CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 67. Bagian Dari Permainan


__ADS_3

"Yang Mulia, Selir Huan tiba".


Yang Mulia Nan Chen yang sedang berdiri membelakangi menghadap jendelanya yang tinggi, dia hanya mengenakan jubah tidur putih  beras, dia  sama sekali tak menjawab bahkan tak bergeming.


"Yang Mulia..." Huan telah berganti pakaian, dengan gaun warna ungu muda lembut yang jauh lebih sederhana dari pakaian yang di kenakan tadi, ketika dia di nobatkan menjadi selir baru bagi raja di tengah perjamuan istana Harem.


Yang Mulia Nan Chen masih diam, maka Nona Huan yang sekarang resmi di panggil selir Huan terus berlutut di lantai, kesunyian aula besar raja itu menakutkan, hingga suara nafas beberapa pelayan yang habis menggantikan baju raja itu dapat terdengar halus.


Jantung Selir Huan seakan melompat-lompat dengan liar di dalam rongga dadanya, berdegup tegang seperti talu genderang di medan perang, degup demi degupnya menguncang kerongkongannya hingga terasa gatal.


Euforia yang di harapkannya seharusnya bukan begini di malam pertama dia menyandang gelar Selir.


Beberapa saat hening, tak ada yang melakukan gerakan seolah mereka adalah patung, sepasang tangan Selir Huan menutupi lututnya, ia berlutut di sana sesuai dengan tata aturan istana istana Nan jika menghasdap raja, bayang-bayang waktu berkelebat dari ujung-ujung rambutnya yang jatuh di atas dahinya yang menunduk, seribu ingatan sesaat menggumpal di bahunya yang kecil, sekarang wajahnya menjadi pucat tanpa darah lebih putih dibandingkan bunga es dan salju di musim dingin.


"Berdirilah, Huan'er".


Suara yang berat tetapi terdengar bergema di kedalaman aula pribadi milik raja yang luas  itu, sama sekali tak mengandung kelembutan seperti yang di tunjukkan saat dia berada di tengah-tengah para istrinya, namun juga tak terlalu acuh tak acuh, hanya begitu datar, bagai setetes air yang jatuh ke permukaan danau yang tenang dan menimbulkan gelombang air yang tembus pandang. Beriak sesaat tanpa perasaan.


Namun dua kata yang sederhana itu, membuat punggung tegang selir Huan seketika menegak, perasaan kesemutan yang amat halus timbul di lapisan atas kulitnya, ia berdiri sambil menunduk, sepasang tangannya nampak tergantung dengan alami di kedua sisi tubuhnya, jari jemarinya agak melengkung, akan tetapi kuku ibu jarinya dengan erat menempel di jari telunjuknya, dengan ganas menusuknya. Nyerinya bagai ditusuk sebatang jarum perak yang amat halus, menusuk pikirannya yang bergejolak dengan hebat.


Tak ada lagi senda genitnya yang sanggup menyulut perasaan iri para selir-selir yang jumlahnya puluhan itu. Tak nampak pula keberanian dan kemanjaan yang membuat cemburu banyak wanita.


Yang Mulia Nan Chen berbalik dan sedikit mengangkat kepalanya, menghadiri pestapun mnembuatnya  membuatnya lelah sekarang, tangannya terangkat lalu menekan pelipisnya dengan ibu jari tangan kirinya, dengan mata separuh tertutup, ia memijatnya dengan perlahan.

__ADS_1


Pandangan matanya yang hambar


menyapu tubuh selir Huan, ia mengangguk-anggukkan kepalanya.Tak ada tatapan cinta yang berkilat seperti sebelumnya.


"Kemarilah, Huan'er".


Selir  Huan melangkah mendekat dengan sedikit gemetar, Yang Mulia Nan Chen menjulurkan tangan kanannya, disambut oleh Selir Huan yang tangannya tiba-tiba membeku.


"Kalian semua keluarlah." Perintahnya tanpa menoleh kepada para pelayan dan kasim pribadinya. Suara itu tak keras tetapi segera membuat semua orang keluar dengan menunduk dan tergopoh-gopoh dari ruangan itu.


"Huan'er..." Yang Mulia Nan Chen memanggil namanya sekali lagi, tatapan itu begitu tajam, tak ada kemabukan terhadap perempuan yang ditunjukkannya, dia melihat kepada istri barunya nyaris tanpa rasa.


"Apakah kamu memastikan, semua orang tahu bahwa aku mengambilmu sebagai selirku yang baru?" Tanya Yang Mulia Nan Chen.


"Lin Fangyin tentu marah dengan ini." Yang Mulia Nan chen meringis sementara Selir Huan tak berani angkata suara.


"Oh, ya...aku tak melihat perdana menteri Liujun tadi." Alisnya mengernyit. Tapi wajah kesalnya itu segera berubah puas mengingat adiknya Yuhuai dan istrinya Yang Xiwu hadir di sana. Kabar tentang dia mengangkat selir baru tentu akan segera sampai telinga Perdana menteri Tua yang berwajah malaikat tetapi berhati serigala itu.


Yang Mulia Nan Chen berjalan perlahan dan kemudian duduk menghadap mejanya, tangannya terangkat lalu menaruhnya dengan datar di atas meja tulis.


"Kemarilah."


Selir Huan mendekat, lalu berlutut di sebelah kanannya dengan sikap hormat, sikap yang 180 derajat berbeda dengan ketika dia berada di depan umum.  Lalu dengan takjim dia membungkuk. poninya menjulur ke bawah, sbahkan matanya pun menjadi nyaris tak terlihat. Ia menunduk, sinar matanya bagai air, di dasarnya yang tak terlihat orang, sebuah badai salju yang hitam kelam seakan berkecamuk, Setiap dia berhadapan dengan keluarga Nan ini rasanya dadanya bergemuruh oleh perasaan dendam. Dia menjadi sebatang kara di dunia karena mereka, bahkan meski keluarganya adalah pengabdi paling setia secara turun temurun tetap saja keluarganya di bantai tanpa ampun.

__ADS_1


Kedua tangannya saling meremas dan masih ada tangan itu, langsing, pucat pasi, buku-buku jarinya,


karena sehari-hari mengenggam pisau, mencengkeram tongkat, memainkan pedang dan terus menari tarian paling sulit itu hingga jemarinya yang lembut penuh kapalan, telah berubah menjadi kasar. Dia menyembunyikannya dari semua pandangan orang. Hanya demi bisa masuk ke dalam istana dia melakukan semuanya.


"Aku hanya memanggilmu ke sini untuk membuat semua orang melihat aku begitu bahagia denganmu, supaya mereka semua yakin aku tak perduli apapun di dalam istana ini kecuali soal perempuan. Tetaplah bersikap seperti seharusnya ketika berada di tengah orang banyak. Aku ingin tak ada yang mencurigai jika semua ini hanyalah sandiwara."


"Ya, yang mulia..."


"Aku tak ingin semua orang waspada padaku! Jadi kuharap kamu mengerti apa yang ku inginkan."


"Saya mengerti Yang Mulia."


"Lakukan seperti yang ku perintahkan, dengan begitu tak ada yang perlu kamu kuatirkan dengan masa depanmu. Aku akan membuatmu kaya, dengan status yang setara dengan selir furen tertinggi, kamu kan berkuasa dalam istana harem. Hanya pastikan saja, kamu tetap menjadi wanita raja yang binal, yang membuatku tergila-gila."


 Kalimat itu di ucapkan dengan suara yang tajam dan penuh tuntutan, Selir Huan hanya mengangguk. Tak ada lagi senyum genitnnya yang biasanya di umbarnya di aula Wanxiang saat menemani Yang Mulia bermabukan, Huan berubah menjadi begitu berbeda saat berada di depan Yang Mulia.


"Aku menemukanmu di rumah hiburan karena rekomendasi dari kasim yang mengurus pertunjukan. Dan aku tahu dengan kemudaan dan kecantikanmu aku bisa membuatmu ke level tertinggi di istana ini, hanya saja patuhlah padaku. Karena di luar sana kamu tak punya apa-apa selain aku."


Selir Huan membungkuk lagi dengan patuh, matanya melirik dari balik poninya, melihat wajah Yang Mulia Nan Chen mengingatkannya pada seseorang yang membawa surat perintah ke dalam rumahnya belasan tahun yang lalu. Perintah untuk menghukum semua keluarga Jiu sampai ke akar-akarnya.



Yuk, di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...🙏🙏🙏💜💜

__ADS_1


__ADS_2