CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 42. Kesepian Dalam Keramaian


__ADS_3

"Yang Mulia, anda sudah sepekan tidak memanggil hamba, apakah anda begitu cepat melupakan hamba?" Tanya nona Huan dengan manja.


Yang Mulia Nan hanya meringis sambil mendengus-dengus di leher jenhang nona Huan yang seperti angsa itu.


Nona Huan dengan lembut bersandar ke depan dia begitu percaya diri meskipun berpuluh pasang mata para selir seakan ingin mengupas dirinya hidup-hidup, terlebih selir Jiao. Rasa bencinya begitu pekat pada penari yang pintar mencuri hati Yang Mulia ini.


"Malam ini kamu boleh datang ke kamarku." Yang Mulia mengusap tengkuk Nona Huan.


Seketika mata cantiknya mengerjap riang, kelopak matanya bagai air, dengan lembut memandang Yang Mulia Nan Chen bagai seorang wanita penggoda.


"Yang Mulia..." Dengan manja Nona Huan menempelkan dada kenyalnya ketubuh Yang Mulia Nan.


Mata Yang Mulia merah seperti kelopak houyun, menandakan dia sudah mabuk, bahkan kaki dan tangannya sepertinya juga sudah tak terkendali lagi, namun di kepalanya selalu ada suatu kewarasan. Dia bisa bersikap normal meski beragam arak dan anggur keras melewati kerongkongannya.


Sejenak musik yang menggema dalam aula Wanxiang seolah hanya mengiringi dua orang yang berpangku-pangkuan saling memagut di atas kursi kehormatan itu.


Nona Huan bertingkah pongah, meski dia hanya seorang penari tetapi dia merasa berada di atas angin. Bagaimana tidak? Tidak semua selir bisa berada di posisinya sekarang.


Pandangan iri, dengki, muak dan jijik para istri Yang Mulia raja ini di nikmati dengan senang hati.


"Yang Mulia lebih menyukai bunga liar yang berlumpur dan murni dari pada bunga dalam vas cantik yang munafik." Itu yang di tanamkannya dalam kepalanya. Karena itu sekuat tenaga dia belajar menari, belajar tari pisau yang sulit itu bahkan dia mempelajari semua jenis seni supaya bisa memasuki istana.


Ada banyak hutang istana Nan untuknya dan keluarganya yang tak diketahui orang banyak sehingga dia rela kehilangan masa kecilnya untuk terus belajar sekuat dirinya.


Hidup sebatang kara tanpa ada yang tahu asal usulnya membuat Nona Huan begitu mandiri dan berani.


"Shhhh..." Suara desisan Nona Huan, gadis yang bahkan mungkin belum genap tujuh belas itu terdengar matang dan menggairahkan.


Kuku berwarna merah menyala wanita itu merayap naik dari perut Yang Mulia Nan, terus merayap naik dengan berkelok-kelok, lalu memijat dahinya dengan lembut, napas yang bagai bunga anggrek mengelus telinganya, dengan nada yang panjang dan lembut ia pun berkata,


"Yang Mulia kenapa rautmu menjadi keruh? Apakah ada yang bisa kulakukan untuk menyenangkan Yang Mulia, aku bersedia merangkak di kakimu dan menciuminya sepanjang malam, jika itu bisa membuat Yang Mulia tersenyum"


Sudut-sudut bibir tipis Yang Mulia Nan Chen terangkat, ia tersenyum hambar, tangan kirinya merangkul pinggang Nona Huan yang langsing, jari-jemarinya membelai kulitnya yang sehalus satin, lalu sambil tertawa pelan ia berkata,

__ADS_1


"Kau benar-benar rubah kecil ini yang menggemaskan".


"Aku tahu sekeruh apapun suasana hati yang mulia, Yang Mulia tak akan begitu kejam membiarkan Huan'er kedinginan seorang diri malam ini?"


Yang Mulia Nan Chen nampak tertegun, tatapan mengambang sejenak. Sebuah sosok perlahan-lahan muncul dalam benaknya, dengan kesal ia mengerutkan keningnya, tak nyana suasana hatinya bahkan bisa di tebak oleh si rubah kecil Huan'er ini.


Sebuah wajah dingin yang tanpa ekspresi berkelebat di depan matanya.


Wajah tanpa senyum sedikitpun itu berbeda dengan puluhan tahun yang lewat saat masa kecil mereka berdua terlewati dengan sangat menyenangkan.


Menyelinap lewat tembok halaman belakang istana, memancing ikan mas di kolam dapur istana bahkan kadang mencuri makanan dari dapur koki yang galak itu.


Kenangan itu membuat tulangnya terasa nyeri.


"....." Suara itu terdengar parau dan tak jelas, tetapi Nona Huan bisa menangkap sebuah nama di sebutkan Yang Mulia Nan Chen meski samar dengan kedua telinganya yang jeli namun dia bersikap seolah-olah tak mendengarnya.


Perempuan muda ini tahu bagaimana cara tidak menyinggung perasaan Yang Mulia Nan, dengan begitu posisinya aman sampai setengah musim ini.


Yang Mulia Nan berpaling dan melihat ke arah wajah Nona Huan yang jelita, sebuah rasa bingung muncul dalam lubuk hatinya, ia seakan tak bisa menekan segalanya lagi, seperti suatu rasa pahit, dan juga seperti suatu rasa haus, dalam hatinya tak ada lagi kegembiraan, kemarahan dan kepuasan, ia hanya tertawa dengan jahat, lalu kembali bertingkah seperti biasa, sambil tertawa pelan ia berkata,


"Yang Mulia, Huan'er tersanjung..." Dia menggeliat di pangkuan Yang Mulia Nan Chen, menyusupkan jemarinya di antara dada bidang yang berbau harum itu.


"Ampuni Hamba, Yang Mulia..."


Seorang kasim yang berbadan kurus dengan mimik serius, mendekat sambil berjalan membungkuk, suaranya jelas dan tenang, menandakan dia sama sekali tidak ragu menganggu pesta Yang Mulia Nan Chen.


Yang Mulia Nan Chen mengangkat kepalanya, dan melihat ke arah kasim Song, kasim pribadinya sekaligus orang kepercayaannya. Kasim Song tetap menunduk.


"Ada apa?" Tanya Yang Mulia Nan sedikit tak senang, kedatangan Kasim Song memang sedikit mengganggunya.


Yang Mulia Nan Chen paling tidak suka ada orang yang menganggu kesenangannya.


Tangannya terangkat, naik sedikit. Tetapi gerakan itu seketika menghentikan musik yang sedari tadi riuh menggema, gerakan para penaripun terhenti bahkan desah nafas orang-orang yang berada dalam ruangan itu seakan tertahan sejenak.

__ADS_1


Tanpa memperdulikan ekspresi wanita-wanita yang hadir di dalam aula itu. Kasim Song tetap berlutut di lantai.


"Yang Mulia, Nona Luoxia sudah pulang." Ucapnya, tak keras tapi membuat pias wajah Yang Mulia mengeras.


Dia tertegun, raut wajahnya tak berubah, namun arak bagus dalam cawannya bergoyang-goyang pelan, hampir tumpah.



Sosok Yang Mulia Nan Chen memang tinggi dan gagah rambutnya yang kelabu itu seperti tak nyata, ketika dia berdiri di bawah cahaya lentera yang terang benderang, ia terlihat seperti malaikat yang tampan.


"Kapan ia kembali?"


"Baru saja".


"Dia tak datang sendiri bukan?"


"Dia kembali bersama Nona Yuyin"


"Sekarang di mana ia berada?"


"Sudah kembali ke Istana Xue.".


"Pergilah".


Yang Mulia bangkit dan hendak beranjak pergi. Nona Huan di dorongnya dengan acuh tak acuh dari pangkuannya.


Kasim Song lalu cepat-cepat bertanya, "Yang Mulia hendak pergi ke mana?"


"Istana Xue".


Dari kejauhan, suara Yang Mulia Nan Chen melayang-layang di tengah malam yang yang penuh aroma anggur, daging terbaik, bau harum bunga dan segala kemewahan.


Kasim Song tergopoh mengikuti dari belakang, segera membawa para pengawal mengikutinya.

__ADS_1


Bahkan saat mendengar kedatangannya Yang Mulia rela meninggalkan pestanya!


...Terimakasih sudah membaca CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN, jangan lupa Vote dan dukungannya, ya🙏...


__ADS_2