CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
Bab 69. Deburan Aneh


__ADS_3

Dia jarang tersenyum hanya sorot matanya yang kelam memandang Huan kecil menjelang remaja itu ddengan tatapan yang dalam menembus rumput kuning di padang rumput Beiyu.


Selir Huan  berdiri di sana di remahan ingatannya menembus gunung dan lautan, kembali ke saat yang sudah berlalu itu, Pemuda itu, ia tetap tenang, matanya pun merah, tersenyum sesekali dan bersikap tenang. Sejak saat itu, malamnya adalah ajang bermimpi, saat itu dirinya masih begitu kecil dan Yuhuai beberapa tahun di atasnya.


Tangan kanan Selir Huan menekan memijat semakin kuat, sementara tangannya yang lain menyusup ke balik rambutnya, dia meraba sebuah tusuk rambut dari kuningan, ujungnya tajam dan runcing. Bahkan kadang kala kulit kepalanya terluka karena dia selalu menyusupkannya ke balik rambutnya saat masuk ke dalam kamar Yang Mulia Nan.


Jemarinya gemetar, keinginan untuk menancapkan benda itu untuk membebaskan jejak dendam, menusuknya berkali-kali kemanapun tusuk rambut itu sudah di nazarkan. Tetapi semakin niat itu membucah semakin tangan kanannya terus memijat dahi sang kaisar, memijat lehernya, memijat bahunya, memijat punggungnya, seakan memijat seumur hidupnya yang terlunta-lunta.


Ia memandanginya puncak kepala sang raja, memandangi saudara dari lelaki yang dikejar olehnya selama separuh hidupnya di puncak gunung Beiyu, dicintainya dan kini dengan sadar diri bahwa dirinya dipermainkan oleh pangeran itu, dia hanya bertepuk sebelah tangan selama separuh hidupnya.


Jantungnya melonjak-lonjak dengan hebat, seakan hendak melompat keluar dari mulutnya, beginilah, apa boleh buat, bukankah seperti ini adalah yang terbaik? Dirinya menahan derita, berjuang, menerima penghinaan, mengalami berbagai kesengsaraan, menanggung siksaan, semua penantian itu, bukankah demi saat ini? Waktu sudah dekat dia akan bertaruh nyawanya untuk membalas dendam semua leluhurnya yang mati di gantung dengan tidak hormat seperti para pengkhianat jahat.


Pada saat yang sama di balik pintu, seorang laki-laki dengan mantel warna biru gelap berdiri seperti arca, telinganya merinding menangkap suara erangan dari dalam dan suara kakaknya itu seperti seorang yang sedang begitu puas.


Nan Yuhuai, mengepalkan tangannya, matanya tak berkedip seolah sedang ingin mengumpulkan suara-suara itu ke dalam kepalanya.


Kasim pribadi Yang Mulia Nan membungkuk sekali lagi dan bersuara,


"Apakah...apakah Tuan Pangeran tetap ingin menemui Yang Mulia?" Tanyanya dengan gemetar. Dia sangat berharap Pangeran Nan Yuhuai mengurungkan niat untuk mengganggu kesenangan Yang Mulia Nan dengan selir barunya itu. Dia takut menjadi sasaran kemurkaan Yang Mulia.


Cahaya di depan aula itu temaram, tak nyana mengandung warna merah yang aneh, lilin kuning terang


menyala dengan tenang, memancarkan sinar yang amat lembut ke punggungNan Yuhuai yang kaku.


Di tengah cahaya yang temaram seakan dapat merobek kain mantel hitam itu dan terbang pergi dengan cepat, ia mengerutkan dahinya, telinganya hanya dapat mendengar suara guruh yang bergulung-gulung di cakrawala, begitu jauh, namun begitu dekat.


"Tidak perlu. Aku bisa kembali besok pagi." Ucapnya lirih. ia berbalik dan melangkah ke luar aula, ia pun tak memerlukan penunjuk jalan lagi. Kasim pribadi Yang Mulia Nan Chen membungkuk dengan lega, dia merasa beban di pundaknya menguap begitu saja.

__ADS_1


Dia menatap senang pada kepergian Pangeran Yuhuai yang mendadak datang tepat setelah seorang pelayan dari istana Harem menyampaikan berita duka kematian nyonya Siaw.


Seorang kasim kecil yang membawa payung mengejarnya Pamgeran Nan Yuhuai, begitu pangeran muda itu melangkah keluar dari selasar aula raja.


Dia segera mengikuti dan menjajari langkah gontai tuannya itu yang dengan perlahan berjalan di Lorong yang panjang, kabut malam memenuhi udara, hujan menerpa pundaknya, bagai bayangan setan kesepian.


"Tuan pangeran, kita kemana?" Dia bingung saat menyadari mereka tak menuju arah aula Yangguang tetapi melewati jalan ke arah harem


Alis Pangeran Yuhuai terangkat, lalu ia berucap perlahan.


"Kita menuju istana Harem."


Kasim yang masih berusia belasan tahun itu menganggukkan kepalanya dengan patuh.


"Kita akan mengunjungi siapa malam-malam begini?" Tanya Kasim itu dengan sikap penasaran, dia polos dan menyenangkan karena itu Yuhuai memilihnya untuk mengganti kasimnya yang telah cukup tua.


"Kita akan menemui adikku Xue Lian." Jawabnya pendek. Dan kasim kecil itu tak lagi bertanya pada Tuannya. Mereka harus melalui bangunan Dapur Harem karena istana Xue tempat Xue Lian ada di sana.


Malam kelam itu, begitu panjang. Suara burung malam memecah kesunyian. Di tempat lain, dari bagian belakang dapur istana harem, Xue Xue dan Zhao Juren  mengendap-ngendap kembali ke istana Harem.


"Kamu besok harus keluar dari sini." Xue Xue memperingatkan.


"Harem bukanlah tempat yang aman, apalagi bagi seorang laki-laki, sekali saja kamu di ketahui memasuki area ini maka hukumanmu tak bisa di tawar lagi. Harem adalah teritori pribadi raja, dan laki-laki yang boleh berada di sini hanyalah  kerabat dekat raja dan itupun harus dengan alasan yang tepat." Ucap Xue Xue.


Dia berbalik menoleh ke belakang karena tak ada suara dari belakang punggungnya dan ketika dia mendapati wajah Zhao Juren yang risasannya hampir luntur semua itu, dia menghela nafas sejenak.


"Astaga, kamu selalu saja membuat masalah bagiku jenderal." Keluhnya. Di ambilnya kain yang melekat di pinggangnya dan tanpa basa basi di pasangkannya ke kepala Zhao Juren.

__ADS_1


"Pakai ini!" perintahnya dengan acuh.


"Memangnya kenapa kau harus memakai kerudung sperti ini?"


"Lihatlah wajah laki-lakimu itu sebentar lagi terlihat jelas, bedak dan pewarna bibirmu sudah luntur semua. Kamu mau pengawal di harem ini menggelandangmu ke dalam penjara karena kamu ketahuan sedang menyusup?"


Zhao Juren menggedikkan bahunya, dia tak berkaca soal penampilannya. Apalagi di larut malam menjelang subuh seperti ini.


Pada saat itu terlihat dua orang pengawal berpatroli, dengan sigap Xue Xue menarik lengan Zhao Juren ke belakang sebuah pohon Persik, mereka sudah tak jauh dari kediaman Nan Luoxia, Istana Xue.


Zhao Juren terkejut saat posisi mereka begitu dekat, berdiri saling merapat dan nyaris tanpa suara. Hanya mata mereka saling pandang, berkedip tak saling melepaskan. Tangan Xue Xue mencengkeram lengan Zhao Juren bahkan dia lupa untuk melepaskannya sementara Zhao Juren tak sengaja meletakkan tangannya di punggung Xue Xue.


Dua tatapan itu salin berpendar, mendalami warna hitam di bola masing-masing, lekat seolah itu adalah gua yang jauh dan dalam, saling mencari tahu apa yang ada di kedalamannya. Keduanya tak menyadari jika degup jantung mereka berpacu lebih kuat dari sebelumnya. Bahkan mereka hampir saling mendengarkan pertukaran degup yang aneh itu.


Beberapa saat adegan itu berlangsung, sampai kemudian mereka tahu para penjaga itu telah menjauh. Dengan tersipu Xue Xue melepaskan genggamannya dan Zhao Juren yang rikuh segera menjauhkan tangannya dari punggung Xue Xue.


"Oh, mereka sudah pergi." Xue Xue terlihat salah tingkah. Zhao Juren mengangguk, menenangkan debur aneh yang masih tersisa.


"Kau, ikut aku!" tiba-tiba Xue Xue menarik kembali lengan Zhao Juren. Gadis ini memang sangat suka sekali melakukan hal yang mendadak serta mengejutkan tanpa aba-aba dan gerakannya itu nyaris tak bisa di tolak.


"Eh, kemana?"


"Ke Kamarku!"


"Kamarmu?"


"Ikut saja, jangan banyak bicara."

__ADS_1



Nan Yuhuai


__ADS_2