CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 112. Kembali Ke Danau Lima Warna


__ADS_3

Bintang-bintang merayap ke atas pipi Zhao Juren yang pucat lalu perlahan kehilangan kelipnya yang suram, bunga es di punggungnya diselimuti salju. Udara malam musim dingin dengan sebat dan ganas masuk ke dalam hidung, bagai serpihan-serpihan mata pisau, sebuah perasaan gundah yang tak terbendung muncul dalam lubuk hatinya, terasa berkelok-kelok merayap naik ke punggungnya, hatinya bagai hujan salju lebat yang putih dan kelabu, selalu dingin dan kebingungan. Untung saja, malam segera berlalu sebentar lagi pagi tiba.


"Ini danau lima warna itu? aku baru pertama kali melihatnya" Changyi masih melongo di tepian danau setelah menambatkan kudanya di sebatang pohon Willow tua.


Pertama kali saat membuka mata dan terpesona melihat danau lima adalah pada penghujung musim dingin setahun yang lalu, kala dia di pulangkan dari istana bidadari dalam sebuah perahu kecil setelah tinggal selama tiga bulan dalam keadaan tak sadar karena racun kelabang hijau Lin Hongse.


Kabut di atas cakrawala dengan perlahan bergerak, warna membaur di batas barat, sejumlah burung layang-layang yang sedang pulang bermigrasi dari selatan menuju utara tampak seperti noda bergerak, ingatan itu masih melekat.


Cahaya matahari pagi perlahan meremang, dan yang pertama kali tampak di dari kejauhan adalah kabut putih dan samar-samar sebuah pulau di mana istana bidadari tampak begitu kecil seperti setangkup semak. Ketika dia melayangkan pandangnya ke depan, di kejauhan dia melihat bangunan hitam pada sebuah pulau yang di kelilingi hutan persik, istana Tianshi itu berada di dataran tertingginya. Tapi tempat itu terlihat puluhan bahkan ratusan li dari tempatnya kini. Bangunan itu yang selalu terkesan misterius dan juga menyimpan sejuta rahasia tersembunyi.


Danau yang memiliki air sebening kristal permukaannya berkabut, dinginnya luar biasa meski tak membeku seperti sungai Yalu di Youwu tetapi musim dingin mengubahnya menjadi sedingin air es, tak ada burung bangau hitam yang sanggup berenang di atasnya dalam cuaca seekatrim ini.


"Kamu akan terpesona melihat danau ini saat musim semi tiba." Zhao Juren tersenyum lebar. Dia masih ingat benar, dasar danau ini memiliki warna biru muda seperti topaz tetapi bersemburat jingga karena pantulan langit senja. Dan anehnya seolah setiap beberapa detik berubah warna, permukaannya bahkan seperti cermin ketika sinar matahari jatuh ke permukaan danau, warna airnya akan berubah menjadi hijau muda kemudian berangsur menjadi tua, atau kadang-kadang kuning muda dan berakhir pada merah jingga.


Zhao Juren masih duduk terpaku, seperti sedang menunggu sesuatu. Tanahnya tempatnya duduk l seperti berundak membentuk bukit kecil dan pohon-pohon berbaris besar kecil berdiri dengan rantingnya yang dipenuhi salju.


"Waktu cepat sekali berlalu." Zhao Juren mematahkan sepotong ranting dan mengais tanah, ternyata dia jadi hantu sudah setahun. Perang musim dingin di perbatasan telah membuat orang mengiranya mati.


"Apakah semua orang sudah melupakanku?" Pertanyaan itu mencuat di benaknya, begitu miris.

__ADS_1


Tak berapa lama terdengar suara kesiuran angin di sekeliling mereka dan dia tahu inilah yang di tunggunya.


Beberapa sosok berjubah hitam muncul dengan tubuh ramping dan wajah tertutup cadar, mereka ada pasukan perempuan yang sudah pasti penguasa wilayah Danau lima warna.


"Siapa kalian? Kenapa begitu lancang memasuki wilayah terlarang?" Pertanyaan itu bernada gertakan di semburkan oleh seorang perempuan di antara mereka.


"Astaga, hantuuuu..." Changyi terkejut bukan alang kepalang ketika tanpa sempat berpaling sebuah pedang di julurkan ke depan hidungnya.


"Pa...pasukan bidadari..." Changyi gemetaran saat menyadari siapa yang kini berada di depannya dan dengan reflek melompat ke belakang dan bersembunyi di belakang Zhao Juren.


Zhao Juren maju dua langkah dengan tenang menjelang sebuah pedang lain yang terhunus ke lehernya lalu dengan sikap lembut merogoh saku lengan jubahnya lalu menunjukkan sebuah tusuk rambut dari giok hijau dengan ornamen bunga persik yang indah.


Serta merta, benda itu membuat pedang yang semula terhunus itu masuk kembali ke sarungnya. Mereka mengenal benda itu, barang keramat milik pribadi keturunan Nan, dan satu-satunya yang memiliki warisan ratu Niang itu adalah tuan mereka Puteri Nan Luoxia atau nona besar Xue Liannya istana Bidadari.


Changyi terbelalak takjub melihat bagaimana para pasukan perempuan yang konon berparas cantik dan kemampuan beladiri tinggi serta mungkin yang paling di takuti di wilayah utara Nanxing itu membungkuk hormat pada Zhao Juren.


"Tuan Lian Ju, sebenarnya siapakah dirimu? bagaimana bisa kamu membuat para bidadari ini pun tunduk padamu?"


__ADS_1


...***...


Pada bulan ketujuh awal, tepatnya di pertengahan musim dingin, salju bergulung tiada henti membentuk hamparan permadani putih di tiap sudut, tirai hitam di istana Nan telah diganti, di tempatnya digantung tirai katun berwarna putih.


Dalam waktu kurang sebulan, raja Nan Chen dinyatakan mangkat, istrinya ratu Lin Fangyin yang menbunuh raja di jebloskan dalam penjara dingin menunggu raja selanjutnya yang akan memberi hukuman. Sudah pasti adalah hukuman mati hanya saja cara matinya yang tak dapat di pastikan, semua tergantung raja yang baru.


Tiga pekan sebelumnya, genta kematian di istana berdentang panjang, seluruh kolong langit di atas tanah Niang itu menangis berkabung.


Pada hari Yang Mulia raja Nan Chen dimakamkan di makam para raja, Bai Yueyin keluar dari Istana Nan, ranting-ranting pohon liu terlihat di selimuti gumpalan salju, sunyi senyap, segalanya begitu luas.


Bai Yueyin mengenakan gaun katun berwarna putih, berdiri di loteng yang amat tinggi di Gerbang istana Luoxia, memandangi rombongan penguburan yang amat panjang dan berkelok-kelok sampai mereka sedikit demi sedikit menghilang di ujung jalan raya.


Dia bukan keluarga inti raja bahkan bukan siapa-siapa kecuali di kenal sebagai pengawal Puteri Nan Luoxia, tentu saja dia tak punya hak untuk mengikuti ritual penguburan yang berkesan sangat tertutup itu.


Adik raja yang paling dekat dengan raja terdahulu, anak selir utama Furen, Pangeran Nan Feng, menjadi pemimpin upacara itu. Dia pula yang menjadi pejabat sementara menunggu terpilihnya raja baru.


Lelaki berpenampilan sederhana ini sudah berusia di awal 40, tetapi masih gagah dan rupawan. Konon kemampuan medisnya dan Kehidupan luar istana membuatnya awet muda. Menurut cerita Xue Xue padanya, pamannya itu tidak menikah lagi setelah istrinya meninggal saat melahirkan putera pertamanya.


__ADS_1


...Bai Yueyin...


(Terimakasih tetap menunggu UP cerita ini, semakin mendekati komflik puncak dan akhir cerita, rasanya author tambah semangat menulis☺️ Yuk di dukung ya, vote, like dan komennya selalu di tunggu🙏 i love U all🥰)


__ADS_2