CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
Bab. 28 Sembayang Arwah


__ADS_3

Pemandangan yang sama seperti terakhir kali Zhao Juren meninggalkan kotaraja Yubei. Kuda yang di pacunya selama dua hari satu malam itu kelelahan dan telah dititipnya pada sebuah penginapan. Kuda yang dipinjamkan oleh paman Wang itu benar-benar kuat, bahkan dia tak terlihat lelah meski di paksa hampir tanpa cukup istirahat dari pinggiran kota provinsi Liangsu menuju kotaraja Yubei.


Berita kematian Jenderal Zhao Juren yang itu sungguh membuat banyak orang berduka, perisai Yanzhi itu mati di tempat kebanggaannya, yaitu medan perang. Paling tidak itulah yang selalu diceritakan orang-orang ketika Zhao Juren singgah sebentar untuk mengistirahatkan kuda.


 Di sudut-sudut jalan Kotaraja Yubei masih sama seperti dahulu, angin sejuk dari permukaan danau yang membawa keharuman bunga lotus bertiup dengan lembut dibawakan oleh angin musim semi yang segar, pohon-pohon liu di kedua sisi jalan setelah gerbang,  berayun-ayun seiring tiupan angin, ranting-rantingnya berputar-putar lembut dan dedaunan pucuk muda yang baru menyembul itu, bagai pinggang gemulai seorang gadis penari, meliuk-liuk sedemikian rupa.


 Zhao Juren berjalan dengan jubahnya yang berwarna gelap, dia mengenakan tudung kepala, menyeruak jalanan ramai di sore hari yang kemerahan. Di bawah sinar matahari yang terbenam di ufuk barat langit musim semi, burung-burung yang kelelahan berciap kembali ke sarangnya, sementara sungai memerah dipenuhi bayang-bayang, amat luas seakan diwarnai dengan darah. Bayangan itu adalah pantulan dari langit senja yang suram.


Yanzhi telah mengadakan perkabungan nasional selama tiga bulan penuh atas perintah Yang Mulia Yan Yue, selayaknya kerabat istana inti yang meninggal, semua orang mengenakan pakaian kasar berwarna gelap, hanya lentera yang tergantung pun ditutupi kain putih, ketika berjalan di jalan, dimana-mana terasa rasa duka


yang penuh keputusasaan. Benar-benar suram.


Berbeda memang jika seorang raja yang meninggal, semua orang akan mengenakan kain kasar berwarna putih tetapi karena Zhao Juren adalah seorang pangeran dengan gelar resmi dari Yang Mulia Yan Yue, yaitu Pangeran Agung Yan Juren maka ritual itu di dominasi warna gelap selayaknya upacara berkabung kerabat istana keluarga raja.


Hari sedikit demi sedikit menjadi gelap, bulan amat bulat, terbit dari pucuk-pucuk pohon, dengan berkilauan tergantung di cakrawala nun jauh di sana. Hari sepertinya ikut suasana berkabung di kota Yubei.


Lewat tengah malam tadi, di perjalanan Zhao Juren hanya sempat memejamkan matanya beberapa menit di bawah sebuah pohon Wutong sambil menunggu kuda itu minum di sebuah genangan parit. Dan sempat-sempatnya dia bermimpi melihat dirinya terbaring kaku di sebuah altar di kuil Zuihou. Ada Xiao Yi yang mengenakan gaun putih bersih tertutup dari atas kepala sampai menutup mata kakinya, dia sedang bersimpuh membakar dupa. Xiao Yi dengan raut datarnya sama sekali tanpa kesedihan membakar dupa itu tanpa memejamkan matanya. Zhao Juren sekuat tenaga berusaha bangun tetapi tubuhnya seperti kehilangan tenaga sepenuhnya, syaraf-syarafnya kebas bahkan terasa mati.

__ADS_1


Suara lenguh kuda membangunkan mimpi singkatnya itu, dahinya basah kuyup penuh keringat dingin, dia terbangun dan menyadari bahwa waktunya terlalu sedikit untuk bisa mengejar pemakamannya sendiri.


Sekarang hari sudah gelap, dia membaur bersama orang-orang yang berdesakan di depan gerbang kuil Zuihou, kuil di depan pemakaman para raja dan kerabat istana. Tangan kanannya memegang erat gagang lentera yang ada di tangannya.


Pengawalan begitu ketat sehingga dia kesulitan menerobos, untung saja dia sangat mengenal semua sudut dari segala tempat di lingkungan istana Weiyan itu, sehingga dia tidak terlalu sulit untuk mencari jalan.


Rakyat umum di ijinkan mengikuti upacara tetapi terbatas hanya sampai pekarangan di


depan gerbang kuil Zuihou.


Pangeran-pangeran yang lain, berdiri  di belakang dengan ikat kepala putih. Dan di barisan belakang para petinggi istana. Tak nampak sama sekali ibu suri Zhao Li Sui, ibu kandung dari Zhao Juren.


Memang tak aneh, bukankah dia di tahan di dalam kuil Sunyen sebagai tawanan setelah pemberontakannya? Tetapi meski berdiri di antara para pengawal berdesakan dengan para rakyat yang berkabung, Zhao Juren tetap berharap ibunya ada di sana, di antara semua kerabat istan aterhormat itu.


“Jangan menghalangi jalan.” Seorang pengawal menegurnya setengah membentak.


“Oh…” Zhao Juren hampir saja marah, tetapi kemudian dia menyadari, dia kini bukan berdiri sebagai jenderal tetapi rakyat biasa yang berusaha menghadiri sebuah ritual sembayang arwah di kuil Zuiho. Menyembayangi arwahnya sendiri, yang masih hidup.

__ADS_1


 “Yang Mulia Yan Yue sebenarnya sedang tidak terlalu sehat sekarang, mungkin karena terlalu sedih dengan kematian Jenderal Zhao. Dia hanya memaksakan diri untuk memimpin ritual ini karena begitu sayangnya dia pada jenderal Zhao.” Seorang perempuan di sebelahnya tampak berbisik pada temannya.


 “Bagaimana kamu bisa tahu tentang itu?” Tanya temannya dengan suara kecil.


 “Saudariku adalah pelayan di istana harem, setiap hari dia membantu Yang Mulia permaisuri untuk membuatkan minuman obat herbal untuk Yang Mulia. Kasihan Yang Mulia, dia begitu terpukul.”


Zhao Juren menahan nafasnya, mendengar dua orang perempuan yang sedang menggunjingkan kabar dalam istana. Sesungguhnya itu sedikit lancang mnengingat suasana sedang berkabung tetapi, hatinya tetap saja merasa sedih mendengar keadaan Yang Mulia Yan Yue, dia tak menyangka semua menjadi kacau balau dalam sekejap mata semetara dirinya berbaring tak sadarkan diri di bawah perawatan Xue Xue yang misterius itu.


Zhao Juren berencana untuk tiba sebelum upacara sembayang arwah itu dan memberitakan sendiri ke depan Yang Mulia Yan Yue bahwa dirinya masih hidup tetapi meski sekuat tenaga mengejar waktu, tetap saja terlambat. Akan menjadi hal yang aneh dan menggemparkan jika dia tiba-tiba mendadak muncul di tengah upacara itu dalam keadaan segar bugar. Lalu apa yang akan di katakannya pada semua orang, jika semua bertanya, kemana saja dia selama ini.


Suara yang dikumandangkan dari aula di dalam Kuil Zuihou terdengar seperti gemuruh tawon, upacara itu sudah dimulai. Di tengah aula itu ada sebuah peti dari batu berukir yang tertutup kain sutra putih polos, entah apa yang terbaring di dalamnya, yang pasti itu bukanlah Jasad Zhao Juren.


 Zhao Juren hanya menelan ludahnya yang terasa pahit.


“Apakah langit benar-benar menginginkan kematianku?”


__ADS_1


__ADS_2