
Jantung Zhao Juren berdetak lebih cepat, dia berharap tak banyak hal itu terjadi karena dia tahu benar, permintaannya itu mungkin saja hanya serupa angin, tak di acuhkan oleh Xue Xue yang misterius ini.
"Kenapa kamu ingin melihat wajahku? Kamu tak mempercayaiku?" Tanya Xue Xue perlahan.
"Aku..." Zhao Juren terdiam sesaat kemudian menatap lekat pada mata yang tak berkedip memandangnya itu.
"Aku hanya ingin melihat wajahmu." Jawab Zhao Juren.
"Kenapa?"
"Haruskah ada alasan untuk seseorang yang ingin mengenalimu dengan baik."
"Kita tak harus saling mengenal, Tuan Zhao. Karena suatu saat itu bisa membuatmu ragu menjatuhkan tangan untuk sebuah keputusan jika kita berada pada kutub yang berbeda."
"Aku tak pernah ragu menjatuhkan tanganku, jika itu tentang prinsip dan kebenaran. Tetapi seraut wajah bisa membuat kita mengurai simpul asing. Tak ada yang salah untuk itu, bukan?" Zhao Juren mendekat selangkah, nafasnya menghela dengan tenang.
"Tidak ada yang salah mengenai itu." Xue Xue tak bergeming, suaranya sedikit bergetar.
"Tapi, sebaiknya kita tetap menjadi orang asing saja." Xue Xue memalingkan wajahnya, desah nafasnya hampir terdengar di balik cadarnya yang pekat itu.
"Aku merasa tak asing denganmu, nona Xue Lian. Kita mungkin pernah bertemu di kehidupan yang lain, ataukah di dimensi yang berbeda dari semesta ini. Karena itu ijinkan aku melihat wajahmu." Zhao Juren berucap dalam nada datar.
Dia, tak pernah begitu berkeras untuk sebuah keinginan, tetapi entah mengapa bola mata bening tajam milik Xue Xue yang berpendar di antara cadarnya itu begitu menggungah jiwanya.
"Kalau aku menolaknya?" Xue Xue mundur selangkah, lututnya menjadi sedikit gemetar.
"Aku tidak memaksa, tetapi..." Zhao Juren menegakkan badannya dan menyeringai dingin.
"Jangan salahkan aku jika aku akan mencari binar matamu itu sampai setiap ceruk di kota Nanxing bahkan mencarimu sampai bawah singgasana raja Nan kalau perlu." Kalimat itu di ucapkan dengan tenang tetapi membuat Xue Xue lupa untuk bernafas sesaat.
"Kamu mengancamku?" Xue Xue balas menatap dengan waspada.
__ADS_1
"Tak ada yang berani mengancam jenderal Qui." Zhao Juren terkekeh.
"Aku tahu benar, kamu yang berada di balik jirah jenderal Qui itu. Mata seperti milikmu itu hanya ada satu saja kutemui di dunia." Lanjut Zhao Juren.
Xue Xue terpaku, dia tak lagi berbicara hanya matanya lurus terarah menantang mata Zhao Juren. Bulat seperti permata yang paling cerah.
"Bagaimana kamu tahu semua itu?" Xue Xue menggigit bibirnya yang memucat dalam remang subuh itu.
"Nona Xue Xue, aku bukan orang yang mudah percaya pada sesuatu tanpa bukti. Sekelumit kisah Jiu Fei yang meyakinkan itu tak serta merta membuatku percaya bahwa semua yang kamu katakan adalah benar. Tapi, satu yang bisa ku pastikan padamu, mataku ini sejeli elang bukit, jika hanya mengelabuiku dengan cadar atau jirah, ku rasa nona jangan terlalu percaya diri." Zhao Juren menambah setengah langkahnya, membuat jarak mereka semakin dekat.
Dan anehnya, Xue Xue tak mundur lagi, dia malah mendonggakkan kepalanya.
"Nona Xue Xue entah siapa sebenarnya kamu tetapi yang kuyakini kamu adalah Xue Lian yang di puja Hongse naif itu sehingga tak bisa berkutik atas apapun yang kamu kehendaki. Perasaan memang kadang bisa membodohi akal fikiran seseorang, sehingga dia bisa bisa membelot demi membuat aman seseorang yang di sukainya." Tawa kecil terdengar dari bibir Zhao Juren, mencibir dan seolah mengejek pada dirinya sendiri.
"Dan bersembunyi di balik sebuah nama besar jenderal kejam serta pakaian besi yang mengintimidasi cukup sebagai suatu alasan bagiku untuk tak bisa mempercayaimu sepenuhnya." Tangan Zhao Juren terangkat perlahan dan seperti terhipnotis Xue Xue hanya berdiam diri.
"Berikan aku satu alasan mempercayaimu, nona Xue Xue." Suara Zhao Juren terdengar bergetar.
Sebelum dia sempat berkata-kata lagi, jemari Zhao Juren menarik untaian tali di belakang telinga Xue Xue. Anehnya, Xue Xue tak berusaha untuk mencegah atau menepis apa yang di lakukan oleh Zhao Juren.
Dan dengan perlahan kain cadar hitam yang menutup setengah wajah Xue Xue itu terlepas.
Sesaat kemudian, dua orang itu saling bertatapan, dalam jarak yang tak lebih dari beberapa jengkal.
Suara gemerisik daun mapel seperti desau tertiup angin seakan ingin membisikkan pagi akan segera tiba, tetapi dua pasang mata itu terlihat tak berkedip satu sama lain.
"Matamu...indah sekali..." Zhao Juren berucap serak.
Hanya dua orang di dunia ini yang pernah di lihatnya mempunyai bola mata sebening itu, yang pertama Xiao Yi, matanya berbinar seperti kejora, menyiratkan kebijakan dan kebaikan hati. Tetapi mata Xue Xue lebih bulat dan lebih seperti kaca, lebih polos dan menyerupai kilap berlian berwarna abu-abu pudar kebiruan. Ada kekerasan hati dan kemudaan yang apa adanya.
__ADS_1
Xue Xue, mempunyai hidung bangir yang menggemaskan dan bibir kecil yang penuh berwarna merah muda, seperti genangan darah yang berselimut di balik kelopak bibirnya.
Dan wajahnya begitu mungil, membuat siapapun yang melihatnya ingin menangkupkan telapak tangan di pipi mulusnya, meraihnya mendekat dan mengecup setiap jengkal keindahan yang begitu alami itu.
"Tuan..."Bibir Xue Xue terbuka sedikit, giginya yang putih berbaris rapi di baliknya mengintip begitu menggoda.
"Si...siapa...siapa kamu sebenarnya Nona Xue Xue?" Pertanyaan itu terdengar seperti desing daei mulut Zhao Juren yang tak bisa menyembunyikan rasa terpana. Kalimat itu segera menyadarkan Xue Xue untuk segera melompat ke belakang dan menutup cadar hitamnya itu kembali. Semburat merah muda itu kentara dalam remang pagi.
Zhao Juren mengepalkan tangannya berusaha merasakan jantungnya, tetapi tak ada debaran aneh yang di kiranya. Dia terpesona bahkan tanpa sempat berdebar.
"Apa yang kamu lakukan, Tuan Zhao! Kamu terlalu lancang!" Suara hardikan yang keluar dari bibir Xue Xue sama sekali tak meyakinkan, tidak terdengar kasar malah terkesan gugup dan gemetar.
"Nona Xue Xue..."
"Aku tak akan memaafkan ini dengan mudah. Aku berjanji kamu harus membayarnya dengan mahal. Aku..." Xue Xue seperti tersedak dengan ucapannya sendiri.
"Apakah aku harus minta maaf?" Zhao Juren masih seperti orang linglung, tangannya masih menggantung di udara.
Xue Xue tak menjawab, tetapi kemudian dia berbalik dengan tergesa lalu tanpa pamit atau berbicara lagi gadis itu segera hilang lenyap di antara pepohonan mapel dan batang Liu. Angin yang menghantarnya pergi menyisakan aroma persik yang khas.
"Nona Xue!" Zhao Juren hanya berteriak pada angin.
Dan kini tinggalah dia, duduk termangu di bawah sebatang pohon Liu yang dari rantingnya bersembulan daunan hijau.
Embun bening menetes di dahinya tak diperdulikannya. Mata Xue Xue itu seakan berkelebat di pandangannya, masih bersirobok pandang tanpa mengerjap padanya.
Perahu di seberang yang di isyaratkan untuk mengantarnya menuju seberang masih tertambat di sana, Zhao Juren hanya harus menunggu.
Cahaya datang sebelum matahari terbit, transisi dari malam menuju terang. Zhao Juren teringat pada sebuah surat yang di berikan padanya oleh Xue Xue yang misterius itu.
Dengan tangan gemetar Zhao Juren meraih kertas dari balik jubahnya, dia akan membuka surat itu untuk memastikan kebenaran apa di balik cerita Xue Xue yang tak masuk akal itu.
__ADS_1