
Xue Xue melepas tangannya saat beberapa orang tabib tiba dengan tergesa.
"Nyonya selir, tolong beri kami ruang..." Tabib Shi, adalah tabib senior kerajaan. Lelaki tua ini di hormati sebagai tabib kerajaan tiga generasi.
Selir Huan melepaskan pelukannya tapi tidak beranjak, tiba-tiba teringat akan sebuah kenangan di gunung, bertahun-tahun yang lalu, salju lebat di lembah, sepasang hyena bulu salju berjalan di hutan, mereka menyeret seekor rusa muda yang telah mati karena terjebak salju hingga dengan mudah rusa itu mereka lumpuhkan.
Ketika mereka menghadap rusa itu, tiba-tiba tanpa di nyana, hyena betina itu menyerang sang jantan yang sedang hendak mengunyah, hingga hyena jantan itu ketakutan hingga mengkerut di sampingnya.
Saat sang betina kembali mengunyah, si hyena jantan berjalan maju, lalu dengan sembunyi-sembunyi mengigit daging rusa itu, sang hyena betina langsung menegakkan kepalanya, mulutnya menyeringai mengeluarkan suara intimidasi sambil mempertontonkan taring-taringnya, tubuh rampingnya melengkung penuh amarah lalu menyerang hyena jantan itu hingga berdarah.
Tak ada perlawanan, hanya hyena jantan itu mundur, menyelinap ke bawah pohon wutong tua dan memandang si betina dari kejauhan dalam keadaan terluka, mendengking-dengking, sinar matanya begitu sedih.
Seperti itulah sekarang dia melihat rupa Yang Mulia Nan Chen, di tikam oleh ratunya sendiri!
Seseorang datang menarik dirinya, namun ia berkeras tak mau pergi, kakinya seakan menumbuhkan akar di mana Yang Mulia Chen terbaring sekarat, bagaimanapun juga tak mau melangkah meninggalkan laki-laki tak berdaya ini, tak perduli di bawah tatapan nyalang penuh kebencian Ratu Lin Fangyin.
"Selir Huan, menyingkirlah!" Itu suara adik Yang Mulia, puteri Nan Luoxia.
Tiba-tiba selir Huan begitu ketakutan, pembuluh darahnya sedingin es, jari-jarinya mau tak mau gemetar, kaku seperti batu.
"Aku mau di sini." Ucapnya setengah menangis, ia tak mau keluar, darah itu seakan menusuk sampai ke dalam matanya, ia takut kalau ia keluar, setelah itu ia tak akan dapat masuk lagi.
__ADS_1
Semakin lama, semakin banyak orang yang berkumpul, mengerumuni raja.
"Tangkap dia! Bawa dia ke penjara bawah tanah paling gelap! Dia telah berusaha membunuh raja!" Teriakan itu jelas Suara Nan Luoxia, selir Huan baru kali ini mendengar gadis muda yang tak banyak bicara itu berteriak keras dengan suara tegas.
Dalam gaunnya yang hijau pupus itu, tangan adik raja yang biasanya anggun itu terlihat garang, matanya merah, dia merangsek ke arah Lin Fangyin yang di tawan dua orang pengawal raja. Dan di kerumuni pengawal lainnya hampir selusin jumlahnya.
Seorang pengawal berteriak menyambut, semakin lama, semakin banyak orang istana berlari ke arah ratu Lin Fangyin, dengan tegang ratu itu mundur, rambutnya basah oleh keringat sendiri, rupanya tak lagi anggun seoerti biasanya. Terlihat begitu menyedihkan
"Lepaskan dia..."
Sebuah suara yang berat tiba-tiba terdengar, begitu serak, bagai angin yang bertiup lewat atap yang sudah rusak, Yang Mulia Nan Chen setengah bangkit, dadanya bersimbah darah, jari-jarinya pucat, menunjuk ke arah Ratu Lin Fangyin.
Xue Xue dan selir Huan tercengang seperti halnya semua orang lain yang berada di dalam aula itu.
"Lepaskan dia, kalian tak boleh sembarangan padanyah..." Suara itu mengap-mengap terdengar dari mulutnya yang seakan kehilangan banyak tenaga.
"Dia adalah ratu negeri ini..."
Semua terpana mendengar kalimat yang tak di sangka-sangka itu, terlebih Xue Xue yang tahu benar bagaimana perasaan kakaknya bertahun-tahun pada ratunya ini.
Yang paling terkejut di antara semua orang tentu saja Ratu Lin Fangyin sendiri, dia tak pernah menyangka kenapa Yang Mulia bersikap begitu padanya, yang telah menikamnya dengan tanpa ampun.
__ADS_1
Yang Mulia Nan Chen Hendak melangkah tetapi dia kembali sempoyongan.
"Yang Mulia! Yang Mulia, Tolonglah... anda tak bisa bergerak dengan sembarangan!"
"Kakak, jangan bergerak lagi!"
Teriakan-teriakan terdengar secara beruntun, sosok tinggi tampan dengan tubuh yang terlihat kurus dari biasanya itu ambruk di atas lantai pualam aulanya yang dingin, darah menyembur dari mulutnya, bagai sutra berwarna-warni cemerlang yang dirobek.
"Yang Mulia...!!!" Pekikan itu memenuhi ruangan menguap hingga atal kemudian perasaan aneh itu merayap, Ratu Lin Fangyin yang tertawan terperanjat menatap Yang Mulia Nan Chen, dia seakan terjatuh ke dalam kolam es, sebuah sensasi dingin yang begitu kuat merayap naik dari punggungnya,p sinar mentari terhalang di luar, sinarnya menembus kertas pelapis jendela, tersaring menjadi bayangan-bayangan yang berbintik-bintik, dia juga merasa kesadaran makin tipis.
Ratu Lin Fanyin hanya bisa berdiri di luar kerumunan orang dengan tangan yang teroasung genggama beberapa pengawal, tanpa rasa hormat memperlakukan ya.
"Yang Mulia..." Lin Fangyin tanpa sadar berucap, rahangnya mengeras seperti batu.
Dia berjingkit dengan gugup tetaph tak bisa melihat raut wajahnya, wajah lelaki yang di tikamnya di siang bolong ini, hanya ada sebuah tangan yang pucat pasi menjuntai dari balik selimut, amat putih, sama sekali tak berwarna.
"Angkat Yang Mulia ke tandu! Bawa dia ke kamarnya!!!" Itu perintah Xue Xue, dia sudah tak lagi perduli pada Ratu Lin Fangyin, Kecuali memastikan kakaknya itu segera di obati.
"Jebloskan dia ke penjara paling bawah!" Xue Xue menunjuk wajah ratu Lin Fangyin tanpa gentar.
"Aku yang bertanggung jawab atas perintah ini." Lanjutnya tegas saat melihat para pengawal yang meragu.
__ADS_1
" Bukankah hukuman yang setimpal bagi membunuh raja, di kurung dalam ruang terdalam ruqng bawah tanqh itupun jika dia beruntung, berdoalah supaya aku tak mememenggal kepalamu!" Tatapan Xue Xue penuh amarah, menuding pada Ratu Lin Fangyin sebelum setengah berlari dia mengikuti tandu yang membawa raja keluar dari aula itu.