CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 39. Rindu di Bawah Pohon Liu


__ADS_3

"Gluk!" Zhao Juren meneguk arak terakhir dari guci pertama, baunya keras dan manis benar-benar bisa membuat orang tak mau berhenti menengaknya.


"Hai, Tuan. Anda menungguku?"


Zhao Juren terkejut dengan tepukan keras di bahunya, cangkir arak di tangannya hampir saja jatuh, dia menoleh dan mendapati. Seseorang dengan wajah giranh seolah menemukan apa yang di carinya.


"Changyi?" Zhao Juren mengerjapkan matanya, yang datang adalah orang yang bukan di harapkannya.


"Tuan Lian Ju, pasti anda sedang menungguku di sini? Tak mungkin anda mau menghabiskan dua guci arak itu sendiri." Changyi tanpa di minta langsung duduk di kursi yang ada di seberang meja, mengambil gelas dari atas meja yang sudah tersedia sedemikian rupa di sana.


"Kau...? Kenapa kemari?" Zhao Juren mengerutkan dahinya.


"Kenapa terkejut begitu? Tuan tidak senang melihatku atau tuan sedang menunggu seseorang selain aku?" Tanya Changyi dengan raut penasaran.


Zhao Juren tak menjawab, dia menjadi salah tingkah.


"Aku mencarimu, tuan. Dari kemarin malam. Tapi anda hilang seperti di telan hantu. Anda harusnya menyaksikan bagaimana nyonya Siaw, penari terkenal itu menarikan tari pedangnya di depan para pangeran dan Nona Ping muridnya itu seperti melayang di udara ketika menarikan tarian kipas terbangnya yang paling terkenal dari selatan Niangxi." Changyi dengan wajah tanpa dosanya meneguk arak yang dituangkannya sendiri dengan penuh semangat.


"Bukankah kamu ingin melihat para puteri dan merebut kue ku istana Nan untuk memudahkan jodohmu?" Zhao Juren sekali lagi melihat ke arah pintu kedai, diam-diam berharap Xue Xue muncul di sana segera.


"Akh, berburu jodoh bangsawan itu luar biasa sulitnya, mereka ternyata sombong dan sangat pemilih. Dengan wajahku yang setampan inipun mereka masih berharap lebih lagi. Aku rasa, para gadis kaya itu akan menjadi perawan tua semuanya." Changyi mengoceh panjang pendek sambil terus minum. Wajahnya memerah, dua cangkir saja dia sudah terlihat hampir mabuk.


Arak Huangjiu dari Xiantan ini memang luar biasa, untuk orang yang tidak terbiasa minum akan menjadi mabuk lebih awal.


"Changyi, apakah kamu bisa mendekati puteri Louxia?" Tanya Zhao Juren dengan iseng.


"Ha...tuan Lian Ju suka bercanda rupanya, jangankan mendekati aula kebesaran, melihat dari jauhpun susahnya bukan alang kepalang. Aku meragukan cerita para puteri itu bisa memilih rakyat jelata di pesta Lentera, mereka hanya bertemu para pemuda congkak yang sok pintar anak para bangsawan yang boleh masuk di aula. Tentu saja jodoh mereka di sana." Keluh Changyi. Untuk gelas keempat wajahnya sudah serupa kepiting rebus.

__ADS_1


"Eh, tuan...kapan anda kembali ke selatan? kota anda di mana?" Tanya Changyi dengan penasaran.


Sesaat Zhao Juren ragu menjawab, dia kurang tahu daerah Niangxi ini yang paling selatan provinsi apa atau distrik mana. Yang dia tahu hanya daerah Lijiang, wilayah utara yang bersebelahan dengan Shicuan, Yanzhi.


"Tebaklah!" Akhirnya Zhao Juren mendapat akal.


"Jangan-jangan tuan Lian Ju ini dari Qianan? bukankah Qianan adalah tempat paling selatan?" Changyi mengerutkan dahinya.


Zhao Juren mengambil gelasnya dan mengangkat ke udara tepat di depan hidungnya.


"Mari bersulang untuk tebakannya." Zhao Juren tersenyum kecil pada Changyi. Pemuda tanggung ini memang terlihat sok tahu tapi dia sebenarnya polos.


Keduanya meneguk arak dari gelasnya masing-masing.


Waktu merayap tak menggubris malam yang malah semakin semarak menjelang tengah malam.


Xue Xue mengingkari janjinya, apakah yang di harapkan Zhao Juren dari sebuah janji sambil lalu seorang perempuan.


Zhao Juren menambah beberapa guci lagi dan benar-benar mabuk bersama Changyi. Mendengar ocehan anak muda itu tentang berbagai hal hingga Changyi akhirnya bungkam dengan sendirinya karena pengaruh arak huang jiu Xiantan.


Sesaat Zhao Juren menatap ke arah pintu kedai dengan sedikit harapan yang berbalut kekecewaan. Satu persatu para pengunjung datang dan pergi silih berganti, tetapi bukan Xue Xue.


Pandangan Zhao Juren tertuju ke arah Changyi di seberang mejanya, laki-laki ini sekarang tak kuat mengangkat kepalanya. Dia tertidur di atas meja dalam duduknya beralaskan lengannya sendiri.


"Pelayan!" Zhao Juren memanggil pelayan kedai. Membayar semuanya.


"Apakah anda mengenalnya?" Tanya Zhao Juren sambil menunjuk Changyi.

__ADS_1


"Ya, tuan. Dia Cu Changyi. Anak pak guru Cu."


"Anda tahu rumahnya."


"Ya, tuan rumahnya di sebelah barat kota dekat perpustakaan umum."


"Tolong carikan seseorang untuk mengantarkan dia ke rumahnya. Dia sepertinya tak bisa jalan sendiri." Zhao Juren mengeluarkan beberapa tail sebagai tambahan dari saku di balik jubahnya.


Pelayan itu membungkuk dengan patuh dan mengucapkan selamat jalan dan jangan lupa datang kembali ke kedai mereka ketika Zhao Juren melangkah keluar.


Banyak gelas arak huang jiu yang masuk lewat kerongkongannya tetapi tak semudah itu dia menjadi tak sadar diri karena pengaruh arak. Zhao Juren terbiasa minum arak-arak terbaik dan terkeras sekalipun di Yanzhi. Arak ini tak mudah menundukkan dirinya.


Tetapi, Zhao Juren tak berbohong huang jiu berbeda, kepala lama kelamaan menjadi berat. Zhao Juren terus saja melangkah keluar kedai. Tengah malam, suasana kota masih ramai tetapi tak seramai sebelumnya mungkin sebagian orang pulang ke rumahnya atau tempat peristirahatannya, melanjutkan pesta atau tidur karena kelelahan.


Zhao Juren berjalan menuju arah penginapannya tetapi ketika sampai di suatu persimpangan dia berdiri sesaat di sana. Di tatapnya lentera yang di tangannya, dia tak lupa untuk membawanya entah mengapa ketika keluar dari kedai. Sinar lentera yang bercahaya dengan redup, tetapi langkah Zhao Juren tertuju pada arah berlawanan dari penginapannya. Ia berjalan ke tepi danau yang tak jauh dari jalan utama.


Tak banyak orang di sana, hanya beberapa orang yang terlihat tak sengaja lewat. Dengan hati-hati mengusung lenteranya, menuju pinggiran danau, ingatannya melayang pada pesta lentera yang dirayakan di Yubei setiap tahunnya, orang-orang akan meletakkan lampion mereka yang berbentuk lotus di atas permukaan air dan membiarkannya mengapung di sana hingga ribuan lentera memenuhi permukaan danau. Pemandangan itu sangat indah dan hanya bisa di lihat di Yanzhi.


Rasa rindu menyergap, Zhao Juren berpegang di batang pohon Liu yang menjorok ke danau.Air danau yang hijau zamrud dalam gelap membasahi ujung jubahnya, namun ia sama sekali tak perduli, ranting pohon liu di tepi sungai yang menguning menjuntai di depan wajahnya, samar-samar terasa gatal, membelitnya, bagai rantai takdir, dengan lembut menyapu bahunya.


...Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, ya🙏...


Mulai besok kita akan Crazy UP 3 bab selama seminggu🤗🤗


Di tunggu Votenya🙏☺️


__ADS_1


__ADS_2