CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 41. Pesta di Aula Wanxiang


__ADS_3

ISTANA NAN


Malam yang turun di atas istana Nan sementara pesta di luar istana belum selesai, rakyat merayakan dengan cara sendiri dan istana Nan yang megahpun mempunyai pesta sendiri, perjamuan di dalam istana baru dimulai dengan penuh kemewahan.


Walaupun di Niangxi selalu hangat, tapi musim dingin masih menyisakan hawanya , mau tak mau masih ada sedikit rasa dingin ketika angin malam bertiup.


Samar-samar udara dingin masih terasa, merayap naik dari kaki, tadi di ujung senja senpat turun hujan rintik-rintik di atas istana, baru berhenti menjelang remang, cuaca tak begitu hangat.


Namun di aula Wanxiang para selir yang berpakaian mewah penuh warna warni mengkilat dan rambutnya yang di gelung tinggi dengan aksesoris yang berjuntai masih dengan wajah bersemangat memperlihatkan dada mereka yang padat sintal, mata mereka yang dirias tajam di buat-buat supaya menggoda.


Suara cekikikan terdengar sekali-kali, Mereka duduk menghadap meja masing-masing dengan makanan dan arak melimpah tersaji.


Di depan Yang Mulia Nan Chen menghadap meja yang lebih besar, jubahnya yang berwarna ungu muda itu dari sutra terbaik, bersulam benang emas. Dia terlihat gagah dan menawan.


Terkadang ada selir yang berani melangkah ke depan untuk bersulang, mencari perhatian Yang Mulia Nan dengan sikap genit, lalu bertingkah seperti tak di sengaja ia akan menunjukkan kaki yang mulus dan indah dari balik gaunnya.


Pesta di aula Wanxiang memang khusus di adakan oleh raja bersama para istrinya. Semua selir di undang dalam pesta ini. Salah satu acara yang ditunggu para selir setiap tahunnya, berharap di malam yang penuh harapan itu, Yang Mulia Nan memilih mereka untuk menghabiskan malam. Sesuatu yang spesial jika seorang raja menidurinya di malam perayaan musim semi. Konon benih yang di tanam akan menjanjikan kemuliaan san kebesaran. Siapa yang tak ingin melahirkan seorang pangeran yang kelak menjadi penting di Niangxi?


Yang Mulia Nan Chen, usianya baru sekitar pertengahan tigapuluhan. Masih terbilang muda. Tetapi dia sudah mempunyai 77 orang selir.

__ADS_1


Permaisurinya Lin Fangyin adalah puteri Jenderal Lin Qin, sahabat raja terdahulu. Yang Mulia Nan Chen di jodohkan dengan Permaisuri Lin Fangyin sayangnya meski sudah menikah hampir sepuluh tahun tetapi belum mempunyai anak. Raja Nan Chen hanya memiliki anak dari beberapa selirnya, itu yang membuat Permaisuri Fangyin menjadi sangat kejam dan dingin. Hal ini membuatnya menjadi permaisuri yang pencemburu.


Malam ini Lin Fangyin tidak menghadiri pesta di aula Wanxiang, seperti biasa dia tak menyukai melihat Yang Mulia Nan Chen, suaminya bermesraan dengan para selir yang menurutnya begitu genit dan memuakkan.


Yang Mulia Nan Chen sudah minum banyak arak, sambil memicingkan mata, ia bersandar di kursi empuk, dia begitu menikmati para musisi yang memetik dan meniup alat musik, seorang penyanyi dalam pakaian satin mengkilat menyanyikan sebuah lagu, melodi mewah yang sehalus sutra berkumandang seiring angin malam yang dingin.


Di tengah ruangan, para penari cantik dengan pinggang-pinggang yang meliuk-liuk bagai ular air menari dengan lincah di depan mata.


"Yang Mulia, mari bersulang..." Selir Jiao dengan perlahan maju ke depan berusaha mencuri perhatian Yang Mulia Nan. Pinggulnya di goyangnya dengan genit sambil membawa gelas araknya.


Yang Mulia Nan tampak tak menggubris sehingga Selir Jiao terpaksa mundur sambil menerima cekikikan mencemooh dari selir lain yang puas melihat raut malu yang terpampang di permukaan wajah selir Jiao.


"Aish...kamu nakal sekali." Yang Mulia Nan meraih dagu gadis penari itu dengan gemas.


"Yang Mulia sangat gagah..." Suaranya mendes@h setengah merayu, sudut-sudut matanya agak terangkat, garis-garis awan yang melingkar-lingkar digambar dengan bedak emas seiring dengan sudut-sudut matanya, bibirnya ranum, lehernya jenjang, buah dadanya yang bulat dibalut oleh kain yang amat tipis nyaris transparan, sehingga kulit yang halus dan putih di dalamnya dapat terlihat.


"Akh...kemarilah." Yang Mulia Nan Chen meraih pinggang gadis itu, sang gadis penari menuang secawan anggur bagus yang indah warnanya, lengannya yang seputih salju terangkat tinggi-tinggi, setelah itu pergelangan tangannya berbalik, anggur pun tiba-tiba tercurah, meluncur ke bawah melewati lehernya yang bagai angsa, lalu mengalir diantara kedua bukit seputih salju itu.


"Yang Mulia, apakah anda sudah mabuk?"

__ADS_1


Benar-benar seorang wanita cantik yang langka, bibirnya yang merah menyala basah itu dengan perlahan terbuka, suaranya lembut dan manja bahu mulusnya yang polos terbuka, sang penari yang lembut bagai tak bertulang mengosok-gosok dada Yang Mulia Nan dengan pelan dengan jemari-jemari lentiknya, meluncur keluar dari bajunya yang agak terbuka, sebuah tangan yang putih bersih bergerak ke bawah, namun pada saat yang menentukan, berhenti, sudut-sudut matanya terangkat, dengan lirikan menggoda memandangnya, seakan meminta Yang Mulia Nan Chen menyentuhnya.


Gadis ini adalah Nona Huan, gadis penari yang belakangan ini selalu di panggil Yang Mulia Nan Chen ke istana.


Para selir menatap ke arah kursi raja dengan senyum kesal. Mereka tak kurang cantik tetapi Yang Mulia bahkan jarang mengunjungi kediaman mereka. Dalam berbulan-bulan mungkin suatu kebetuntungan Yang Mulia Nan bersedia menginap di kamar mereka.


Para istri raja itu tahu, Raja Nan Chen sangat jarang menyukai seorang wanita selama lebih dari sebulan, jadi mereka hanya menunggu raja Nan bosan dengan gadis ini. Seperti mainan baru, jika habis rasa penasarannya tentu saja akan di buang.



Mata Yang Mulia Nan yang agak mabuk memandang ke bawah dengan tatapan yang hambar sejenak pandangannya berkilat seperti memikirkan sesuatu.


"Aku tidak mabuk." Jawabnya sedikit gusar, ia mengenakan jubah brokat berwarna biru dan ungu pucat yang indah, bagian dadanya terbuka, memperlihatkan sebuah belahan yang berkelok-kelok, tubuh kuat dan mempesona lelaki itu di bawah cahaya lentera yang membingungkan nampak sangat menggoda, setiap perempuan menjadi berkhayal untuk berbaring di atas bantalan perutnya yang seperti lembah itu.


Yang Mulia Nan Chen memang tampan dan punya kharisma tersendiri, ia mempunyai kebiasaan memicingkan sepasang matanya, dahinya agak berkerut seakan sedang merenung, cahaya yang bergerak-gerak dengan tenang memancar di kedalaman biji matanya yang kecoklatan seperti warna daun tua di musim gugur, tatapannya yang lekat itu laksana seekor serigala yang sedang berpikir keras.


Beberapa penari muda di aula itu masih dengan bersemangat menari mengikuti irama musik dari kecapi dan tetabuhan, mereka berputar-putar menarikan tarian selendang, sedikit berani dan menantang, tubuh mereka hanya memakai secarik kain tipis, bagian-bagian pribadi tubuh mereka hanya sedikit tersembunyi, dada dan pinggul mereka dengan lincah bergoyang-goyang, keringat mereka yang mengkilat bercucuran, memantul cahaya basah tetapi membuat laki-laki yang melihatnya seakan ingin *****@* mereka hidup-hidup.


...Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, ya🙏...

__ADS_1


 


__ADS_2