
Rasa dingin merasuk hingga ke jantungnya, darahnya yang mendidih terasa membeku. Sekuat tenaga didorongnya tusuk konde besi dengan mata lebih tajam dari paku itu.
"Matilah kau!!!"
Suara itu hanya sampai tenggorokannya ketika dia merasakan tusuk konde itu menembus jubah tidur Yang Mulia Nan Chen, rasanya melesak ringan.
"Ugh!!!" Suara tertahan itu sampai di telinga Selir Huan, membuatnya bergidik sendiri, dengan ketakutan yang tak dapat di bendung, di bukanya mata besar-besar.
"Arrrgggggh!!!!" Suara Yang Mulia terdengar kesakitan, dia terdorong ke belakang, cawan anggur yang ada di tangannya terjatuh.
PRANG!!!
Suara porselen pecah mimpa lantai batu yang dingin. Selir Huan terpana, menarik tusuk konde di tangannya yang berlumur darah. Dia mematung seperti orang kebingungan.
"Selir Huan..." Yang Mulia memegang lengannyayang berdarah, kemudian menubruk tubuh selir Huan dengan keras, bersamaan dengan pintu aulanya yang di buka dan seorang kasim dengan tiga pengawal menghambur ke dalam.
"Yang Mulia!!! anda tak apa-apa?" kasimnya yang setia itu hendak mendekati Yang Mulia Nan tetapi,
"Lancang!!!" Teriakan itu terdengar membahana dari mulut Yang Mulia Nan Chen, matanya melotot merah sementara dia memeluk erat selir Huan.
"Kenapa kalian masuk dengan sembarangan, Hah!!! Kalian lihat aku sedang apa? Kalian minta di hukum berat?" Teriakan itu demikian kerasnya hingga dinding-dinding yang sunyi terasa bergetar.
"Ta...tapi Yang Mulia? Kami mendengar suara..."
"Bodoh!!! Aku sedang minum bersama selir kesayanganku, kenapa kalian mendobrak pintuku dengan kurang ajar, Hah?!"
__ADS_1
"Ampuni...ampuni kami Yang Mulia..." kasim itu tersungkur dan membungkuk sampai kepalanya menyentuh lantai sementara ketiga pengawal pribadi raja itu mengikuti hal yang sama.
"Keluarlah! dan pastikan sampai besok pagi tak ada yang masuk ke kamarku! Aku mau menghabiskan malam ini dengan selirku ini." Yang Mulia Nan terlihat memasukkan wajahnya di anntara leher selir Huan yang melotot tak berkedip, tangannya menggenggam tusuk konde berdarah itu tetapi tubuh Yang Mulia Nan Chen menyembunyikannya di antara jubahnya. Suara nafas Yang Mulia Nan tersengal, bibirnya mengatup menahan perih dari luka akibat tusukan konde selir Huan tetapi dia masih berlagak seolah dia dan selir Huan sedang bermesraan.
Kasim itu bangkit dengan kikuk, lututnya sedikit goyah saat berdiri.
"Mohon Ampun Yang Mulia..." Ucapnya dengan tergagap dan sedikit ketakutan lalu setengah tergesa memberi kode pada tiga pengawal pribadi raja itu untuk segera keluar bersamanya.
Suara pintu di tutup perlahan, berderit kecil memecah sunyi. Yang Mulia tersungkur di depan selir Huan yang segera menangkap tubuh Yang Mulia Nan dengan wajah merah padam.
"Yang Mulia..."Suaranya serak oleh tangis yang tak bisa di sembunyikannya, dia mengira setelah menikam Yang Mulia dia akan puas dan bahagia tetapi ternyata dia menagis karena perasaannya yang begitu hancur tak dia mengerti akar pangkalnya, dia sesungguhnya tak mamapu melakukan ini tetapi rasa dendam yang berusaha di tiupnya sendiri menggerakkan setiap otot di tubuhnya dan apakah ini yang dia inginkan?
"Tidak! Jangan...! Oh, Yang Mulia...Yang Mulia tidak apa-apa? Yang Mulia berdarah..." Tusuk konde besi di tangannya di lemparkannya begitu saja ke lantai menimbulkan bunyi berdentingan lalu dengan sekuat tenaga di tekannya luka di lengan kiri Yang Mulia, ternyata tusuk konde yang di arahkannya dengan sembarangan itu mengenai lengan Yang Mulia, merobek kulitnya hingga darah keluar merobek kulitnya hingga darah keluar membuat basah lengan jubah tidur dari sutra yang dikenakan Yang Mulia.
Yang Mulia meringis kesakitan tetapi mata itu tak menunjukkan kemarahan sama sekali, di genggamnya pergelangan tangan selir Yuan dengan nafas yang berusaha di aturnya semabri menenangkan dirinya sendiri.
"Yang Mulia? Apa yang telah kulakukan?" selir Huan menggigit bibirnya yang pucat pasi.
"Bagaimana rasanya saat kamu bisa mengeluarkan kesumat yang kamu pendam bertahun-tahun?" Tanya Yang Mulia dengan suara lirih.
Selir Huan terpana sejenak sebelum air matanya keluar tanpa suara, dia menahan tangisnya sendiri hingga tubuhnya berguncang.
"Biarkan akau mengobati luka Yang Mulia, setelah itu Yang Mulia boleh menghukumku. Yang Mulia boleh membunuhku..." Ucap Selir Huan dengan bibir yang gemetar. Di tepisnya cengkeraman tangan Yang Mulia, lalu menyibakkan lengan jubah sang raja itu, Luka akibat tusukan tepat di lengannya, membuat robekan panjang di kulit Yang Mulia Nan Chen meski tak begitu dalam tetapi darahnya cukup banyak, terus saja keluar.
Selir Huan menarik kain jubahnya sendiri lalu merobeknya dengan sekuat tenaga, kain robekan itu segera di lilitkannya ke lengan Yang Mulia Nan Chen untuk menahan pendarahan.
__ADS_1
"Aku akan memanggilkan tabib..." Selir Huan hendak beranjak tetapi tangan kanan Yang Mulia menahannya.
"Aku tidak apa-apa, Huan..." Ucapnya lirih.
"Jangan memanggil siapapun, aku tak ingin kamu di curigai karena ini..."
"Tapi Yang Mulia, lukamu..."
"Aku tak apa-apa. Dan lagi luka ini telah kamu babat dengan kuat. Besok pagi akan membaik." Yang Mulia terlihat duduk dengan tegap, mengambil cawan anggur lain dengan tangan kanannya, berusaha menuangnya sementara tangannya masih terlihat bergetar.
Segera selir Huan yang penuh rasa bersalah dan penyesalan Segera selir Huan yang penuh rasa bersalah dan penyesalan yang tak bisa di ungkapkan itu membantu mengambil guci arak dan menuangkannya.
"Huan, aku harap dengan ini sedikit mengurangi beban di hatimu." Ucap Yang Mulia sembari meneguk arak di cawannya dengan sekali tengak. Selir Huan tergugu, tubuhnya masih terasa panas dingin. Dia tak menyangka sikap raja sungguh bertolak belakang dari apa yang di fikirkannya, bahkan Yang Mulia Nan berusaha menyembunyikan kesalahannya.
"Aku tahu kamu tak akan bisa melakukannya...".
Yang Mulia Nan Chen berbicara pada dirinya sendiri,Selir Huan tak bersuara, ia tahu, saat ini raja ini sama sekali tak membutuhkan kata-kata Yang Mulia Nan Chen berbicara pada dirinya sendiri,Selir Huan tak bersuara, ia tahu, saat ini raja iniu sama sekali tak membutuhkan kata-kata apapun darinya, yang dibutuhkannya hanya seseorang yang bersedia mendengarkan dengan tenang.
"Aku menunggunya begitu banyak tahun, namun aku juga sedikit berharap bahwa apa yang telah terjadi di masa lalu menguap bagai embun, beterbangan seperti debu. Sakit hati dan dendam itu hilang bersama tubuh-tubuh yang tercerabut nyawanya hanya karena penghakiman yang tak adil. Dan saat kamu datang ke istana ini, aku tahu dendam lama itu harus di bangkitkan lagi dari dalam kubur tua itu."
Yang Mulia nan Chen menertawakan dirinya sendiri, lalu mendongak dan menenggak secawan arak bercampur air, setelah itu ia berpaling ke arah menenggak secawan arak bercampur air, setelah itu ia berpaling ke arah perempuan yang masih terlihat gemetar ketakutan oleh perbuatannya sendiri itu.
"Aku tahu, Huanjin...nyalimu tak sebesar dendam yang berkobar dalam hatimu. Aku tahu rasanya menyimpan sejuta keinginan tetapi tak satupun ynag bisa kamu lakukan dengan benar. Kamu adalah aku, yang berjalan di atas seutas tali tipis berusaha berpaling dari kenyataan dengan memakai topeng yang menyakitkan. Aku adalah kamu, seperti berkaca di permukaan telaga..."
Keningnya perlahan-lahan berkerut, sinar rembulan memancar ke dalam dari kisi-kisi jendela yang ditutupi kain sutra putih tipis, menyinari wajahnya yang tampan, dengan tenang ia berkata, "Rasa sakit ini tak sebanding dengan luka yang kau tanggung selama hidupmu, berbayang kematian selama hidupmu, berbayang kematian yang tak semestinya di terima oleh keluargamu. Tetapi apa yang bisa ku lakukan, tanganku bergerak tanpa bisa ku tahan, ada yang berkuasa mengendalikan melebihi hakku atas tubuhku sendiri."
__ADS_1
Dahinya berkerut dalam-dalam, suaranya pun mengandung kebencian yang samar-samar, dengan susah payah, ia mengucapkan beberapa kata itu dari sela-sela giginya, "Menurutmu, apakah aku pantas menyandang status sebagai raja?"
Hai pembaca kesayangan Cinta terakhir Zhao Juren, mari di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...ππππ