
Sinar matahari masuk lewat celah jendela, pagi benar-benar sudah lewat. Hari yang terang benderang menyambut dengan mengirimkan cahaya lewat sela-sela tirai yang menutup jendela kamar penginapan yang tidak terlalu besar itu.
Tirai berwarna putih pucat dan sedikit lusuh karena terlalu banyak di cuci itu berkilau di timpa cahaya, sedikit menyilaukan mata.
Zhao Juren memicingkan matanya, sambil meletakkan punggung tangan di atas alisnya yang hitam legam.
Dia masih mengenakan pakaiannya tadi malam, dia terbaring di atas seprai warna biru pucat yang permukaannya masih begitu rapih.
Jubahnya itu terbuka sedikit menampilkan dadanya yang bidang dan menawan itu, mengkilat ditimpa cahaya pagi.
Matanya masih mengantuk, kepalanya berat sekali, badannya terasa redam tapi hatinya begitu nyaman.
"Akh..." Mata Zhao Juren akhirnya terbuka lebar, perlahan ingatan kejadian malam tadi menyeruak di benaknya yang masih antara sadar dan tak sadar. Kemudian wajah Xue Xue yang membeliak indah itu lewat di ingatannya. Itu yang terakhir di lihatnya samar-samar sebelum kemudian dia lupa apa yang terjadi, mungkin karena kemabukannya
"Xue Xue." Zhao Juren dengan sigap bangun dan duduk, matanya tertumbuk pada kakinya, alas kakinya itu terlihat di lantai, bawah tempat tidur, rapih tersusun.
Tangan Yang Mulia bergerak tak sengaja dan menyentuh sesuatu diantara gemerisik lembut dari gesekan kulit telapak tangannya dengan seprai yang ditidurinya.
Pedang dan sebuah kertas yang terkepit di bawahnya. Itu seperti surat yang di tulis seseorang
Zhao Juren yang tadinya mencari-cari wajah Xue Xue sambil segera membuka matanya lebar-lebar. Sedikit berharap gadis itu ada di kamar itu meskipun harapan itu nyaris mustahil.
Rasa lelah akibat pengaruh arak Huangju sisa tadi malam yang semula sempat menyergap segera menguap, berganti rasa gugup yang aneh.
Ruangan itu kosong, Xue Xue tidak ada di sana, kecuali dirinya yang terbangun sendiri.
Apakah pertemuannya dengan Xue Xue di tepi danau itu tadi malam semuanya hanya khayalan atau mimpinya atau bunga dari kemabukannya?
Di raihnya kertas surat itu dan membukanya dengan tergesa.
Tuan Zhao,
takdir begitu aneh dan aku tak tahu apa artinya pertemuan kita yang berulang-ulang terus seperti ini.
Hanya dengan sekali lihat, dirimu tahu kalau aku adalah satu orang yang sama dan anehnya hanya di depanmu aku tak bisa mengelabuhi.
Tuan Zhao,
Aku tak yakin, sebagai musuh kita bisa berdiri pada tempat yang sama.
Menyelamatkan hidupmu membuat aku bertaruh nyawa dengan negaraku sendiri.
__ADS_1
Ketika kamu tahu, aku adalah Xue Xue, aku adalah seorang musuh besarmu yang bersembunyi di dalam jirah besi itu, aku tak perlu berbohong lebih banyak lagi.
Ya, aku memang orang yang sama dan aku tahu anda bisa dipercaya untuk menyembunyikan kenyataan itu.
Kematianmu, pemakamanmu di negara Yanzhi baru kudengar kemarin dan akhirnya aku cukup mengerti itulah yang membuatmu akhirnya terlunta di negaraku.
Tapi, kita adalah orang yang bertolak belakang, seperti air di daun kelor. seperti minyak dengan dan embun. Tak ada yang perlu kujelaskan lagi kecuali aku mempunyai alasan tersendiri untuk menunda kematianmu.
Tuan Zhao, tidak perlu membuang waktumu untuk mencariku lagi, pulanglah entah sebagai apa kamu kembali ke tanah kelahiranmu. Kamu tak punya alasan untuk berkeliaran di negaraku dengan alasan mencariku.
Kita adalah teman suatu waktu tetapi di lain waktu mungkin akan saling bertukar pedang di leher masing-masing. Aku tak ingin meninggalkan banyak sesal ketika waktunya tiba aku akan menagih selembar nyawa yang pernah ku hadiahkan untukmu.
Pulanglah.
Aku tak akan menemuimu lagi dan tak akan menjawab pertanyaanmu tentang siapa diriku.
Xue Xue
Dia merasa nyawanya seutuhnya kembali, semua bukan mimpi, tadi malam benar-benar nyata jika dia telah bertemu Xue Xue tadi malam, perempuan misterius yang cukup mengganggu benaknya akhir-akhir ini ternyata menepati janjinya.
Zhao Juren melompat dari atas tempat tidurnya, mengenakan kasutnya dan tergesa membuka pintu. Dia tak perlu mandi, hanya dia perlu keluar untuk mencari seseorang yang mungkin bisa membantunya menyelundupkan dirinya ke dalam istana Nan.
Dia yakin sekali Xue Xue alias Xue Lian ini adalah puteri Nan Luoxia. Dan Dia juga adalah jenderal Qui penunggu istana Tianshi dimana dirinya di tawan dalam ketidak berdayaan, berbulan-bulan lamanya itu.
Brak!!
Teriakan keras itu membuat Zhao Juren terkejut luar biasa, dia tak menyangka ada seseorang berada di balik pintu kamarnya.
"Tuan Lian Ju!" Pekikan itu sangat di kenalnya, milik Changyi!
"Changyi? Kenapa kamu sudah menempel di pintu kamarku sepagi ini?" Tanya Zhao Juren dengan bingung tetapi tak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena tak perlu bersusah payah mencari anak ini, dia sendiri yang suka rela datang kepadanya.
"Aku mencarimu, tuan." Changyi menyeringai tanpa rasa berdosa.
"Bagaimana kamu tahu jika aku berada di sini?"
"Hey, tuan...koneksiku banyak, aku adalah orang yang pintar dan serba tahu. Oh, iya teman, jangan lupa jika aku adalah pemilik jalan di sepanjang jalan utama Nanxing. Kalau hanya sekedar untuk mencarimu, itu bukan masalah besar." Changyi menyeringai.
"Siapa yang memberitahukanmu aku menginap di sini?"
"Hey, tuan Zhao, sudah aku katakan aku adalah orang yang serba tahu, tidak perlu ada yang memberitahuku, aku bahkan bisa melacak keberadaanmu dengan hanya mencium baumu Jadi tidak perlu meremehkan hal-hal seperti itu." Changyi tertawa riuh seorang diri, merasa lucu dengan pernyataannya sendiri.
__ADS_1
"Tapi."
"Hush! Tuan, berhentilah membahas tentang diriku sekarang Tidak perlu cerewet lagi. Aku membawa kue beras untukmu sarapan pagi ini dengan susu segar yang baru diperah dari rumah pertanian." Oceh Changyi sambil menyerahkan makanan yang di tentengnya dalam sebuah bungkusan kain dan wadah dari bumbu yang berisi susu, dia seperti sulap.
Oagi inipun dia sudah begitu rapih memakai jubah berwana abu-abu muda, rambutnya di kuncir tinggi laksana seorang sarjana muda, tubuhnya di penuhi aroma wewangian murahan yang menyengat hidung.
Zhao Juren mundur kembali sambil menyambut barang bawaan Changyi yang tiba-tiba datang sedemikian rupa seperti hantu.
"Ayolah Tuan, kamu telah mentraktirku minum tadi malam dan menyetujui aku sebagai temanmu. Aku sudah bersusah payah melacak tempatmu menginap, aku sangat senang tuan begitu antusias mendengarku. Tak banyak orang yang sangat menghargaiku ketika bercerita. Karena itu mari kita minum lagi hari ini!"
Mendengar ocehan Changyi, Zhao Juren hanya mengernyit dahi.
"Changyi kebetulan kamu datang pagi ini." Tiba-tiba Zhao Juren berucap sambil mengerutkan dahinya, piasnya berubah serius.
"Yaaa..." Wajah Changyi menjadi sumringah.
"Bisakah kamu membantuku?"
"Membantu apa?" Changyi malah berbalik bertanya.
"Sttt..." Zhao Juren melihat kiri dan kanan lalu menarik Changyi masuk bilik kamarnya.
Brak!!
Pintu itu tertutup.
"Apa yang bisa ku bantu?" Changyi masih terlihat bingung.
"Aku mau kamu melakukan sesuatu untukku, teman"
"Apa?"
Zhao Juren malah maju lagi lebih rapat dan mulutnya di dekatkanya ketelinga Changyi.
"Bukankah ada keluargamu yang bekerja di istana?"
"Ya..."
"Bisakah aku minta tolong padamu untuk menyelundupkanku ke dalam istana Nan."
" Haaaah!!!"
__ADS_1
...Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, ya🙏...