CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN

CINTA TERAKHIR ZHAO JUREN
BAB 93. KUIL YICHEN


__ADS_3

"Aku tahu, Yang Mulia ratu. Aku tahu, bahkan seorang selir harus membayarnya dengan mahal untuk kebencian Yang Mulia Ratu." Sambut Selir Huan dengan tanpa ekspresi, tak ada rasa takut di wajahnya yang cantik itu.


Mata Ratu Lin Fangyin membeliak, penuh dengan murka. Perlahan dia mendekat, gaun ratunya yang biru gelap itu bergesekan di atas lantai seperti gelombang dan saat sampai di depan selir Huan, telunjuknya teracung di depan bibirnya yang semerah bunga houyun.


"Dengarkan aku baik-baik, Selir Huan. Aku tak suka mengulang kata-kataku." Kini Lin Fangyin tak perduli jika dirinya nyaris tak menunjukkan kewibawaan seorang ratu.


"Aku tak suka berbicara di belakang soal orang lain, selir Huan. Aku juga tak pernah mengatakan soal rumor itu sebagai kebenaran, tetapi aku hanya ingin kamu tahu, rumor tak selalu tidak benar. Jadi, bijaksanalah!" Suaranya serupa bisikan terdengar serak, membuat orang yang mendengarnya bergidik.


Tubuh rampingnya yang semula mencondong itu tertarik kembali. menjadi tegak, matanya bersinar sedingin batu es.


"Jika ingin tetap berada di dalam istana ini, kembalilah ke tempatmu, aula harem, jauhilah Yang Mulia. Janganlah berusaha mencari muka, sebelum kamu menyesal." Dengan raut yang sinis, Lin Fangyin meninggalkan Selir Huan, dia gemetar sendiri setelahnya.


Wajah ratu Lin Fangyin tak pernah di lihatnya sejahat itu. Matanya membara tetapi gelap dan dingin!


...***...


Di sebuah aula pemujaan Buddha asap dupa cendana membumbung, di balik asapnya yang berpusar-pusar, Zhao Juren memandang patung Buddha yang khidmat, dia tiba-tiba teringat akan ibu suri Zhao Li Sui yang telah berada di sampingnya hampir di semua usianya, meski dia hanya mengenalnya sebagai bibi bukan seorang ibu.

__ADS_1


Langit menuliskan takdir yang kejam padanya, seorang ibu yang menyembunyikannya dari mata dunia dan kemudian nyaris mengambil nyawanya dengan tangan yang pernah menyuapinya di masa kecil itu.


Saat itu, dia hanyalah seorang anak bangsawan Zhao yang suka berbuat onar, tak banyak cinta yang di dapatkannya dan sekarang, di akhir hidupnya sebelum kembali langit mempermainkan hidupnya, ia sudah menjadi panglima perang yang menentukan hidup mati orang dan dapat menghimpun pasukan sambil mengobrol dan tertawa.


Tak ada yang tahu perjalanan hidup membawanya ke kuil tua yang terlarang di masuki oleh setiap orang yang mengenakan seragam perang ataupun pakaian warna warni mentereng. Kuil ini hanya boleh di masuki oleh peziarah yang mencari ketenangan diri.


Angin musim dingin dingin, ia mengenakan baju Ziarah tipis, tanpa mantel bulu berujung perak yang biasa di gunakannya mengusir udara dingin.


Beberapa hari yang lewat, Xue Xue telah bersepakat dengannya, dia akan masuk ke dalam kuil tua Yichen dan menemui rahib Hexiao, seorang rahib tua yang menurut cerita berumur lebih dari satu abad, tinggal di dalam kuil tanpa pernah keluar sudah lebih dari 40 tahun.


Ada satu rahasia yang di ketahui oleh rahib itu, mengenai dua negara yang selalu memperebutkan kota tua itu. Xue Xue mendapatkan informasi itu dari Jendera Qin sebelum dia meninggal. Sebuah rahasia yang membuat negara itu mungkin terpecah untuk selamanya, ataukah malah bersatu, tak ada yang tahu.


Gadis itu mengulurkan sebuah sebuah gelang giok dengan ornamen naga dua kepala tanpa ekor, membuat lingkaran di mana kepalanya bertemu dan sama-sama menggigit sebuah bola dari mutiara.


"Berikan ini padanya, dia akan mengenal barang ini dan tahu apa yang di lakukan. Waktunya sudah tiba..." Kalimat itu di ucapkan Xue Xue dengan misterius.


"Aku harus mencapai kota raja dalam beberapa hari ke depan, kakakku mungkin dalam bahaya. Aku harus menemuinya." Gadis muda itu berubah.

__ADS_1


"Tuan..." Bikshu muda dengan raut ramah itu mendekatinya.


"Tuan sudah setengah hari duduk di ruang pemujaan ini, sebagai peziarah baru kali ini ada yang berlaku demikian lama." Bikshu muda itu berucap dengan senyum halus.


"Oh, mungkin aku terlalu khusuk." Zhao Juren mendonggak sesaat pada Bikshu itu. Dia sedang bingung menunggu, apakah mungkin bertemu rahib Hexiao di tempat ini.


"Bikshu, ijinkan aku untuk tinggal sebentar lagi." Zhao Juren membungkuk. Berusaha mencari jalan supaya bisa mengetahui keberadaan orang yang dia cari.


Orang yang bahkan tak ada yang tahu, hidup atau tidak sekarang.


Sesaat, matanya tertuju pada Li Jin yang duduk dengan wajah lelah bersandar di dinding, menunggunya dengan setia.


Bikshu muda itu terlihat ragu sejenak sebelum kemudian dia mundur dengan langkah teratur dan pada saat berikutnya seorang laki-laki muda dengan pakaian ziarah kuning usang, rambutnya tergerai begitu saja nyaris menutupi sebagian wajahya, masuk dengan permukaan muka sembab. Dia terlihat begitu compang camping, di tuntun oleh seorang bikshu.


"Oh, Budha...tolonglah aku, bagaimana aku bisa hidup, ayahku di jarah, ibuku menjadi gila karena merindukan ayah. Kemanakah aku mencari ketenangan selain kepadamu." Tangisannya pecah setengah meraung kemudian terduduk di di samping Zhao Juren dengan begitu putus asa. Kepalanya di turunkannya sampai lantai, berkali-kali.


Zhao Juren terpana, suara itu sangat di kenalnya. Dia tahu benar, pernah begitu akrab dan kadang membuatnya kesal. Kepalanya segera terpaling menatap pada pemuda lusuh di sampingnya itu, meneliti dengan tak yakin,

__ADS_1


"Changyi?"



__ADS_2