
"A...apa maksud Yang Mulia? A...aku sungguh tak mengerti." Sahut Selir Huan dengan tergagap, darahnya serasa berhenti mengalir di nadinya.
"Aku melihat matamu..." Yang Mulia Nan Chen tak bergeming, matanya lurus ke atas pada wajah yang menunduk dengan mata tak berkedip menatapnya.
"Tatapan itu, sama persis dengan apa yang kurasakan. Aku tahu benar, rasanya tak bisa melakukan apa yang sangat ingin ku tuntaskan. Rasanya mual bahkan nyaris termuntahkan. Aku tahu rasanya, Huan'er, menyimpam dendam dan sakit hati tanpa tahu bagaimana membalasnya." Yang Mulia meraih jemari selir Huan yang sedingin es lalu memainkannya dengan perlahan, membuat Selir Huan nyaris tak bergerak, segenap anggota tubuhnya mengejang kaku.
"Yang...Yang Mulia, aku tak mengerti, sungguh..." Selir Huan membuang muka dengan gugup. Seperti baru saja tertangkap basah mencuri sesuatu.
Yang Mulia Nan Chen perlahan mengangkat punggungnya dan bangun. Mereka berdua berhadapan beberapa saat nyaris pula tak berjarak.
"Huan'er, sejak pertama melihatmu, dengan segala caramu menarik perhatianku, caramu yang berbeda dan berani dari yang di tawarkan perempuan biasa. Kamu telah berhasil membuatku mempertanyakan siapa dirimu. Bukankah kamu hanya ingin menarik perhatianku? Kamu telah melakukannya dengan benar. Bahkan kamu telah memaksaku menelusuri setiap jengkal silsilahmu... " Yang Mulia meraih bahu selir Huan dengan cengkeraman yang menekan, seakan begitu mengintimidasi.
Selir Huan mengepalkan jemarinya, wajahnya pucat pasi.
"Aku tahu siapa dirimu, Huan'er. Aku tahu...tak perlu bersembunyi lagi." Yang Mulia Nan turun dari tempat tidurnya sambil merapikan jubah tidurnya.
Aula utama itu menjadi sunyi senyap dalam sekejap, Selir Huan duduk di atas tempat tidur seperti arca, matanya nyaris tak berkedip menatap pada gerak gerik raja yang kini dengan tenang menuju sebuah meja, yang di atasnya terdapat guci porselen berisi arak bersama cawan-cawan yang masih tertelungkup belum di sentuh.
"Kemarilah, Huan. Tuangkan aku secawan arak..." Yang Mulia Nan duduk nenghadap meja itu lalu mematung dengan tegak.
Selir Huan masih terdiam, dia merasa hidupnya akan segera berakhir. Tangannya yang gemetar menyusup ke balik rambutnya, memastikan tusuk besi itu masih berada di tempatnya.
__ADS_1
Jikapun malam ini keturunan terakhir keluarga Jiu harus mati maka dia bersumpah, dia mati membawa orang yang telah membantai keluarganya tanpa ampun.
"Jika aku tak salah ingat, ini adalah malam di mana aku di mahkotai pangeran Mahkota agung, dan pertama kali pula aku dipercaya mengambil keputusan. Dan pangeran muda itu, membubuhkan stempel pertamanya untuk membantai semua keluarga Jiu, klan mata-mata terkemuka di Nanxing. Perintah pertamaku yang berdarah, hanya karena menghukum seorang gadis yang jatuh cinta pada musuh negaranya." Suara Yang Mulia Nan Chen terdengar bergetar. Segera di tutupinya dengan tawa kecil, tawa yang terdengar menyedihkan.
Selir Huan beringsut, menjejakkan kakinya yang gemetar itu ke lantai bersamaan dengan jatuhnya mangkok minya bunga mawar yang tadinya akan di oleskannya ke pelipis Yang Mulia Nan Chen.
Mangkok itu menggelinding hingga ke kaki Yang Mulia Nan Chen, tanpa berbicara raja itu memungutnya.
"Kemarilah Jiu Huanjin, puteri Jiu Ming, cucu terakhir Jiu Huihoa." Suara itu tak lagi tenang berirama, tetapi tegas layaknya sebuah perintah tak bisa di bantah.
Selir Huan memejam matanya yang panas, dia tak berkutik lagi. Namanya di sebut dengan jelas, dirinya merasa seperti telanjang di depan raja itu. Setelah menguatkan hatinya sendiri, matanya menatap nanar pada Yang Mulia Nan, meski dadanya bergemuruh seperti di hantqm badai, dia mengambil tempat di seberang meja. Berusaha bersikap tenang.
Yang Mulia tak berkedip, menunggu. Dengan jemari sedingin esnya selir Huan mengangkat guci arak porselen itu dan menuangkannya ke dalam cawan, berkali-kali nyaris tumpah karena dia tak bisa menahan getaran cengkeramannya.
"Kenapa kamu menjadi takut? kenapa kamu bahkan tak berbicara sedikitpun?" Yang Mulia Nan mengernyit dahinya.
Lentera tunggal, bulan terang-benderang, genta di atas kepala mereka berdenting memecaj sunyi, tapi Yang Mulia Nan Chen sama sekali tak melepaskan tangan selir Huan.
"Kamu takut padaku? Bagaimana bisa kamu membunuhku jika kamu tak bisa menguasai diru dengan benar." Yang Mulia Nan Chen terkekeh. Lalu dengan acuh tak acuh menengak cawan anggurnya.
Mata Selir Nan membeliak, mulutnya yang berwarna kemerahan itu setengah terbuka.
__ADS_1
"Yang Mulia, bunuh saja aku sekarang! Atau aku yang akan membunuhmu..." Ucapnya dengan gemetar. Dia tak lagi bersembunyi di balik senyum genit dan manja. Dia juga telah lelah menipu hatinya sendiri. Matipun dia sudah tak menyesal.
"Coba saja, Huanjin. Coba saja..." Sambut Yang Mulia Nan sambil tersenyum kecut setengah mengejek.
"Bukankah dendam itu harus di tuntaskan sebelum membuat tulang-tulangmu merapuh dan mengkerut. Aku ada di depanmu sekarang. Lakukan saja, kita lihat sebesar apa kebesaran hatimu membalas setiap tetes darah keluargamu yang telah ku tumpahkan..." Suara Yang Mulia Nan begitu datar tanpa gelombang, setenang danau lima warna di musim dingin.
Entah kekuatan dari mana, selir Huan mengambil tusuk konde besi yang di sepuh kuningan emas itu dari sela rambutnyanya, menggengamnya dengan tangan yang gemetaran. Lalu dengan sekuat tenaga dia meraung, merangsek ke depan. Tusuk konde itu di arahkannya ke depan dengan mata terpejam, dia tak tahu ke bagian mana tusuk konde itu tertancap. Yang ada di kepalanya adalah melepaskan sejuta dendam kesumat yang di simpannya bertahun-tahun terakhir.
Sekelebat wajah ibunya yang di tikam dengan pedang, mati sambil memeluk ayahnya yang lebih dulu terbaring di tanah dengan darah bersimbah. Lalu, kakaknya yang terlentang sambil menggenggam sebuah pedang, tanpa sempat menyambitnya.
Kakek dan neneknya, yang berpelukan dalam usia tua, di bantai tanpa ampun. Mereka adalah keluarga yang menguasai ilmu kanuragan tetapi sebagai orang yang mencintai negaranya, mereka telah membuktikannya tanpa memberi perlawanan sedikitpun atas perintah yang di turunkan raja.
Karena cinta bibinya Jiu Fei, seluruh keluarga menanggung derita sebagai pengkhianat. Cinta yang membuat Huanjin kecil membenci laki-laki, kecuali seorang Yuhuai, meski kemudian sekarang dia telah menutup hatinya pada laki-laki yang telah mematahkan hatinya itu.
Tak ada yang sebanding dengan rasa bencinya pada semua keluarga Nan di dunia ini.
Rasa dingin merasuk hingga ke jantungnya, darahnya yang mendidih terasa membeku. Sekuat tenaga didorongnya tusuk konde besi dengan mata lebih tajam dari paku itu.
"Matilah kau!!!"
οΏΌ
__ADS_1
Hai pembaca kesayangan Cinta terakhir Zhao Juren, mari di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...ππππ