CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 111. Rumor Jahat dari Istana


__ADS_3

Tanya Zhao Juren tiba-tiba, membuat pemilik kedai menutup mulutnya, dia tahu tak pantas membicarakan hal seperti ini pada masa berkabung.


"Saudara raja sudah tidak ada, dia juga tak memiliki putra dari permaisuri utama. Dalam sejarah Niangxi tak boleh tahta di teruskan dari anak selir karena itu akan membuat kesialan untuk negara." Kalimat itu di ucapkan oleh Changyi, tiba-tiba wajah jenakanya berubah serius.


"Lalu siapa yang boleh menggantikannya? Puteri Nan Luoxia?" Tanya Zhao Juren dengan mulut sedikit ternganga. Dia baru tersadar yang tersisa sekarang hanya adik Nan Chen paling bungsu itu, yang di lahirkan dari Permaisuri terdahulu.


Dia tiba-tiba bergidik memikirkan beban seberat apa yang akan di tanggung perempuan itu jika dia memimpin negara yang dikendalikan oleh perdana menteri Yang Liujun, perdana menteri jahat itu.


"Tidak pernah dalam sejarah Niangxi, negara Nanxing di pimpin oleh seorang wanita." Suara Changyi menyeletuk.


Zhao Juren memalingkan wajahnya, sedikit menelengkan kepalanya, dia baru mendengar aturan itu. Di Yanzhi, semua anak raja boleh menjadi penerusnya, tak terkecuali perempuan atau laki-laki yang penting memenuhi kompetensi sebagai pemegang tahta, tetapi yang di utamakan adalah anak sulung raja dan laki-laki. Tetapi, jika tak ada maka seorang ratulah yang memegang tampuk kekuasaan.


Dalam sejarah Yanzhi pernah satu kali di pimpin ratu di masa lalu, meski tak lama karena permasalahan tradisi persembahan selir yang pro kontra, tak mungkin ratu menikahi banyak pria, itu sama sekali tak lazim.


Ratu hanya menjabat selama 8 tahun kemudian di ganti oleh putranya yang berusia 6 tahun meski tampuk pemerintahan tetap di bawah kendali ratu.


Tetapi di Nanxing mungkin berbeda, tradisinya tak mengijinkan tahta di pimpin perempuan.


"Tahta Nanxing dalam keadaan genting, dapat di pastikan semua putera raja terdahulu dari selir akan mengajukan petisi meminta hak memimpin. Akan ada badai yang lebih besar dari perang melawan Yanzhi. Negara ini mungkin akan hancur karena perebutan kekuasaan." Changyi lanjut berbicara dengan mulut yang dipenuhi oleh pangsit.


Pemilik kedai itu terlihat antusias mendengar pendapat Changyi yang lugas itu.


"Tuan, apakah tuan tau rumor yang beredar di pinggir kota Nanxing ini?" bapak pemilik kedai ini sedikit membungkuk sambil berbisik, matanya jelalatan mengawasi skelilingnya meskipun dia tahu tak ada orang lain selain mereka dalam kedai ini tetapi karena pembicaraan mereka itu tentang keluarga istana, dia tetap harus berhati-hati.


"Apa? rumor apa?" Changyi mendonggak dengan penuh penasaran sementara Zhao Juren bersikap seolah-olah tidak terlalu tertarik padahal telinganya berdiri berusaha merekam apa yang akan di dengarnya.


"Akhir-akhir ini tersiar kabar Tuan perdana Menteri berencana mendudukkan pangeran Nan Yuhuai menjadi pengganti raja tetapi...menurut cerita dari istana, pangeran Nan Yuhuai dibunuh oleh pamannya sendiri yang adalah seorang guru tabib. Membunuh orang dengan racun pastilah bukan hal yang sulit baginya. Pamannya pasti berambisi mengambil alih tahta. Terakhir kali yang datang mengunjunginya adalah pamannya."

__ADS_1


"Maksudmu, pangeran Nan Feng?" Changyi tampak melotot besar, pangsit di mulutnya nyaris tersembur. Tangannya terkepal seolah tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Jangan mengada-ngada tuan, jaga bicaramu!" Hardik Changyi, dia mendadak menjadi serius.


"Kenapa kamu menjadi membeliak begitu? Memangnya tuan mengenal Pangeran Nan Feng?"Tanya Zhao Juren, alisnya mengernyit melihat reaksi Changyi yang tak biasa.


"Ti..tidak...tapi...ya, maksudku ya aku pernah sekali di bawa ayah ke padepokannya, meski tak bertemu langsung tapi aku tahu pangeran Nan Feng memilih tinggal di luar istana, sejak kakaknya raja terdahulu mangkat, dia memimpin sebuah padepokan yang juga tempat para tabib menimba ilmu mengenai medis. Pangeran Nan Feng tak berambisi pada kekuasaan kecuali ketertarikannya pada ilmu kesehatan." Jawab Changyi, sambil berusaha kembali bersikap biasa.


"Tapi tuan, Coba fikir, kenapa dia mendadak pulang setelah lama tinggal di luar istana saat mendengar raja mati di tikam istrinya sendiri? Bukankah itu sangat mencurigakan?" Bisik Pemilik kedai itu dalam suara rendah, masih penasaran dengan pendapatnya sendiri.


"Suamiku!" Istrinya menepuk punggung sang suami hingga dalam sekejap tubuhnya menjadi tegak karena terkejut, dia berbalik dan mendapati istrinya itu berkacak pinggang sambil melotot.


"Hati-hati kalau bicara, sayangilah lehermu..." Tegur sang istri membuat pemilik kedai itu segera memegang lehernya dengan raut panik.


"Istrimu benar, tuan. Jangan menyebarkan isu yang tak benar karena mungkin kepalamu taruhannya kalau Pangeran Nan Feng mendengarnya." Changyi terkekeh melihat ketakutan pemilik kedai itu.


Berbeda dengan reaksi Zhao Juren yang terlihat menjadi terpekur. Kepalanya di penuhi banyak fikiran dan semua kecemasan mencuat seperti rumput kuning yang tumbuh memenuhi benaknya.


"Xue Xue, apakah kamu dalam bahaya?" pertanyaan itu mendadak menghentak dadanya, membuatnya tak lagi berselera untuk menghabiskan mie dalam mangkoknya.


"Ngomong-ngomong, tuan berdua hendak kemana?" Tanya pemilik kedai itu mengalihkan pembicaraan.


"Kami mau masuk kota raja...bibiku sudah sangat merindukanku..."Dalih Changyi, mulutnya tak berhenti mengecap, kuah bawang itu benar-benar nikmat sepertinya.


"Sebaiknya tuan berdua bermalam di sini, sebentar lagi malam, mungkin saja akan ada hujan salju. Cuaca akhir-akhir ini tak menentu." tawar lemilik kedai itu sambil memindahkan beberapa mangkok kosong dari hadapan Changyi.


"Sepertinya itu ide yang bagus, aku juga begitu kenyang. Rasanya tempat terbaik setelah ini adalah mendekam di peraduan, tidur sepanjang malam." Sambut Changyi dengan wajah berseri sambil menoleh pada Zhao Juren yang tak bergeming.

__ADS_1


"Tidak, Changyi. Kita tak boleh bermalam. Kita harus segera bertemu Xue Xue." Sahut Zhao Juren, tangan kanannya merogoh kantong di balik ikat pinggangnya dan menaruh beberapa tail perak di atas meja.


"Apakah ini cukup untuk makan sore kami ini?" Tanyanya memecah sunyi.


"Tentu saja tuan, ini lebih dari cukup malah." Pemilik kedai itu menjawab dengan bengong, rasanya tamunya ini baru menyuap beberapa tarikan sumpit mienya dan sekarang dia menutuskan untuk segera pergi dengan sedikit tergesa.


"Tapi..." Changyi merengut protes, tetapi dia tahu tidak berguna mendebat laki-laki yang kini menjadi temannya itu.


"Kau boleh tinggal jika kamu tak mau ikut." Tegas Zhao Juren sambil beranjak, setelah menganggukkan kepalanya pada pemilik kedai itu tanda pamit.


"Tunggu dulu!" Changyi berteriak menahan, lalu dengan sigap mengambil saputangan dari balik pinggang bajunya dan membungkus sisa pangsit yang masih separuh piring.


"Untuk bekal di jalan." Changyi cengengesan. Zhao Juren hanya menggeleng-geleng kepalanya melihat tingkah kekanakan Changyi.


"Kita mau kemana sekarang?" Changyi setengah berlari mengejar langkah Zhao Juren, dia mengatakan akan mencoba mencari kuda dari seorang kenalan, mereka akan memutari hutan bagian utara, dan itu berlawanan dengan arah menuju kota raja.


"Kita akan ke istana bidadari. Sebelum pagi kita harus tiba di danau lima warna." Jawab Zhao Juren acuh.


"Gila! Tuan Lian Ju mau mengajakku bunuh diri???" Pekik Changyi, istana itu bukan tempat sembarangan, seribu perempuan menjaganya, siapa yang berani ke sana?


...



Changyi...


(Yuk di dukung terus ya novel ini, biar author tambah semangaaaaat mrnulisnya🤗🤗🤗 Gak sabar menamatkan cerita ini🤭 bnyk kejutan di bab-bab selanjutnya. Tetap stay bersama Zhao Juren, yaaa🙏☺️ luv you all)

__ADS_1


__ADS_2