CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 52. Pelayan Dapur Istana


__ADS_3

"Ayo, adik...turunlah. Kita akan menemui bibi Mei..." Panggil Changyi dari luar kereta dengan mendayu, pertanda sandiwara mereka di mulai.


Dengan enggan Zhao Juren turun dari dalam kereta itu, kepalanya menunduk sambil memgang rambutnya. Sekarang dia sungguh merindukan medan perang ketimbang terkurung dalam balutan pakaian perempuan seperti ini.


"Andai Li Jin melihatku seperti ini, mungkin dia akan menertawakanku sampai pingsan." Keluhnya dalam hati mengingat pada pengawal setianya itu, yang matanya bualat besar saat terkejut dan akan terpicing sipit saat tertawa.


"Mau kemana kalian?" Suara tegas itu terdengar dari salah seorang penjaga pintu gerbang.


"Kami mau menemui Dayang senior Mei, kepala dapur di istana harem." Changyi bertingkah sambil mengedipkan matanya seperti orang kelilipan, Zhao Juren dengan tergesa berdiri di belakang Changyi, memegang buntelan kuning berisi perlengkapan pakaian perempuan lainnya yang sudah disipakan oleh Changyi untuk mereka berdua.


"Kalian pelayan baru? kenapa aku baru melihat kalian?" Si penjaga gerbang mendekat, matanya menyipit penuh selidik.


"Ya, tuan. Kami pelayan baru. Tepatnya pelayan pengganti." Jawab Changyi dengan manja.


"Pelayan pengganti? Kenapa aku baru tahu?" sekarang matanya beralih pada Zhao Juren, sikapnya waspada.


"Dua orang pelayan sedang cuti sakit, kami diminta untuk menggantikan. Boleh tuan tanyakan dengan bibi Mei."


"Dayang Mei itu bibimu?"


"Ya, tuan."


"Siapa namamu?"


"Saya Yiyi, Tuan. Hao Yiyi." Jawab Changyi sambil mengedipkan matanya. Pengawal itu mengeryit dahinya, tapi dia senang diperlakukan seperti itu oleh seorang perempuan, meskipun perempuan ini memiliki rambut yang aneh. Agak kaku di beberapa bagian. Tapi dia cukup cantik meski make upnya terlihat menor.  Matanya beralih pada Zhao Juren yang sedari tadi berdiri di belakang Changyi.


"Siapa dia?" Tunjuknya dengan melemparkan lirikan pada Zhao Juren.


"Dia adik saya tuan, namanya Ju'er."


"Ju'er? nama yang aneh." seorang pengawal lain menghampiri mereka yang nampak sedang alot dalam pemeriksaan itu.


"Kenapa dia tidak menjawabku?" Si penjaga yang dari tadi bertanya itu mengeryit dahinya, mlihat Zhao Juren yang diam seribu bahasa.


" Adikku cuma sedang sakit mulutnya, gigi bungsunya tumbuh jadi gusinya sedikit bengkak hari ini. Maafkan dia, tuan." Sahut Changyi dengan cepat.

__ADS_1


"Kenpa adikmu lebih besar dan lebih tinggi darimu?" Tanya Salah seorang penjaga dengan heran, matanmya melirik nakal pada Zhao Juren yang sma sekali tak mau mengangkat wajahnya.


"Adik saya ini lahir di musim panen, gizinya tercukupi."


"Tapi kalian tidak mirip sama sekali?"


"Kami satu ayah, tapi berbeda ibu."


"Oh..."


Semua pertanyaan-pertanyaan sulit itu bisa di jawab hangyi seperti sebuah soal dalam ujian negara saja.  Zhao Juren sudah pasrah saja dengan semua ocehan Changyi dari pada dia harus mengeluarkan suara, lebih baik dia diam saja.


"Maaf tuan, mereka adalah pelayan sementara untuk membantuku memasak dalam perjamuan Harem lusa." Tiba-tiba seorang perempuan dalam pakaian dayang berwarna oranye muncul sambil membungkukkan badannya.


"Bibi Mei, mereka orang-orangmu?" tanya Si penjaga. Dia sepertinya sudah cukup mengenal Bibi Mei ini, karena setiap beberapa hari sekali akan keluar ke gernbang untuk menerima bahan logistik untuk istana Harem.


"Ya, tuan."


Bibi Mei menenarik tangan Changyi dengan cepat, di ikuti oleh Zhao Juren yang merasa lega.


"Kalian ini yang di katakan Changyi kemarin datang untuk membantuku?" Mata Bibi Mei melotot penuh selidik.


"Ya, bibi...kenalkan namaku Yiyi dan ini Ju'er." Changyi berlagak seperti perempuan di sepan bibinya itu, matanya tak henti-hentinya mengedip seperti orang yang kelilipan.


"Changyi mana?" Bibi Mei yang bertubuh gemuk itu menginterogasi keduanya, dia heran Changyi yang berjanji mengantar sampi gerbang tak kelihatan batang hidungnya.


"Changyi ada urusan mendadak ke Lijiang dengan ayahnya. Jadi tak bisa datang hari ini bibi." Jawab Changyi sambil mesem-mesem. Sekarang Zhao Juren percaya, Changyi memang aktor yang handal jika dia bergabung dengan para teater keliling, mungkin dia akan terkenal di seantero Niangxi.


Bibi Mei mengangguk-anggukkan kepalanya, Ayah Changyi adalah adiknya dan memang ayah Changyi yang juga guru itu kadang-kadang pergi ke Lijiang untuk mengajar di sebuah sekolah di provinsi itu.


"Tunggu sebentar..." Tiba-tiba bibi Mei menarik tangan Changyi.


"Kenapa lama-kelamaan aku melihatmu semakin mirip dengan si rubah kecil Changyi, ya?" Mata Bibi Mei memicing.


"Akh, bibi...jangan bilang begitu, selama ini oran-orang memang banyak memujiku, kata mereka aku sangat mirip dengan si pria tertampan di pasar kota Nanxing, tuan muda Changyi itu. Kalau aku laki-laki mungkin aku akan setampan Changyi." Changyi cengengesan sambil memuji dirinya sendiri, Zhao Juren geli bukan main dengan sikap temannya ini.

__ADS_1


"Dan temanmu ini, eh adikmu yang tingginya tidak normal ini," Bibi Mei mendonggak menatap wajah Zhao Juren.


"kenapa dia diam saja, tidak cerewet sepertimu? Siapa namamu tadi?" Bibi Mei menaikkan alisnya menatap penuh tanya.


"Ju...Ju'er, bibi." Zhao Juren merasa tenggorokannya seperti tersedak ketika berudsaha mengeluarkan suara seperti perempuan.


"Uhuk...Uhukkk!" Changyi segera terbatuk untuk mengalihkan perhatian Bibi Mei.


"Dia memang pemalu, bibi. Tidak terlalu pandai berbicara, maklumlah waktu kecil dia pernah terserang demam tinggi. Jadi dia agak lambat untuk berbicara. Dia juga tak percaya diri karena suaranya yang sengau itu, tidak terlalu enak di dengar." Changyi terkekeh. Zhao Juren gatal sekali ingin menggeplak kepala Changyi yang sedari tadi tak pernah berhenti merendahkan dirinya dalam versi perempuan ini.


"Andai kamu tahu, aku adalah seorang Jenderal di tempatku, kamu akan menangis berlutut di kakiku meminta maaf atas perbuatan kurang ajarmu ini, Hehhh...!" rutuk Zhao Juren dalam hati.


"Tetapi bibi soal mengangkat barang-barang berat, dia bisa di andalkan. Tenaganya dua kali tenaga kerbau. Kebun kami di desa pun dia sendiri yang membajaknya dalam dua hari." Changyi menepuk-nepuk bahu Zhao Juren seakan ingin menenangkan sang kawannya ini yang wajahnya semakin masam saja.


"Baiklah, kalian bisa berkerja membantuku mulai pagi ini. Pergilah ke kamar kalian dulu, antar barang-barang kalian ke sana. Setelah itu bantu aku ke dapur. Dari pagi ini, kita harus memasak untuk makan malam ratu dan para selir raja, mereka ada rapat untuk perjamuan lusa."


"Baiklah bibi, kamar kami di mana?"


"Kamar kalian di sebelah kiri dapur ini, ada sebuah aula pelayan."


"Kamar kami berdua saja, bibi?'


"Hey, kalian kira kalian itu selir raja atau dayang tingkat tinggi? Mana ada pelayan punya kamar sendiri? Tentu saja kalian akan sekamar dengan delapan pelayan dapur lainnya." Sergah bibi Mei.


Jawaban itu membuat Zhao Juren melongo karena terkejut seperti halnya Changyi.


"Mereka semua pelayan perempuan?"


"Tentu saja! Pelayan laki-laki punya barak tersendiri di luar harem, tidak mungkin di gabung dengan pelayan perempuan." Jawab bibi Mei sambil menatap mereka sesaat dengan pandangan bingung sebelum kemudian berlalu menuju dapur.


"Bergegaslah! Banyak pekerjaan menunggu!"



...Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, ya🙏......

__ADS_1


...Kalian semua ter best pembaca kesayangan❤️...


__ADS_2