CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 110. Siapa Pengganti Raja?


__ADS_3

Zhao Juren agak tertegun, lalu bertanya, "Kau masih ingat aku?"


Istri pemilik kedai mie itu menarik sudut bibirnya dengan ramah, "Dialah yang mengenali tuan, lalu memberitahuku jika tuan yang lama tak mampir itu muncul hari ini".


Perempuan itu tersenyum dengan lugu, menunjuk suaminya yang berdiri di belakangnya. Wajah lelaki itu memerah, dengan jengah ia kemudian tersenyum seperti sang istri, menunjukkan sebaris gigi yang sedikit tak rata.


“Iya, tuan Lian Ju, bukankah ini anda? Sangat susah melupakan pasangan serasi yang sering berkunjung kemari beberapa bulan lewat? Kalian terlalu tampan dan cantik untuk tidak di ingat. Di manakah nona Xue? Anda tak satang bersamanya? Sudah lama ia tak datang juga".


Lelaki itu mendadak melontarkan pertanyaan pada Zhao Juren, matanya melengkung, bagai sepasang bulan sabit, seakan rasa penasaran membuncah di sana.


"Oooh, dia...dia mungkin sibuk." Jawab Zhao Juren sedikit kelabakan, dia bisa menghitung dengan jari berapa kali dia berkunjung kemari, mungkin tiga atau empat kali, saat dia bertemu diam-diam dengan Xue Xue setelah peristiwa dia masuk ke dalam istana sebagai pelayan itu.


Angin bertiup dari ujung jalan, membuat panji-panji di luar kedai itu melambai-lambai, angin bertiup tak hangat.


Zhao Juren terpekur sejenak sebelum dia tersadar ketika Changyi dengan tak sabar menyenggol bahunya.


Dengan suara berat sarat rindu dia berucap lirih, "Entah apa yang kini terjadi padanya, kuatkah bahu kecilnya menanggung kesedihan sebesar ini".


"Oh, maaf. Tuan muda barusan mengatakan apa?". Istri pemilik kedai menelengkan kepalanya dengan penasaran. Suara Zhao Juren serupa guman tak jelas.


"Tidak...aku tidak mengatakan hal yang penting. Bisakah anda menyediakan kami mie panjang umur dengan jamur dan kuah yang panas?" Tanya Zhao Juren kemudian.


"Tentu saja tuan, duduklah dahulu, pesanan anda akan tiba." Sambut nyonyah pemilik kedai itu dengan riang.


"Jangan lupa seguci arak beras manis. Udara ini agak dingin dari biasanya." Changyi menyeletuk sambil mengambil tempat, duduk dengan santai menghadap meja.


Tak ada daun-daun kering yang luruh menumpuk di jalan seperti pemandangan terakhir kali Zhao Juren duduk menghadap jendela itu, yang ada hamparan salju putih. Musim dingin terasa begitu ekstrim tahun ini, mengingatkan Zhao Juren pada sebuah kota kecil di utara Yanzhi, kota Youwu.

__ADS_1


Jika ingatan pada kota itu merebak, jelas ada wajah seorang perempuan cantik melintas di benaknya, Xiao Yi yang bijak dan baik hati itu.


"Apa kabar Yanzhi sekarang, apakah kota Yubei juga sedingin ini? Atau lebih dingin dari ini?" Rindu pada kampung halaman itu menggelitik, rasanya begitu jauh tempat itu dari jangkauannya.


Angin musim dingin menyapu tanah, seluruh hati Zhao Juren sedingin es, wajahnya semakin pucat, tenggorokannya seakan tersedak, ia berpikir untuk beberapa saat, lalu dengan lirih berkata, "Kapankah aku melihat Yubei lagi?"


Changyi tak terlalu perduli dengan raut wajah Zhao Juren yang muram itu, seguci arak yang di suguhkan pasangan pemilik kedai mie itu membuat perutnya bergolak, di tambah bau arak beras yang manis itu membuatnya kelaparan bukan kepalang.


Istri pemilik kedai tak bisa melihat ekspresi wajah Zhao Juren, tadinya ia ingin terus bertanya, namun ditarik oleh suaminya.


Perempuan ini sedikit bingung, dia tak mengerti mengapa suaminya menyeretnya sedemikian rupa.


"Dia mungkin sedang patah hati karena telah di tinggal nona muda itu, lihatlah raut wajahnya yang sedih itu." Bisik sang suami.


Istri pemilik kedai itu akhirnya mengangguk sembari mencuri pandang sesaat lalu ia berbalik dan pergi, tak lama kemudian, ia kembali dengan mengusung semangkuk mie panas, selain itu ada pula sepiring daging bebek cincang, dan setengah piring pangsit yang berwarna putih mengkilap menggoda selera. Dari kejauhan, sudah tercium bau cuka dan bawang putih yang harum.


"Aku tidak memesan sebanyak ini." Zhao Juren mengernyit dahi.


"Pelayan? Astaga, aku setampan ini kamu katakan pelayan?" Changyi bersungut kesal tetapi kemudian wajahnya sumringah mendapati makanan yang tersaji di depannya.


"Tuan, silahkan di coba." Pemilik kedai itu berdiri dengan bangga tanpa memperdulikan kalimat protes yang di lontarkan Changyi.


Zhao Juren mengambil sepasang sumpit, mengeluarkan sapu tangan dari ikat pinggangnya, mengelapnya dan mulai makan, sesuap demi sesuap dengan perlahan. Zhao Juren adalah seorang bangsawan, dia tak sembarangan jika akan makan, bahkan soal kebersihan sangat penting baginya


Mie panjang umur itu amat panas karena baru selesai di angkat dari api, dituangi kuah kaldu dan minyak bawang serta ditaburi irisan daun bawang, aromanya luar biasa, amat sangat wangi.


Zhao Juren memakannya dengan amat lambat, ia sudah amat lama tak makan enak, semenjak berada di kuil Yichen berpekan-pekan, bersembunyi dari sana sambil was-was pasukan Yu benar-benar menyerang kota itu, karena menurut rumor Yang Mulia Yan Yue bekemah di pinggir kota, siap sedia untuk menyerang kapan saja, di mana pasukan Niang berada pada setiap gerbangnya.

__ADS_1


"Ukh..." Zhao Juren sedikit menahan diri menelan, perutnya tak henti-hentinya mengeluarkan asam, rasanya mual seakan ingin memuntahkan sesuatu.


"Pangsitnya sangat enak. Astaga rasanya lezat sekali. Bagaimana bisa ada pangsit seenak ini di Niangxi". Ocehan Changyi membuat Zhao Juren menoleh dan dia bisa melihat, semangkok mie milik Changyi hampir tandas isinya. Entah kapan dia memakannya, pafahal mie itu masih panas.


Alis Zhao Juren berkerut, dengan bingung ia bertanya, "Kamu telah menghabiskan mie mu?"


Changyi mengangguk dengan jenaka.


"Bolehkah aku menambah lagi, tuanku Lian Ju yang tampan?" pertanyaan itu setengah mengejek, supaya pemilik kedai itu mendengarnya, dia masih kesal di sebut sebagai pelayan Zhao Juren.


Zhao Juren tersenyum hambar, tak berkata apa-apa, dengan acuh tak acuh, dia malah menoleh pada sang pemilik kedai yang begitu bahagia melihat mereka sangat menikmati masakannya, "Apakah jasad Yang Mulia raja sudah di makamkan?" tanyanya pada sang pemilik kedai.


Sejurus wajah pemilik kedai berubah muram, dia menggeleng perlahan.


"Apakah tuan tidak tahu?" Tanyanya dengan tatapannya yang sendu.


"Pangeran agung Nan Yuhuai meninggal kemarin, semua orang membicarakannya. Pemakaman raja di tangguhkan, karena Tuan Puteri Nan Luoxia harus mengurus kematian kakaknya yang lain juga."


Zhao Juren tertegun, berita itu baru sampai di telinganya, yang dia tahu hanya meninggalnya raja Nan Chen.


"Entah siapa yang akan menggantikan raja kalau pangeran agung juga meninggal. Semua orang takut pasukan Yanzhi mengambil kesempatan untuk menguasai Niangxi karena sekarang tak ada yang memimpin, kecuali perdana menteri Yang Liujun." Sambungnya.


Zhao Juren terpana, mie di sumpitnya kembali ke dalam mangkok, rasa cemas mendadak menguasai hatinya. Bagaimana keadaan Xue Xue sekarang? pertanyaan itu begitu mengganggunya.


"Harus ada yang menggantikan raja di saat genting ini kalau tidak Nanxing mungkin akan tinggal nama" Ucap pemilik kedai itu dengan lirih dan takut-takut, dia menoleh ke kiri dan ke kanan seolah khawatir ada yang mendengar kerisauannya.


"Kalau demikian, siapa yang akan menggantikan Yang Mulia Nan Chen?"

__ADS_1



(Yuuuuuk, dukung selalu ya novel ini, satu saja komentar dan dukungan kalian membuat aku sedih jika tak up☺️ sayang selalu buat pembaca setia Zhao Juren)


__ADS_2