
Hari-berganti begitu cepat, seakan datang bagai seorang pencuri dan berlalu tanpa bisa di cegah. Masih di musim semi yang seharusnya bertebar kegembiraan, permaisuri Lin Fangyin tak bisa menepis semua kemuraman yang menyinggahi pias di wajahnya.
Saat tak ada orang, Lin Fangyin sering termenung, dengan diam ia memandang sang mentari terbit di timur dan terbenam di barat, duduk dengan kesedihannnya sendiri di taman kecil pribadi di belakang istananya yang indah. Malam pun berulang kali tiba, tahun baru datang, tahun baru pun berlalu, terus saja begitu. Tak terasa ataukah dia yang enggan merasakannya, sekarang adalah tahun kesebelas sejak dirinya masuk ke dalam istana Nan yang megah ini. Waktu melalui sela-sela jari diam-diam berlalu, melangkahi musim demi musim , bahkan dapat terlihat
menembus pembuluh darah, bagai air yang jernih. Tapi adakah yang berubah?
Lin Fangyin menyeringai sendiri, gairah yang muncul di awal mula sedikit demi sedikit menyusut, kehidupan kembali berputar, ia memandangi angkasa,bburung-burung berbondong-bondong terbang ke utara, mengepakkan sayap di langit dataran tinggi, berkelok-kelok meninggalkan jejak putih atau hitam, ia berpikir, mereka mungkin sedang pulang ke rumahnya.
"Rumah?" Lin Fangyin menelan ludahnya yang tersa pahit. Dia sudah melupakan rumahnya sejak bertahun-tahun yang lalu, sejak dia di panggil ke istana Nan untuk menjadi seorang permaisuri raja muda Nan Chen pada usianya yang baru enam belas tahun.
Ia berjalan masuk ke istana Nan dengan pakaian pengantin yang semerah darah dan tutup kepala berjumbai mutiara yang mewah, saat itu dia tak gugup sama sekali seperti yang di alami semua pengantin wanita saat di hari pertamannya bertemu dengan pengantin pria. Lin Fangyin muda yang baru mekar itu hanya di selimuti seribu rasa penasaran, tentang semua keindahan dan kebahagiaan yang di bisikkan ibunya jika dia menikahai sang raja tertampan di seantero Niangxi itu. Lin Fangyin cantik ini, dia adalah gadis yang di nobatkan sebagai gadis paling beruntung di Niangxi karena tanpa perlu bersusah payah mengajukan diri, Raja Nan terdahulu dengan tanpa ragu menunjuk dirinya sebagai pendamping raja. Lin Fangyin puteri sulung dari Jenderal Lin Qin, sahabat Raja Nan Tua. Adakah yang bisa mengingkari perintah itu? Bahkan Pamgeran Nan Chen Xiatian yang baru di nobatkan menjadi raja itu pun tak berkutik dengan perjodohan itu.
Dan pada hari itu masih lekat di ingatan Lin Fangyin, dia melangkah satu-satu menuju tengah aula yang dipenuhi semua orang penting kerajaan, dan matanya tak berkedip dari balik kerudung tipisnya berusaha menemukan wajah laki-laki tampan yang di janjikan sebagai suaminya itu.
__ADS_1
Lin Fangyin hampir tak bernafas, melihat rupa sang raja muda, dia tampan dan bersinar seperti matahari dengan meski dengan tatapan gelap yang menggayungi matanya. Wajah dinginnya begitu mempesona. Tak ada alasan atau pembenaran apa pun,Yang Mulia Nan Chen hanya bertanya padanya,"apakah kau bersedia melewatkan seribu tahun baru denganku dalam darah dan air mata, dalam bunga dan kubangan emas, dalam seribu perjuangan membawa Niangxi menuju kejayaan?". Tanpa perlu berfikir dua kali Lin Fangyin yang tersihir pada ketampanan Nan Chen mengiyakan dengan riang.Β Ini benar-benar sebuah tahun baru yang meriah dan tak terlupakan tetapi sekaligus tahun baru pertama yang di alami Lin Fangyin di istana Nan sekaligus mengubur dirinya setelah itu dalam lautan penderitaan tak terelakkan.
Bagaimana tidak? Sakit yang mana yang melebihi, cinta bertepuk sebelah tangan? Hanya orang-orang yang begitu jatuh cinta dan di campakkanlah yang tahu rasanya.
Di tahun-tahun selanjutnya, tak ada tari dan nyanyi penuh kemewahan istana, tak ada nada-nada merdu para penyanyi,Β tak ada makanan lezat yang benar-benar terasa lezat di lidah Lin Fangyin, tak ada bunga yang benar-benar dipandang bagi matanya, semua terasa hambar dan suram.
Cara Yang Mulia Nan Chen sungguh menyakitkan, bahkan di malam pertama mereka raja muda itu hanya minum sampai mabuk di dalam kamar pengantin, memanggil-manggil nama perempuan "Ayin...Ayin!" nama yang sampai saat ini bahkan Lin Fangyin tak tahu apakah itu nama setan atau manusia.
Yang Mulia meng@g@hinya dengan liar, dan tak pernah berhenti mentyebutkan nama seorang perempuan di telinganya.
"Ayin, aku mencintaimu...aku bersumpah hanya mencintaimu dalam hidupku!"
Demi langit dan bumi, Lin Fangyin begitu membenci nama Ayin itu, sangat membencinya hingga sampai ke tulang sumsum. Karena itulah dia memperlakukan semua selir raja sebagai tempat pembalasan sakit hatinya. Bagaimanapun dia merasa lebih rendah dari mereka, karena mungkin perempuan-perempuan genit itu di tiduri yang mulia dengan penuh hasrat bukan dengan penuh kesumat seperti yang dilakukan Yang Mulia Nan padanya.
__ADS_1
Menurut sebuah cerita dari mulut ke mulut yang sampai di telingan Lin Fangyin, Yang Mulia Nan Chen ternyata sangat ingin menikahi seseorang untuk di jadikannya permaisuri tetapi permintaannya di tolak oleh raja dan perdana menteri, karena perempuan yang ingin di nikahinya itu konon hanya anak seorang pelayan dimana sampai hari ini, Lin Fangyin bersumpah ingin menemukannya dan menggantungnya dengan tangannya sendiri karena kebencian yang di simpannya pada orang yang telah membuat Yang Mulia Nan tak pernah bisa mencintainya, malah melepas seribu dendam tanpa alasan padanya dalam pernikahan semu yang menyakitkan.
Yang Mulia Nan terlihat begitu mencintainya di depan semua orang tetapi ketika hanya berdua dengannya, semua ucapan kasar terlontar, seakan Lin Fangyin hanya perempuan rendah yang menggagalkan semua rencananya untuk bahagia.
"Kakak..." Lin Hongse tiba-tiba muncul dari belakangnya, pemuda berwajah flamboyant dan jago beladiri ini adalah adik semata wayang Lin Fangyin, dia juga adalah teman dari Nan Luoxia.
"Hongse, kenapa kamu datang mengendap-ngendap? kamu membuatku terkejut." Lin Fangyin menoleh sebentar pada Lin Hongse, sang adik.
"Aku mencari kakak dari tadi." Ucap Lin Hongse, jubah hijaunya berkibaran lembut. Di tangannya ada kipas besi dengan ukiran bunga peony, senyumnya terlihat cerah dan menyenangkan.
Hai pembaca kesayangan Cinta terakhir Zhao Juren, mari di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...ππππ.
__ADS_1