CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 72. Isi Kepala Yang Kacau


__ADS_3

"Atau..." Xue Xue menggerakkan kakinya yang terasa kram karena begitu gugup takut melakukan gerakan yang membuat orang yang kini berada di sana bersuara.


"Apakah kakak menyukai selir Huan?"


 Nan Yuhuai tidak menyahut, dia membalikkan tubuhnya.


 "Aku tidak pernah memintamu melakukan apapun padaku kecuali sekali ini, Xue Xue." Ucapnya datar.


"Sebaiknya kamu tidur saja sekarang, kalau perlu suruh pelayan memanggilmu tabib saja, kamu berkeringat dingin di malam yang tak panas." Nan Yuhuai melangkahkan kakinya membiarkan Xue Xue yang seperti tercekat


menunggu jawabannya.


"Selamat malam adik, beristirahatlah."


Xue Xue sama sekali tak menahan kepergiannya meski seribu pertanyaan yang mungkin sedang memenuhi kepalanya, nan Yuhuai menyadari adiknya itu sama sekali tak berharap dia terlalu lama di situ. Apapun alasannya, Nan Yuhuai bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain apalagi Xue Xue adalah perempuan yang mandiri meski di usianya yang muda. Mungkin saja ilmu kanuragan adiknya itu malah lebih tinggi darinya, Nan Yuhuai tak meragukan itu. Jadi apapun yang di lakukan adiknya itu sama sekali tak membuatnya cemas, apalagi


setahu Yuhuai Xue Xue bukan orang yang suka gegabah.


"Kamu tak perlu tahu apapun tentang Huan, Xue Xue. Kuharap kamu bisa melakukannya padaku. Jika tidak, aku tak bisa mengatakan padamu apa yang bisa kulakukan untuk membuat perempuan itu menjauh dari sisi Nan Chen." Kalimat itu di ucapkannya dalam hati sembari keluar dari pintu kamar Xue Xue.

__ADS_1


Beberapa menit, suasana hening seperti kuburan sepeninggal Nan Yuhuai, mata Xue Xue nyaris tak berkedip sampai kemudian Zhao Juren menyibak selimut tebal di mana dia tengkurap di bawah kaki Xue Xue menyembunyikan diri, nyaris tak berani bernafas selama dia berada di balik selimut Xue Xue.


Dia sempat saja sebenranya melompat ke atas atap atau memasukkan diri ke bawah tempat tidur Xue Xue tetapi gadis itu tanpa persejuannya, malah melompat ke atas tempat tidur dan menariknya ke dalam selimut. Membungkusnya di sana.


"Kakaku tak akan naik ke tempat tidurku untuk memeriksamu. Ini adalah tempat yang paling aman." Itu adalah alasan Xue Xue.


"Apakah dia telah pergi?" Tanya Zhao Juren setengah berbisik. Xue Xue tak menyahut, mukanya masih terlihat tegang. Mereka berdua sesaat berhadapan dengan saling duduk tegak di atas tempat tidur Xue Xue yang empuk


itu. Gelayar aneh itu segera menyergap kembali, jarak yang begitu dekat membuat Zhao Juren salah tingkah sendiri. Aneh sekali, dia bingung dengan persaannya saat berhadapan terlalu dekat dengan Xue Xue. Rasa sungkan yang malu-malu tetapi menerbitkan gairah yang aneh. Wajah manis yang acuh tetapi tulus milik Xue Xue itu benar-benar mengganggu fikirannya beberapa pekan terakhir.


 "Tuan Zhao..." Xue Xue mengepalkan kedua tangannya di kiri kanan tubuhnya, suaranya terdengar parau.


"Hah?" Zhao Juren menatap Xue Xue dengan bingung, niatnya yang segera melompat dari tempat tidur Xue Xue di urungkannya.


"Niat apakah yang kau simpan sebenarnya atas diriku? kenapa kamu melakukan semua ini? Kamu membuatku...membuatku takut." Pertanyaan itu di ucapkan Xue Xue bertubi-tubi, mata itu yang sedalam pusaran air menatapnya tajam. Baru kali ini Zhao Juren melihat tatapan perempuan ini begitu aneh padanya.


 "Apa maksudmu, Xue Xue?" Zhao Juren malah balik bertanya sambil menelan ludahnya yang terasa seperti batu melewati kerongkongannya. Tetapi gejolak aneh itu tak bisa di tahannya, mereka hanya terpisah oleh jarak tak seberapa di atas tempat tidur yang menggoda ini, dia tanpa sadar mendoyongkan tubuhnya memegang bahu Xue Xue yang menatapnya tak berkedip itu.


"Aku...aku takut..." Suara Xue Xue terdengar gemetar, dia menggigit bibirnya sendiri tetapi tak berusaha menepis sentuhan Zhao Juren di bahunya itu.

__ADS_1


 "Takut apa?" Zhao Juren tak sedetikpun mengalihkan pandangannya dari Xue Xue. Kepalanya mendekat hingga suara nafas mereka berdua hampir bertukar des@h.


"Aku takut jika kamu terlalu sering berkeliaran di dekatku, kamu mengacaukan isi kepalaku, aku menjadi teralu banyak memikirkanmu." Xue Xue menundukkan kepalanya dengan jengah, suaranya bergetar parau. Dia tak pernah mengucapkan kata-kata seperti pada lelaki manapun di dunia ini tetapi entah kenapa di depan Zhao Juren pria yang mungkin seusia kakak tertuanya itu, dia tak bisa berbohong dengan perasaannya.


Xue Xue adalah gadis muda yang kuat, dia bahkan di percaya oleh Nan Chen sebagai bayangannya di luar tembok istana. Dia telah memimpin dua peperangan besar dalam tiga tahun terakhir, meski usianya masih belia dia adalah gadis yang cerdas dalam mengatur strategi perang setelah panglima Qin mengambilnya menjadi murid sekaligus anak angkat bagi panglima tua yang tak punya anak itu. Xue Xue bukan gadis sembarangan, selain dia mempunyai darah bangsawan raja yang mengalir kental di dalam nadinya sebagai Puteri Nan Luoxia yang mulia dia juga adalah gadis yang bebas dengan kanuragan yang mumpuni. Ilmu pedang dan panah serta penggunaan senjata rahasia dikuasainya dengan baik. Tetapi di depan Zhao Juren dia merasa semua kemampuannya itu menguap. Laki-laki ini seperti magnet sejak pertama kali dia melihatnya di gerbang Doting. Dia dingin dan berbeda, mata Zhao Juren yang sehitam giok itu begitu pekat dan dalam seolah-olah menyihirnya untuk masuk ke dalamnya. Mata itu tak punya ketakutan pada apapun, seakan rasa sakit yang pernah di alaminya memasung setiap ketakutan manusiawi yang di punyainya. Ini adalah ketertarikan aneh dan Xue Xue nyaris tak bisa berkelit setiap kali berhadapan dengan laki-laki ini.


 Zhao Juren dengan jemari tak kalah gemetarnya meraih dagu Xue Xue, entah mengapa dia menjadi tak rela jika gadis itu melepaskan pandangannya dari matanya.


Xue Xue mencengkeram ujung-ujung selimutnya dengan erat, ketika kepalanya perlahan terangkat oleh tuntutan jemari Zhao Juren. Dia tak pernah merasakan perasaan sekacau ini, saat bersama laki-laki ini dadanya seakan di penuhi puluhan genderang yang di tabuh bersaman, jantungnya seakan ingin melompat sewaktu-waktu.


"Aku juga heran, akhir-akhir ini kepalaku juga di penuhi oleh wajahmu." Ucap Zhao Juren kemudian, suaranya terdengar hati-hati.


"Alasanku begitu nekad bertaruh nyawa sampai di dalam istana ini, tak hanya untuk mencarimu untuk hal politik semata..." Lanjut Zhao Juren dengan suara yang nyaris serupa bisikan.


 "Tetapi..."


 Xue Xue mengerjap mata sekali, seakan begitu penasaran dengan lanjutan kalimat Zhao Juren berikutnya. Bibirnya sedikit terbuka, sebagai perempuan terhormat dia membenci sikapnya saat ini tetapi hatinya berkata lain. Bibir Zhao Juren yang gemetar itu seperti sebuah tangkai madu yang maha manis.


__ADS_1


Hai pembaca kesayangan Cinta terakhir Zhao Juren, mari di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...🙏🙏🙏💜.


__ADS_2