
Kasim Song tergopoh mengikuti dari belakang, segera membawa para pengawal mengikutinya.
Bahkan saat mendengar kedatangannya Yang Mulia rela meninggalkan pestanya!
Para selir hanya saling pandang, kecemburuan mereka beradu dan mengambang di wajah yang penuh warna itu.
Nona Huan perlahan-lahan menegakkan tubuhnya, sutra halus tipis yang membalut tubuhnya berkibar-kibar dengan pelan di tiup angin malam, udara menjadin semakin dingin menelusup masuk lewat pintu aula yang terbuka lebar sepeninggal Yang Mulia Nan Chen.
Raut wajahnya seketika berubah nenjadi dingin seolah Nona Huan tadi tak ada lagi, senyumnya beku akan tetapi ia sudah tak bersikap genit seperti barusan ini, pandangan matanya dengan hambar memandang sosok Yang Mulia Nan Chen yang sedikit demi sedikit menjauh, sinar matanya dingin, tak menampakkan rasa senang tetapi tak juga bersedih
"Nona Huan, apakah nona memerlukan sesuatu?". pelayannya dengan hati-hati berjalan mendekat.
Nona Huan tidak menyahut dia menurunkan kakinya, menapaki undakan dari tempat kursi Yang Mulia Nan tadi berada.
"Nona udara sangat dingin." ia mengikuti di belakang punggung Perempuan yang kini mengangkat wajahnya dengan dingin itu, mengambil sebuah mantel berwarna merah dan memakainya di bahu Nona Huan.
Tanpa berbicara lagi, dia berjalan melewati ruangan besar itu di bawah tatapan para selir dan dayang yang suaranya menjadi sedikit riuh.
Nona Huan tahu benar, jika gadis itu datang maka pesta apapun pasti berakhir, semeriah apapun, Yang Mulia Nan pasti meninggalkannya.
Para dayang dan selir berpencar bagai semut tersciprat air, menyusul dari belakang nona Huan. Tak ada gunanya lagi bertahan di ruangan itu karena orang yang ingin mereka coba tarik perhatiannya telah pergi menyisakan kursi mewahnya yang dingin.
Ditengah keharuman arak dan makanan yang berlimpah ruah di atas meja serta warna-warni peony di seling bunga anggrek bulan yang putih susu, hanya tersisa para pemusik yang terduduk dengan saling lirik dan penyanyi yang seketika kehilangan suara serta para penari yang berdiam diri seoerti patung, membungkuk seperti ranting tak berdaun.
Yang Mulia Nan melangkah lebar menyusuri teras istana menuju sebuah bangunan di tepi danau buatan, bangunan itu adalah istana Xue tempat kediaman puteri Nan Luoxia. Istana puteri yang paling sepi di antara kediaman semua puteri Nan yang lain.
Bunga lotus di pinggir danau masih serupa kuncup, pohon wutong di depan pintu pun baru saja mengeluarkan kuncup muda, langit di atas gelap karena sang rembulan hanya berupa sepotong, cahayanya yang redup karena awan gelap sisa hujan masih bergantung di sana seolah akan bersiap menurunkan hujan sewaktu-waktu.
__ADS_1
"Berapa lama dia tiba?" Tanya Yang mulia Nan, tanpa menoleh pada Kasim Song yang berjalan sambil setengah membungkuk di belakangnya.
"Mereka tiba sekitar beberapa waktu yang lalu dan sepertinya Tuan Puteri Luoxia langsung masuk kamarnya."
Tirai satin beradu ketika Yang Mulia Nan melewatinya, menimbulkan suara bergemerisik sedikit menggelikan di telinga.
Seorang pelayan yang berjaga di luar kamar terbangun dengan gugup, Yang Mulia Nan memberi isyarat agar ia tak bersuara, gadis pelayan kecil itu pun cepat-cepat menunduk dan berlutut di lantai, tak lagi berani bersuara.
"Mereka di dalam?" Tanyanya setengah berbisik.
Pelayan itu mengangguk dengan takut-takut.
"Luoxia sudah tidur?" Tanyanya hati-hati.
Pelayan itu sejenak bingung kemudian mengangguk, meski sedikit ragu.
Yang Mulia Nan mendorong perlahan pintu istana Xue, bau persik yang khas menguar di udara.
Matanya tertuju pada kamar di sebelah kiri ruangan yang tertutup rapat, di mana puteri Nan Luoxia, adiknya mungkin sedang tertidur sekarang. Dia berada sesaat di istana ini kemarin malam hanya untuk berpakaian menghadiri perayaan lentera di aula kebesaran kota setelah tiga bulan tak pernah mengunjungi istananya sendiri. Nan Luoxia banyak berada di istana Tianshi, danau lima warna dari pada di lingkungan istana Nan, setelah berhasil merebut benteng Doting dan kota Yuchen dari pasukan Yanzhi.
Tapi, bukan ke sana tatapan itu lama. Dia menoleh pada sebuah kamar lain di samping kamar utama sang puteri.
Yang Mulia Nan melangkah menuju bilik itu dengan perlahan, bilik yang tak pernah terkunci.
Udara sudah menjadi dingin, jendela ditutup rapat, namun masih ada cahaya bulan pucat yang bersinar ke dalam melalui kertas penutup jendela yang putih bersih.
Seorang gadis sedang terbaring dalam pakaian gelap dan cadar yang menutup wajahnya, alisnya berkerut sambil memeluk pedang di dadanya. Sehelai selimut ungu muda terlipat rapih di samping kepalanya, alisnya tipis tapi bergaris jelas, ekspresinya pun adalah ekspresi tenang dan keras yang jarang terlihat.
__ADS_1
"Hhhhhh..."'Yang Mulia Nan Chen bersandar di ambang pintu, sedikit menelengkan kepalanya, untuk sesaat, ia hanya berdiri di sana, tak bergeming.
"Bai Yueyin..."Panggilnya dengan suara serak dan pelan.
Gadis yang di panggilnya itu tak bergerak, seakan dirinya tidur begitu nyenyak, tak punya beban dan tanggung jawab yang berat dan juga tak punya dendam dan ambisi, hanya mengikuti arus hidup, dapat dengan bebas pergi sesuka hati.
Hidupnya sebebas Nan Luoxia, adiknya yang memilih hidup seperti bayang-bayang di luar istana. Bai Yueyin adalah pengawal pribadi adiknya yang juga pemimpin pasukan bidadari milik istana Tianshi.
Perempuan ini adalah teman kecilnya, meski hanya anak seorang pelayan, tetapi mempunyai kemampuan kanuragan yang tinggi, dia belajar cepat dengan hanya melihat orang-orang latihan di kamp militer kerajaan, di mana ibunya adalah juru masak di sana dan Nan Chen pernah menjadi salah satu murid di situ.
Dulu, mereka selalu bersama diam-diam, bahkan berjanji untuk menikah di kemudian hari. Tetapi, takdir berkata lain, Yueyin hanya anak rakyat jelata tak mungkin bersanding dengan seorang putera mahkota. Bahkan saat dewasa, Yang Mulia Nan ingin melamarnya menjadi salah satu selir karena tak mungkin menjadikannya permaisurinya.
Sayangnya, Bai Yueyin yang patah hati menolaknya, dia tak mau menjadi satu di antara puluhan perempuan anak para bangsawan kaya yang bersaing mencari cinta Yang Mulia.
"Aku bisa mencintaimu, tanpa harus di sampingmu." Kalimat itu seperti bergema di otak Yang Mulia Nan, bahkan meski dia mereguk madu para perempuan yang di kawinkan padanya, dia tak pernah mencintai mereka. Bahkan pada permaisurinya yang cantik, Lin Fangyinpun dia tak punya rasa.
Yang Mulia Nan memandanginya, sinar matanya lembut, sekeliling mereka begitu tenang, berkas-berkas cahaya yang jarang-jarang jatuh di atas rambut di pelipis Bai Yueyin, berkilauan dengan dingin.
Yang Mulia Nan tak mendekat, hanya berdiri di sana, rindunya meruah, hanya perempuan ini yang tak berani di sentuhnya tanpa ijin, meski dia adalah seorang raja.
"Aku merindukanmu, Yueyin. Kenapa kamu menyiksaku begitu lama. Seharusnya kamu sering pulang." Bisiknya parau, setelah itu, lelaki itu berbalik dan keluar dari aula, di aula yang luas terdengar suara langkah kakinya, begitu panjang dan lelah.
Tap! Tap! Tap!
Bunyi langkah Yang Mulia Nan perlahan menjauh.
__ADS_1
Malam sedikit demi sedikit menjadi dingin, perlahan-lahan membuka matanya, di tengah kegelapan, sepasang matanya bagai batu yang hitam legam, lengannya yang kecil namun kuat itu memeluk pedang yang tersarung kokoh, dengan begitu kuat. Dua bulir bening jatuh lewat sudut matanya, membasahi cadarnya.
Tangisannya tanpa suara.