
Ini bukan soal wajar atau tidak, juga bukan soal kakak punya rasa atau tidak pada mereka tetapi ini soal nyawa seseorang. Karena istana ini dalam tanggungjawab kakak maka aku rasa sebaiknya kakak bisa memberi pertanggungjawaban kepada raja dan keluarga mereka yang meninggal atas beberapa kematian yang tak jelas ini, dengan begitu nama kakak tidak menjadi bahan gunjingan tak jelas di luar sana." Xue Xue berucap tenang, sekarang dia terlihat jauh lebih dewasa dari sebelumnya dengan pias yang dingin tanpa terlalu banyak ekspresi.
"Gunjingan? Siapa yang berani menggunjing aku?" Lin Fangyin berdiri dengan pongah, bibirnya bergetar karena amarah yang tiba-tiba menyeruak.
"Aku hanya mengatakan kemungkinan, dan aku rasa itu juga tak baik untuk reputasi kakak sebagai permaisuri, jika kematian demi kematian terus terjadi dari dalam harem. Lama-lama ku rasa Yang Mulia bisa saja turun tangan sendiri jika ini terjadi berulang-ulang dan posisi kakak akan tak baik-baik saja jika Yang Mulia Nan Chen menganggap dia perlu terlibat mengusutnya." Xue Xue berkata dengan tegas, dia tak mau lagi berteka teki melawan kekerasan hati Lin Fangyin.
Permaisuri Lin Fanyin terdiam, dia tak lagi berusaha menyela tetapi matanya tak berkedip menatap adik iparnya itu. Sangat jarang perempuan muda dengan nama yang cukup di takuti di dalam istana Nanxing ini melibatkan diri dalam politik istana, dia hanya berada di dsalam istana Tianshinya bermusim-musim dan menghilang selama perang entah kemana, tak ada yang benar-benar tahu soal dirinya. Hanya pada musim semi dan awal musim dingin dia mungkin berada di istana, selebihnya dia adalah Nan Luoxia, 'wanita hantu' demikian para perempuan harem menjulukinya.
"Apakah Yang Mulia mengutusmu kemari untuk menuduhku dalam konspirasi tak jelas ini?" Tanya Lin Fangyin dengan nada curiga, dia memang bukan orang yang cerdas dalam menyembunyikan perasaannya.
Xue Xue tak menyahut tetapi perlahan dari dalam saku lengan gaunnya dia mengeluarkan sebuah saputangan dengan bordiran bunga lotus merah, itu adalah simbol istana harem Nan.
"Pelayan Nyonya Siaw memberikan ini padaku, katanya Yang Mulia permaisuri mengirimnya beberapa pekan yang lalu di sertai dengan dupa lilin penenang yang banyak. Katanya, itu untuk menjaga kesehatan serta kehamilan nyonya Siaw. Dari apa yang kulihat, kakak Fangyin bukan orang yang cukup bermurah hati untuk perduli pada semua selir di istana ini. Bukankah terlalu janggal jika kemudian anda mengirim sesuatu dengan begitu baiknya pada salah satu dari mereka?" Xue Xue meletakkan saputangan itu di atas kursi, dia menatap lurus pada Lin Fangyin seraya ikut berdiri juga.
__ADS_1
Lin Fangyin berdiri seperti patung, tanpa bersuara, nafasnya turun naik seperti orang yang baru saja tertangkap basah, tetapi dia tetap berusaha menegakkan kepalanya tanpa menunjukkan sedikitpun rasa takut.
"Aku adalah permaisuri atas semua yang ada di istana ini, Luoxia. Sesuatu yang wajar jika aku memberikan sesuatu pada siapapun. Bahkan aku telah memberikan banyak barang pada para dayang yang aku suka. Apa bedanya itu? Mungkin hanya aku yang sial saja, pernah memberikan sesuatu pada Nyonya Siaw sebagai hadiah kehamilannya dan dia mati dalam beberapa pekan kemudian. Lalu karena alasan itu apa aku pantas di curigai atas satu kejadian yang tak ku lakukan, alangkah tak adilnya hidup." Lin Fangyin mengatupkan rahangnya, dengan raut kesal.
Xue Xue menarik nafasnya dengan perlahan, lalu mengibaskan gaunnya dengan sikap yang elegan.
"Aku datang hanya untuk memperingatimu, kakak Fangyin. Aku mengatakan ini bukan dalam kapasitas sebagai puteri kerajaan tetapi sebagai adikmu. Masih untung aku yang menyelediki masalah ini bukan tim investigasi kerajaan. Jika itu sampai terjadi, mungkin aku tak bisa menyelamatkan muka seorang permaisuri terhormat Nan"
"Apa maksudmu, Luoxia?" Mata Lin Fangyin menyorot tegang, seakan tuduhan Xue Xue begitu telaknya.
"Bagaimana kamu bisa mengatakan itu?!" Tiba-tiba Lin Fangyin berucap setengah menggeram.
"Sementara kamu sendiri tak pernah tahu bagaimana rasanya gila karena mencintai seseorang. Bagaimana kamu merasa begitu yakin dengan perkataanmu, sedangkan kamu sendiri tak pernah tahu rasanya berada di samping orang yang kamu cintai tetapi dia sama sekali tak melihatmu? Bagaimana bisa kamu menjadi sok bijaksana soal perasaan sementara kamu hanya tahu pedang dan perang?" Pertanyaan itu di lontarkasn dengan nada yang dalam dan penuh kesakitan, sesaat sebelum Xue Xue membalikkan badan.
__ADS_1
"Kakak..." Xue Xue mengangkat kepalanya, menatap wajah terdonggak angkuh di depannya, sementara mata perempuan cantik di depannya itu jelas berkaca-kaca. Kepahitan itu serupa bunga huoyun yang menjelang layu di musim gugur. Dia belum puas merekah tetapi musim yang kejam memaksanya untuk jatuh ke bumi.
"Aku mungkin tak tahu rasanya cinta, tetapi aku tahu rasanya kehilangan bagi sebuah keluarga. Nyonya Siaw, selir Ce, Selir Pingan juga punya keluarga. Saat nyawa mereka di rampas tanpa alasan, bagaiman perasaan kelurganya? Bayi yang di kandungnya juga takย punya dosa apapun, tetapi tak sempat melihat dunia bukankah itu sungguh tak adil buatnya? Aku tak akan membuka mulutku atas apa yang ku tahu di istana harem ini, tetapi jika ini terulang lagi. Maka jangan melihatku sebagai adik iparmu, tetapi aku akan berdiri sebagai Nan Luoxia yang berada di barisan depan mementangmu." Mata Xue Xue tak pernah semarah ini saat berhadapan dengan permaisuri Lin Fangyin.
"Aku mungkin buta soal cinta, tetapi aku tak buta soal keadilan." Desisnya mengakhiri kalimat panjangnya yang begitu dalam.
Dengan tanpa berbicara lagi, Xue Xue melangkahkan kakinya menuju pintu dimana bangunan istana itu berdiri kokoh, menghindari beberapa semak mawar dan peony yang tengah mekar. Di iringi tatapan mata berkabut milik permaisuri Lin Fangyin.
Permaisuri itu bermimpi bisa memiliki semuanya saat menjadi ratu, menggenggam satu dunia tak terkecuali, tetapi ternyata menjadi seorang ratu tak semanis mimpinya. Dia memiliki semua kemewahan, menikmati kekuasaan di mana setiap orang membungkuk bahkan saat dia hanya lewat tapi tidak cinta, dia tak pernah merasakannya!
Mata suramnya yang menyorotkan kesakitan dan kebencian.
Lin Hongse menyambut Xue Xue di pintu bangunan dengan seorang perempuan dalam pakaian hitam, Bai Yueyin, mata perempuan pengawal setia Xue Xue itu menatap nanar pada permaisuri Lin Fangyin dari kejauhan. Hatinya berdesir hangat, ketika sesaat benaknya mengembara pada Yang Mulia Nan Chen. Dulu dia juga pernah bermimpi menjadi permaisuri orang yang dulu sangat di sukainya itu. Tetapi, impian itu menghilang lenyap, menguap bersama panas terik dan hujan salju. Impian menyedihkan seorang gadis yang mengira cinta itu semanis madu.
__ADS_1
๏ฟผ
Hai pembaca kesayangan Cinta terakhir Zhao Juren, mari di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...๐๐๐๐.