, kita adalah musuh?”


Begitu mendengarnya, Xue Xue menoleh dengan tatapan tajam.


"Ya, kita adalah musuh." Xue Xue menelan ludahnya yang terasa menusuk-nusuk saat melewati kerongkongannya yang kering.


"Permusuhan yang aneh, karena ternyata, kita tak berduel di sini untuk menyelesaikan permusuhan kita." Zhao Juren terlihat geli.


"Aku hanya menghormati kesepakatan kita, menemukan pengkhianat yang menjual info rahasia pasukan Yu, selebihnya kita akan berhadapan lagi sebagai dua musuh." Ucap Xue Xue dengan penuh percaya diri.


Zhao Juren menganggukkan kepalanya perlahan, dia tahu pembicaraan mereka itu hanya basa basi pemecah es, mereka berdua berusaha menyembunyikan perasaan bahagia yang menyeruak di hati masing-masing karena pertemuan ini.


"Tidakkah kamu muak dengan peperangan yang memakan banyak nyawa dan menumpahkan banyak darah demi kota tua yang terlalu banyak rahasia itu?" Tanya Zhao Juren tiba-tiba sambil menunjuk ke arah kota tua Yichen di kejauhan yang mulai berkelip-kelip karena menjelang gelap, lampu-lampu lentera telah di hidupkan oleh para penduduknya.


Xue Xue mengikuti ujung jari Zhao Juren yang kini berdiri di sisinya, nyaris tak berjarak. Entah kapan laki-laki berjubah hitam ini tiba-tiba saja merapat padanya, membuat jantungnya berdetak tak karuan.


"Kau kira aku bahagia melihat orang-orang yang meregang nyawa tanpa tahu alasannya untuk apa, kecuali berdalih membela negaranya? Kau kira aku tidak mual dengan semua bau kematian. Aku hanya menjalankan perintah untuk mengambil hak negara mesli aku sendiri meragukannya, sebuah estafet perjuangan yang tak ku mengerti ujungnya. Jenderal Qin hanya pernah berkata, berjuanglah untuk masuk ke sana dan temukan harta karun leluhur kita. Bawa kembali piala itu, cawan perjanjian emas NiangYan." Xue Xue tak pernah mencurahkan isi hatinya sebanyak ini pada orang yang tak lama di kenalnya.

__ADS_1



Hai pembaca kesayangan Cinta terakhir Zhao Juren, mari di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...🙏🙏🙏💜.


__ADS_2