
Zhao Juren meringis sebelum arak keras yang pedas meluncur di tenggorokannya, bagai arang yang panas membara, seberkas angin berat bertiup ke dalam aula yang luas itu, tirai yang berat dengan perlahan berayun-ayun, bagai lengan baju lebar penari wanita di aula istana, berirama dan menyentuh hati.
Pandangan mata Zhao Juren sedikit kosong, raut wajahnya tampan, namun agak sedih, pipinya tirus, matanya seakan berkabut tebal, di bawah cahaya lilin yang remang-remang, helai-helai rambutnya berkilauan,
Di reguknya arak beras yang panas itu seakan ingin menenggelam rasa mulas karena kesedihan yang ada di dalam perutnya.
"Ibu, entahlah. Kenapa langit begitu tak ingin kita berdua terhubung takdir di dunia ini, bahkan kematianpun memperdaya kita. Kau memilih mati mungkin karena mendengar bahwa aku tak lagi ada di dunia, sayangnya saat kamu berusaha menyusulku kematian mengkhianatiku. Karma apakah yang telah kita perbuat dikehidupan sebelumnya sehingga tak ada jalan untuk kita bisa bertemu dengan baik-baik." Zhao Juren memasukkan tangannya ke dalam peti dan memegang jemari ibunya yang sedingin es itu.
Di selipkannya sebuah buyao dari emas yang berukir bunga rumput kecil-kecil.
"Aku mengambil buyao ini dari kamar ibu dulu kala, saat ibu masih menjadi ibu suri. Aku berfikir barang ini sungguh berharga sehingga ibu menyimpannya dengan hati-hati di kotak perhiasan ibu. Bahkan aku berencana memberikannya pada perempuan yang ku jadikan istri nanti." Zhao Juren menyeringai lebar, matanya mendadak berembun.
"Maafkan kebodohanku yang mencuri ini dari ibu, sekarang aku mengembalikannya. Mungkin saja, ini adalah pemberian seseorang yang ibu rindukan." Zhao Juren mengepalkan jemari kaku samg ibu tetapi jemari itu tak bergeming.
"Mari berjanji, ibu. Saat kita bertemu di kehidupan lain, jangan hanya menjadikan aku tamu dalam rahimmu. Jadikan aku anakmu. Meski mungkin kita hidup sebagai burung, sebagai rumput ataupun batu, aku hanya ingin menjadi anakmu sekali lagi dan hidup di cinta olehmu." Di dalam hatinya yang bagai air tergenang, sekonyong-konyong muncul kalimat-kalimat rindu itu, bagai sebongkah batu, dengan pelan memecahkan permukaan danau yang tenang.
“Jangan menipuku lagi, ibu. Aku tak bisa berjanji bisa menjalaninya jika ibu menipuku lagi di kehidupan yang lain”.
Zhao Juren menengadah, memandangi lukisan Ibu Suri Zhao Li Sui di panggung tempat menaruh peti mati, wajah sang ibu menghadap ke arahnya, seakan hidup, dirinya memandang orang yang paling di seganinya di masa kanak-kanak itu dan berkata dengan bibir gemetar, tak berekspresi, “Di kesembilan penjuru Yanzhie, semua tempat penuh darah dan bunga es dingin, ibu, kau hanya menguasai sebagian negeri ini yang kau bayangkan adalah tempat yang bisa kau wariskan padaku. apakah kau tahu bahwa ini adalah cara berpikir yang sangat naïf? Aku sama sekali tak menginginkan negara sebesar ini. Aku hanya menginginkan ibu yang mencintaiku."
__ADS_1
Zhao Juren menengak secawan arak beras lagi , lalu menuang secawan arak lagi dan menuangkannya di lantai, dengan perlahan ia berkata, “Ibu, aku tak boleh menjadi seperti engkau”.
Dia bangun dengan gontai lalu menutup perlahan peti batu berat itu.
"Aku telah melihatmu, aku telah melihat semua yang ingin ku lihat. Pergilah ibu, kemana saja kamu mau, aku tak akan mempermasalahkannya lagi. Aku tak akan menahanmu. Aku bukan siapa-siapa yang bisa membuatmu tinggal sementara aku membuktikan bahwa aku juga bisa menjadi anak yang kau banggakan." Satu titik bulir bening jatuh lewat sudut matanya yang tajam itu. Dia tak ingin menangis, tetapi kadangkala air mata akan jatuh tanpa di minta.
"Pergi saja, pergilah sesukamu ibu, bersama angin, bersama salju, bersama apapun yang menyenangkanmu, sampai kita bertemu di kehidupan berikutnya, aku menunggu kamu memanggilku dengan panggilan, anakku. Memamggilku dengan sayang dan penuh rindu."
Zhao Juren bangkit, berbalik dan pergi, ujung jubahnya menyapu debu yang amat halus di aula itu, setiap langkahnya begitu kokoh, kuat dan bersemangat, tenang dan berkepala dingin, sinar lilin menyinari punggungnya, yang lebar menimbulkan bayangan yang amat panjang di lantai.
Di belakang tubuhnya, berdiri berjejer papan-papan arwah keluarga Bangsawan Zhao yang dulu di panggilnya kakek, nenek, paman dan bibi, dan papan-papan arwah dari generasi sebelumnya, leluhur Zhao. Dia hanya membungkuk sesaat, lalu melanjutkan langkahnya.
Sepasang mata Li Jin, memandanginya dengan diam dari balik cahaya lilin, memandangi Zhao Juren yang melangkah keluar dari aula sambil melemparkan cawan arak di tangannya ke dalam kegelapan yang menyambutnya.
Dia harus menguak misteri di kota tua yang menjadi sengketa dua kerajaan itu sebelum dia kembali ke Niangxi untuk menemui Xue Xue, setidaknya dia minta maaf karena telah meninggalkan perempuan itu dengan tanpa pamit.
"Tuan akan kemana?" tanya Li Jin sambil mengikuti langkah Zhao Juren yang panjang, lewat pintu belakang aula, menjauhi lingkungan istana bangsawan Zhao.
"Li Jin, apakah ada orang yang mengganti posisiku sekarang?" Tanya Zhao Juren tanpa menjawab pertanyaan Li Jin padanya.
__ADS_1
"Maksud tuan?"
"Siapa jenderal perang Yanzhie yang menggantikan aku?"
"Tidak ada, tuan."
"Tidak ada? Bagaimana bisa? bukankah pasukan militer harus ada pemimpinnya?" Zhao Juren menghentikan langkahnya, dahinya berkerut tajam.
"Yang Mulia Yan Yue tak menunjuk siapapun sampai sekarang untuk menggantikanmu, bahkan tiga wakil perangmu tak di rekomendasikannya untuk menjadi jenderal yang baru. Dewan telah mengusulkan beberapa nama yang berpotensi, tetapi Yang Mulia tidak memberikan persetujuan." Jawab Li Jin panjang dan lebar.
"Kenapa?"
"Karena, Yang Mulia Yan Yue mengajukan untuk mengambil alih semua pasukan YU di bawah kepimpinan komandan lapangan Jian Jie."
"Apa maksudnya? Kenapa Yang Mulia mengambil alih langsung? Dia seorang raja..." Zhao Juren terpekur seperti sedang berfikir.
"Yang Mulia Yan Yue telah mengumumkan akan turun langsung ke medan perang untuk memperebutkan kota tua Yichen dan mengusir pasukan Niang dari perbatasan Yanshan. Dia akan turun sendiri memimpin pasukanmu!"
Zhao Juren terkesiap mendengar perkataan Li Jin. Seorang raja tidak harus turun sendiri berperang karena itu sangat berbahaya.
__ADS_1
Hai pembaca kesayangan Cinta terakhir Zhao Juren, mari di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...🙏🙏🙏💜.