
Xue Xue merasakan kehadirannya di belakang punggungnya tetapi dia heran kenapa perempuan yang juga anak buahnya itu sama sekali tak merespon. Sebelum dia menoleh untuk memastikan sebuah suara berat yang sangat di kenalnya terdengar membuatnya nyaris terlonjak dari tempat duduknya,
"Nona Xue Xue, mungkin nona butuh bantuan mengartikannya..."
Xue Xue dengan reflek berbalik, seakan takut apa yang barusan di dengarnya itu hanyalah ilusinya karena memang akhir-akhir ini dia merasa begitu banyak menyimpan rindu pada sang pemilik suara.
"Tuan Zhao..."
Wajah tampan dalam balutan pakaian hitam itu tersenyum lebar, sudut bibirnya yang indah itu seolah menari di antara cahaya lentera yang tak begitu terang.
"Astaga, aku tak bohong jika aku begitu merindukan panggilan itu dari mulutmu, nona Xue-ku. Tetapi bisakah kamu berhenti memanggilku dengan tuan Zhao..."
Belum sempat Zhao Juren menyelesaikan kalimatnya, Xue Xue telah menghambur ke pelukannya, bibir perempuan itu melekat erat di bibir Zhao Juren.
"Hah..." Zhao Juren terpana tak menyangka sama sekali sambutan gadis itu luar biasa di luar dugaannya.
"Kenapa kamu lama sekali pergi, aku telah mengirim pesan berkali-kali, apakah kamu sama sekali menerimanya?" Xue Xue melepaskan ciumannya, merengut dengan wajah kesal yang sarat rindu.
Pesan yang di terimanya dari Bai Yueyin, seseorang ingin bertemu, dia mengira salah satu dari mata-mata yang di kirimnya ke rumah keluarga perdana Menteri Yang, sungguh dia tak menyangka jika Itu adalah Zhao Juren.
"Kenapa kamu melotot begitu padaku? Hah? Kamu tak rindu padaku? Kau tahu ciuman itu membuatku terbayang-bayang siang malam. Saat menangispun aku memikirkanmu!" Oceh Xue Xue, tetapi reaksi Zhao Juren sungguh aneh, dia malah mundur selangkah dan mematung dengan wajah merah.
"Hey..." Xue Xue terperanjat, dia keheranan, apakah dia yang begitu naif, rindu yang pertama kali di rasanua pada seseorang itu terlalu menggelegak dan mengambil alih kesadaran, dirinya merasa malu di perlakukan oleh Zhao Juren seperti tak mempunyai perasaan yang selaras dengannya.
__ADS_1
"Sttt..." Sekejap kemudian Zhao Juren mendesis dengan salah tingkah, matanya melirik pada sudut ruangan dari arah pintu belakang, sesosok tubuh seperti patung yang di sihir menatap tak berkedip pada mereka, mulutnya melongo sementara di tangannya sebuah manisan tanghulu urung di masukkan hanya sampai di depan mulutnya saja.
Xue Xue terpekik tak kalah terkejutnya tak menyangka ada orang lain selain mereka berdua. Apalagi tak jauh dari tempat sosok itu berdiri, anak buahnya salah satu dari pasukan bidadari yang sedari tadi bersamanya tanpak pula berdiri dengan kepala menunduk tak berani mengangkat wajahnya. Mungkin adegan ciuman itu tadi telah membuatnya sedikit shock.
"Kenapa kamu tak bilang jika kamu membawa orang lain." Tak pernah Xue Xue merasa semalu ini, tingkahnya yang mendadak kekanakan tadi sungguh berkesan agresif tentu saja hal seperti itu tak pantas di lakukan olehnya jika di lihat dari etika.
"Dia menempel padaku seperti kutil, aku tak tahu cara membuangnya." Jawab Zhao Juren setengah berkelakar, berusaha menutupi pias mali Xue Xue.
"Astaga, mataku ini telah tercoreng. Oh, dewa, haruskah aku mencungkilnya supaya disucikan dulu." Changyi mengerjap-ngerjap matanya dengan lucu.
"Rasa terkejut Kemarin karena aku baru tahu jika nona Xue Xue ini adalah puteri Nan Luoxia belum lagi hilang dan sekarang kalian membuat aku nyaris tak bisa bernafas, seorang puteri melompat kepelukan temanku yang beruntung ini. Seharusnya aku berguru padamu untuk kemampuanmu ini, aku yakin kamu menyimpan jimat pemikat..." Ocehan Changyi itu membuat telinga Xue Xue seperti di tabur merica. Dia mundur dan berbalik lalu berpura-pura sibuk melihat pada lukisan yang berada di atas meja. sementara Zhao Juren menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Sembarangan! Pergilah keluar, berjaga-jagalah untuk kami. Aku harus berbicara banyak dengan nona Xue..."
"Em...apa? Ya, tentu saja berbicaralah! Kamu tahu kami lama tak bertemu, banyak hal yang perlu aku rundingkan dengannya." Tukas Zhao Juren sembari melirik Xue Xue yang terlihat malu itu.
"Hi...hi...baiklah-baiklah, aku akan menikmati tanghuluku ini di luar, sambil mengingat kejadian tadi." ucap Changyi jenaka sembari keluar, wajahnya berseri-seri.
"Oh, iya. Berundingnya jangan lama-lama, aku takut terlalu lama berada di luar dengan satu bidadari nona Xue ini. Aku takut dia tiba-tiba tergoda menciumku..." Changyi tergelak lalu keluar di ikuti pengawal pasukan bidadari itu yang dengan tanpa ada yang tahu ekspresinya di balik cadar hitamnya, menutup pintu rapat-rapat dari luar.
"Klek."
Suasana mendadak sehening kuburan, keduanya sedikit kikuk ketika di tinggalkan. Xue Xue masih malu bukan main dengan kelakuannya yang tak terkendali itu sementara Zhao Juren bingung sendiri berusaha mencairkan suasana.
__ADS_1
bulan separuh di langit dengan tenang bersinar lewat celah-celah sekat udara, ia seakan diselimuti kabut, dan akan melebur di tengah cahaya malam yang tiba-tiba suram itu. Cuaca yang aneh, tadinya salju tak terlihat akan turun tetapi hawa dingin malah seakan memberitakan mungkin akan turun salju malam ini.
"Xue Xue....." Panggilan itu memecah sunyi.
Xue Xue tak bergeming dia masih malu memikirkan kejadian tadi.
"Aku begitu mencemaskanmu sepanjang perjalananku menuju Nanxing." Tiba-tiba Zhao Juren memeluk tubuh Xue Xue dari belakang. Lengannya melingkar di pinggang ramping gadis yang kini memunggunginya dengamn raut semerona kelopak houyun itu.
Suara nafas Zhao Juren menerpa leher Xue Xue, hangat dan membuat sekujur tubuh Xue Xue meremang.
"Lu...lukisan...lukisan ini..." Xue Xue berucap dengan tersendat, bingung sendiri mau mengucapkan apa. Dia masih ingat bagaimana dia melompat tanpa malu ke pelukan Zhao Juren lalu menciuminya begitu saja tanpa bisa di tahannya. Kejadian barusan membuatnya kehilangan keberanian itu.
Zhao Juren membalikkan tubuh gadis belia yang kemudian di sadarinya baru pertama kali jatuh cinta itu.
"Xue Xue, bisakah kamu menciumku sekali lagi." Bisik Zhao Juren, lembut. Xue Xue terpana. Dengan samar-samar, dirinya seakan mendengar beberapa suara beruntun, lelaki itu terlihat begitu tampan saat mengangkat alisnya, sepasang matanya bagai seekor kelinci, sambil menyeringai menatap dirinya.
"A...aku..." Xue Xue tergagap, rasa trauma kejadian tadi masih membayang. Dia telah berlaku sembarangan dan ragu mengulangnya.
Cahaya remang berkedutan dari lentera di atas meja, pantulan cahaya di ombak jernih, kabut menyelimuti wajah lelaki itu, sedikit demi sedikit berubah menjadi sebuah senyuman sarat rindu. akhirnya dia tersenyum tersenyum melihat kekakuan Xue Xue lalu mementang sepasang lengannya lebar-lebar sambil berucap pelan dengan suara lembut, "Aku sangat merindukanmu".
(Hayooo, yang belum vote wajib vote ini, bab selanjutnya pasti di tunggu pembaca😅 Terimakasih like, komen dan giftnya. I luv u all🥰)
__ADS_1