
Xue Xue menarik tangan Zhao Juren menuju gerbang istana Xue, di sana telah menunggu Bai Yueyin dengan raut muka masam dan cemas.
"Aku menunggumu dari tadi, nona Xue eh Tusn puteri Nan Luoxia." Ucapnya dengan pias lega, matanya melirik pada Zhao Juren yang menundukkan kepalanya di belakang punggung Xue Xue, menghindari kontak mata dengan lelaki itu.
Bai Yueyin sudah menyangka jika Xue Xue kabur dari pertengahan pesta perjamuan harem itu karena orang ini, laki-laki yang mati-matian di rawat Xue Xue usai darinmedan perang tanpa alasan yang jelas.
Bai Yueyin tentunya bukan orang yang bodoh dengan sekali lihat saja pun dia tahu jika pelayan tinggi itu adalah Zhao Juren tetapi karena Xue Xue yang memintanya untuk berpura-pur tidak mengenalnya, Yueyin menurutinya. Sebagai ketua pasukan bidadari, dia punya mata setajam elang.
Tapi saat dia melihat Xue Xue menggandengnya dengan tergesa di tengah malam buta begini menuju kamarnya, dia tentu saja tak bisa membiarkannya karena dia tahu kalau pelayan ini adalah seorang laki-laki.
"Tuan puteri, ini bukan istana Tianshi..." Ucapnya setelah mereka melewati penjaga gerbang dan dayang yang mengurus kamar Xue Xue terlihat membungkuk dan berlalu.
"Aku tahu." Xue Xue menghentikan langkahnya dan melepas tangan Zhao Juren.
"Kalau begitu biarkan pelayan ini kembali ke aula pelayan. Kalau perlu aku yang akan mengantarnya supaya tidak tersesat."
"Tapi aku ingin membawanya sebentar ke dalam."
"Tuan Puteri?"
Xue Xue menatap bai Yueyin dengan tatapan tanpa dosa, seolah hal yang ingin di lakukannya itu tanpa resiko sama sekali.
"Sebentar saja, Yueyin. Kamu tidak usah berfikir macam-macam, ini tak akan lama."
"Kalau Yang Mulia tahu..."
"Yang Mulia tak akan tahu jika kamu tutup mulut." Xue Xue meletakkan telunjuknya di bibir sambil mengedipkan mata.
Yueyin heran dengan semangat gadis ini, bahkan wajahnya terlihat segar tanpa kantuk dan lelah sedikitpun setelah menyelinap keluar begitu lama.
"Tuan puteri mau apa? Aku tidak ingin menjadi masalah jika tuan puteri semakin tak terkendali. Ingatlah, ini lingkungan istana Nan, bukan istana Tianshi."
__ADS_1
"Yueyin, jagalah di pintu sebentar ini tak akan memakan waktu lama."
"Tuan pu..."
Belum sempat Yueyin melanjutkan ucapannya, Xue Xue menerobos masuk sambil mearik lengan Zhao Juren.
"Tuan Puteri!"
BRAK!!!
Pintu ruangan utama istana Xue Xue di tutup tepat di depan hidung Bai Yueyin yang belum sempat melakukan pencegahan sama sekali, dia lengah mendebat Xue Xue sehingga dia kalah cepat dengan gadis itu.
Dari belakang semak bunga yang rimbun sepasang mata menatap kejadian itu dengan mata nanar, kedua tangannya terkepal. Pria tampan itu telah berdiri sejak lama di sana, bahkan mungkin dari waktu pesta tadi belum benar-benar berakhir. Dia menunggu sekian lama, untuk mesmastikan Xue Xue memang seperti biasa berkeliaran sesukanya.
Selama Bai Yueyin berada di depan teras istana Xue Xue dengan tatapan gelisah membelah malam, dia tahu bahwa Xue Xue tidak berada di dalam kediamannya. Dia telah menunggu tak beranjak dari tempatnya berdiri selama berjam-jam. Dan apa yang di saksikannya membuat giginya bergemeretuk. Perempuan berpakaian pelayan itu, meski dia mati-matian menyaru dalam bentuk perempuan, Lin Hongse tahu, dia adalah pria yang telah membuat jiwa pembunuhnya menggelegak.
"Jenderal sialan, kamu sudah benar-benar keterlaluan." Ucapnya dengan penuh kegeraman.
Β Zhao Juren duduk seperti patung menatap lurus pada perempuan yang kini hanya berada jarak dua jengkal dari depan hidungnya. Zhao Juren sama sekali tak berkedip. Begitupun Xue Xue, dia begitu fokus memperhatikan tiap jengkal wajah Zhao HJuren sementara tangannya menyusuri permukaan wajah Zhao Juren dengan hati-hati.
"Eh...Jangan berkedip!" Xue Xue memperingatkan ketika mata Zhao Juren reflek mengedip saat kuas di tangan Xue Xue mengenai ujung matanya.
"Matamu ini terlalu sangar untuk ukuran perempuan, harus di haluskan lagi dengan satu garis lembut di ujungnya."
Hampir sepenanak nasi Xue Xue mendandani Zhao Juren, sementara Zhao Juren mau tidak mau pasrah dengan apa yang di lakukan gadis ini.
"Aku membantumu begini supaya kamu bisa keluar besok pagi dari istana harem ini masih dengan wujud pelayan perempuan. Aku takut kamu bahkan tak bisa melewati gerbang istana Harem karena di hakar oleh para pengawal jika ketahuan kamu sedang menyamar dan memasuki wilayah terlarang milik raja ini," Xue Xue mengoceh dengan salah tingkah saat mendapati Zhao Juren tak berhenti menatapi wajahnya.
"Apakah aku harus keluar besok?" Tanya Zhao Juren dengan alisnya yang di naikkan setengah menggoda.
"Bukankah kamu sudah mencapai tujuanmu masuk ke istana ini untuk menemuiku, lalu apa lagi yang ingin kamu lakukan berkeliaran di dalam lingkungan istana ini. Kamu ingin menunggu dirimu tertangkap, hah? Lalu kamu mau mengatakan apa jika semua orang tahu ada seorang laki-laki mneyelinap ke dalam kamar puteri Nan Lioxia?"
__ADS_1
"Aku tidak menyelinap kemari, tetapi kamu yang mengajakku." Zhao Juren berkilah.
"Berhenti berbicara ngawur. Aku tak benar-benar mengajakmu, aku hanya prihatin melihat dandananmu yang luntur seperti perempuan jadi-jadian ini." Wajah Xue Xue merah merona, membalas ucapan Zhao Juren. Dengan wajah tak bersalah Zhao Juren hanya menyengir, dia puas melihat gadis ini tersipu dan serba salah di depannya.
"Tunggu saja, penghujung musim semi ini, aku akan mengirim pesan padamu di penginapan Kota, di mana kita bisa bertemu."
"Bagaimana jika belum ingin pergi?" Tanya Zhao Juren, memicingkan matanya mencari reaksi Xue Xue.
"Apa maksudmu?" Xue Xue menghentikan semua kegiatannya, dia menarik tubuhnya menjauh.
"Bukankah aku sudah berjanji padamu tadi, aku akan mencarikan siapa pengkhianat di pasukan Yu dan yang terpenting kita telah sepakat mencegah peperangan besar di kota Yichen dan mengembalikan tahta sebenarnya pada kakakku Nan Chen tanpa di bayangi oleh pengaruh orang lain lagi . Apa kamu meragukan aku?" tanya Xue Xue.
"Aku tak meragukanmu, tapi..."
"Tapi apa?"
"Aku takut kita kan lama tak bertemu."
Xue Xue terkesiap, mendengar jawaban pendek yang datar itu.
"Aku takut jika aku akan merindukanmu, Xue..." Suara yang keluar dari mulut Zhao Juren serupa gumam.
Belum sempat Xue Xue membuka mulutnya, suara Yueyin terdengar tegas dari luar, keras dan memnag di sengaja untuk di dengar oleh Xue Xue.
" Ada apa tuan Pangeran datang kemari, Puteri Nan Luoxia mungkin sedang tidur."
"Bangunkan saja dia untukku, aku sangat penting ingin bertemu dengannya."
Itu adalah suara berat pangeran Nan Yuhuai.
__ADS_1
Hai pembaca kesayangan Cinta terakhir Zhao Juren, mari di vote dan di kasih dukungan gift atau apapun deh pembaca kesayangan, Love You all my readerrrr, muach...ππππ