
DI ISTANA WEIYAN
Hujan turun perlahan kala senja tiba di atas Istana Weiyan, butir-butir air hujan itu amat halus dan padat, memukul genting istana hingga bunyinya berdentang-denting seperti irama lagu yang abstrak. Musim semi dengan hujan pertama terasa sangat menyejukkan, cuaca menjadi dingin dan lembab dan udara pun mengandung hawa dingin yang merasuk. Permaisuri Xiao Yi mengambil sebuah jubah sutra berbulu rubah putih yang lengannya dihiasi
sulaman awan dan bunga peony.
"Chu Cu buatkan teh jahe untuk Yang Mulia." perintahnya dengan suara lembut pada Dayang Chu Cu yang datang membawakan sebuah kain hangat untuk puteri Yan Xi Yuhuan, puteri Yang Mulia Yan Yue dan Permaisuri Xiao Yi yang tertidur pulas di sebuah dipan kayu kecil yang berbentuk kotak berukir dari kayu mahoni. Gadis kecil itu baru berusia delapan bulan, jika malam maka Xiao Yi akan mengasuhnya sendiri.
Chu Cu membungkuk, dan pergi ke dapur kecil untuk membuat teh jahe, seperti yang diperintahkan junjungannya.
"Yang Mulia cuaca dingin, sebaiknya Yang Mulia naik dan beristirahat di tempat tidur." Usul Xiao Yi lembut sambil memasangkan jubah sutra bulu rubah itu ke pundak yang mulia Yan Yue.
Yang Mulia Yan Yue tidak bergeming, dia masih terpaku menatap putrinya yang cantik itu, yang tidur dengan nyaman, dadanya naik turun dengan irama yang aneh. Kadang perlahan kadang sewaktu-waktu menjadi cepat. Itu nafas normal bayi.
"Yuhuan cantik, wajahmu semakin lama semakin mirip ibumu." Ucap Yang Mulia Yan Yue sambil menarik sudut bibirnya, mengembangkan senyum lembut. Xiao Yi melirik kepada Yang Mulia dan menagkap raut wajah itu sebenarnya masih saja suram, dia hanya mencari penghiburan dari wajah anaknya.
Tak berapa lama Chu Cu muncul dengan nampan berisi teko teh jahe yang masih mengepulkan asap dari lubang mulutnya, bau jahe yang pedas dan hangat menyeruak.
__ADS_1
"Atau mari menghangatkan badan Yang Mulia, kita minum teh jahe ini dulu." Xiao Yi duduk di depan meja kecil dari kayu yang ada di dalam kamarnya, biasanya sebagai meja bacanya. Yang Mulia menghela nafasnya, lalu mencium lembut kelopak mata Putri Yuhuan lalu duduk di seberang Xiao Yi, menatap sapa teh yang menegepul tipis dari teh yang dituangkan oleh Xiao Yi ke dalam gelas porselen.
"Yang Mulia minumlah," Xiao Yi menyodorkan gelas berisi teh jahe itu ke tangan Yang Mulia.
Yang Mulia menunduk, dalam bayangan di air teh itu raut wajahnya nampak muram, dengan jari-jemari tangannya, ia memijit dahinya dengan pelan, lalu berkata dengan suara rendah,
"Kematian ibu suri sangat mengenaskan, dia tergantung sepanjang malam di cabang pohon Wisteria itu, tanpa ada yang tahu. Kematiannya tentu menyakitkan sekali."
Xiao Yi menghela nafasnya, wajah permaisuri ini terlihat datar.
"Ibu Suri tentu tak bisa menerima kematian Zhao Juren dengan lapang, dia tak lagi punya sandaran dan tujuan hidup, anaknya telah meninggal di medan perang tanpa jasad yang bisa di kenang, tentu saja itu adalah alasannya mengakhiri hidupnya." Yang Mulia meletakkan gelas tehnya kembali ke atas meja, tatapannya menerawang. Bagaimanapun, Ibu Suri Li Sui juga mempunyai jasa dalam membesarkan dirinya yang ditinggalkan ibunya meninggal pada usia kanak-kanak. Dan setelah enam belas tahun, Yang Mulia raja tua Houcun mangkat dan dirinya di nobatkan menjadi raja, ibu Suri Li Sui lah satu-satunya yang di anggapnya orangtua terlepas dari semua kejahatan yang telah direncanakan dan di lakukan oleh selir ayahnya itu.
Xiao Yi terdiam, hatinya pedih menyembunyikan satu kebenaran bahwa Zhao Juren masih hidup segar bugar dan mungkin kini berada di tanah musuh Negara mereka.
Tetapi masa berkabung telah selesai, dan kenyataan bahwa Zhao Juren masih hidup pun baru di ketahuinya saat upacara pemakaman usai. Bagaiman dia bisa menjelaskan semua itu? Dan Jika semua orang tahu Zhao Juren diselamatkan oleh salah seorang yang mungkin cukup penting dari kerajaan Niangxi, bukankah itu bisa membuat rumor baru dan bola api yang panas dalam politik yang sedang beriak di bawah tanah Yanzhi? Zhao Juren bisa saja dituduhkan telah membuat persengkongkolan dengan negara musuh, mengingat ibunya telah berkonspirasi dalam upaya menggulingkan raja beberapa tahun yang lewat.
Nama seorang anak tak akan lepas dari bayang-bayang kesalahan orangtuanya, setiap saat satu kesalahan kecilpun dapat membuat orang mengangkat telunjuknya dalam tuduhan jahat. Sekarang yang terbaik hanya mengikuti arus dan skenario alam, bukankah takdir langit tak bisa di rubah?
__ADS_1
"Bagaimana dengan Jasad ibu suri?" Tanya Xiao Yi kemudian perlahan, dia benar-benar tak tahu apa hasil dari sidang dewan di Aula Guang Li tadi siang, mengenai pemakaman Ibu Suri Li Sui.
"Jasadnya di semayamkan di kuil Sunyen untuk sepekan ke depan, sembayang arwahpun dilaksanakan oleh para biksuni. Dewan Istana menolak jasad ibu Suri di bawa ke Kuil Zuihou dan di makamkan di makam keluarga raja karena ibu suri di anggap sebagai pengkhianat terbesar di Yanzhi. Sebelumnya ibu suri hendak di seret ke Pengadilan Istana untuk menuntut kejahatannya, hanya saja selama ini aku berusaha menjaga perasaan Juren, bagaimanpun dia dalah putra kandung ibu suri. Dan sebelum sempat di adili ibu suri telah memutuskan takdirnya sendiri. Kematiannya yang tak terhormat ini juga di anggap sebagai kejahatan, sehingga ibu suri dianggap tak layak kembali ke istana meskipun itu hanya jasadnya." Yang Mulia menatap lurus pada Xiao Yi, dia tak memihak siapapun dalam hal ini meskipun banyak hal yang telah di lakukan ibu Suri dalam upaya mencelakakan dirinya. Dia tak mendendam.
Xiao Yi mengangguk-anggukan kepalanya seraya menuangkan teh jahe lagi ke dalam gelas, sekarang teh itu di tuangkannya untuk Yang Mulia dan juga untuknya.
"Apakah ini adil menurutmu?" Tanya Yang Mulia sekonyong-konyong, Xiao Yi mengangkat wajahnya yang cantik dan tenang itu.
"Di dunia, takaran adil berbeda nilainya dari sudut pandang setiap orang yang berkepentingan, tetapi untuk ibu Suri, atas kejahatannya terhadap negara maka Negara lah yang berhak meberi hukuman yang pantas. Hukum di buat dan berlaku untuk di taati, saat sesorang melanggarnya maka dia tentu tak bisa lepas dari ganjaran. Ketika kita melanggar hukum negara maka negaralah yang pantas menghukumnya. Tetapi sebagai anak, lakukanlah kewajibanmu sebagai anak, dengan tetap menghormatinya, bahkan sampai memakamkannya dengan benar."
"Bagaimana caranya aku melawan keputusan seisi istana dan hukum yang berlaku? Pengkhianat tetap tak boleh di makamkan dalam tanah istana."
Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, ya🙏......
...Kalian semua ter best pembaca kesayangan❤️...
__ADS_1