
Benaknya melewati ratusan arena peperangan, di mana dia pernah menjadi naga yang mengamuk di setiap medan. Darah dan kematian di kiri kanan tangannya.
Hidupnya selama ini tak pernah jauh dari itu, dan saat seperti ini terasa kesepian itu nyata. Zhao Juren menatap jauh ke depan dan ingatan itu berakhir di sebuah wajah. Entah mengapa ingatannya berhenti pada Jiu Fei.
"Jiu Fei, seumur hidupku aku akan selalu berhutang padamu, banyak kisah kita yang tak ku tahu seperti kelamnya rahasia perjalanan kita. Ini adalah kampung halamanmu, aku tak menyangka akan terdampar di sini sebagai orang yang tak di kenal. Kalau bisa, aku bermohon pada kemurahan hati langit, di kehidupan yang akan datang, kita harus bertemu sedikit lebih pagi di waktu yang tepat." Tangan yang pucat dengan perlahan melepas tali yang menyambungkan bilah kayu kecil dengan puncak lentera yang berbentuk segi empat bermotif lukisan ranting persik berdaun jarang di sekelilingnya lalu dengan lembut jemarinya mendorong, lentera di tangannya. Lentera yang bersinar redup itu pun dengan pelan mengambang di permukaan air menuju tengah, air danau beriak, lentera bagai perahu mungil, dengan ringan berayun-ayun, bersama dengan gelombang demi gelombang, sedikit demi sedikit melebur ke dalam malam, berlayar dengan lembut di permukaan danau yang gelap gulita. Lentera itu hanya satu, milik Zhao Juren yang nyaris mati.
Zhao Juren bangkit, terus memandanginya, angin meniup wajahnya, rasa dingin bagai anak panah tajam perlahan-lahan melintasi hatinya, dunia penuh warna-warni, semuanya bagai kaca berwarna, namun hatinya bagai lentera yang perlahan-lahan menjauh itu, api lentera bergerak-gerak dengan cepat, hampir padam. Ia mengambil sebuah keputusan, dengan tangannya sendiri menghancurkan harapan sendiri hingga hancur berkeping-keping, tanpa suara, dunia hancur di tangannya, bangunan indah yang reyot menjadi abu, intan permata, brokat bersulam mengering, kesempatan telah meninggalkan dirinya, yang tersisa hanya abu yang tak ada habis-habisnya dan malam yang tiada akhirnya.
"Tak seharusnya seorang laki-laki memasang wajah seputus asa begitu?"
Zhao Juren tertegun, dia menggigit bibirnya, menggelengkan kepalanya mengusir suara yang seperti datang dari dalam kepalanya sendiri.
Sekonyong-konyong, sebuah riak kecil menyerang lentera itu, entah dari mana permukaan air yang tenang menjadi sedikit api lentera bergoyang-goyang, hampir padam, badan lentera berbentuk kotak itu menjadi miring ke kiri dan ke kanan, nampaknya akan segera tenggelam ke dalam air.
Hati Zhao Juren yang telah mendingin dan mati rasa mendadak menjadi tegang, tanpa sadar ia melangkah ke depan, dahinya agak berkerut, seakan mengkhawatirkan lentera yang terbawa arus itu.
"Tuan Zhao Juren, apakah kamu mendengarkanku...?" Sebuah jemari menahannya lengannya yang hendak menjejakkan kaki ke pinggir danau, ujung kakinya sudah menyentuh air dan basah.
Sontak Zhao Juren berhenti melangkah, menoleh sambil mengerutkan dahinya, menahan nafasnya.
"Xue Xue?" Meski matanya agak kabur dan pandangannya sedikit goyang karena pengaruh arak huang Jiu.
Seorang gadis dalam pakaian tradisional Niangxi menatapnya dengan mata bulat yang bersinar, merasuk hingga jantung Zhao Juren.
"Xue Xue, kamu?" Zhao Juren mengerjapkan matanya, meyakinkan dirinya bahwa gadis di depannya itu bukan ilusi dari kemabukannya.
"Apakah kamu ingin melompat ke dalam air di tengah malam begini?" Tanyanya sambil menarik sudut bibirnya.
__ADS_1
Zhao Juren memandang Xue Xue dengan rasa tak percaya, seakan danau yang airnya berwarna hijau zamrud itu telah memunculkan sosok yang sudah lama di tunggunya itu, tak nyana sekarang dengan jelas muncul di depan mata kepalanya.
"Dari mana saja kamu? Kenapa kamu mengingkari janjimu?"
"Aku tak ingkar janji tetapi kamu sibuk minum dengan orang lain sehingga kamu tak menyadari aku datang."
"Tidak mungkin!"
"Aku datang mungkin terlambat tetapi aku tak pernah mengingkari janjiku. Menunggumu menyudahi kesibukanmu tadi hampir membuatku tak sabar. Untung saja ini masih pesta lentera, tak ada yang mengawasiku jika pulang terlambat." Kalimat panjang serupa keluhan kesal itu terdengar gusar.
"Kamu...kamu benar-benar Xue Xue?" Zhao Juren mencondongkan tubuhnya.
"Apakah aku serupa hantu? ataukah kurang nyata? Bukankah kamu mengatakan bisa mengenalku dalam semua rupa?"
"Kenapa kamu begitu lama? Kamu tahu aku nyaris putus asa menunggumu, Xue Xue..."
Entah dorongan karena kemabukannya atau naluriahnya, dia tak bisa menahan diri untuk menarik tubuh Xue Xue ke pelukannya. Hal yang mendadak dan tak di sangka-sangka.
Tubuh Xue Xue mengejang dalam pelukan Zhao Juren, matanya terbuka lebar dalam keterkejutan.
"Aku...aku tak tahu kenapa begitu ingin melihatmu, sampai-sampai hatiku terasa sakit." Ucap Zhao Juren serupa keluh di telinga Xue Xue.
Xue Xue sejenak membisu hanya nafasnya yang tertahan dengan kedua tangan terkepal di kiri kanan tubuhnya.
"Tuan Zhao, lepaskan aku!" Akhirnya Xue Xue mendorong tubuh Zhao Juren dan berbalik dengan pias merona. Dia benar-benar tak menyangka reaksi Zhao Juren begitu berlebihan.
__ADS_1
"Tidak! Jangan pergi lagi!" Zhao Juren tiba-tiba memeluknya dari belakang punggung Xue Xue. Lengan kirinya mengait leher Xue Xue sementara tangannya yang lain memeluk erat pinggang ramping gadis itu.
Bau arak menguar dari mulut Zhao Juren, menyusup lewat rongga hidung Xue Xue. Sesaat dia membiarkan mereka berdua begitu rapat di bawah pohon Liu di tepi danau sepi itu. Hawa dingin yang merasuk kulit berubah hangat seketika.
Nafas Zhao Juren yang hangat menghembus di kulit lehernya membuat dirinya merinding.
"Anda terlalu banyak minum tuan Zhao." Desis Xue Xue.
"Aku tak akan membiarkanmu pergi lagi. Tetaplah di sini." Mulut Zhao Juren menyeracau tak jelas.
Seketika itu juga, di depan mereka berdua di seberang danau yang sepi itu, muncul berbagai kembang api yang indah, cahaya api yang terang benderang menyinari pandangan mata mereka yang saling bertaut ketika Xue Xue membalikkan badannya dengan gemetar menghadap Zhao Juren.
Zhao Juren memandanginya dengan tatapan nanar, sinar mata gadis di depannya adalah sinar mata yang belum pernah dilihatnya seumur hidupnya berkalang perang, Zhao Juren sampai tak tahu harus menggunakan kata-kata apa untuk mengambarkannya.
Seperti seorang pengembara di dataran gersang yang melihat sebuah ceruk mata air, bagai orang yang terusir dari kampung halaman yang jauh dalam mimpinya, mata itu bersinar layaknya sebuah ilusi yang tak dapat dipercaya.
Untuk saat ini Zhao Juren tak ingin mengalihkan pandangan matanya meski suara petasan yang berentet itu begitu menggoda telinga namun juga tahu bahwa bagaimanapun juga, ia tak berdaya mendapatkannya, mengingat sosok yang sama itu turun dengan anggun dari sebuah kereta kerajaan.
"Siapakah kamu sebenarnya Xue Xue?" Tanya itu meluncur dari bibir Zhao Juren, parau dan sedih.
...Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, ya🙏...
__ADS_1